Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup Zoey berubah menjadi mimpi buruk.
Di depan ratusan tamu undangan, sahabat yang paling ia percaya mengaku tengah mengandung anak calon suaminya.
Tak ingin keluarganya dipermalukan, Zoey melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Ia menarik tangan seorang pria asing yang kebetulan hadir sebagai tamu.
“Aku akan menikah dengannya.”
Pria itu adalah Damian, konglomerat tampan berusia tiga puluh delapan tahun yang dikenal dingin, berwibawa dan sulit didekati. Demi alasan masing-masing, mereka sepakat menjalani pernikahan tanpa cinta.
Namun, sesaat setelah resmi menjadi suami istri, Zoey dibuat syok oleh kenyataan yang sengaja tidak diberitahukan Damian. Pria itu adalah seorang duda dengan anak kembar berusia enam belas tahun.
Mampukah Zoey menaklukkan sang duda yang menutup hatinya sekaligus memenangkan hati kedua kembar nakalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35
Jemari Zoey masih bergerak pelan di balik kemejanya, mengusap dada bidang pria itu tanpa rasa takut. Bukan sentuhan itu yang membuat Damian kehilangan kata-kata, melainkan kalimat yang baru saja keluar dari bibir istrinya.
“Ubah sikapmu jika kau ingin aku memberikan kewajibanku sebagai seorang istri,” bisik Zoey lembut, tetapi sarat penekanan.
Damian mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa kalah dalam adu argumen.
“Jadi sekarang kau sedang mengancamku? Bukankah mau yang akan mengatur mereka. Jadi, aku serahkan padamu,” ucapnya pelan.
Zoey menggeleng. “Bukan mengancam. Aku sedang mengajarimu menjadi ayah yang benar.”
Alis Damian langsung bertaut. “Sejak kapan kau merasa berhak mengajariku?"
“Sejak aku melihat Victor keluar dari ruanganmu dengan hati yang hancur.”
Kalimat itu menghantam Damian jauh lebih keras daripada pukulan siapa pun.
Zoey mengangkat wajahnya, menatap tepat ke dalam mata pria itu.
“Kau tahu apa yang paling menyakitkan, Damian?”
Damian diam, enggan menjawab.
“Victor datang ke sini bukan untuk meminta uang. Bukan minta mobil baru. Dia cuma datang ingin mengucapkan terima kasih.”Zoey menghela napas pelan. “Tapi balasan yang dia dapat justru tembok dingin lagi.”
Tatapan Damian perlahan berubah. “Itu cara terbaik yang bisa kulakukan.”
“Tidak.” Zoey menggeleng tegas. “Itu cara paling mudah bagimu.”
Ucapan itu membuat Damian kehilangan sanggahan.
Zoey melanjutkan dengan suara jauh lebih lembut.
“Anak-anakmu tidak butuh ayah yang berkuasa karena uang. Mereka hanya butuh sosok ayah yang memberi mereka kasih sayang.”
Damian menundukkan kepala. Sudah bertahun-tahun tak ada seorang pun yang berani berbicara seperti ini kepadanya.
Para direktur takut, para bawahan patuh dan musuh-musuhnya gentar.
Hanya Zoey, wanita yang kini duduk di pangkuannya itu yang berani menguliti semua luka yang selama ini ia sembunyikan.
Zoey tersenyum kecil lalu merapikan kerah kemeja Damian. “Mulailah dari hal sederhana, suamiku.”
“Apa?”
“Kalau Victor bilang terima kasih, balaslah dengan mengatakan sama-sama. Kalau Victoria kesal, dengarkan dulu sebelum memarahinya.”
Damian menatap wajah istrinya lama. “Semudah itu?”
Zoey terkekeh pelan. “Tentu saja. Karena menjadi ayah yang perhatian jauh lebih sulit daripada menjadi CEO.”
Sudut bibir Damian akhirnya terangkat tipis.
“Baru kali ini ada orang yang mengatakan memimpin perusahaan lebih mudah daripada membesarkan dua remaja.”
“Soalnya perusahaanmu tidak ngambek kalau tidak diperhatikan. Paling-paling bermasalah sedikit. Sementara merema, selama enam belas tahun ini kau abaikan,” ucap Zoey tepat mengenai sasaran.
Damian terkekeh pelan. Tawa kecil yang sangat jarang terdengar. Zoey sampai mematung beberapa detik.
“Kau ternyata bisa tertawa juga, mantan duda.”
Damian langsung memasang wajah datarnya lagi.
“Kita sudah menikah. Dan aku bukan duda lagi!” ucapnya tak terima. Karena selama ini, Damian memang tak pernah berpisah dari istrinya.
