NovelToon NovelToon
Semuanya Palsu

Semuanya Palsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:91
Nilai: 5
Nama Author: likaa0_0

Rey adalah manusia yang diubah menjadi anomali-monster kanibal yang sengaja dijadikan tameng oleh para penjajah halus di Paradise. Menganggap nasibnya sebagai hukuman atas dosa masa lalu, ia menemukan sosok yang ia anggap sebagai ibu keduanya. Namun, kasih sayang Dwi ternyata hanyalah manipulasi. Perlahan, jati diri dan kewarasan Rey dihancurkan hingga melahirkan The Luna, seorang psikopat yang rela mempertaruhkan sisa kemanusiaannya demi melindungi Dwi dari hukuman mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon likaa0_0, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 1

Pagi itu, matahari bersinar cerah di balik jendela rumah yang cukup megah Rey yang bersiap-siap untuk bekerja terlebih dahulu sarapan dahulu bersama Dwi yaitu mamanya namun dia bukanlah nama kandung dari Rey.

saat mereka berdua sedang bersarapan Rey segera membuka sebuah pembicaraan

"Mama..."

Dwi menoleh ke arah rey

"Iya, nak?

"entah mengapa ma.... dia selalu menghantuiku terutama dalam mimpiku ini"

"sudah mama bilang nak kamu harus bisa melupakannya yang lalu biarlah berlalu"

"tapi ma... mama selalu mengingatkanku pada mama kandung ku itu yan...."

Dwi langsung memotong ucapannya.

"Jangan berpikir seperti orang yang kehilangan arah. Ingat, semua orang pasti pernah mengalami masa ketika kehilangan seseorang, dan Karena itu kamu harus tetap harus bisa move on kembali."

"Tapi, Ma... aku merasa jauh lebih buruk setel—"

"Shh."

Dwi segera mengangkat telunjuknya dan menempelkannya di bibirnya setelah itu Dwi berdiri lalu pergi menuju laci di dekat meja makan Mereka mengambil sebuah botol kecil berisi sebuah obat penenang. Kemudian Dwi menghampiri Rey dan memberikannya kepada Rey

"Rey, Mama tau kamu itu ceroboh. Jadi, tolong pikirkan matang-matang sebelum membahas sesuatu yang sensitif bagi dirimu dan orang lain."

rey hanya terdiam kemudian ia menundukkan kepalanya seolah dirinya seperti anak kecil yang dihukum Dwi mengangkat dagu Rey ke arahnya dengan lembut

"Mama akan selalu ada untukmu."

Dwi melepaskan tangannya seketika memindahkan tangannya ke atas kepala Rey lalu ia mengelus-elus rambut Rey dengan lembut, lalu Dwi segera menyodorkan botol kecil di hadapan rey.

Rey pun mengambil botol kecil itu

"Makasih, Ma..."

Setelah sarapan dan percakapan tersebut pergi ke kantornya sambil mengendarai mobilnya setibanya di kantor Rey segera memarkirkan mobilnya ke garasi di kantor.

setelah Rey turun dari mobilnya sambil membawa tas kerjanya dan berjalan menuju dalam kantor sebuah suara riang tiba-tiba terdengar dari belakang.

"WOI, REY!"

Rey langsung menoleh.

"Huh... Angga?"

Angga menghampirinya dengan wajah penuh semangat.

"Rey! Pagi!"

"Pagi juga."

Angga memperhatikan wajah Rey dari atas sampai bawah Wajahnya terlihat lesu. Tatapan Rey kosong seolah pikirannya masih tertinggal pada percakapan bersama Dwi tadi pagi.

"Kenapa wajahmu kayak orang habis begadang semalaman?"

Namun Rey memilih mengakuinya demi menyembunyikan rahasianya.

"iya aku habis gadang buat naikin rank di legenda seluler semalam" (berbohong)

Angga langsung tertawa kecil.

"Apaan sih? Begadang demi rank? Cemen banget. Mending joki. Dari pada capek-capek gadang, belum tentu naik rankmu."

"Idih. Aku dibilang cemen sama orang yang lebih cemen dari aku."

Rey meliriknya sinis.

"Joki itu bikin seseorang bergantung"

"Apa salahnya memakai jasa yang ditawarkan?

"astaga. Sepertinya dirimu sudah kecanduan joki deh."

Rey kemudian melangkah pergi meniggalkan Angga menuju ruangannya.

"Aku mau ke ruanganku dulu."

"Hey.. Rey ini kan belum selesai"

Rey tak menjawab

langsung Angga hanya bisa melihat Rey berjalan pergi meninggalkannya

"dasar pria aneh" (ujar Angga menggerutu)

Sesampainya di depan ruangannya, Rey mengulurkan tangan untuk memegang gagang pintu.

