Karina, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, kehilangan nyawanya setelah menyelamatkan seluruh penumpang bus yang terjun ke jurang. Namun, kematiannya bukan akhir. Sebuah sistem misterius memberinya kesempatan hidup kembali dengan satu syarat: mengumpulkan 100.000 Poin Kehidupan dengan menyelamatkan para antagonis pria dari takdir tragis mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kirana_euforia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Pertama — 01
Hal pertama yang Karina sadari saat kesadarannya menetap di tubuh barunya adalah kebiasaanya menggigit ujung pulpen ketika gugup.
Ia sedang melakukannya sedang melakukannya sekarang, berdiri didepan pintu kelas Xl IPA 2 sambil menunggu wali kelas sedang berbicara dengan seseorang didalam.
Rambutnya sebahu, lurus, diikat asal dengan karet gelang biru. Seragam putih abu abunya masih terlihat baru, belum ada noda tinta atau lipatan yang menadakan sudah lama dipakai.
Ditangannya terdapat map plastik berisi surat pindahan yang kalau boleh jujur, tidak sepenuhnya ia mengerti isinya, menurut ingatan Alya yang dipinjamkan sistem ternyata hanya seperti potongan potongan puzzle yang separuh kepingannya hilang.
"Oke, namaku Alya, aku pindahan dari luar kota, aku nggak tau siapa orang tuaku dan jelas aku nggak tau isi buku pelajaran kelas sebelas." Batinnya mencoba menengangkan diri sendiri
"Alya Ramadhani?" Suara itu seketika membuyarkan lamunannya.
Seorang wanita berkacamata dengan blazer coklat yang kemungkinan besar wali kelasnya, berdiri diambang pintu sambil tersenyum ramah.
"Iya Bu." Jawabnya cepat sambil menyembunyikan pulpen yang tadi ia gigit kedalam saku seragamnya.
"Bu Retno. Ayo masuk, anak anak lagi rame banget nih, katanya sudah denger ada murid baru."
Begitu pintu dibuka, tiga puluh pasang mata langsung mengarah padanya.
Alya a.k.a Karina berdiri didepan kelas dengan perasaan yang aneh, bukan gugup seperti remaja kebanyakan, melainkan sesuatu yang lebih mirip seperti rasa ingin tahu.
"Silahkan perkenalkan diri." Ucap Bu Retno sambil menepuk pundaknya pelan.
"Nama saya Alya Ramadhani." Katanya dengan suara tenang.
"Pindahan dari SMA di Bandung. Salam kenal semuanya semoga kita bisa menjadi teman baik." Singkat dan tidak berlebihan.
Ia melihat beberapa siswa mengangguk sopan, beberapa lagi berbisik pada yeman sebangku mereka, mungkin membicarakan penampilannya atau mungkin hanya bosan dengan rutinitas pagi.
Yang jelas menarik perhatian Karina adalah dua orang yang duduk dibaris kedua dari depan dekat dengan jendela.
Yang pertama adalah seorang perempuan dengan rambut panjang bergelombang, kulit bersih tanpa cela dan senyum yang entah bagaimana terlihat seperti sudah dilatih sejak lahir untuk selalu tampak sempurna didepan kamera yang sebenarnya tidak ada.
Disampingnya terdapat seorang laki laki berambut agak panjang menutupi dahi dengan tersenyum tipis menatap kearah Karina, senyum itu terlihat sopan tapi jelas sudah biasa menjadi pusat perhatian.
"Itu pasti Naura sama Refan." Ucapnya dalam hati mengingat penjelasan singkat dari sistem sebelum dilempar ke dunia ini, tidak lain dan tidak bukan yaitu tokoh utama dalam cerita.
Dan benar saja, ketika Bu Retno menunjuk kursi duduk ternyata satu satunya kursi kosong yang tersisa ada tepat dibelakang bangku Naura dan Refan.
"Kamu duduk disitu ya Alya, sebelah Bram."
Nama itu membuat seluruh kelas mendadak hening sepersekian detik yang tidak wajar, seperti orang orang menahan nafas bersama tanpa aba aba.
Karina menoleh kearah bangku yang dimaksud. Dipojok belakang dekat jendela yang jarang dibuka, duduk seorang laki laki dengan postur membungkuk seolah ingin menghilang dari pandangan siapapun.
Rambutnya hitam berantakan, seragamnya kusut dibagian lengan dan dimeja depannya tidak ada buku atau alat yulis sama sekali, hanya terdapat kepalan tangan yang dia sandarkan didagu, menatap keluar jendela seakan seluruh kelas ini tidak ada urusannya dengannya.
"Bram, geser sedikit dong bangkunya." Perintah Bu Retno yang entah kenapa terdengar berbicara sedikit lebih berhati hati dibandingkan saat berbicara dengan murid lain.
