Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.
Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".
Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah
"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Dua Belas Juta dan Gaji yang Dipotong
Pintu ruangan tertutup rapat. Dika berdiri di tengah ruangan itu, nggak kemana-mana — langsung hadepan sama Vanesha. Jas putih kena noda kopi cokelat itu masih nempel di badannya, kayak spanduk iklan kelakuan goblok yang baru kerja belum sehari udah bikin masalah gede.
Vanesha duduk di meja gede itu, natap Dika lama banget tanpa kedip. Dika berdiri tegak kayak patung — senyum dipaksain, dalam hati udah berdoa minta ampun sekuat tenaga.
"Kamu sadar nggak sih, apa yang baru saja kamu lakukan?" tanya Vanesha pelan tapi nusuk ke tulang sumsum, jari-jarinya ngetuk meja pelan — tik... tik... tik... bikin jantung Dika ikut berdetak sama irama itu.
Dika ngangguk mantap sampai kepala hampir copot. "Sadar banget, Nona Bos! Itu murni kecelakaan, musibah tak terduga, dan yang salah itu karpetnya — dia licik banget, sengaja jebak kaki gue!" jawab Dika cepat, sambil nunjuk pintu keluar seakan karpet itu lagi ketawa-ketawa di sana.
"Karpet? Kamu nyalahin karpet? Jas ini harganya dua belas juta, Dika. Dua belas juta. Kamu pikir saya cetak duit di ruangan ini pakai mesin mainan?" sahut Vanesha, alisnya naik satu sambil natap Dika kayak natap makhluk dari planet lain yang baru nyampe bumi, suaranya naik dikit.
Dika langsung tunduk dalam, nggak berani natap mata bosnya. "Ya ampun... dua belas juta? Nona Bos, gue nggak punya duit segitu! Dompet gue isinya lebih tipis dari tisu bekas!" jawab Dika lirih, tangan saling meremas di depan perut.
Vanesha menghela napas panjang, lalu berdiri dan jalan mendekat ke arah Dika. Berhenti tepat di depan, natap wajah Dika dari dekat — bikin Dika langsung nahan napas, mata melirik ke kiri ke kanan nggak tau harus natap mana, muka langsung panas kayak kena terik matahari jam dua siang.
"Kalau nggak punya duit, bayar pakai cara lain," ucap Vanesha dingin, tatapannya tajam tapi nggak beneran jahat — kayak kucing yang lagi pura-pura galak.
Mata Dika langsung berbinar kayak lampu jalan yang baru nyala pas malem. "Beneran, Nona Bos? Bayar pakai tenaga? Pakai keringat? Boleh banget! Apa aja! Gue siap sedia 24 jam nonstop — kecuali tidur, itu butuh dikit biar nggak pingsan jatuh nimpa lantai!" jawab Dika semangat, dada dibusungkan kayak ayam jago yang baru menang adu.
Vanesha balik ke meja dan ambil buku catatan. "Oke. Dua belas juta itu akan dipotong dari gajimu. Tiap bulan kamu dapat gaji, tapi lima puluh persen langsung dipotong buat bayar utang jas ini. Selesai dalam sepuluh bulan. Setuju?" tanya Vanesha sambil natap Dika nunggu jawaban.
Dika melongo, mulut buka tutup buka tutup kayak ikan yang ditaruh di darat. "Sepuluh bulan? Nona Bos, itu lama banget! Nanti gue keriput nunggu lunasnya! Nggak ada cara lebih cepat? Kayak jadi kuli panggul, angkat karung beras, atau bantuin pindah rumah tiap minggu sekalian?" sahut Dika panik, bayangan sepuluh bulan hidup hemat langsung bikin pusing tujuh keliling.
"Pilih sendiri: lima puluh persen dipotong tiap bulan selesai sepuluh bulan, atau sepuluh persen selesai dua tahun lebih. Kamu yang tentuin," ucap Vanesha santai sambil melipat tangannya di dada, nunggu keputusan Dika dengan tenang.
Dika garuk kepala yang nggak gatal. Mikir sebentar, lalu natap Vanesha dengan wajah pasrah kayak orang yang udah nggak bisa lari dari takdir. "Ya udah... lima puluh persen aja deh. Biar cepat selesai, biar gue nggak ngerasa terus-terusan berhutang nyawa sama Nona Bos," jawab Dika berat hati.
"Bagus. Mulai bulan depan berlaku," ucap Vanesha tegas, lalu natap Dika yang masih berdiri di tempat nggak kemana-mana. "Tapi Dika..." panggil Vanesha pelan.
Dika langsung tegap lagi, mata berbinar nunggu lanjutan. "Iya, Nona Bos? Ada tugas tambahan? Atau utangnya dikurangin dikit?" tanya Dika berharap.
Vanesha senyum tipis dikit — nggak biasa kelihatan. "Terima kasih sudah mau bertanggung jawab. Banyak orang yang langsung lari kalau kejadian kayak gitu," ucap Vanesha lembut.
Muka Dika langsung merah padam kayak tomat yang udah matang. Senyum melebar sendiri sampai ke kuping. "Siap, Nona Bos! Gue nggak lari! Gue tetap di sini — teguh dan setia!" jawab Dika mantap, lalu berdiri diam di ruangan itu, nggak beranjak, nunggu perintah selanjutnya.
Vanesha geleng-geleng kepala sambil senyum tipis, lalu balik sibuk sama dokumennya. "Ya sudah, berdiri di sana aja dulu. Jangan kemana-mana," ucap Vanesha santai.