Namun, sebelum tangannya menyentuh gagang tersebut—

sebuah kenangan lama tiba-tiba muncul di pikirannya.

(kilas balik)

Seorang Rey kecil berdiri di samping ibunya sambil memegang sebuah buku cerita.

Ia menunjuk gambar seorang detektif di halaman buku itu dengan wajah penuh semangat.

"Mama... kalau Rey besar, Rey mau jadi detektif! Rey mau mencari jejak kejahatan!"

Mamanya tersenyum bahagia melihat cita-cita putranya.

"Wah... cita-cita anak laki-laki Mama keren banget."

(kembali ke masa sekarang)

Saat kenangan itu kembali segera Rey bergegas membuka pintu lalu masuk kedalam ruang

krekkk...

Rey masuk kedalam ruangannya namun entah mengapa tiba-tiba dirinya merasa cemas namun rasa cemas ini sangatlah berbeda seperti anxiety.

Segera duduk di meja kerjanya namun itu tidak menghilangkan rasa anxiety. Jantung berdebar kencang, tangan berkeringat, serta isi kepala yang begitu berisik.

Rey yang tidak kuat segera ia membuka tas kerjanya untuk mencari botol kecil yang di berikan oleh Dwi. Rey menacari botol kecil dengan rasa panik hingga akhirnya ia menemukan botol tersebut segera membuka tutupnya dan langsung meminumnya dalam satu kali teguk

"Glup."

Beberapa detik kemudian rasa anxiety mulai perlahan hilang detak jantung mulai kembali normal, tangannya mulai tak berkeringat, serta sekarang isi kepalanya mulai kembali sunyi

Rey mengembuskan napas lega.

Namun ekspresinya justru berubah frustrasi.

"Ya Tuhan..."

menatap botol kecil di tangannya

"Sampai kapan aku harus bergantung pada ini?"

Tap...Tap...Tap...

Suara langkah kaki terdengar dari lorong.

Seorang wanita berparas cantik dengan rambut lurus panjang yang berkilau berjalan menuju ruangan Rey. Di tangannya terdapat papan dada berisi beberapa dokumen.

Namanya Merida.

Ia adalah salah satu asisten pemburu anomali.

Sesampainya di depan ruangan Rey—

Tok...Tok...Tok

Rey mendengar suara ketukan pintu dari pintunya segara ia melempar botol kecil itu kedalam tempat sampah agar seseorang tidak mengetahuinya. kemudian Rey menyuruh masuk seseorang yang mengketuk pintunya

"Masuk!"

Merida membuka pintu.

"Maaf mengganggu, Senior Rey. Anda mendapatkan tugas bersama saya."

"Jangan terlalu formal. Aku bukan orang penting."

"Maaf..."

Merida menutup pintu kemudian berjalan mendekati rey dengan perasaan gugup.

"e... Rey, kamu mendapat tugas. Ada sebuah kasus anomali yang menyerang seorang pria paruh baya di rumahnya, tepatnya di Jalan Melati Jaya. Modus penyerangannya masih belum diketahui."

Rey mengangkat alis.

"Jadi?"

"Rey, aku akan menjadi asistenmu sesuai jadwal kontrak."

Merida tersenyum percaya diri.

"Tapi tenang saja. anomali ini tingkat kelas B untuk senior Rey ini pasti hal yang sepele bukan?"

"Merida, jangan pernah meremehkan anomali."

"Huh?"

"Siapa tahu anomali itu memiliki kemampuan khusus."

Merida terdiam sebentar.

"Loh, jangan merendah begitu, Senior. Kemampuanmu kan memang setara dengan Arya."

merida tersenyum

"Apalagi sekarang Arya sudah tidak menggunakan asisten untuk bertempur melawan anomali."

Rey hanya tersenyum tipis.

"Orang-orang sering membujukku dengan kalimat seperti itu."

Ia berdiri dari kursinya.

"Tapi... makasih sudah memberitahuku."

Rey kemudian berjalan keluar dari ruangan, meninggalkan Merida sendirian.

Merida mematung beberapa detik lalu wajahnya tiba-tiba memerah.

"Ahhhhh!"

Ia menutup mulutnya sendiri.

"Astaga... Senior Rey bilang makasih ke aku!"

Merida mengepalkan tangannya dengan wajah berbinar.

"tidak percaya... akhirnya jadwal kontrak yang selama ini kutunggu-tunggu benar-benar bisa menjalankan misi bersamanya!"

Ia menarik napas dalam-dalam.

