NovelToon NovelToon
Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:63
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.

Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:

> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*

Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.

Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.

Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.

Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.

> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Layar Besar di Resepsi

Layar hitam itu bertahan selama tiga detik.

Musik pembuka terputus. Para tamu mengira ada gangguan teknis. Seorang anggota tim audiovisual berlari di sisi aula, sementara pembawa acara memaksakan senyum dan meminta semua orang tetap tenang.

Lalu gambar baru muncul.

Rekaman hitam putih dari kamera koridor hotel memenuhi layar selebar panggung. Tanggal dan waktu menyala di sudut. Radit keluar dari lift bersama seorang perempuan. Meski gambar tanpa suara, wajah mereka mudah dikenali.

Tiara menarik kerah Radit. Radit menunduk dan menciumnya.

Aula yang menampung hampir seribu tamu menjadi sunyi seperti ruang kosong.

Laras berhenti di tengah jalur masuk. Tangan Pak Broto pada lengannya mendadak kaku.

Video terus berjalan.

Radit menekan Tiara ke dinding koridor. Perempuan itu tertawa, lalu keduanya masuk ke kamar yang sama. Klip hanya berlangsung sekitar dua belas detik, tetapi cukup untuk mengubah seluruh acara.

Suara terkejut meledak dari segala arah.

"Matikan!" bentak Radit.

Asistennya berlari menuju meja teknis. Layar sempat berkedip, lalu mengulang tiga detik ciuman sebelum akhirnya gelap.

Terlambat.

Puluhan ponsel sudah terangkat. Kamera infotainment di area media berputar dari layar ke wajah Radit, kemudian mencari Laras. Beberapa jurnalis melakukan siaran langsung. Notifikasi pertama pasti sudah meninggalkan aula bahkan sebelum video berhenti.

Bu Ratna berdiri dengan wajah pucat. "Radit, apa ini?"

Pak Kusumo meraih lengan putranya. "Turun dari panggung. Sekarang."

Radit tidak bergerak. Tatapannya menyapu meja audiovisual, pintu samping, lalu berhenti pada Laras seolah perempuan itulah yang paling mungkin melakukan semua ini.

Laras menjalankan bagiannya.

Ia menutup mulut dengan satu tangan. Bahunya bergetar. Air mata yang tadi sulit muncul kini datang saat ia membayangkan ibunya tetap menyuruhnya berjalan setelah melihat bukti yang sama. Kamera menangkap wajah pengantin yang hancur, bukan perempuan yang telah menunggu ledakan ini selama berminggu-minggu.

"Laras," kata Pak Broto pelan. Genggamannya berubah, bukan untuk melindungi, tetapi untuk mencegah putrinya pergi.

Laras menarik lengannya.

Di sisi belakang panggung, sebuah jeritan terdengar.

Tiara muncul di antara kru. Wajahnya putih, satu tangan memegang perut. Ia mundur seolah terpukul oleh tatapan ratusan orang, lalu tubuhnya oleng dan bahunya menghantam pilar dekorasi.

"Mbak Tiara!"

Beberapa orang menahannya sebelum jatuh. Nama itu menyebar cepat. Tamu-tamu yang tadi hanya melihat perempuan dalam video kini membandingkan wajahnya secara langsung.

"Itu dia."

"Asistennya Radit, kan?"

"Kenapa dia ada di sini?"

Tiara menutup perut dengan kedua tangan dan mulai menangis. Gerakannya begitu tepat hingga kamera media beralih kepadanya. Ia tidak perlu mengucapkan kata hamil. Satu sikap perlindungan dan pakaian longgar sudah cukup untuk menanam dugaan.

Laras melihatnya dari kejauhan.

Tiara telah memilih panggungnya sendiri. Perempuan itu menukar rasa malu menjadi simpati, berharap keluarga Adiwangsa lebih takut pada kemungkinan cicit di dalam kandungannya daripada skandal yang baru meledak.

"Hentikan siaran langsung!" teriak salah satu staf keluarga.

Seorang jurnalis mundur sambil terus mengangkat ponsel. "Ini acara dengan akses media resmi. Kami sedang meliput kejadian publik."

