NovelToon NovelToon
Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.

Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.

Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.

Ia salah besar.

Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:

**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**

Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.

Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.

Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.

Kali ini, dialah yang memegang pisau.

*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15: Lari ke Dalam Malam

"Aku sudah tahu cara bicara kepada orang tua," jawabku. "Yang belum kupelajari adalah cara diam saat orang tua terus mempermalukanku."

Wajah Ibu berubah.

Ayah bergerak lebih dulu. "Sekar, masuk kamar. Endang, kita bicara setelah tenang."

"Kamu dengar sendiri?" Ibu menunjukku, lalu dirinya. "Anak yang kubesarkan bicara seperti itu kepadaku."

"Karena Ibu membicarakan hidupku di depan semua orang!"

"Ibu memikirkan masa depanmu. Kamu yang tidak tahu malu. Sudah diberi tempat tinggal, sekolah, makan, masih merasa diperlakukan buruk."

Mbak Laras berdiri di antara kami. "Sudah. Sekar, minta maaf dulu."

"Kenapa aku?"

"Biar selesai."

"Semua selalu selesai kalau aku yang mengalah."

Kalimat itu membuat ruangan hening.

Ibu menarik napas tajam, lalu menyapu lap dari meja. Gelas di dekatnya ikut jatuh dan pecah. Aku tersentak. Dalam pantulan pecahan kaca, kalung emas di lehernya berkilau.

"Kamu iri sama Mbakmu," katanya. "Dari kecil selalu begitu. Sekarang Mbakmu mau menikah dengan laki-laki baik, kamu cari perhatian, bersikap aneh kepada calon suaminya."

"Jangan bawa Mas Damar."

"Kenapa? Takut ketahuan kamu salah paham karena dia bersikap sopan?"

Panas menjalar dari dada ke wajah. "Ibu nggak tahu apa-apa."

"Lalu jelaskan! Apa yang dilakukan Mas Damar sampai kamu pasang wajah seperti korban setiap dia datang?"

Mulutku terbuka, tetapi suara malam hujan memenuhi kepala. Diam. Aroma kayu dingin. Tangan yang menahan pergelangan.

Aku tak bisa mengatakannya di sini, di depan cincin Mbak Laras dan mata Ibu yang sudah memutuskan aku berbohong sebelum mendengar satu kata.

"Lihat?" Ibu tertawa pahit. "Nggak ada. Kamu cuma ingin semua perhatian pindah kepadamu."

"Cukup!" Suara Ayah pecah lebih keras dari biasanya. "Jangan tuduh anak sendiri begitu."

Ibu berbalik kepadanya. "Kamu yang membuat dia begini. Selalu menyelipkan uang, makanan, membelanya diam-diam. Kamu pikir aku nggak tahu?"

Ayah memucat.

Rahasia telur di dasar nasi, pisang goreng di garasi, dan amplop ongkos wawancara dibuka di tengah ruangan seperti daftar kejahatan.

"Kalau Ibu tahu, kenapa Ibu membuat Ayah harus menyembunyikannya?" tanyaku.

Tanganku bergetar, tetapi suaraku tidak.

Ibu melangkah mendekat. "Apa katamu?"

"Kenapa menyayangiku harus diam-diam?"

Tamparan itu datang begitu cepat.

Kepalaku terlempar ke samping. Rasa panas meledak di pipi, disusul denging panjang. Mbak Laras menjerit kecil. Ayah menangkap pergelangan Ibu sebelum tangan kedua terangkat.

"Endang!"

"Lepaskan! Anak ini kurang ajar!"

Aku menyentuh pipi. Dunia bergerak sedikit miring. Di belakang Ibu, foto keluarga tergantung rapi. Aku berdiri paling ujung dalam foto itu juga.

"Sekar, masuk kamar," kata Mbak Laras. "Biar aku bicara sama Ibu."

Aku berbalik menuju lorong. Ibu masih menangis dan berteriak bahwa aku menghancurkan hari bahagia kakakku. Suara benda jatuh terdengar. Sebuah bingkai foto kecil meluncur melewati bahuku dan pecah di lantai.

Entah dilempar atau tersenggol, aku tak peduli lagi.