"Tenangkan dirimu, Merida."

tiba-tiba ekspresi Merida yang berbunga-bunga kini menjadi serius.

"Sekarang waktunya bersikap profesional."

Merida segera menyusul Rey.

Tak lama kemudian, mereka tiba di tempat kejadian perkara. Rumah itu tampak sunyi tidak ada suara apa pun dari dalam.

Rey berdiri di halaman depan rumah tersebut bersama Merida Rey menoleh kanan-kiri memastikan keadaan sekitar, merasa aman Rey dan Merida yang membawa tas jinjing besarnya. berjalan menuju pintu lalu Rey membuka pintu.

Krekk....

Baru beberapa langkah masuk—

Rey terkejut,tubuhnya mematung di hadapannya tergeletak seorang pria paruh baya yang telah tewas. Kondisinya mengenaskan, dengan bagian perut yang mengalami luka parah Namun bukan kondisi mayat itu yang membuat Rey terpaku melainkan Wajah pria parubaya itu terlihat familiar bagi rey

"Tidak mungkin..."

"Kenapa Pak Sucipto tewas seperti ini?"

Merida yang baru masuk langsung kebingungan melihat Rey.

"Senior Rey?"

Ia menatap mayat tersebut dengan tenang.

"Kenapa mematung? Bukannya kamu sering melihat kondisi seperti ini? Bahkan mungkin pernah melihat yang lebih parah."

Rey tidak menjawab. Kemudian Ia berjalan mendekati mayat tersebut Kemudian berjongkok untuk memastikan identitasnya.

Wajahnya semakin tegang.

*Ini benar-benar Pak Sucipto... Pengkhianat itu. Tapi bagaimana mungkin?Jangan-jangan ini kembarannya? Tidak mungkin...*

Rey kembali berdiri lalu memegang dagunya tiba-tiba kepala Merida nongol di pandangannya rey

"Senior Rey, apakah kamu memang selalu memeriksa mayat sedetail itu?"

Rey tersentak kecil.

"I-iya."

"Setiap mayat harus diperiksa dengan teliti. Mereka pasti meninggalkan jejak penting. Jadi tolong jangan menghalangi pandanganku"

Merida menarik kembali pergi kepalanya dari pandangan rey

"Tapi kok senior rey. kalau aku bersama pemburu lain, mereka nggak sampai mengamatinya sedetail itu?"

Pertanyaan tersebut membuat Rey sedikit kesal.Ia tidak menjawab justru berjalan lebih dalam ke rumah Merida pun mengikutinya.

"senior Rey?"

"mungkin dia ingin mencari sebuah petunjuk"

Merida mengikuti rey. Keduanya mulai mencari petunjuk di setiap sudut ruangan.

Sampai tiba-tiba—

GUBRAKK!!!

Suara benda jatuh terdengar keras dari bagian dalam rumah.

Merida langsung tersentak kaget.

"Suara apa itu?"

Tanpa menunggu jawaban, Rey segera bergerak menuju sumber suara meninggalkan Merida seorang diri

"Senior Rey!"

Rey berhenti di depan sebuah pintu kamar yang tertutup, Ia mencoba membuka gagangnya namun pintu itu terkunci Kemudian Rey membanting-banting kan tubuhnya ke pintu berharap pintunya akan terbuka.

Brukk..!!! Brukk....!!!!

Namun pintu itu tetap tidak terbuka Rey mundur beberapa langkah Kemudian ia berlari sangat kencang dan segera menendang pintu dengan keras

BRAKKK!!!

Kakinya menghantam pintu dengan keras hingga pintu tersebut jebol, tanpa banyak pikir Rey langsung masuk.

Merida yang berhasil menemukan Rey segera menyusul masuk kedalam sambil menjinjing tas besar

"Senior Rey!"

saat mereka berdua berhasil masuk kedalam ruangan tersebut rey menoleh kebelakang melihat sebuah lemari besar yang menahan separuh pintu.

"Pantas saja tadi nggak bisa dibuka..."

Ia kembali mengamati ruangan tidak ada jendela, tidak ada ventilasi,tidak ada apa pun yang terlihat mencurigakan kemudian Rey berjalan sambil melihat langit-langit ruangan

Namun saat pandangannya bergerak ke atas plafon Salah satu bagiannya terbuka sedikit. Rey menyipitkan dan mengfokuskan pandangannya ke arah plafon tersebut kemudian Rey meminta Merida mengambilkan sebuah pistol

"Merida."

"Iya?"

"Ambilkan aku pistol."

Merida segera membuka tas besar yang dibawanya

Ia mengambil sebuah pistol dan menyerahkannya kepada Rey, Rey menerima pistol tersebut Kemudian mengarahkannya ke plafon.

