Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2
Gaji Dua Puluh Juta yang Ditolak
"Dua puluh juta sebulan."
Damar mengucapkannya setelah keheningan di ruang duduk menjadi terlalu lama.
Senja yang sudah berdiri untuk pergi kembali menoleh. "Apa?"
"Uang bulananmu." Damar menutup map perjanjian. "Aku akan mentransfer Rp 20 juta setiap awal bulan. Anggap gaji untuk menemani Bintang dan menjaga rahasia pernikahan ini."
Angka itu hampir enam kali gaji magangnya. Dengan uang sebanyak itu, ia bisa membayar kos Hana, kebutuhan Wulan, dan tetap menyimpan sebagian untuk mengembalikan mahar.
Keinginan menerima melompat begitu cepat sampai telapak tangannya berkeringat.
Namun kalimat Damar tentang memakai Bintang untuk meminta lebih masih terasa panas di telinga.
"Terima kasih, Pak, tapi enggak usah. Saya punya pekerjaan. Saya masih bisa cari uang sendiri."
Damar mengambil ponselnya. "Nomor rekening."
"Saya benar-benar enggak perlu."
"Tadi matamu berubah waktu dengar jumlahnya. Jangan pura-pura tidak tertarik."
Senja terdiam. Ia memang tertarik. Menyangkalnya hanya akan membuat penolakannya terdengar seperti permainan.
"Saya tertarik," akunya. "Sangat. Tapi kalau suatu hari saya harus pergi dari rumah ini, saya masih perlu pekerjaan dan penghasilan yang bukan pemberian Bapak."
"Bapak lagi."
"Maaf."
Damar menatapnya beberapa detik. Kejujuran itu tidak melembutkan wajahnya, tetapi ponsel di tangannya akhirnya diletakkan kembali.
"Pak?"
Senja mengira ia salah bicara. "Iya?"
"Aku bukan atasanmu di rumah. Dan umurku belum pantas dipanggil seperti orang tua."
Senja menatap wajahnya. Tidak ada senyum. Sulit mengetahui apakah lelaki itu bercanda atau sedang marah.
"Baik... Damar."
Rahang pria itu justru mengeras. "Terserah."
Ia berdiri, lalu berjalan mendekat. Tidak sampai menyentuh, tetapi jarak yang tersisa membuat Senja mencium aroma sabun dan kayu dari kemejanya.
"Kalau bukan uang bulanan, bagaimana dengan kewajiban istri?" tanyanya. "Aku bisa memberi tambahan di luar mahar."
Wajah Senja langsung panas. Ia memahami arah tatapannya meski Damar tidak menyebut ranjang.
Ia membungkuk dalam-dalam karena gugup. "Maaf. Saya belum bisa. Selamat malam."
Lalu ia berbalik terlalu cepat dan hampir menabrak daun pintu.
Damar melihatnya pergi dengan bibir mengatup. Penolakan itu tidak membuatnya percaya. Menurutnya, perempuan yang berani meminta mahar Rp 288 juta pasti tahu cara menaikkan harga.
Pagi berikutnya, Senja bangun sebelum azan subuh selesai. Ia salat, merapikan kamar, lalu turun ke dapur. Bik Inah sedang mengiris bawang ketika Senja menggulung lengan bajunya.
"Saya bantu, ya, Bik."
"Aduh, Bu Senja, jangan. Pak Damar bayar Bik buat kerja."
"Saya biasa masak. Lagipula cuma telur dadar."
Senja membuat nasi goreng sederhana, telur dadar tipis kesukaan anak, dan memotong buah. Bintang turun dengan rambut masih miring, lalu memeluk pinggangnya dari belakang.
"Wangi. Kakak masak buat Bintang?"
"Iya. Cuci muka dulu."
"Suapin satu."
Senja meniup sesendok kecil nasi. Saat itulah Damar masuk ke dapur.
Tatapannya singgah pada sendok di mulut Bintang, lalu pada celemek yang dipakai Senja.
"Bik Inah."
Perempuan itu buru-buru mendekat. "Iya, Pak?"
"Kalau pekerjaan rumah tidak becus, saya bisa cari orang lain."
Wajah Bik Inah pucat. Senja segera melepas celemek.
"Saya yang minta bantu, Pak Damar. Bik Inah sudah melarang."
"Aku tidak meminta penjelasan." Damar menarik kursi untuk Bintang. "Mulai besok, jangan masuk dapur. Kamu di sini bukan untuk pamer rajin."
