Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Pertama Sebagai Nyonya Alkantara
Pagi pertama sebagai Nyonya Alkantara.
Aku terbangun karena silau. Bukan silau lampu kos yang redup, tapi silau matahari Jakarta yang masuk dari jendela kaca raksasa dari lantai sampai langit-langit. Tirai otomatisnya terbuka setengah.
Aku mengerjap. Di mana aku?
Seprai putih selembut awan. Selimut tebal yang wangi. Wangi kayu dan kopi samar.
Lalu aku ingat semuanya. Akad. Kontrak satu tahun. Gendongan itu.
Aku menoleh pelan.
Jantungku langsung berdegup kencang.
Di sisi kiri ranjang yang semalam sengaja kami beri jarak satu meter, dia masih tertidur lelap.
Brayen Lucian Alkantara bin Louis Alkantara.
Suamiku.
Kemeja putih tuxedo semalam masih ia pakai, dua kancing atasnya terbuka, memperlihatkan leher tegasnya. Rambutnya yang biasanya rapi sempurna kini berantakan sedikit. Wajah dinginnya yang ditakuti semua orang itu, pagi ini terlihat damai. Tidak ada kerutan di keningnya.
Pria yang semalam menggendongku dan berjanji, _"Aku tidak akan menyentuhmu tanpa seizinmu."_
Aku masih memakai kebaya modern mode sabrina broken white ku yang sama. Tiara kecilku sudah terlepas di nakas. Rambut panjangku terurai berantakan.
Aku bangun pelan, takut membangunkannya. Kakiku masih pegal. Aku melangkah menuju kamar mandi dan walk-in closet yang pintunya sedikit terbuka.
Dan aku tertegun di depan pintunya.
Ya Tuhan.
Di dalam walk-in closet yang luasnya melebihi kamar kosku dulu, sudah tergantung rapi puluhan baju perempuan. Dress satin, blouse sutra, rok, piyama-piyama sutra yang halus, bahkan kebaya-kebaya baru. Semuanya masih berlabel. Semua warnanya broken white, beige, dusty pink. Semua ukurannya... ukuranku.
Aku menyentuh salah satu piyama dusty pink itu. Lembut sekali.
_Apa Brayen yang menyiapkan semua ini?_
"Hay, kau sudah bangun?"
Suara serak itu membuatku terlonjak.
Aku menoleh. Brayen sudah duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya. Matanya yang tajam itu langsung mencari aku.
"Gimana? Pas kan bajunya?" tanyanya. Suaranya masih serak khas bangun tidur. Berat dan dalam, membuat leherku merinding.
Aku mengangguk pelan, wajahku pasti merah. "Hmm... terima kasih. Pas dan nyaman."
Dia tersenyum tipis. Senyum pagi yang aku yakin tidak pernah dilihat karyawan-karyawannya.
"Aku suruh Rani yang siapin. Kalau ada yang gak suka, buang aja. Nanti kita beli lagi," katanya enteng, seolah beli baju-baju seharga motor itu seperti beli gorengan.
Aku menggigit bibir. "Maaf aku masih pakai kebaya ini, aku ketiduran semalam..."
"Gak apa-apa. Kamu cantik pakai itu," jawabnya jujur.
Wajahku makin panas. Aku buru-buru mengalihkan pembicaraan.
"Aku... aku boleh ke dapur, Mas?" tanyaku lirih. Aku masih canggung memanggilnya Mas.
Brayen mengangguk. "Tentu. Ini rumahmu, Isyana. Kenapa harus ijin?"
Aku turun dari tangga melingkar itu. Dapur penthouse ini... ya Tuhan. Lebih besar dari rumah kontrakan ibuku dulu. Marmer putih, kompor tanam, kulkas dua pintu yang penuh dengan telur, susu, buah, sayur, daging. Semua tertata rapi.
Akhirnya aku bisa masak lagi. Kegiatan yang paling aku rindukan.
