Alicia Harold hanya ingin menikmati malam terakhirnya sebelum menjadi mahasiswa.
Namun karena terlalu bosan di acara keluarga, gadis barbar itu diam-diam mabuk dan berakhir jatuh ke dalam pelukan seorang pria dingin yang paling ingin ia hindari.
Bryan Bright, calon kakak iparnya dan dosen di Imperial College University.
Sejak malam itu, kehidupan Alicia berubah menjadi mimpi buruk. Dosen killer itu seperti bayangan yang tak pernah bisa lepas darinya. Alicia terus berontak, menghindar, dan menjaga batas.
Namun bagaimana jika tanpa sadar batas itu perlahan berubah menjadi perasaan?
"Amit amit, aku tidak mungkin suka si Bryan mulut harimau itu!" kesal Alicia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JDPDK Bab 15 - Sesederhana Itu
Dion menyipitkan mata memperhatikan Alicia yang sejak tadi terlihat gelisah. Gadis itu terus melirik jam di pergelangan tangannya, bahkan beberapa kali terlihat menggigit bibir seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting.
Padahal sejak datang ke villa tadi, Alicia adalah orang yang paling bersemangat mengajak mereka bersenang-senang. Sekarang setelah baru beberapa jam menikmati suasana pantai, Alicia justru mendadak ingin pulang sendirian.
Tentu saja hal itu terasa sangat mencurigakan.
"Jujur saja, kamu membuat masalah, kan?" tanya Dion sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Alicia yang sedang menunggu Leo mengambil kunci motor langsung tersentak. "Tidak!"
Jawabannya terdengar begitu keras sampai Leo yang baru beberapa langkah meninggalkan mereka spontan menoleh, begitu pula Prilly yang berdiri di samping Dion.
Alicia sendiri baru menyadari betapa mencurigakan reaksinya. Ia terdiam sesaat, lalu buru-buru mengubah ekspresinya. Alicia berdeham kecil, berusaha memasang wajah santai seperti biasanya, meskipun jantungnya masih berdebar kencang.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Alicia sambil mengibaskan tangan. "Aku hanya punya urusan mendadak. Memangnya salah kalau aku ingin pulang lebih dulu?"
Dion mengangkat sebelah alis. "Kalau memang tidak membuat masalah, kenapa reaksimu seperti orang yang baru saja ketahuan mencuri ayam?"
"APA HUBUNGANNYA DENGAN AYAM?!" Alicia langsung membentak.
Prilly spontan tertawa mendengar jawaban Alicia, sementara Dion justru semakin yakin bahwa sahabatnya itu memang sedang menyembunyikan sesuatu.
"Semakin kamu marah, semakin mencurigakan," komentar Dion lagi.
Alicia mendelik. "Kalian berdua memang menyebalkan! Aku cuma mau pergi, bukan mau kabur ke luar negeri. Kenapa harus diinterogasi seperti ini?"
Prilly menyilangkan tangan di depan dada, kemudian menatap Alicia dengan tatapan penuh selidik. "Tunggu dulu, jelas-jelas kamu yang punya ide kita datang ke sini. Sekarang kamu malah terburu-buru pulang, tidak mau diantar Leo, dan tidak mau memberitahukan tujuanmu. Menurutmu, apa yang harus kami pikirkan?"
Alicia membuka mulut, tetapi tidak langsung menemukan jawaban. 'Sial! Gara-gara ada Dion, Prilly jadi pintar bicara!'
"Aku hanya ada urusan sedikit, Pril. Itu saja!" jawab Alicia akhirnya.
Prilly masih menatapnya dengan curiga. "Kamu tidak sedang diancam seseorang, kan?" tanya Prilly, sikap gedebak gedebuk Alicia sekarang benar-benar membuatnya khawatir.
Dan Alicia langsung teringat wajah Bryan.
Namun Alicia segera menggeleng kuat-kuat, sekaligus membuang bayangan Bryan dari kepalanya. "Tidak! Aku tidak diancam siapa pun!"
"Kalau begitu, kenapa kamu terlihat panik?" Dion kembali bertanya.
"Karena kalian terus bertanya!"
Keduanya terdiam sesaat.
Kemudian Prilly dan Dion saling berpandangan.
"Mencurigakan," ucap Prilly.
"Sangat mencurigakan," sambung Dion.
Alicia hampir menjerit mendengar kekompakan mereka. "Astaga! Kalian berdua ini memang cocok menjadi pasangan tukang gosip!"
"Terima kasih," jawab Dion santai.
"Siapa yang memuji kalian?!" Alicia mendelik kesal.
Dari arah lintasan bowling, Leo akhirnya kembali sambil membawa kunci motor. Ia berhenti di hadapan mereka dan memandangi wajah Alicia yang terlihat kesal, lalu beralih kepada Prilly dan Dion yang justru tampak semakin penasaran.
"Ada apa lagi ini?" tanya Leo.
