NovelToon NovelToon
TAWANAN SANG RAJA MAFIA

TAWANAN SANG RAJA MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Nikahmuda
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Demi menyelamatkan sang ayah dari siksaan maut seorang mafia kejam, Aisyah gadis bercadar, Hafizah bermata biru blasteran menyerahkan diri sebagai tawanan abadi. Syaratnya gila: pria berdarah dingin itu harus masuk Islam dan menikahinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dimulai. Alih-alih menjadi ratu, hidup Aisyah berubah menjadi neraka ketika suaminya sengaja membawa wanita malam ke hadapannya setiap hari untuk menghancurkan mentalnya.
Di tengah ketakutan yang mencekam dan air mata yang tak pernah kering, Aisyah hanya bersandar pada sujud malamnya.
Mampukah kelembutan ayat-ayat suci meluluhkan hati seorang psikopat tanpa Tuhan, atau justru Aisyah yang akan hancur lebur di sarang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggilan "Mas" dan Kain Hitam di Balik Senyum

Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai beludru hitam di kamar utama istana. Suasana di dalam ruangan terasa jauh lebih hangat dibandingkan minggu-minggu sebelumnya. Aroma teh chamomile hangat dan roti panggang yang dibawa oleh pelayan pagi itu menghiasi meja kecil di sudut kamar.

Di atas ranjang king-size, Kenzie Al-Ghazali perlahan membuka matanya. Gerakan pertamanya bukanlah meraba luka di perutnya yang kini sudah mulai mengering, melainkan menoleh ke sisi kirinya.

Tempat tidur di sebelahnya sudah kosong. Namun, selimut terlipat rapi, dan suara gemercik air dari arah kamar mandi menandakan bahwa istrinya sudah terbangun lebih dulu untuk menunaikan salat subuh.

Kenzie tersenyum tipis. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya yang masih sedikit kaku, lalu bangkit duduk. Rasanya luar biasa bisa bangun pagi tanpa dihantui oleh mimpi buruk atau rasa amarah yang biasanya langsung membakar dadanya. Hari-hari di mana ia menjadi monster kejam di dunia hitam perlahan terasa seperti kisah dari kehidupan orang lain.

Cklek.

Pintu kamar mandi terbuka. Aisyah Humaira melangkah keluar mengenakan abaya hitam panjang dengan mukena yang baru saja dilipat rapi di tangannya. Begitu melihat Kenzie sudah duduk terjaga di atas ranjang, langkah Aisyah sedikit melambat. Ia menundukkan pandangannya, menjaga adab di hadapan sang suami.

"Selamat pagi, Tuan," sapa Aisyah dengan suara lembutnya, khas setiap kali ia membuka hari.

Kenzie menghentikan gerakannya. Pria itu menghela napas pelan, lalu menepuk sisi ranjang, meminta Aisyah untuk mendekat. Dengan keraguan yang masih tersisa di balik langkahnya, gadis Hafizah itu berjalan mendekat dan berdiri di sisi tempat tidur.

"Aisyah," panggil Kenzie, suaranya berat namun sarat akan kelemah-lembutan. Ia menatap lurus ke arah wanita di hadapannya. "Sudah berapa kali aku katakan... jangan panggil aku 'Tuan'."

Aisyah mengerjap pelan di balik cadar hitamnya. "Tapi... itu sudah menjadi kebiasaan saya, Kenzie—eh, maksud saya..." Aisyah mendadak salah tingkah, menggigit bibirnya pelan karena keceplosan.

Kenzie terkekeh pelan—sebuah tawa rendah yang jarang sekali didengar orang lain. "Nah, kalau memanggil namaku saja kau masih ragu, bagaimana kalau kau panggil aku Mas? Seperti kebanyakan istri di negeri ini memanggil suaminya. Rasanya jauh lebih akrab dan menenangkan."

Aisyah tertegun. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat mendengar usulan itu. Panggilan "Mas" terdengar begitu membumi, sangat kontras dengan imej seorang mafia penguasa dunia hitam yang melekat pada diri suaminya. Namun, kata itu juga menyiratkan sebuah pengakuan status yang sah secara lahir dan batin.

Aisyah menunduk, meremas ujung kain abayanya dengan jemari yang sedikit bergetar. Ia mencoba mengumpulkan keberanian, lalu mengangkat wajahnya perlahan.

"Baiklah... M-Mas," ucap Aisyah pelan, nyaris seperti bisikan angin, namun terdengar sangat manis di telinga Kenzie.

Mendengar panggilan itu untuk pertama kalinya, senyuman Kenzie semakin mengembang lebar. Ada rasa hangat yang membuncah di dalam dadanya, melenyapkan sisa-sisa dingin yang selama ini membeku di jiwanya.

Namun, pandangan mata gelap pria itu kemudian turun, mengamati penampilan Aisyah dari ujung kepala sampai kaki. Ada satu hal yang sejak kemarin mengusik benak Kenzie.

Meskipun mereka sudah berbagi ranjang yang sama, meskipun Kenzie telah bersyahadat dan mulai belajar salat, serta meskipun Aisyah sudah memanggilnya dengan sebutan "Mas"... Aisyah tidak pernah sekalipun membuka kain cadar hitam yang menutupi separuh wajahnya di hadapan Kenzie. Bahkan di dalam kamar pribadi mereka sendiri, kain itu tetap terpasang rapat melindungi batasan diri sang gadis.

Kenzie menghela napas pelan. Ada secercah rasa nyeri dan penyesalan yang menusuk dadanya. Ia sadar, luka dan trauma yang ia torehkan di awal pernikahan tidak akan bisa hilang dalam waktu seminggu hanya karena ia mengucapkan kata maaf dan bersyahadat. Kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa dibeli dengan instan.

