“Kamu tega menghisap darah para petani miskin seperti kami! Dasar lintah!”
Tristan dilempari anggur busuk, oleh warga desanya sendiri. Truk pendingin miliknya sudah sampai di gerbang desa. Kerugian yang begitu besar akan didapatkan olehnya.
“Tapi kita sudah tanda tangan kontrak. Aku yang mengajari kalian untuk bertani anggur. Aku yang mengajari kalian bagaimana merubah lahan tandus menjadi gudang harta.”
“Persetan dengan kontrak!” Para warga desa merobek kontrak, merusak dan menjarah rumah Tristan.
Hanya karena provokasi dari tunangannya yang merupakan Putri kepala desa. Hanya karena provokasi dari bos anggur yang mengaku dari kota. Mereka tega mengkhianatinya.
Warga desa yang polos sudah tidak ada lagi. Mereka sudah serakah akan uang…
Wajahnya tersenyum, air matanya mengalir.”Gunung tandus milik warga desa sebelah. Akan aku rubah menjadi gunung harta. Saat itu jangan berlutut menyesal di hadapanku."
Warning! Nama tokoh, perusahaan maupun latar hanya fiktif, imajinasi penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Kaca Hilang Digondol Jin
“Tristan, Apa yang terjadi?” Tanya Anggraini gemetaran, sang ibu yang memeluk putranya erat.
Sedangkan ayahnya duduk di atas kursi roda, berusaha menggerakkan kursi rodanya. Wajah ayahnya yang sudah keriput, air mata mengalir di pipinya. Menatap iba ke arah putranya.
“Ini salah ayah! Seharusnya Ayah 5 tahun lalu membiarkanmu tinggal di kota! Tidak! Seharusnya Ayah tidak menghubungimu yang tinggal di Prancis…” Cakra menangis sesegukan.
“Ayah, jangan menyesali segalanya. Aku tidak apa-apa.” Pemuda itu menghela nafas, memegang jemari tangan ayahnya yang sudah keriput.
“Tapi kamu menanggung kerugian karena melanggar kontrak. Kamu sudah tanda tangan kontrak dengan orang-orang dari supermarket besar di kota. Kerugiannya pasti tinggi bukan? Bagaimana jika…” kalimat sang ayah di sela.
Putranya menggeleng pelan.”Aku bisa menghubungi relasi bisnisku. Walaupun tidak mendapatkan untung sama sekali. Setidaknya aku tidak terkena denda pelanggaran kontrak. Nanti temanku sesama pemasok, yang akan menghandle semua pesanan. Mungkin aku hanya akan rugi biaya supir pengangkut saja.”
“Tapi semua tabunganmu sudah habis, semua hasil kerja kerasmu di Perancis habis, untuk mensubsidi rumah kaca bagi warga desa.” Sang ayah membelai pipi putranya.
Tristan, sejatinya bukan kuliah di kota. Pemuda itu mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Tapi kedua orang tuanya tidak sesumbar, mengatakan putra mereka kuliah di kota.
Pria yang setelah lulus kuliah, sejatinya mendapatkan pekerjaan tetap. Di sebuah pabrik anggur besar di Prancis. Setelah 5 tahun bekerja dan mendapatkan kedudukan yang tinggi.
Ayahnya yang menghubunginya, meminta putranya untuk pulang. Meminta putranya untuk membantu warga desa, para tetangga mereka yang kelaparan, para tetangga mereka yang terjerat kemiskinan, karena kebun buah jeruk yang selalu menghasilkan jeruk asam. Dijual dengan harga yang rendah dan murah.
Pada akhirnya putranya benar-benar pulang. Menggunakan seluruh tabungannya hasil kerja keras di luar negeri, untuk memajukan desa. Menginginkan untuk kaya bersama warga desanya.
5 tahun lalu, rumah kaca mulai dibangun. Para warga desa antusias.
Panen pertama, putranya disebut Dewa rezeki. Panen di tahun kedua, putranya dipanggil bos Tristan, panen di tahun ketiga putranya disebut lintah darat.
“Aku benar-benar tidak apa-apa. Ayah jangan menangis seperti ini…” Tristan berusaha keras untuk tersenyum, menenangkan Cakra.
“Yang terpenting dalam bisnis adalah kredibilitas. Mereka sudah melanggar kontrak, karena itu aku tidak akan bekerja sama dengan mereka lagi. Tentang rumah kaca, aku akan membongkar semuanya termasuk peralatannya. Sebenarnya desa tetangga sering menghubungiku, memohon padaku untuk membantu warga desa mereka. Aku tidak bersedia, semuanya karena lebih mementingkan warga desa kita.” Ucap Tristan pelan.
“Tapi untuk modalnya…”sang ayah meraih kaleng biskuit di atas meja, lalu membukanya. Terdapat beberapa lembar uang ratusan ribu di sana dan juga sertifikat rumah.”Kamu bisa menggadaikan rumah ini…Ayah selalu percaya padamu. Walaupun jumlah uangnya pasti kurang. Tapi Ayah juga ingin segera meninggalkan desa ini.”
Tristan mengangguk pelan, memeluk tubuh ayahnya yang sudah renta.”Ayah…rumah ini memang sebaiknya dijual. Kita akan pindah ke desa sebelah, agar mereka tidak mengganggu kita lagi. Untuk uang, Ayah tidak perlu cemas sama sekali. Aku ada sedikit uang…”
“Sedikit uang? Kamu tidak meminjam pinjaman online bukan? Ibu sudah dengar! Rentenir akan merusak reputasimu. Mereka akan menerormu!” Sang Ibu membulatkan matanya, cemas akan keadaan putranya.
