Dion Nugroho adalah lelaki yang memiliki segalanya.
Wajah tampan, kehidupan mewah, popularitas, dan nama besar keluarga yang membuat siapa pun mengenalnya. Ia adalah putra tunggal pemilik Anggoro Group, perusahaan obat-obatan medis ternama yang bisnisnya telah menjangkau berbagai penjuru dunia.
Namun, di balik semua kemewahan itu, Dion tumbuh menjadi lelaki yang dingin, cuek, angkuh, dan sulit dikendalikan.
Baginya, perhatian dari perempuan hanyalah sesuatu yang mengganggu.
Berkali-kali wanita datang membawa perasaan tulus, tetapi Dion tak pernah menghargainya. Ia terlalu terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan hingga lupa bahwa hati manusia bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan kekayaan.
Sampai suatu hari...
Seorang mahasiswi baru datang ke kampusnya.
Namanya Alya Andini.
Gadis sederhana yang berasal dari sebuah kampung kecil. Penampilannya jauh berbeda dari mahasiswi lain. Rambutnya selalu dikuncir dua, mengenakan kacamata bulat hitam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Ayunda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2 Penyesalan Dion.
Sore mulai turun di Universitas Arunika.
Matahari perlahan bergeser ke ufuk barat, meninggalkan cahaya keemasan yang masuk melalui jendela-jendela besar gedung kampus.
Mahasiswa mulai meninggalkan kelas.
Namun Dion masih duduk di dalam ruang kuliah.
Duduk Sendirian. Buku di depannya terbuka.
Tetapi sejak lima belas menit lalu...
Tidak ada satu pun halaman yang ia baca.
Pikirannya hanya tertuju pada satu hal.
Alya Maharani.
Lebih tepatnya...
pada wajah Alya ketika jatuh di kantin tadi.
Tatapan gadis itu.
Mata yang menahan air mata.
Dan suara kecilnya ketika berkata—
"Aku tidak apa-apa."
Dion mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa gue masih mikirin dia?"
Ia berdiri dengan cepat.
Memasukkan buku ke dalam tas.
Saat hendak keluar...
Raka muncul di depan pintu.
"Belum pulang?"
Dion menatapnya singkat.
"Belum."
Raka memperhatikan wajah sahabatnya.
"Lo masih mikirin Alya?"
Dion langsung mengerutkan kening.
"Nggak."
"Jawaban tercepat biasanya jawaban paling bohong."
Dion mendengus.
"Berisik."
Raka tertawa kecil.
"Lagian kalau lo memang nggak peduli, kenapa dari tadi wajah lo kayak orang kehilangan uang satu triliun?"
Dion diam.
Raka kemudian bersandar di pintu.
"Lo keterlaluan tadi."
"Aku tahu."
Raka terdiam.
Itu pertama kalinya Dion mengakui kesalahannya tanpa membantah.
"Lo... tahu?"
Dion mengangguk kecil.
"Gue sengaja menjulurkan kaki."
Raka menghela napas.
"Nah. Berarti lo sadar."
Dion menunduk.
"Awalnya cuma mau bercanda."
"Lalu?"
Dion terdiam cukup lama.
"Lalu gue lihat dia jatuh."
Suaranya berubah pelan.
"Dan gue nggak suka melihatnya."
Raka menatap Dion dengan serius.
"Kalau begitu, minta maaf."
Dion mengangkat wajah.
" Meminta Maaf?"
"Iya."
Raka tersenyum.
"Sesederhana itu."
Dion tertawa kecil.
"Sejak kapan Dion Anggoro minta maaf pada orang lain?"
"Sejak dia mulai jatuh cinta."
Dion langsung menatap tajam.
"Jangan ngawur."
Raka tertawa.
"Oke. Gue pulang dulu."
Raka berjalan pergi.
Namun sebelum menghilang di ujung lorong, ia berbalik.
"Dan satu lagi."
"Apa?"
"Kalau lo benar-benar nggak peduli..."
"Jangan cari dia."
Dion terdiam.
Raka pergi.
Kalimat itu justru membuat Dion semakin gelisah.
Jangan cari dia.
Dion menatap lorong panjang di depannya.
Kemudian tanpa sadar...
kakinya bergerak.
Bukan menuju parkiran.
Melainkan menuju gedung belakang kampus.
Tempat yang jarang didatangi mahasiswa.
---
Di belakang gedung fakultas...
