NovelToon NovelToon
Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Penyesalan Suami / Mandul
Popularitas:159
Nilai: 5
Nama Author: Laras Jingga

Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*

Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.

Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*

Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**

Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:

*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Aku Hamil

"Aku hamil."

Rendra menatap Sekar tanpa berkedip.

Hujan turun deras di halaman rumahnya di Menteng. Kemeja putih Rendra sudah basah sampai ke kulit, dan celana panjangnya kotor oleh air bercampur tanah. Ia berlutut di depan teras, tepat di bawah payung hitam yang dipegang Sekar.

Tatapannya turun ke tangan Sekar yang berada di atas perutnya.

Perut itu belum terlalu besar. Namun di balik gaun longgar yang dikenakannya, lengkungnya cukup jelas untuk dilihat.

"Tidak mungkin," bisik Rendra.

Ia mencoba berdiri, tetapi lututnya goyah. Telapak tangannya menghantam lantai teras dan tubuhnya kembali jatuh ke genangan.

Sekar tetap berada dua anak tangga di atasnya.

Di tepi halaman, sebuah Land Cruiser hitam berpelat dinas militer menunggu dengan mesin menyala. Lampu depannya menerangi punggung Sekar dan bagian teras yang mulai dipenuhi air. Seorang lelaki duduk di kursi belakang. Wajahnya tidak terlihat jelas di balik kaca gelap.

Rendra melirik kendaraan itu, lalu kembali memandang Sekar.

"Kamu berbohong. Kamu hanya ingin membuatku menyesal."

"Aku tidak perlu berbohong untuk itu." Sekar menatap pintu rumah yang terbuka di belakang Rendra. "Kamu yang memintaku datang. Katamu ada sesuatu yang harus dikembalikan."

Rendra mengepalkan tangannya. Dahulu, satu pesan darinya cukup membuat sopir, ajudan, atau pegawai yayasan datang dalam hitungan menit. Malam itu ia berdiri sendirian. Tidak ada orang yang membawakan payung. Tidak ada petugas keamanan di dekat pagar. Dari rumah besar itu, hanya satu lampu lantai bawah yang masih menyala.

Ponselnya bergetar di lantai teras. Layar yang basah menampilkan beberapa notifikasi tentang pemeriksaan, pemanggilan, dan pengunduran diri. Rendra tidak melihatnya.

Air hujan mengalir dari rambut Rendra ke wajahnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celana, lalu membukanya dengan jari gemetar.

Di dalamnya ada dua bagian liontin lama yang akan membentuk bunga jika disatukan. Rendra pernah memasangkan separuhnya ke leher Sekar pada tahun pertama pernikahan mereka. Setelah perceraian, Sekar mengembalikan bagiannya.

"Aku memperbaikinya," kata Rendra. "Lihat, keduanya masih bisa disatukan."

Ia menyatukan kedua bagian itu di telapak tangannya. Sambungannya tidak lagi rapi, tetapi bentuk bunganya masih terlihat.

"Kita juga bisa diperbaiki," lanjutnya. "Aku mencintaimu. Beri aku satu kesempatan."

"Kalau jabatanmu masih aman dan keluargamu masih berkuasa, apakah kamu akan berlutut di sini?"

Rendra tidak menjawab.

"Aku melakukan kesalahan dengan Kirana," katanya kemudian. "Keluargaku menekanku. Waktu itu aku tidak tahu harus berbuat apa."

"Kamu memilih diam ketika mereka menyebutku mandul. Kamu menikah diam-diam, lalu meminta aku menyetujui kebohongan kalian. Saat aku dijebak di hotel, kamu juga memilih percaya kepada mereka."

"Aku salah." Suara Rendra pecah. "Sekarang aku tahu."

Pengakuan yang dahulu ditunggu Sekar akhirnya datang setelah semuanya berakhir.

Rendra maju dengan kedua lututnya. Satu tangannya masih menggenggam kotak liontin, sementara tangan lain menyentuh ujung sepatu Sekar.

"Kita mulai lagi dari Yogyakarta," katanya. "Kamu ingat gang dekat rumah Eyang dan pohon delima yang kutanam? Kita pernah bahagia."

"Aku ingat. Tapi masa lalu tidak menghapus apa yang kamu lakukan setelahnya."

"Aku akan menebus semuanya. Jangan pergi lagi."

Jemari Rendra bergerak ke ujung rok Sekar. Sekar mundur setengah langkah sebelum ia sempat menggenggamnya.

Tangannya berhenti di udara.

"Aku sudah kehilangan jabatan, keluarga, dan nama baik," katanya. "Jangan biarkan aku kehilangan kamu juga."

"Aku bukan barang terakhir yang bisa kamu pertahankan setelah semua milikmu diambil."

"Aku bisa berubah."

"Mungkin." Sekar mengangguk kecil. "Tapi aku tidak berkewajiban menunggu perubahan itu."