Laki laki itu tidak menjawab. Ia hanya menggeser kursinya beberapa senti tanpa menoleh memberi ruang untuk Karina lewat.
Karina berjalan kebelakang bangkunya sambil sesekali meliriknya. Dari dekat, ia bisa melihat ada memar kecil disudut bibir Bram yang sudah agak menghijau, menadakan sudah beberapa hari.
Dan matanya menatap keluar jendela dengan cara yang membuat Karina teringat dirinya sendiri, dulu saat masih kecil dan baru kehilangan orang tuanya. Mata yang sudah lelah berharap ada yang peduli.
Ia duduk lalu meletakkan tasnya disamping kursi dan mencoba bersikap senormal mungkin untuk seseorang uang baru saja mati kemarin dan sekarang menempati tubuh orang lain.
...----------------...
Jam istirahat pertama karina baru benar benar merasakan betapa istimewanya posisi duduk yang ia dapatkan.
"Eh, Alya kan? Sini deh gabung sama kita." Ajal seorang siswi bernama Tika, yang duduk dibaris depan Karina, sambil menyeret kursi mendekat.
Karina sebenarnya lebih penasaran mengamati Bram dari jauh, terpaksa menggeser perhatian. "Eh, boleh."
"Lo tadi kaget ya pas denger nama Bram disebut?" Tanya Tika, suaranya direndahkan meski Bram sudah keluar kelas duluan begitu bel istirahat berbunyi.
"Sedikit." Jawabnya jujur.
"Emangnya kenapa sih? Kok kayaknya anak anak agak takut gitu sama dia?"
Seorang siswa bernama Fajar yang ikut nimbrung langsung menjawab dengan semangat yang aneh, seperti semangat orang yang membagikan gosip.
"Bram itu anak paling bermasalah diangkatan kita, dulu pernah berantem sama senior sampe masuk UKS dua duanya."
"Trus dia juga suka bolos, nilainya jeblok, katanya sih keluarganya juga berantakan, bokapnya kabur entah kemana, nyokapnya kerja diluar kota jadi dia tinggal sendirian."
"Terus yang bikin dia makin dibenci itu karna dia suka gangguin Naura sama Refan." Sambung Tika.
"Padahal semua orang juga tau mereka tuh emang jodoh, cocok banget. Eh tapi si Bram kayak sengaja gitu bikin masalah diantara mereka."
Karina mengernyit. "Ganggu gimana maksudnya?"
"Ya kayak nyebarin gosip nggk jelas tentang Refan, atau kalau Naura lagi deket deket sama Refan tiba tiba si Bram nongol bikin salah paham." Jelas Fajar
"Padahal ya jujur aja, siapa juga yang bakal suka sama Naura kalau bukan Refan? Mereka tuh pasangan paling ideal disekolah ini."
Karina mendengarkan dengan seksama, meski didalam hati ia mulai menyusun potongan potongan cerita ini dengan cara yang berbeda dari yang diceritakan Tika dan Fajar.
Sistem sudah mengingatkan, dunia ini punya jalan cerita yang sudah ditulis dan biasanya sudut pandang yang beredar di kalangan orang orang didalamnya terutama tentang si antagonis yang jarang sekali mendapat nasib baik.
"Emangnya udah pernah ada bukti dia yang nyebarin gosip?" Tanya Kirana dengan hati hati supaya tidak terdengar seperti seseorang yang belum ia kenal.
Tika dan Fajar saling pandang sejenak, seperti baru sadar bahwa pertanyaan itu tidak pernah benar benar mereka pikirkan jawabannya.
"Ya.... Pokonya semua orang juga udah tau kok dia yang biang keroknya." Jawab Fajar dengan agak defensif.
"Lagian ngapain sih lo nanya nanya soal dia? Baru juga hari pertama, mendingan jauhin aja orang kayak gitu."
"Enggak cuma penasaran aja." Ucapnya sambil tersenyum kecil untuk mencairkan suasana.
"Namanya juga baru pindah kan pengen kenalin lingkungan dulu."
...----------------...
Sore harinya sepulang sekolah, Karina memutuskan untuk tidak langsung pulang ke kos yang menurut ingatan samar Alya terletak dua blok dari sekolah.
Ia justru berjalan memutar ketaman kecil dibelakang gedung olahraga, tempat yang menurut memori Alya jarang dilewati siswa karena letaknya agak tersembunyi dibalik deretan pohon mahoni.
Dan disanalah ia menemukan Bram, duduk sendirian dibangku kayu yang catnya sudah mengelupas dengan earphone terpasang dikedua telingannya dan tas sekolah tergeletak begitu saja ditanah.
Karina berhenti beberapa langkah darinya, ragu sesaat, lalu memutuskan untuk tetap mendekat.