Aku mengambil kardigan dari gantungan. Sandal berada dekat pecahan kaca, terlalu jauh untuk kuraih tanpa melewati Ibu. Jadi aku membuka pintu depan dan keluar tanpa alas kaki.

"Sekar!" Ayah memanggil.

Hujan baru mulai turun.

Aku berlari.

Jalan perumahan berkilau di bawah lampu. Air segera membasahi baju tipis dan rambutku. Aku tidak tahu hendak ke mana. Warung Bu Lina sudah tutup, dan setelah keributan arisan, aku tidak sanggup mengetuk rumah siapa pun dengan pipi merah dan kaki telanjang.

Ponsel tertinggal di kamar.

Aku sempat mengambil jalan menuju Rawon Bu Lina. Dari kejauhan, pintu gulung warung sudah tertutup dan lampu lantai bawah padam. Satu jendela di atas masih menyala. Mungkin Rangga ada di kamarnya, menggambar kisah tentang orang-orang yang selalu datang tepat waktu untuk menyelamatkan satu sama lain.

Aku berhenti di seberang jalan.

Tinggal mengetuk. Bu Lina akan membukakan pintu. Rangga tidak akan bertanya sebelum memberiku handuk. Pak Bambang mungkin mengantar Ayah mencariku.

Namun bayangan Ibu menangis di depan tetangga menempel di kepala. Jika aku masuk, seluruh keluarga Saputra akan terseret lagi. Ibu akan datang, berteriak bahwa mereka membuatku membangkang. Besok cerita di perumahan berubah menjadi Sekar kabur malam-malam ke rumah laki-laki.

Aku melangkah mundur.

Pada saat yang sama, lampu kamar atas padam. Kesempatan itu ikut hilang.

Aku berbelok menjauh dari warung, melewati musala kecil dan deretan toko yang sudah tutup. Seorang penjaga malam memandang kakiku, tetapi sebelum ia sempat bertanya, aku mempercepat langkah. Aku tidak ingin mendengar satu pertanyaan lagi yang tidak mampu kujawab.

Hujan malam itu membasahi kardigan sampai berat. Pipi bekas tamparan berdenyut setiap diterpa angin. Di kaca gelap sebuah toko, aku melihat pantulan diri sendiri: rambut menempel pada wajah, satu sisi pipi merah, kaki kotor. Tidak tampak seperti anak durhaka. Tidak juga seperti korban yang dipercaya orang.

Hanya seorang perempuan yang tidak tahu di mana ia boleh berdiri tanpa menjadi beban.

Aku terus berjalan sampai suara rumah hilang. Rasa dingin meresap ke tulang. Kerikil menusuk kaki, tetapi nyeri kecil itu lebih mudah ditanggung daripada suara Ibu yang masih berputar di kepala.

Kamu iri sama Mbakmu.

Kamu cari perhatian.

Kamu tidak tahu malu.

Sebuah klakson pendek terdengar di belakang.

Aku menepi tanpa menoleh. Mobil itu ikut melambat.

Sedan hitam berhenti beberapa meter di depanku.

Pintu terbuka. Damar turun membawa payung.

Aku mundur satu langkah.

"Jangan dekat."

Ia berhenti. Matanya menyapu pipiku, kakiku, lalu baju yang menempel karena hujan. Rahangnya mengeras.

"Siapa yang memukulmu?"

"Bukan urusan Mas."

"Masuk ke mobil."

"Nggak."

"Kamu kedinginan."

"Aku akan ke rumah Rangga."

Nama itu membuat payung di tangannya bergeser sedikit. "Warungnya sudah tutup."

"Mas tahu dari mana?"

Damar tidak menjawab. Ia melepas jas dan mengulurkannya. Aku menolak, tetapi angin malam mengguncang tubuhku. Gigi mulai bergemeletuk.

"Laras sedang di rumahnya," katanya. "Saya antar kamu ke sana."

Mbak Laras. Bukan tempat sepi. Bukan apartemen kosong. Aku bisa masuk, mengunci pintu, dan menjauh darinya.

"Telepon Mbak Laras sekarang."

Damar mengeluarkan ponsel, menyalakan pengeras suara, dan menelepon. Mbak Laras menjawab setelah dering kedua.

"Mas?"

"Saya menemukan Sekar di jalan. Saya antar ke tempatmu."