Alya duduk sendirian di sebuah bangku kayu.
Tangannya memegang sapu tangan kecil.
Ia mengusap matanya.
Tidak menangis lagi.
Namun wajahnya masih terlihat sedih.
Di sampingnya terdapat kotak bekal yang sudah kosong.
Alya menarik napas panjang.
"Besok aku harus lebih kuat."
Ia tersenyum kecil pada dirinya sendiri.
"Ini baru hari pertama."
Tiba-tiba terdengar langkah kaki.
Alya menoleh.
Senyumnya langsung menghilang.
Dion berdiri beberapa meter di belakangnya.
Alya terdiam.
Dion juga tidak langsung berbicara.
Untuk beberapa detik...
Keduanya hanya saling menatap.
Alya akhirnya berdiri.
"Kalau Kak Dion mau mengejek lagi..."
Ia mengambil tasnya.
"...aku tidak punya tenaga untuk melayani."
Dion terdiam.
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang ia duga.
"Aku bukan mau mengejek."
Alya berhenti.
"Lalu?"
Dion memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Wajahnya terlihat canggung.
Sangat canggung.
"Aku..."
Ia terdiam.
Kata yang selama ini mudah ia ucapkan kepada siapa pun mendadak terasa begitu sulit.
Alya menunggu.
Dion menarik napas.
"Maaf."
Alya membeku.
Matanya melebar.
"Apa?"
Dion mengulanginya.
"Maaf."
Alya menatapnya tidak percaya.
"Lihat aku."
Alya perlahan mengangkat wajah.
Dion menatap langsung matanya.
"Aku minta maaf karena tadi."
"Kenapa?"
"Karena aku sengaja menjulurkan kaki."
Alya terdiam.
Dion melanjutkan.
"Aku tahu itu salah."
Untuk pertama kalinya...
tidak ada kesombongan dalam suara Dion.
Alya menggenggam tali tasnya.
"Kenapa?"
Dion mengerutkan kening.
"Kenapa apa?"
"Kenapa Kak Dion minta maaf?"
Dion terdiam.
Ia sendiri tidak tahu jawabannya.
Karena rasa bersalah?
Karena melihat Alya menangis?
Atau karena sejak gadis itu pergi dari kantin...
hatinya terasa tidak tenang?
"Aku cuma..."
Dion berhenti.
"...nggak suka melihatmu menangis."
Alya terpaku.
Jantungnya kembali berdetak cepat.
Dion pun menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutnya.
Keduanya terdiam.
Angin sore berembus pelan.
Beberapa helai rambut Alya bergerak tertiup angin.
Dion menatapnya.
Entah kenapa...
Gadis sederhana di hadapannya terlihat jauh lebih cantik ketika tidak sedang berusaha menyembunyikan dirinya.
Alya akhirnya menunduk.
"Terima kasih sudah minta maaf."
Dion mengangguk.
"Aku pergi dulu."
Dion berbalik.
Namun baru beberapa langkah...
Alya memanggil.
"Kak Dion."
Kaki Dion berhenti pelan lalu, Ia menoleh menatap Alya yang masih terasa canggung.
Alya tersenyum kecil.
"Maafkan aku juga."
Dion mengernyit.
"Untuk apa?"
"Karena tadi pagi aku menjawab Kak Dion dengan nada keras."
Dion terdiam.
Kemudian untuk pertama kalinya...
ia tersenyum tulus.
"Bukan masalah."
Alya membalas senyumnya.
Dua orang itu kemudian berpisah.
Tanpa mereka sadari...
seseorang berdiri di balik tiang gedung.
Seorang perempuan.
Seragam kampusnya rapi.
Rambut panjang terurai.
Tangannya menggenggam ponsel dengan kuat.
Ia melihat Dion berjalan menjauh dari Alya.
Wajahnya berubah dingin.
"Jadi..."
"Perempuan itu yang mulai menarik perhatian Dion?"
Ia membuka foto di ponselnya.
Foto Alya.
Kemudian tersenyum tipis.
"Menarik."
Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Kalau begitu..."
"Mahasiswi baru dari kampung itu harus tahu tempatnya."
---
Malam harinya...
Dion tiba di rumah keluarga Anggoro.
Rumah besar itu terang dan mewah.
Namun Dion berjalan melewati ruang makan tanpa berhenti.
"Mas Dion."
Seorang pelayan memanggil.
"Tuan dan Nyonya sudah menunggu di ruang makan."