Nasi goreng yang tadi terasa harum mendadak menyesakkan. Senja mengangguk, mencuci tangan, lalu mengambil tas kerja.
Bintang meraih ujung bajunya. "Kakak nggak sarapan?"
"Nanti di rumah sakit."
"Bawa ini." Anak itu memasukkan sepotong apel ke telapak tangannya.
Senja tersenyum. "Terima kasih."
Di perjalanan menuju RS Adiwangsa, ia memakan apel itu di dalam angkot sambil menahan perut yang kosong.
Ia sempat membuka aplikasi ojek online, lalu menutupnya ketika melihat tarif. Dari halte terakhir ia memilih berjalan kaki. Seragamnya mulai lembap ketika sampai, tetapi ongkos yang dihemat cukup untuk satu kali makan siang. Perhitungan kecil seperti itu sudah menjadi kebiasaan, bahkan setelah ia menikahi lelaki kaya.
Rumah sakit swasta tersebut memiliki lobi seperti hotel. Senja berganti seragam, memasang name tag, lalu menerima pembagian tugas dari kepala perawat. Dua bulan lagi masa magangnya selesai. Ia tidak boleh membuat kesalahan jika ingin diangkat menjadi perawat tetap.
"Senja, VIP lantai delapan. Kamar delapan belas perlu infus lanjutan," kata kepala perawat.
"Baik, Bu."
Senja membawa troli kecil ke kamar 18. Ia mengetuk, menyebut nama, kemudian masuk.
Pria muda di atas ranjang sedang bermain gim di ponsel. Satu kakinya dibebat ringan dan siku kirinya lecet.
Ketika melihat Senja, matanya langsung membesar.
"Senja?"
Senja berhenti mendorong troli. Wajah itu pernah beberapa kali muncul di sekitar kampus bersama Reza.
"Rayhan?"
"Wah, beneran kamu." Rayhan menurunkan ponselnya. "Aku kira salah lihat. Kamu kerja di sini?"
"Masih magang." Senja memeriksa label cairan infus agar tangannya tetap sibuk. "Kamu kenapa?"
"Jatuh dari motor. Cuma lecet, tapi keluarga lebay. Aku dikurung di VIP." Ia menyeringai. "Terakhir lihat kamu waktu masih sama Reza. Kalian gimana?"
Jarum plastik di tangan Senja terasa dingin. "Sudah putus."
"Serius? Dia nggak pernah cerita."
"Sudah lama. Tolong tangannya diluruskan."
Rayhan mengikuti instruksi. Senja bekerja cepat, mengecek aliran infus, tekanan darah, dan catatan obat. Ketika selesai, ia menarik selimut sampai batas pinggang pasien.
"Kalau ada nyeri atau pusing, tekan bel."
Rayhan memperhatikan name tag di dada Senja. "Kamu kelihatan kurusan. Reza dulu pelit, ya?"
"Hubungan kami bukan urusan pasien."
"Oke, oke." Rayhan mengangkat kedua tangan, lalu meringis karena infus tertarik. "Cuma heran. Dulu kamu selalu nunggu dia selesai latihan sambil bawa makanan. Sekarang malah ketemu di sini."
Senja merapikan selang yang tertarik. Kenangan menunggu di tangga kampus muncul bersama rasa lapar yang dulu selalu ia anggap biasa. Ia menggeser tiang infus lebih dekat agar Rayhan tidak menariknya lagi.
"Kalau mau lekas pulang, jangan banyak bergerak. Luka kecil tetap bisa infeksi."
"Nah, begini. Cerewetnya masih sama." Rayhan tersenyum, tetapi tidak lagi menyebut Reza.
"Tunggu." Rayhan memandang kotak makan kosong di meja. "Kamu biasanya istirahat jam berapa?"
"Tergantung bangsal."
"Besok beliin aku makan, dong. Makanan rumah sakit hambar banget. Nanti aku kasih tip."
Senja hampir langsung menolak. Namun kata tip membuat pikirannya menghitung ongkos, makan, dan sisa saldo.
Rayhan mengangkat ponsel. "Tambah WhatsApp dulu. Biar gampang."
Layar berisi kode QR itu diarahkan kepadanya. Senja berdiri diam dengan satu tangan masih menggenggam pena, sadar bahwa tawaran uang yang lebih kecil justru terasa lebih aman karena datang sebagai bayaran pekerjaan.
Setidaknya, pekerjaan bisa ia pertanggungjawabkan.
Dengan tenaganya sendiri.