Jaringan seluler melambat karena ratusan unggahan dikirim bersamaan, tetapi potongan video sudah muncul di berbagai akun. Di layar ponsel seorang tamu, tanda pagar mulai naik.

#RaditSelingkuh

#AkadGagal

Keterangan video menyebut calon pengantin pria ketahuan berselingkuh beberapa menit sebelum ijab kabul. Komentar bertambah begitu cepat hingga tak bisa dibaca.

Satu akun hiburan mengunggah dua layar berdampingan: potongan Radit berlutut pada malam tahun baru dan rekaman dirinya mencium Tiara. Akun lain memperlambat bagian saat perempuan itu masuk ke kamar. Dalam hitungan menit, warganet menemukan profil kerja Tiara dan menghubungkannya dengan Grup Adiwangsa.

Tim komunikasi mencoba mengirim permintaan penghapusan, tetapi setiap video yang hilang muncul kembali dalam lima salinan. Siaran langsung dari tiga media berbeda membuat alasan penyuntingan palsu sulit dipakai. Cap waktu hotel, wajah yang jelas, dan reaksi langsung keluarga membentuk bukti publik yang tak bisa disebut hasil kecerdasan buatan tanpa mengundang lebih banyak ejekan.

Bimo menatap ponselnya dengan mulut terbuka. Gilang merebut perangkat itu dan menyuruhnya berhenti menyebarkan tautan. Di sisi lain aula, beberapa rekan bisnis Pak Broto sudah keluar untuk menelepon kantor masing-masing. Skandal pribadi berubah menjadi risiko proyek di depan mata semua orang.

Penghulu masih berada di ruang tunggu bersama staf KUA. Tidak ada ijab. Tidak ada kabul. Tidak ada buku nikah yang ditandatangani. Yang hancur hari itu adalah pertunangan dan panggung resepsi yang dipasang terlalu dini, bukan sebuah perkawinan sah.

Laras memastikan fakta itu tersimpan kokoh di kepalanya.

Ia belum menjadi istri Radit.

Bu Widuri menerobos kerumunan dan memegang kedua bahu putrinya. "Jangan lakukan apa-apa dulu. Kita bicara di dalam."

Bahkan sekarang, ibunya masih ingin membawa skandal kembali ke ruang tertutup.

"Ibu sudah melihat buktinya sebelum hari ini," bisik Laras cukup pelan agar hanya mereka yang mendengar. "Ibu tetap membawa saya ke sini."

Wajah Bu Widuri retak.

"Laras, dengar Ibu," katanya, suara turun menjadi desakan. "Kalau kamu lari sekarang, orang akan bilang keluarga kita tidak bisa menyelesaikan masalah."

"Kalau saya tetap berdiri, mereka akan bilang saya menerima semuanya."

"Kita bisa tunda akad beberapa jam."

Beberapa jam. Bukan batal. Bahkan di depan layar yang baru saja menyiarkan pengkhianatan, ibunya masih mencari cara mengembalikan Laras ke kursi akad setelah debu turun.

Pak Broto menyela, "Bukan waktu yang tepat."

"Bagi Bapak, kapan pernah ada waktu yang tepat untuk saya?"

Kamera mendekat. Laras kembali menutup mulut dan membiarkan air matanya jatuh. Ia tidak mau percakapan privat itu menjadi suara yang bisa dipotong media. Narasi malam ini harus tetap sederhana: seorang perempuan datang untuk akad, lalu melihat pengkhianatan calon suaminya di layar besar.

Radit akhirnya turun dari panggung.

"Laras, dengarkan saya." Ia mengulurkan tangan. "Video itu dijebak. Saya bisa menjelaskan."

"Wajahmu dijebak ke bibir Tiara?" suara Rakai terdengar dari antara tamu.

Kirana menahan lengannya, tetapi Rakai melepaskan diri.

Radit mengabaikannya. "Ada orang yang sengaja menghancurkan keluarga kita. Beri saya waktu sepuluh menit."

"Kamu punya waktu berbulan-bulan sebelum hari ini," jawab Laras dengan suara pecah. "Kamu menggunakannya untuk berbohong."