"Temanmu mencurigakan," jawab Prilly tanpa ragu.
Leo menoleh kepada Alicia. "Mencurigakan bagaimana?"
"Jangan dengarkan mereka!" Alicia langsung menyambar sebelum kedua sahabatnya sempat berbicara lagi. Ia mengulurkan tangan ke arah Leo. "Pokoknya, aku pinjam motormu dulu. Aku benar-benar harus pergi sekarang!"
Leo menatapnya beberapa saat, kembali mempertimbangkan apakah perlu bertanya lebih jauh. Namun melihat Alicia yang sudah hampir kehilangan kesabaran, ia akhirnya menghela napas kecil dan menyerahkan kunci motor Ducati miliknya.
"Baiklah. Tapi hati-hati di jalan, Al. Jangan ngebut, apalagi kalau jalanan sedang ramai. Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku," ucap Leo.
Alicia segera menerima kunci itu dengan wajah berbinar. "Siap, Bos! Tenang saja, aku akan menjaga motormu seperti menjaga nyawaku sendiri!"
Dion terkekeh. "Kalimat yang sangat meyakinkan dari orang yang bahkan kesulitan menjaga dirinya sendiri."
Alicia langsung menoleh tajam. "Dion, kalau kamu masih ingin hidup tenang, sebaiknya tutup mulutmu!"
Dion mengangkat kedua tangan sambil tertawa. "Baik, Nona Harold. Saya diam."
Prilly menggelengkan kepala melihat tingkah mereka, kemudian kembali menatap Alicia dengan wajah serius. "Al, kamu benar-benar tidak mau memberitahuku mau ke mana?"
"Tidak, aku pergi sekarang," jawab Alicia dengan cepat.
Prilly mendesah pasrah. "Benar-benar tidak berperasaan."
Alicia tersenyum tipis dan hendak segera pergi. "Jaketmu kupinjam juga, ya!" serunya pada Leo seraya langsung mengenakannya.
Leo hanya bisa menggeleng melihat tingkah Alicia. "Ambil saja. Tapi jangan sampai hilang."
"Tenang! Aku akan mengembalikannya dalam keadaan utuh!"
Setelah berpamitan, Alicia segera berjalan menuju area parkir. Suara langkahnya terdengar cepat, sebab ia sedang berlomba dengan waktu. Begitu melihat Ducati milik Leo terparkir di sana, senyum kecil langsung muncul di wajahnya.
Alicia mengenakan helm, memastikan jaket Leo menutupi tubuhnya dengan nyaman, kemudian duduk di atas motor besar tersebut.
"Baiklah, Ducati kesayangan. Kita berangkat menemui siluman harimau!"
Alicia memutar gas perlahan, lalu membawa motor itu keluar dari halaman villa.
Setelah beberapa puluh menit, akhirnya gedung apartemen Bryan mulai terlihat dari kejauhan. Alicia memperlambat laju motor, lalu mengembuskan napas panjang.
"Astaga, akhirnya sampai juga!"
Ia memasuki area parkir dan mencari tempat yang aman untuk memarkirkan Ducati milik Leo. Motor yang akan ia jaga seperti menjaga nyawanya sendiri. Setelah memastikan motor tersebut terkunci dengan benar, Alicia melepaskan helm dan merapikan rambut.
Saat ini waktu sudah menunjukkan jam 8 malam, entah telat atau tidak Alicia tak ingin peduli. Yang jelas ia benar-benar datang sesuai perintah sang dosen.
Begitu memasuki lobi, seorang petugas keamanan yang berjaga di meja resepsionis langsung menyambutnya dengan sopan. "Selamat malam, Nona. Ada yang bisa saya bantu?"
Alicia berusaha tersenyum ramah, meskipun pikirannya masih dipenuhi kekesalan.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Bryan Bright," jawab Alicia.
"Apakah Nona sudah membuat janji?"
"Sudah."
Petugas keamanan kemudian memeriksa data Alicia sebelum mengizinkannya masuk.
Dan setelah mendapatkan izin itu, Alicia pun berjalan cepat menuju lantai 7.
"Tenang, Alicia. Kamu hanya perlu datang, mendengarkan apa yang ingin dia katakan, lalu pulang. Sesederhana itu," ucap Alicia pada dirinya sendiri.
Ting! Pintu lift terbuka.
Alicia segera melangkah keluar. Koridor lantai tujuh tampak tenang, Ia mencari nomor unit milik Bryan dan akhirnya ketemu.
Tanpa pikir panjang Alicia pun menekan bel apartemen tersebut.
Ting tong!
dia harus masuk ke kandang harimau 🤣🤣🤣
kalo pak bry tau bisa mulai cemburu dalih disiplin?🤭🤭🤭
ehh siluman sudah berwajah garamg waduhh ,,,,ambyar seolah dunia nya runtuh 💪 sangat pastinya ,,,