"Banyak bangku lain." Katanya singkat, nada suaranya tidak ramah tapi juga tidak sepenuhnya kasar, lebih seperti seseorang yang sudah terbiasa mengusir otang sebelum orang itu sempat mengusirnya lebih dulu.
"Iya, tapi aku pengen duduk disini." Jawab Karina santai, ia sudah duduk sebelum Bram sempat protes lebih jauh.
"Lagian kamu duduk dikelas juga sendirian dipojokan, jadi aku pikir kamu suka tempat yang sepi."
Bram menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan, campuran antara curiga dan sedikit bingung, seperti tidak terbiasa ada orang yang mendekat tanpa alasan tersembunyi.
"Lo murid baru itu kan." Katanya.
"Iya dan kamu Bram temen sebangku aku." Karina tersenyum mencoba terdengar seringan mungkin.
"Salam kenal ya, yang tadi pagi itu nggak diitung soalnya kamu belum sempet ngomong apa apa."
Ada jeda cukup lama sebelum Bram menjawab, seolah dia sedang menimbang nimbang apakah ini semacam jebakan atau bukan.
"Lo nggak dengerin omongan orang orang tadi siang?" Tanyanya akhirnya, suaranya tenang tapi ada nada getir yang tersembunyi dibaliknya.
"Denger, katanya kamu suka bikin masalah, suka gangguin Naura sama Refan, trus keluarga kamu berantakan, macem macem lah pokoknya." Jawabnya jujur apa adanya.
Bram mendengus pelas lalu mengalihkan pandangannya kererumputan didepannya. "Trus lo ngapain masih mau duduk disini."
"Kenapa nggak? Lagian aku belum liat sendiri kamu ngapa ngapain kok, yang aku denger kan cuma cerita orang lain."
"Lagian kalo semua yang orang lain omongin tentang seseorang itu bener, dunia bakalan lebih simpel dari yang seharusnya."
Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, wajah Bram menunjukkan sedikit keterkejutan yang dengan cepat ia sembunyikan dengan menunduk, sambil memainkan tali sepatunya yang agak lusuh.
"Lo aneh." Ucapnya pelan.
"Aku sering denger orang ngomong gitu sih." Jawab Karina sambil tertawa kecil.
Mereka duduk dalam diam sesaat, angin sore menggoyangkan dedaunan mahoni diatas mereka.
Karina memanfaatkan keheningan itu untuk mengamati lebih jauh cara Bram duduk yang selalu sedikit menjauh dari orang lain, cara matanya sesekali melirik kearah gerbang sekolah seolah menunggu sesuatu atau seseorang yang tidak pernah datang.
"Kamu tinggal sendirian?" Tanyanya dengan hati hati, mengingat cerita dari mulut Tika dan Fajar tadi siang.
Bram terdiam cukup lama sebelum menjawab. " Kenapa lo nanya nanya tentang gue? Baru kenal juga."
"Ya.... Kayaknya belum ada yang nanya, trs aku pikir orang yang duduk sendirian ditaman belakang gedung olahraga sambil pasang earphone kenceng kenceng, biasanya bukan lagi pengen sendirian beneran. Tapi cuma capek aja diliatin dengan cara yang salah." Jawabnya sederhana dan apa adanya.
Bram menoleh kearah Kirana, matanya menyipit sedikit tapi bukan marah, lebih seperti terkejut karena ada seseorang yang bisa membaca sesuatu yang selama ini ia sembunyikan rapat rapat.
"Lo psikolog dadakan apa gimana." Gumamnya meski kali ini ada nada sedikit melunak dari sebelumnya.
"Bukan, cuma pernah ngerasain hal yang mirip aja sih."
Bel dikejauhan entah dari sekolah lain atau masjid dekat situ yang berbunyi, menandakan waktu magrib akan tiba sebentar lagi. Bram berdiri menyampirkan tasnya kesatu bahunya.
"Gue duluan." Ucapnya tanpa menunggu jawaban Karina, lalu berjalan pergi dengan langkah yang terburu buru.
Seolah sadar sudah terlalu lama berbicara dengan orang asing dan ingin segera menjauh sebelum situasi itu berubah menjadi sesuatu yang membuatnya kecewa lagi.
Karina memandangi punggungnya yang menjauh, lalu menghela nafas panjang.
"Hah... Poin masih nol." Katanya membatin, mengingat kembali bilah keemasan yang ditunjukkan sistem.
"Perjalanan masih panjang, tapi seenggaknya ini permulaan yang nggak buruk."
Ia tidak tau bahwa dikejauhan, tepatnya sebelum menghilang dari balik gerbang sekolah, Bram sempat berhenti sejenak, menoleh kearah taman tempat Karina masih duduk yang hanya sepersekian detik, cukup singkat hingga tidak ada yang menyadarinya termasuk Karina sendiri.
buang aja,karina mati lagi aja