Zoey mencubit pelan pipi Damian gemas. “Kalau begitu nanti aku buat kau tertawa lebih lebar lagi.”
Damian spontan menangkap pergelangan tangan Zoey sebelum wanita itu sempat menariknya kembali. Hingga tatapan mereka bertemu.
“Kalau aku berubah menjadi ayah yang lebih baik, apa kau juga akan tetap berada di sisiku selamanya?”
Senyum Zoey perlahan melembut.
“Bukankah sejak awal aku memang datang ke rumah itu untuk tetap berada di sisimu dan di sisi anak-anakmu?”
Jawaban sederhana itu membuat dada Damian terasa hangat. Trauma masa lalu membuatnya menutup hati untuk wanita bahkan sampai tega mengabaikan kedua anak kembarnya.
“Berjanjilah satu hal padaku Zoey. Apapun yang terjadi, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku,” ucap Damian namun hanya dalam hati.
“Baiklah karena sudah selesai, aku kembali ke kamar dulu.” Zoey menjadi salah tingkah karena sejak tadi Damian terus menatapnya tanpa berkedip sama sekali.
Zoey beranjak dari duduknya lalu merapikan gaun tidurnya yang sedikit berantakan.
“Tunggulah di kamar. Aku akan segera menyusulmu,” ucap Damian sebelum Zoey benar-benar menghilang di balik pintu.
*****
Zoey menutup pintu kamar perlahan, lalu menyandarkan punggungnya di balik daun pintu.
“Huft...”
Tanpa sadar, telapak tangannya terangkat menyentuh dada sebelah kiri.
Detak jantungnya berdentum begitu keras hingga membuatnya sendiri kebingungan.
“Ada apa dengan jantungku?” gumamnya lirih. Bayangan wajah Damian yang tadi menatapnya tanpa berkedip kembali memenuhi pikirannya.
“Astaga, Zoey! Jangan bilang kau mulai luluh hanya karena dia tertawa sekali dan bersikap sedikit lebih hangat.”
Zoey segera menggeleng kuat-kuat. “Tidak! Jangan luluh sekarang, Zoey.” Ia menepuk kedua pipinya pelan, berusaha menyadarkan diri.
“Kau datang ke rumah itu bukan untuk jatuh cinta. Misi utamamu adalah menaklukkan hati mereka semua.”
Damian memang mulai membuka diri. Victor perlahan juga mulai mempercayainya.
Namun, Victoria masih memasang tembok tinggi di sekeliling hatinya.
“Belum selesai,” bisik Zoey penuh tekad. “Aku belum boleh lengah.”
Merasa tenggorokannya mendadak kering, Zoey memutuskan turun ke dapur untuk mengambil segelas air dingin.
Rumah sudah mulai sunyi. Para pelayan telah kembali ke kamar masing-masing.
Hanya cahaya lampu taman yang menerangi halaman luas kediaman keluarga Alfred.
Selesai mengambil segelas air, Zoey berjalan santai melewati balkon lantai dua yang menghadap ke taman belakang.
Baru beberapa langkah, tatapannya mendadak membeku. Di ujung balkon, sesosok remaja berdiri membelakanginya.
Victor.
Tubuh tinggi itu berdiri tepat di dekat pembatas balkon, kedua tangannya bertumpu di pagar besi sambil menatap gelapnya langit malam.
Sialnya, dari sudut pandang Zoey, posisi Victor terlihat sangat berbahaya. Apalagi salah satu kakinya tampak naik ke pijakan bawah pagar balkon.
“Victor!” teriaknya panik.
Remaja itu menoleh kaget.
Belum sempat ia berkata apa-apa, Zoey sudah berlari secepat mungkin menghampirinya.
“Jangan lakukan ini!” Zoey langsung menarik lengan Victor dengan sekuat tenaga hingga tubuh remaja itu menjauh dari pagar balkon dan memeluknya erat.
“Apa yang sedang kau lakukan?!” bentaknya dengan napas memburu.
Victor mengernyit kebingungan. “Aku cuma...”
“Kau mau bunuh diri, hah?!”
Victor mematung beberapa detik sebelum akhirnya menyadari kesalahpahaman Zoey. “Bunuh diri?”
Sabar ya Zoey menghadapi suami dan anak laki2 nya😄
Anak & ibu sambung kompak sekali pagi ini.
Ayo Zoey buat Victoria menyerah juga dgn kamu😁
apa rasa berantem Ama duplikat nya sendiri?🫣🤣🤣
cemburu sama ank sendiri 🫣