DOR! Satu tembakan. Tidak terjadi apa-apa.

DOR! Dua tembakan. Masih tidak ada apa-apa.

DOR! Tiga tembakan. Tatap tidak terjadi apa-apa

Merida melihat Rey menembaki plafon membuatnya mulai gelisah.

"Senior Rey, kumohon hentikan menembaki plafon itu!"

Rey tidak menjawab.

DOR! Tembakan keempat. masih sama saja

"Senior!"

Merida mencoba menarik jas Rey.

"Hentikan!"

Rey yang merasa terganggu segera meminta Merida menghentikannya

"Merida, jangan digoyang-goyang!"

Rey berusaha mempertahankan bidikannya.

"Nanti tembakannya kena kamu!"

Namun Merida menghiraukannya

"Senior Rey, kumohon!"

Merida semakin panik namun Rey tetap mengarahkan dan mengatur pistolnya agar tetap sesuai bidikannya kemudian Rey menembaki lagi plafon tersebut sekali lagi

DOR! Tembakan kelima.

Beberapa detik tidak terjadi apa-apa namun tak di sangka sebuah anomali berukuran kecil jatuh dari plafon tersebut

GUBRAKKK!!

Makhluk itu memiliki tubuh ramping dengan tinggi sekitar 130 sentimeter. Wajahnya menyerupai hyena, sementara bentuk tubuhnya menyerupai anjing namun makhluk itu tidak memiliki ekor.

Merida mundur selangkah ia tak percaya bahwa Rey mampu membaca sesuatu yang sangat-sangat kecil

"Seperti dugaanku. Anomali itu bersembunyi di atas sana." (ujar Rey)

Merida masih terpaku terkejut

"Lemari besar tadi menghalangi sebagian pintu. Ruangan ini juga tidak memiliki jendela maupun ventilasi. Jadi satu-satunya tempat yang mungkin dia untuk bersembunyi adalah plafon."

Rey menatap ke atas

"Apalagi ukuran anomali itu kecil. Lubang tadi cukup untuk membuatnya masuk."

*Dia bisa membaca semuanya hanya dari keadaan ruangan...?Senior Rey benar-benar keren...*

kemudian anomali yang terjatuh itu mulai menunjukkan pergerakan dari bagian tubuhnya perlahan-lahan mulai bangkit kemudian berdiri tegak.

anomali tersebut menatap mereka kedua dengan tatapan yang cukup tajam serta mengganggu anomali tersebut mulai berlari menuju Rey.

Rey yang sudah siap menghadapi anomali tersebut segera mengerahkan pistol tersebut ke anomali namu...

klik...

Terdengar suara pelatuk pistol yang kosong. Amunisi dalam pistol tersebut telah habis kini anomali tersebut memiliki kesempatan emas untuk menyerang Rey namun ia segera melempar pistol kosong tersebut ke arah anomali tersebut.

Brukk...

kepala anomali tersebut terhantam oleh pistol yang di lempar oleh rey membuat lari anomali tersebut terhenti. setelah itu kembali menyerang Rey, anomali tersebut melompat ke arah Rey sambil membuka mulutnya yang lebar di penuhi oleh gigi taringnya untuk mengigit wajah Rey.

Rey reflek mengangkat lengannya kirinya untuk melindungi wajahnya dari gigitan anomali tersebut.

anomali itu berhasil mengigit lengan kirinya Rey. Gigitannya yang begitu kuat serta menyakitkan membuat darah di lengan rey bercucuran keluar mengenai seragamnya.

wush...

Tiba-tiba sebuah pisau terbang mengenai kepala anomali bagian sisi kanannya. Ternyata pisau itu berasal dari Merida yang melempar pisau tersebut, ia berusaha menyelamatkan Rey.

anomali yang kesakitan seketika melepaskan gigitannya Rey memanfaatkan moment itu segera menindih tubuh anomali tersebut. Anomali tersebut terus memberontak kemudian anomali tersebut mencoba mengigit kembali namun Rey segera memegang kedua moncong atas dan bawah anomali tersebut lalu ret membelokkan secara berlawanan arah hingga...

KRTAKKK!!!

Suara yang begitu renyah sekaligus membuat ngilu. Suara itu berasal dari moncong anomali yang patah, moncong anomali yang membuat tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

kemudian Rey mengambil pisau yang menancap di kepala anomali tersebut lalu mencapkan kembali pisau itu di posisi yang sama hingga menembus otak dan sisi lain dari kepalanya anomali tersebut tak sadarkan diri untuk selamanya.

1
Dian Dian
good job👍
likaa: makasih kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!