Tapi Tristan menggeleng pelan.”Ibu ingat, saat aku kembali dari luar negeri? Tahun pertama aku bekerja sebagai staff. Tapi kebetulan mendapatkan klien besar. Karena kemampuan dan relasiku, juga faktor keberuntungan. Aku dapat dengan cepat naik jabatan sebagai direktur. Gaji tahunan ku sekitar 2 miliar. Saat pulang aku berhasil mengumpulkan 5,5 miliar. Setengahnya aku investasikan di ke desa. Setengahnya lagi aku membuka usaha bersama temanku.”
“Usaha?” Sang Ibu mengerutkan keningnya.
“Perusahaan wine yang ada di kabupaten. Perusahaan di mana aku sering mengirim anggur ke sana. 70% sahamnya adalah milikku, aku patungan dengan temanku untuk membuat perusahaan minuman anggur kualitas ekspor. Usahanya lumayan berkembang, labanya bisa dijadikan modal.” Kalimat Tristan membuat sang Ibu membulatkan matanya.
“A…anakku CEO? Anakku pemilik perusahaan? Kamu kenapa tidak pernah memakai dasi dan jas?” Tanya sang Ibu mencubit pipi putranya.
“A…aku kan cuma CEO kampung.” Tristan terkekeh.
“Tapi perusahaan itu besar, Ayah dengar itu sering mengirim pesanan ke luar negeri. Itu benar-benar punyamu? Kenapa kamu tidak mengatakannya!? Kamu bukan cuma Dewa rezeki…kamu ini Immortal rezeki…! Rezekimu tidak ada mati-matinya!” Teriak sang ayah, mengangkat tangannya, masih duduk di atas kursi roda.
“Yang terpenting saat ini, Aku benar-benar ingin pindah dari tempat ini. Besok kita akan segera pergi. Ibu dan Ayah lebih baik berkemas. Karena…Aku tidak ingin ibu dan ayah iba pada mereka yang akan berlutut di halaman kita nanti.” Tristan tersenyum, pemuda desa yang sejatinya cukup rupawan.
Sang Ibu mendorong kursi roda suaminya. Mungkin hendak membereskan barang-barang mereka.
Tiba-tiba saja, pria yang merupakan sopir truk memasuki rumahnya.”Bos! Biaya angkut 1 mobil pendingin lumayan besar. Daripada rugi begitu saja, Kenapa tidak negosiasi harga lagi. Tidak untung tidak apa-apa, yang penting tidak rugi Armada pengangkut.”
“Jika sekarang, aku berhasil menawar harga hingga 55.000 per kilo atau 58.000 per kilo. Mereka pasti akan berpikir aku mengeruk untung yang lebih besar. Berikutnya aku mereka akan mencemooh dan merendahkanku. Padahal mereka tidak tahu, selama ini berapa kerugianku di desa ini. Darah dan kerja kerasku di Prancis, setengahnya aku investasikan pada desa ini. Desa yang tidak tahu malu…” pakaiannya masih kotor, tercium aroma menyengat anggur busuk.
Rp60.000 per kilo, harga anggur itu dirinya benar-benar mendapatkan keuntungan yang tipis. Ongkos penyortiran, biaya susut, belum lagi gudang pendingin, biaya angkutan, retur, stok barang yang tidak terjual. Semuanya ditanggung olehnya seorang diri. Lagi pula tidak semua buah dapat masuk ke supermarket dengan harga rp60.000.
Buah sisa sortiran harus masuk ke tokoh-tokoh kecil dengan harga lebih murah. Mengerti apa mereka tentang ini?
“Tapi tentang nona Yuni? Bos sendiri yang mengatakan akan melamarnya.” Sang sopir truk berucap.
“Aku tidak menyukai barang bekas pakai. Hubungi orang-orang kita, bongkar rumah kacanya malam ini juga. Pindahkan semua peralatan, mereka melanggar kontrak. Maka aku tidak akan memberikan jalan bagi anggur mereka untuk hidup dengan baik.” Ucap pria itu tersenyum.
Anggur impor merupakan varietas yang sensitif. Berbeda dengan anggur lokal.
***
Suara ayam berkokok terdengar.
Pagi harinya warga desa mulai keluar untuk beraktivitas. Seorang pria tua menaiki sepeda motornya.
“Ru…rumah kacanya hilang!”
Suara teriakan yang menggema. Bukan hanya satu, semua rumah kaca yang ada di desa ini lenyap dalam semalam. Bagaikan bangunan candi Roro Jonggrang yang dibangun dalam semalam. Maka keajaiban rumah kaca ini juga lenyap dalam semalam. Tidak ada lagi pelindung untuk anggur varietas impor milik mereka.
pedagangpun menolak
dah busuuuuuk 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣
setelah diliat ternyata 😒😒
hadeeeeh
eh..salah Deng sekarang mah udh google berjalan yaa🫣🤣🤣
😁😁😁
semamgat berkarya, sukses selalu🤲
Sudah lebih baik kehidupan di Desa Makmur setelah Tristan datang, brati warga desa punya hp dong, ada jaringan internet masuk Desa Makmur kan? Kenapa warga Desa Makmur tetep dalam kebodohan? Tanpa mencari berita online soal penanaman anggur red globe dll😜