"Aisyah..." panggil Kenzie dengan suara yang perlahan melembut, sorot matanya berubah menjadi sayu.

"Ya, Mas?" jawab Aisyah patuh.

Kenzie mendongak, menatap sepasang mata biru jernih istrinya yang tampak berbinar di balik kain hitam tersebut. "Sampai kapan... kau akan terus menyembunyikan wajahmu di hadapanku?"

Aisyah tertegun. Jantungnya berdegup kencang. Ia merapatkan tubuhnya, menarik napas dalam-dalam untuk menata gemetar di dadanya.

"Apakah... apakah keberadaan kain ini membuatmu terganggu?" tanya Aisyah hati-hati.

"Bukan terganggu," potong Kenzie cepat. Ia menelan ludahnya, mencoba jujur pada perasaannya sendiri. "Aku hanya... merasa sedih. Aku adalah suamimu. Aku ingin melihat senyumanmu, melihat wajah istriku sendiri tanpa ada sekat pembatas di antara kita. Tapi... aku juga tahu diri. Aku sadar, semua ini salahku. Aku yang membuatmu tidak punya alasan untuk mempercayaiku sepenuhnya."

Suara Kenzie terdengar begitu tulus, sarat akan penyesalan yang dalam. Tidak ada lagi arogansi atau paksaan seperti dulu; yang ada hanyalah seorang pria yang sedang memohon pengampunan atas dosa-dosa masa lalunya.

Aisyah terdiam seribu bahasa. Hatinya bergemuruh hebat. Di satu sisi, ia tahu bahwa dalam hukum Islam, seorang istri wajib membuka wajahnya di hadapan suaminya. Namun di sisi lain, bayangan malam-malam mengerikan ketika ia diseret ke istana ini, ancaman pembunuhan terhadap sang ayah, dan trauma psikologis akibat kehadiran para pelacur di kamar itu masih membekas kuat di lubuk hatinya. Luka itu butuh waktu untuk sembuh total.

"Mas..." bisik Aisyah lirih, suaranya bergetar menahan emosi. "Bukan karena saya ingin membangkang pada Mas Kenzie. Agama saya mengajarkan untuk taat. Tapi... biarkan saya memiliki waktu. Hati saya... butuh waktu untuk menghapus seluruh rasa takut dan trauma itu. Tolong, jangan paksa saya untuk melepaskannya sekarang."

Mendengar kejujuran yang apa adanya itu, Kenzie tidak marah. Ia justru merasa tertampar telak oleh kenyataan atas apa yang telah ia perbuat di masa lalu.

Kenzie mengangguk perlahan. Ia mengangkat tangannya, lalu meletakkannya di atas punggung tangan Aisyah dengan sangat hati-hati, memberikan ruang dan rasa aman tanpa ada tuntutan.

"Aku mengerti, Aisyah," ucap Kenzie tulus. "Aku tidak akan memaksamu. Ambil waktumu sebanyak yang kau butuhkan. Aku akan menunggu... sampai hari di mana kau sendiri yang ikhlas membuka cadar itu di hadapanku, karena kau benar-benar percaya bahwa aku tidak akan pernah menyakitimu lagi."

Aisyah mendongak, menatap manik mata hitam Kenzie yang dipenuhi ketulusan. Air mata haru perlahan menetes di balik kain cadarnya. Ia tidak menyangka pria yang dulunya ditakuti sebagai pembunuh berdarah dingin itu kini bisa bersikap begitu sabar dan pengertian kepadanya.

"Terima kasih... Mas," ucap Aisyah tulus.

Sementara itu, di lantai bawah istana, suasana ketegangan baru justru sedang merayap naik ke permukaan.

Vito, tangan kanan kepercayaan Kenzie, melangkah mondar-mandir di ruang kerja utama dengan ekspresi wajah yang sangat tegang. Di hadapannya, dua orang anak buah yang bertugas melakukan pengantaran logistik luar berdiri dengan kepala tertunduk ketakutan.

"Kalian yakin informasi itu akurat?" tanya Vito dengan suara dingin berbisik, tidak ingin suaranya tembus sampai ke lantai atas tempat Kenzie sedang memulihkan diri.

"Bener, Komandan!" jawab salah satu anak buah dengan napas tersengal. "Kelompok The Black Serpent sudah mengetahui bahwa Boss Kenzie terluka dalam penyergapan minggu lalu. Mereka mengira kekuatan kita sedang melemah. Sekarang, mereka sedang merencanakan serangan besar-besaran ke gerbang utara istana malam ini!"

Vito mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Mata tajamnya menyipit penuh amarah. Selama ini, Kenzie adalah jantung dari seluruh jaringan sindikat. Jika kelompok saingan itu tahu bos mereka sedang dalam masa pemulihan, mereka pasti akan mencoba menghancurkan istana ini rata dengan tanah.

"Jangan berani-berani melapor hal ini ke Boss Kenzie dulu!" titah Vito tegas. "Beliau baru saja mulai tenang, dan lukanya belum pulih sepenuhnya. Kita yang harus membereskan tikus-tikus pengacau itu sebelum mereka mendekati sayap barat!"

"Siap, Komandan!" seru kedua anak buah itu serempak, lalu bergegas keluar untuk menyiapkan senjata dan memperketat pertahanan perimeter istana.

Vito menatap ke arah tangga lantai dua dengan tatapan cemas. Ia tahu, badai besar sedang bersiap menerjang istana di atas bukit itu. Dan di tengah badai yang mengancam nyawa tersebut, ada seorang wanita suci yang kini menjadi pusat dari seluruh ketenangan sang bos Aisyah Humaira, gadis yang tidak tahu apa-apa tentang kejamnya dunia hitam yang mengelilingi mereka.

1
ika mummy
beneran ceritan nya keren... aku syuuukkka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!