JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya
***
"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."
***
Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."
Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: DUEL MAUT DI UJUNG DERMAGA
Suasana di dalam bekas pabrik pengalengan ikan itu seketika berubah menjadi medan pertempuran yang luar biasa mencekam. Deburan ombak dermaga utara yang menghantam dinding bangunan terdengar bersahutan dengan dentuman besi dan teriakan amarah dari ratusan anak buah Black Cobra yang sedang membabat habis sisa-sisa pasukan White Tiger di area luar. Bau darah segar dan debu semen yang beterbangan menciptakan pemandangan yang begitu mengerikan di bawah siraman lampu neon yang berkedip remang-remang.
Rian si Belut Jalanan yang semula berdiri dengan senyuman sombong kini merasakan seluruh tubuhnya menegang kaku. Sepasang matanya melebar tidak percaya saat melihat sosok Eksan Prasetya benar-benar berdiri kokoh di ambang pintu masuk gudang utama. Meskipun kemeja hitam pemuda itu sudah basah kuyup oleh darah yang terus merembes dari luka perut kirinya yang robek total, aura kematian yang terpancar dari tubuh tegap Eksan justru terasa berkali-kali lipat lebih pekat daripada biasanya.
"kau... bagaimana mungkin kau masih bisa berjalan dengan kondisi tubuh seperti itu?!" suara Rian bergetar hebat, refleks mundur dua langkah ke belakang dan memposisikan pisau kecilnya di depan dada sebagai pelindung.
Eksan tidak membalas dengan kata-kata. Sepasang mata yang hitam pekat mengunci mati pandangan Rian, sementara tangan kanannya menggenggam pipa besi tebal dengan pegangan yang sangat erat dengan sekuat tenaga. Setiap langkah kaki yang ia ambil untuk mendekat menyisakan jejak bercak darah merah di atas lantai yang dingin, sebuah pandangan nyata dari kegilaan seorang penguasa jalanan yang sedang bertaruh dengan sekuat tenaga demi merebut kembali kekasih nya.
"Eksan!!! Jangan maju lagi! Perutmu berdarah banyak sekali!" saut Nasya dari sudut ruangan. Air matanya menetes semakin deras, hatinya tersayat melihat bagaimana pemuda itu memaksakan tubuh dengan jahitan luka yang terbuka demi bisa berdiri dan melindungi jantung hatinya, untuk menyelamatkan Nasya.
Mendengar suara teriakan Nasya, semakin amarah yang Eksan rasakan meski badan dia terluka parah. Ia mengambil satu langkah cepat ke depan, lalu dengan satu ayunan cepat dengan sekuat tenaga dengan kekuatan amarahnya, ia melayangkan pipa besinya lurus ke arah kepala Rian.
Rian bergerak refleks dengan kelincahan nya yang terkenal di jalanan. Ia menjatuhkan dirinya ke lantai guna untuk menghindari serangan Eksan, membiarkan pipa besi Eksan menghantam angin malam dengan bunyi desingan yang nyaring. Bersamaan dengan gerakan menghindar tersebut, Rian menyapu kaki Eksan menggunakan satu tendangan memutar yang cepat, mencoba memanfaatkan titik keseimbangan tubuh Eksan yang sedang melemah akibat kehilangan terlalu banyak darah.
Tubuh Eksan sempat terjatuh ke arah samping, yang membuat luka di perut kirinya kembali berdenyut dahsyat seolah disayat oleh ribuan silet panas. Darah segar kembali menyembur keluar dari sela bibirnya yang terluka, menetes membasahi lantai. Namun, sebelum Rian sempat bangkit berdiri untuk melancarkan serangan balasan, Eksan menggunakan tangan kirinya memegang kerah jaket milik Rian secara paksa, lalu menarik tubuh ketua faksi utara itu dengan tenaga yang tersisa.
Satu pukulan mentah dengan kepalan tangan kanan Eksan menghantam telak bagian hidung Rian tanpa belas kasihan sedikit pun. Bunyi patahan tulang rahang terdengar samar, disusul oleh darah merah dari wajah Rian yang langsung merusak senyuman liciknya. Pada hantaman kedua, Eksan melepaskan satu hantaman sikut yang sangat keras tepat mengenai pelipis mata Rian hingga pria bertubuh kurus itu terlempar jatuh menghantam tumpukan tong besi di belakangnya.
Rian terkapar di atas lantai dengan tubuh yang gemetar hebat menahan rasa sakit luar biasa di wajahnya. Namun, sebagai seorang berandal senior yang telah lama bertahan di kerasnya dunia bawah tanah kota, Rian tidak menyerah begitu saja. Dengan sisa tenaga dan kelicikannya, ia meraba tanah, mengambil sebilah pecahan botol kaca yang tajam, lalu melesat maju menusukkannya secara diagonal tepat ke arah lengan kanan Eksan yang sedang memegang pipa besi.
Kain kemeja hitam Eksan kembali robek, dan sebuah goresan luka baru yang cukup dalam kini menghiasi lengan kanannya, mengucurkan darah segar yang baru. Pipa besi di tangan Eksan terlepas, jatuh berdenting di atas lantai semen.