Aku mengambil telur dan tahu. Kebiasaanku. Aku juga mengambil tomat dan cabai. Aku mau bikin telur tahu goreng sama sambal tomat ulek. Seperti yang pernah aku buat untuk...
Aku diam. Aku rindu masak.
Aku mulai mengulek sambal di cobek kecil. Gerakanku pelan tapi lincah. Aku memakai piyama sutra dusty pink yang baru aku ambil dari closet. Piyama berlengan panjang yang sopan, tapi bahunya sedikit turun, memperlihatkan leherku yang jenjang.
Aku tidak sadar, Brayen sudah turun. Dia sudah ganti dengan kaos hitam polos dan celana sweatpants abu-abu. Rambutnya masih basah habis cuci muka. Penampilannya jauh berbeda dari CEO kejam berkemeja mahal.
Dia berdiri di ambang pintu dapur, melipat tangan di dada, memperhatikan aku.
"Kamu bisa masak?" tanyanya tiba-tiba.
Aku kaget, hampir menjatuhkan ulekan. "Eh! Mas Brayen... bisa sedikit. Mau telur tahu goreng sama sambal tomat ulek?"
Dia berjalan mendekat. Dia tidak menyentuhku. Dia hanya berdiri di sebelahku, menatap cobekku.
"Ajari aku," katanya tiba-tiba.
Aku membulatkan mata. "Hah?"
"Ajari aku ngulek. Aku gak pernah."
Aku tidak bisa menahan tawa kecil. Tawa pertamaku pagi itu di dapur ini. "CEO The Langham Group gak bisa ngulek sambal?"
Dia pura-pura kesal, tapi sudut bibirnya naik. "Jangan bocorin ke karyawan saya. Wibawa saya bisa hancur."
Lalu dengan canggung, tangan besarnya mengambil alih ulekan. Tanpa sengaja, tangannya menyentuh tanganku yang kecil. Keduanya diam.
Jantungku berdegup kencang.
Aku membantu dari belakang, tanganku menuntun tangannya yang besar. "Gini Mas, pelan-pelan, tomatnya dulu ditekan..."
Posisi kami begitu dekat. Aku bisa mencium wangi sabun mandinya yang segar. Dia pasti bisa mencium wangi melati dari rambutku yang masih belum keramas sejak akad kemarin.
Dia berhenti mengulek. Dia menoleh. Wajah kami hanya berjarak beberapa senti. Aku bisa melihat jelas bulu matanya, hidung mancungnya.
Aku menahan napas.
Dia menatap bibirku sekilas, lalu cepat-cepat menatap mataku lagi. Aku tahu dia ingat janjinya semalam. Tidak akan menyentuh tanpa izin.
"Terima kasih," bisiknya, suaranya serak.
Aku mengangguk pelan, mundur selangkah, wajahku merah padam seperti tomat yang baru aku ulek.
Tak lama telur tahu gorengku matang. Sambal tomat uleknya harum menyengat. Aroma yang sangat rumah.
Kami sarapan berdua di meja marmer besar yang biasanya hanya dia duduki sendirian. Kini ada dua piring. Punya aku dan punya dia.
Dia mengambil suapan pertama. Matanya membulat.
"Enak," katanya tulus. Dia mengambil lagi, dan lagi. "Enak banget, Isyana."
Aku tersenyum. Senyum lega yang pertama. Untuk pertama kalinya sejak akad, aku merasa... diterima. Bukan karena kontrak. Tapi karena masakanku.
"Kalau begitu, mulai besok aku masak terus ya Mas? Biar gak beli di luar terus," tawarku pelan.
Brayen menatapku lama. Tatapannya dalam.
Lalu dia menjawab pelan, tapi jelas.
"Mulai besok dan seterusnya, Nyonya Alkantara."
_Deg!_
Nyonya Alkantara.
Aku menunduk, mengaduk nasi di piringku, menyembunyikan senyumku yang tidak bisa berhenti.
Pagi pertama yang dingin di penthouse lantai 67 ini, tiba-tiba terasa sangat hangat. Seperti dapur ibuku dulu.
---Bersambung---