"Ya Allah, dia pergi tanpa ponsel. Ayah sedang cari. Tolong antar, Mas. Aku tunggu."

Aku tak punya alasan lain. Hujan semakin deras, pandanganku mulai berkunang.

Damar mendekat perlahan dan meletakkan jas di bahuku. Aku menahan napas saat aroma dingin itu membungkus tubuh. Sama seperti malam hujan, hanya kali ini lampu jalan menyala dan aku tahu wajah orang di depanku.

"Duduk di belakang," katanya. "Pintu tidak akan saya kunci."

Ia tahu apa yang kutakutkan.

Aku masuk karena tubuhku sudah sulit berdiri. Benar, pintunya tidak terkunci. Sepanjang beberapa menit pertama, tanganku tetap menggenggam gagang.

Damar menyalakan pemanas. Dari konsol depan ia mengambil termos kecil dan menuangkan minuman hangat ke tutupnya.

"Minum."

"Nggak mau."

"Ini air jahe kemasan. Masih tersegel sebelum saya buka."

Ia menunjukkan bungkusnya melalui kaca spion. Aku membenci bahwa ia memahami alasan penolakanku. Lebih membenci lagi karena tenggorokanku sakit dan tubuhku menginginkan kehangatan itu.

"Taruh saja."

Ia meletakkan minuman di kursi sampingku, lalu mengeluarkan obat penurun panas dalam kemasan utuh.

"Kamu demam."

"Aku cuma kedinginan."

"Tanganmu gemetar dan wajahmu merah."

"Pipiku ditampar."

Tatapan kami bertemu di kaca spion. Mata Damar menjadi gelap.

"Ibumu?"

Aku memalingkan wajah. "Jangan ikut campur."

"Dia tidak akan menyentuhmu lagi."

Cara ia mengatakannya bukan janji. Lebih menyerupai keputusan yang sudah diberikan kepada seseorang di luar mobil.

"Jangan lakukan apa pun kepada Ibu."

"Kamu masih melindunginya?"

"Aku melindungi diriku dari masalah yang Mas buat."

Mobil melaju melewati jalan basah. Damar tidak membalas. Hanya wiper yang bergerak teratur, kiri dan kanan, seperti menghitung napasku.

Aku akhirnya meminum air jahe. Panasnya menuruni tenggorokan, tetapi rasa dingin tidak hilang. Kepala semakin berat. Lampu kota memanjang menjadi garis-garis kabur.

"Berapa lama lagi?"

"Dua puluh menit."

"Jalan ini bukan ke tempat Mbak Laras."

"Ada genangan di rute utama. Saya memutar."

Panik menyentak tubuhku. Aku menarik gagang. Pintu terbuka sedikit sebelum Damar segera menepi.

"Saya tidak menguncinya," katanya.

"Aku mau turun."

"Kamu bahkan tidak bisa berjalan lurus."

"Lebih baik daripada sama Mas."

Damar mematikan mesin. Hujan menghantam atap. Ia tidak menoleh, hanya menatap ke depan.

"Takutlah kepada saya kalau itu membuatmu lebih waspada," katanya pelan. "Tapi jangan menghukum tubuhmu untuk menjauh."

Aku hampir tertawa. Orang yang membuatku takut sedang mengajariku cara menjaga diri.

Ponselnya berbunyi. Nama Mbak Laras muncul di layar mobil. Damar mengangkat panggilan dan membiarkanku mendengar saat ia menjelaskan jalan memutar. Mbak Laras mengiyakan. Lokasi kami memang bergerak menuju apartemennya.

Aku menutup pintu lagi.

Demam naik cepat. Dingin berubah menjadi panas yang menekan pelipis. Aku menyandarkan kepala ke kaca, berusaha tetap sadar. Aroma jas Damar memenuhi napas. Sama. Sangat sama.

Potongan malam itu kembali satu per satu.

Kasur turun.

Suara pelan menyuruhku diam.

Tangan menahan pergelangan.

"Sekar, minum obatnya."

Suara dari kursi depan menyatu dengan suara di dalam gelap.

Aku mengangkat wajah ke kaca spion.

Damar sedang menatapku dari sana.

Sepasang mata hitam itu menangkap mataku, tenang dan tak berkedip.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!