"Siap, Nona Bos! Di sini aja! Nempel di lantai kayak karpet — yang kali ini nggak bakal ngejebak siapa pun, janji!" jawab Dika sambil senyum kocak.
Vanesha cuma ketawa kecil dikit, lalu lanjut kerja. Dika berdiri diam di sudut ruangan, nggak kemana-mana. Matanya sesekali melirik ke arah Vanesha yang sibuk mengetik di komputer, wajahnya serius banget, alisnya nyatu dikit — cantiknya nggak masuk akal, tapi aura dinginnya bikin AC ruangan kalah telak.
"Berhenti natap saya terus. Mata saya nempel di punggung, tahu?" ucap Vanesha tiba-tiba tanpa nengok, jari-jarinya tetap bergerak di atas keyboard, nadanya pelan tapi tegas.
Dika langsung tegak, muka merah dikit ketahuan. "Bukan natap, Nona Bos! Gue cuma memandang dengan penuh rasa hormat dan kekaguman! Beda tipis, tapi beda artinya jauh!" jawab Dika cepat, senyum lebar tanpa dosa.
Vanesha berhenti mengetik, lalu nengok perlahan menatap Dika dengan tatapan nggak percaya. "Kamu ini... mulutnya bisa aja disumpal pakai lakban?" tanya Vanesha sambil menatap Dika seakan sedang mempertimbangkan ide itu serius.
"Bisa aja, Nona Bos! Tapi nanti kalau gue nggak bisa ngomong, siapa yang bakal hibur Nona Bos pas lagi pusing kerja? Gini-gini gue penyemangat hidup lho!" jawab Dika sambil menepuk dada sendiri.
Vanesha mendengus, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. "Sudah, diamlah. Sekarang ada tugas lain. Jangan pikir selesai cuma soal jas itu," ucap Vanesha sambil mengambil satu map tebal dari tumpukan dokumen di meja, lalu berdiri dan berjalan mendekat ke arah Dika.
Dika langsung maju selangkah, siap menerima apa pun. "Tugas apa aja, gue kerjain! Angkat meja, pindah lemari, beliin makan siang — apa aja, asal jangan suruh gue hitung bunga utangnya lagi, itu yang bikin pusing!" jawab Dika semangat.
Vanesha tersenyum tipis, lalu menyodorkan map itu ke dada Dika. "Bukan angkat barang. Mulai hari ini, selain jaga di depan pintu, kamu juga ikut antar dokumen penting ke kantor cabang di seberang kota. Tiap sore jam empat. Jangan telat, jangan sampai hilang, jangan dibuka isinya. Mengerti?" tanya Vanesha sambil menatap tajam.
Dika menerima map itu, memeluknya erat seperti memeluk harta karun. "Dimengerti sampai ke tulang sumsum! Dokumen ini lebih berharga dari nyawa gue! Nggak dibuka, nggak ditinggal, nggak disentuh orang lain — kecuali tangan gue sendiri!" jawab Dika mantap.
"Bagus. Dan satu lagi... Jangan terlalu percaya sama orang di luar sana. Banyak yang nggak suka posisi saya. Kalau ada apa-apa, kabari saya dulu. Jangan main sendiri," ucap Vanesha pelan, matanya menatap Dika lekat-lekat, seakan ingin memastikan perkataannya masuk ke kepala yang kadang suka nyasar itu, nadanya berubah jadi khawatir.
Hati Dika berdebar kencang. Tatapan itu, nada bicara itu — bukan lagi bos yang galak, tapi wanita yang sebenarnya butuh dijaga. Senyum Dika melebar tulus, kali ini nggak sengklek, nggak berlebihan.
"Tenang aja, Nona Bos. Selama gue di sini, nggak ada yang bisa nyentuh sehelai rambut pun di kepala Nona Bos. Gue janji," jawab Dika pelan tapi tegas, matanya menatap Vanesha dalam-dalam.
Vanesha terdiam sejenak, terkejut mendengar nada bicara Dika yang tulus banget. Wajahnya memerah tipis, lalu dia cepat-cepat berbalik kembali ke mejanya, berusaha terlihat biasa saja.
"Sudah... sudah, pergi sana. Belajar jalannya dulu. Jangan sampai tersesat pas antar dokumen nanti," ucap Vanesha agak gugup, membalik halaman dokumennya tanpa benar-benar membaca.
Dika tersenyum melihat tingkah bosnya yang tiba-tiba jadi malu. "Siap, Nona Bos! Gue berangkat! Hati-hati di sini, jangan terlalu kangen ya!" jawab Dika sambil memberi hormat asal-asalan, lalu berjalan menuju pintu dengan map di pelukan.
Baru tangannya pegang gagang pintu, suara Vanesha terdengar lagi pelan dari belakang.
"Dika?" panggil Vanesha.
Dika berhenti dan nengok. "Iya, Nona Bos?" tanya Dika lembut.
Vanesha menunduk ke meja, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Terima kasih," ucap Vanesha pelan sekali, tapi Dika mendengarnya jelas banget.
Dika tersenyum lebar, hatinya terasa ringan melayang. "Sama-sama, Bos Cantik!" jawab Dika santai, lalu keluar ruangan dan menutup pintu pelan-pelan.
Di dalam ruangan, Vanesha sendirian di balik meja kerjanya. Dia menatap pintu yang tertutup itu, lalu menyentuh bibirnya sendiri sambil geleng-geleng kepala. "Siapa yang kasih izin dia panggil gitu..." gumam Vanesha sendiri, tapi senyumnya nggak hilang.