Nasya yang melihat pemandangan itu langsung berteriak histeris, mencoba melepaskan ikatan tali tambang di kedua pergelangan tangannya dengan gerakan yang panik hingga kulitnya lecet berdarah. "Eksan!!! Cukup, kumohon hentikan! Kau bisa mati jika terus seperti ini!"
Rian merasa puas, melihat Eksan yang kini tidak lagi memegang senjatanya. Ia mengangkat pisaunya kembali, bersiap melakukan tebasan terakhir untuk mengakhiri nyawa sang penguasa tertinggi Black Cobra. "Malam ini... takhta jalanan kota ini resmi berpindah ke tanganku, Eksan Prasetya!"
Eksan menatap mata pisau musuh yang bergerak cepat menuju leher tegapnya dengan pandangan mata elang yang sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar sedikit pun. Di ambang batas kesadarannya yang mulai berputar hebat karena kehabisan darah, ingatan akan janjinya pada Nasya di penthouse tadi siang mendadak bergema kuat di dalam kepalanya, "Kau adalah milikku, selamanya milik seorang Eksan Prasetya."
Dengan gerakan refleks yang sangat tipis dan berbahaya, Eksan memiringkan kepala tegapnya ke kanan, membiarkan ujung pisau Rian hanya menggores kulit lehernya hingga berdarah sedikit. Bersamaan dengan itu, kedua tangan kekar Eksan bergerak secepat kilat maju ke depan, memegang erat kedua pundak Rian dengan pegangan mutlak yang mengunci pergerakan musuh sepenuhnya.
Eksan mengangkat lutut kanannya dengan kekuatan penuh, menghantamkannya bertubi-tubi tepat ke arah ulu hati dan perut Rian tanpa ampun. Tiga benturan keras terjadi dalam hitungan detik, membuat pasokan udara di dalam paru-paru Rian seketika habis total. Sebelum pria berambut cepak itu sempat memulihkan posisi tubuhnya akibat terkejut, Eksan memutar tubuh tegapnya dan melepaskan satu bantingan tubuh berkekuatan gila yang telak melempar tubuh besar Rian hingga terbang menubruk dinding semen gudang dengan sangat keras.
Tubuh pemimpin faksi utara itu akhirnya tumbang dengan sangat mengenaskan ke atas lantai, dengan posisi tengkurap dan tidak lagi memiliki sisa kekuatan bahkan untuk sekadar menegakkan kepalanya sendiri. Rian batuk darah berulang kali dengan tubuh yang gemetar hebat menahan rasa sakit yang luar biasa di seluruh persendian tubuhnya. Nyali nya menciut habis dalam sekejap melihat pemandangan mengerikan di hadapannya.
Eksan berdiri tegak di tengah ruangan yang remang-remang, berselimutkan darahnya sendiri dan darah musuh, menatap tubuh Rian yang sudah hancur lebur dengan pandangan pekat. Ia melangkah perlahan mendekati kursi tempat Nasya terikat, lalu menggunakan pisau kecil milik Rian yang tergeletak di lantai untuk memotong tali tambang kasar yang membelenggu kedua tangan mungil gadis itu dengan gerakan yang sangat hati-hati.
Begitu ikatannya terlepas, Nasya langsung berhamburan memeluk erat tubuh tegap pemuda itu dengan air mata yang tumpah ruah membanjiri pipinya. Ia tidak peduli lagi bahwa pakaian kasual barunya kini kembali ternoda oleh cairan merah pekat yang berasal dari luka perut Eksan.
"Eksan... terima kasih... kau selamat... kau kembali untukku..." tangis Nasya histeris dengan suara yang parau.
Eksan terbatuk pelan, merasakan sensasi hangat sekaligus perih yang luar biasa saat tubuh mungil Nasya menubruk dadanya. Perlahan, lengan kekarnya yang gemetar naik untuk membalas pelukan gadis itu dengan dekapan yang sangat kuat, membenamkan wajahnya di leher Nasya untuk menghirup aroma menenangkan dari gadis yang menjadi kelemahan.
"Sudah kubilang, kan, Nasya?" bisik Eksan dengan suara yang sangat rendah, berat, dan serak tepat di telinga gadis itu sebelum kesadarannya perlahan mulai menghilang akibat kehilangan terlalu banyak darah. "Kau adalah milikku. Dan seorang Eksan Prasetya... tidak akan pernah membiarkan siapa pun merebut apa yang sudah menjadi hidupku."
Tepat setelah kalimat itu selesai terucap, seluruh pertahanan tubuh Eksan akhirnya runtuh total. Tubuh tegap sang penguasa tertinggi jalanan kota itu mendadak ambruk ke depan, jatuh sepenuhnya ke dalam pelukan pasrah Nasya yang tidak siap menahan beban tubuh kekarnya.
"Eksan!!! Bangun, Eksan! Rangga! Bara! Tolong Eksan di dalam sini!!!" jerit Nasya histeris, suaranya menggema pilu menembus dinginnya malam di ujung dermaga utara yang kini telah resmi dibersihkan oleh kekuasaan mutlak faksi Black Cobra.