Pintu mobil dinas terbuka.

Pengemudi berseragam turun sambil membawa payung. Ia baru berjalan dua langkah ketika lelaki di kursi belakang mengangkat tangan, menahannya. Tidak seorang pun datang mengambil alih percakapan Sekar. Mereka hanya memastikan ia dapat kembali ke mobil kapan saja.

Rendra melihat gerakan itu. Rahangnya menegang.

"Siapa dia?"

"Bukan urusanmu."

"Dia ayah anak itu?"

Sekar tidak menjawab.

Rendra menatap perutnya lagi. Matanya memerah.

"Aku berhak tahu."

"Hakmu atas hidupku berakhir saat putusan cerai kita berkekuatan hukum."

"Aku suami pertamamu!"

Suara Rendra terdengar sampai ke rumah sebelah. Tirai lantai dua bergerak dan sebuah ponsel terangkat di balik kaca. Rendra langsung menurunkan suara.

"Kamu mantan suamiku," kata Sekar. "Jangan salah menyebut hubungan kita lagi."

Rendra membuka kotak itu dan mengambil kedua bagian liontin. "Enam tahun kita menunggu anak. Enam tahun. Sekarang kamu datang dan bilang kamu hamil begitu saja?"

"Jadi selama ini semua dokter itu salah?"

Sekar teringat map-map hasil pemeriksaan yang pernah dibawanya pulang. Ia teringat bagaimana Rendra selalu menunda pemeriksaan bersama, sementara keluarganya terus menuntut jawaban dari tubuh Sekar seorang.

"Dokter tidak pernah mengatakan aku tidak bisa hamil," jawabnya. "Keluargamu yang memberi cap itu. Dan kamu membiarkannya."

"Aku hanya ingin kamu tahu satu hal. Tubuhku tidak pernah menjadi masalah."

Rendra terdiam.

Hujan memukul atap teras. Kedua bagian liontin terlepas dari tangannya dan jatuh ke air.

Sekar berbalik menuju mobil.

"Sekar, tunggu. Lihat aku sekali lagi."

Sekar berhenti di anak tangga terakhir, tetapi tidak menoleh.

"Aku sudah melihatmu dengan jelas," katanya. "Karena itu aku pergi."

Ia melanjutkan langkah.

Pengemudi membukakan pintu. Lelaki di kursi belakang bergeser dan mengulurkan tangan. Telapaknya terbuka, menunggu keputusan Sekar.

Sekar menyambut tangan itu dan masuk ke mobil.

"Sudah selesai?" tanya lelaki tersebut.

"Sudah."

Lelaki itu menurunkan suhu pendingin udara, lalu meletakkan jaket di bahu Sekar yang terkena tempias hujan.

"Kita pulang," katanya. "Anak-anak menunggu."

Sekar mengangguk.

Pintu tertutup. Mobil mulai meninggalkan halaman.

Rendra bangkit dan mengejar sampai ke pagar. "Sekar!"

Mobil tidak berhenti.

Dari balik kaca, Sekar melihat Rendra berdiri di tengah hujan. Kotak liontin masih berada di tangannya, sedangkan kedua kepingnya tertinggal di genangan dekat teras.

Ponselnya kembali menyala. Puluhan pesan masuk, tetapi tidak ada seorang pun datang menemuinya.

Sekar memalingkan wajah. Tangannya kembali ke perut, dan lelaki di sampingnya menggenggam tangannya sampai napasnya teratur.

Tiga tahun sebelumnya, Sekar belum mengenal lelaki itu. Ia juga belum pernah mendengar dua anak memanggilnya Bunda. Ia belum tahu bahwa suatu hari ia akan berdiri di depan Rendra dan mengucapkan kalimat yang baru saja meruntuhkannya.

Saat itu Jakarta sedang mengalami kemarau panjang.

Deras hujan di kaca mobil berganti menjadi suara tonggeret pada siang yang kering di Paviliun Sekar, rumah yang ditempatinya di kompleks keluarga Danuwijaya. Cahaya masuk melalui jendela tinggi. Foto pernikahannya dengan Rendra masih tergantung di ruang tengah.

Di halaman belakang, pohon delima yang ditanam Rendra pada tahun pertama pernikahan mereka sedang berbunga lebat.

Sekar berdiri di bawah pohon itu sambil memegang hasil pemeriksaan dari RS Medika Prima. Enam tahun pernikahan mereka belum juga menghasilkan anak.

Dari dalam rumah, Wida memanggilnya.

"Sekar! Eyang menunggu. Jangan membuat seluruh keluarga menunggu hanya karena kamu sibuk meratapi nasib."

Jari Sekar menekan sudut map sampai tertekuk.

Siang itu, ia masih dikenal sebagai Nyonya Danuwijaya yang beruntung. Ia belum tahu apa yang sudah disiapkan keluarga suaminya di balik pintu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!