Untuk pertama kalinya, mikrofon pembawa acara yang masih menyala menangkap kalimat Laras. Suaranya bergema ke seluruh aula.

Keributan naik lagi.

Seseorang dari tim komunikasi Grup Adiwangsa mencoba mematikan sistem suara. Yang lain mendesak wartawan keluar. Vania tidak terlihat di area media, tetapi Laras bisa membayangkan manajer humas itu sedang menghapus jejak sambil berharap fotonya sendiri di paviliun tidak pernah muncul.

Pak Kusumo berdiri di depan Radit. "Pergi ke ruang keluarga."

"Saya harus bicara dengan Laras."

"Bukan di sini."

Radit menatap ayahnya, lalu melihat tanda pagar di layar ponsel seorang tamu. Wajah tenangnya runtuh sedikit demi sedikit. Rahangnya menegang. Saat kamera mendekat, ia mengangkat tangan menutupi lensa.

"Berhenti merekam!"

Gerakan itu justru memancing lebih banyak orang mengangkat ponsel.

Tiara kembali mengerang di sisi aula. Seorang dokter yang hadir sebagai tamu diminta memeriksanya. Ia menyarankan Tiara dibawa ke ruang tenang dan tidak dikerumuni. Bu Ratna menoleh antara putranya, perempuan hamil yang belum diakui, dan Laras dalam pakaian akad.

Pak Kusumo menyuruh staf perempuan mendampingi Tiara dan melarang siapa pun menyentuh ponselnya. Perintah itu terdengar seperti perhatian, tetapi Laras mengenali naluri seorang pemimpin perusahaan yang sedang menjaga barang bukti. Jika kandungan itu benar, persoalan keluarga mereka baru saja bertambah satu pewaris yang tidak masuk undangan.

Pak Broto mendekati Pak Kusumo dan mulai berbicara tentang membawa acara ke ruang tertutup. Keduanya masih berusaha menyelamatkan proyek, jadwal, dan nama keluarga. Tidak satu pun lebih dulu bertanya apakah Laras sanggup berdiri.

"Hamil?" katanya nyaris tak bersuara.

Tiara menangis lebih keras tanpa menjawab.

Laras tahu momen itu adalah waktunya pergi.

Ia menarik veil dari bahu agar tidak tersangkut, mengangkat ujung kain, lalu berlari menuju pintu samping. Para wartawan memanggil namanya. Pak Broto berteriak agar ia berhenti. Bu Widuri mencoba menyusul, tetapi terhalang kru.

"Laras!"

Suara Radit paling dekat.

Ia melompat turun dari panggung tambahan dan mengejar. Tangannya hampir meraih pergelangan Laras.

Rakai bergerak lebih cepat.

Ia naik ke panggung tambahan dari sisi meja tamu, melompati satu susunan bunga, dan berdiri tepat di antara kakaknya dan Radit.

"Kamu selingkuhin kakakku?" bentaknya.

Radit baru membuka mulut ketika kepalan Rakai menghantam rahangnya.

Tubuh calon pengantin pria itu jatuh ke lantai panggung. Tamu-tamu menjerit, beberapa anak muda bersorak, dan satu suara dari belakang berteriak, "Mantap iparnya!"

Radit bangkit dengan mata gelap lalu menerjang Rakai. Keduanya bergulat di antara kelopak bunga, kabel mikrofon, dan kotak cincin yang terlempar entah ke mana.

Petugas keamanan berlari dari dua sisi, tetapi para tamu yang mundur justru menutup jalan. Mikrofon jatuh menangkap bunyi pukulan, makian, serta Bu Ratna yang memanggil nama kedua putranya. Penghulu keluar dari ruang tunggu, melihat kekacauan, lalu berhenti jauh dari panggung tanpa membuka berkas akad.

Laras menoleh satu kali dari pintu.

Kamera siaran langsung masih menyala.

Pukulan Rakai, darah di sudut bibir Radit, dan hancurnya seluruh pertunjukan keluarga Adiwangsa sedang dikirim ke layar ribuan orang tanpa terpotong satu detik pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!