Dion berhenti.
"Ada apa?"
"Mereka bilang malam ini ada pembicaraan penting."
Dion menghela napas panjang, Kemudian masuk ke ruang makan.
Di sana...
Ayah dan ibunya sudah duduk.
Wajah keduanya terlihat serius.
Ayah Dion meletakkan gelasnya.
"Dion."
"Hm?"
"Kau masih ingat putri keluarga Wijaya?"
Dion mengerutkan kening.
"Yang mana?"
"Monica"
Dion langsung terdiam.
Ibunya tersenyum.
"Keluarga kita sudah membicarakan hubungan kalian sejak lama."
Dion menarik kursi.
"Aku tidak tertarik."
Ayahnya menatap tajam.
"Ini bukan soal tertarik atau tidak."
Dion membalas tatapannya.
"Kalau begitu soal apa?"
"Soal masa depan keluarga Anggoro."
Dion berdiri.
"Aku tidak mau menikah hanya demi bisnis."
Ayahnya memukul meja.
"Dion!"
Ruangan mendadak hening.
Dion mengepalkan tangan.
Namun tiba-tiba...
wajah Alya muncul di pikirannya.
Senyumnya.
Tatapannya.
Dan kalimatnya.
"Aku bukan pembawa sial."
Entah mengapa...
untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Dion merasa ada seseorang yang ingin ia lindungi.
Bukan karena status.
Bukan karena kekayaan.
Bukan karena keluarga.
Tetapi hanya karena...
hatinya sendiri.
Dion menatap ayahnya.
"Aku tidak akan menikah dengan siapa pun yang tidak kucintai."
Setelah berkata demikian...
Dion pergi meninggalkan ruang makan.
Ibunya menatap punggungnya.
Sementara ayahnya mengerutkan kening.
"Anak itu berubah."
---
Di kamar...
Dion berdiri di depan jendela.
Lampu kota terlihat berkilauan dari kejauhan.
Ia memegang ponselnya.
Entah bagaimana...
jempolnya membuka mesin pencarian kampus.
Kemudian mengetik satu nama.
Alya Maharani.
Dion menatap layar.
Foto kartu mahasiswa Alya muncul.
Ia terdiam.
"Kenapa gue sampai mencari namanya?"
Dion hendak menutup ponsel.
Namun sebuah pesan masuk.
Nomor tidak dikenal.
«Kalau kau ingin tahu siapa sebenarnya Alya Maharani, jangan terlalu dekat dengannya.»
Dion mengerutkan kening.
Pesan kedua masuk.
«Gadis itu bukan seperti yang kau kira.»
Dion menatap layar dengan serius.
Kemudian pesan ketiga muncul.
«Dan tanda hitam di pipinya bukan sekadar tanda lahir.»
Dion membeku.
Tatapannya berubah tajam.
"Siapa lo?"
Ia mengetik balasan.
Namun pesan baru kembali masuk.
«Kalau kau masih ingin tahu... datang besok malam ke gedung tua belakang kampus.»
Dion menatap layar cukup lama.
Lalu sebuah lokasi dikirim.
Dion mengepalkan ponselnya.
Ada sesuatu yang tidak beres.
Dan untuk pertama kalinya...
rasa penasarannya terhadap Alya berubah menjadi kekhawatiran.
Sementara jauh di tempat lain...
Alya sedang berdiri di depan cermin.
Ia menyentuh tanda hitam di pipinya.
Wajahnya tiba-tiba berubah pucat.
Karena tanda itu...
perlahan mulai terasa panas.
Dan dari dalam cermin...
Alya melihat sesuatu yang membuat tubuhnya membeku.
Sebuah bayangan hitam berdiri tepat di belakangnya.
Padahal...
tidak ada siapa-siapa di kamar.
Alya berbalik cepat.
Kosong.
Ia kembali melihat cermin.
Bayangan itu masih ada.
Dan kali ini...
bayangan tersebut perlahan mengangkat tangannya.
Menunjuk tepat ke arah tanda hitam di pipi Alya.
Lalu terdengar suara berbisik dari dalam cermin.
'Kenapa kamu masih menyembunyikan kecantikkanmu, Alya Maharani".
Ucapnya samar lalu mengangkat kepalanya yang di sadari Alya itu adalah bayangannya sendiri.
" Alya jangan biarkan persembunyianmu merusak hubungan yang mulai tercipta"