NovelToon NovelToon
I'M Not Gay

I'M Not Gay

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Bad Boy
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.

Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.

Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.

Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.

Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?


"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kaelor Imperial Academy

Pagi itu, sinar matahari menyelinap melalui celah tirai kamar Varren. Sejak subuh, ia sudah terjaga. Bukan karena semangat, melainkan karena kegelisahan yang tak bisa ia tidurkan semalaman.

Ia berdiri di depan cermin panjang, mengenakan seragam Kaelor Imperial Academy untuk pertama kalinya. Jas berwarna biru tua dengan aksen emas di kerah dan saku, celana panjang hitam rapi, serta dasi merah marun yang melambangkan status eksklusif sekolah elit itu.

Varren menatap bayangannya sendiri.

Tampan.

Selalu tampan.

Rahang tegas, alis rapi, hidung mancung, dan bibir tipis yang selalu membentuk garis datar. Tidak ada yang bisa menebak bahwa di balik seragam rapi ini, ada seorang gadis yang terpaksa memakai korset pengikat dada setiap pagi, yang setiap hari berjuang menyembunyikan siapa dirinya sebenarnya.

Ia mengacak-acak rambutnya dengan sengaja. Membuatnya terlihat berantakan, liar, seperti bad boy sejati. Kemudian ia memiringkan dasinya sedikit, membiarkan kemeja bagian atas tidak dikancing sempurna.

Karena itulah yang diinginkan ibunya.

Pangeran Kaelor yang tampan, berandalan, tapi tetap berkelas.

"Varren!"

Suara Shena menggema dari lantai bawah.

Varren menghela napas.

Ia berjalan menuruni tangga marmer megah. Setiap langkah terasa berat, seperti sedang berjalan menuju medan perang.

Shena sudah menunggu di ruang makan. Wanita itu duduk dengan sempurna—rambut tertata rapi, busana mahal, ekspresi dingin yang sudah menjadi ciri khasnya. Di hadapannya, meja panjang dipenuhi hidangan. Tapi Varren tahu, itu bukan untuk dinikmati bersama.

Itu hanya pameran.

Namun begitu Shena menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki, ekspresinya langsung berubah.

"Kamu pikir itu sudah cukup?" tanyanya dengan nada tajam. "Rambutmu masih terlalu rapi! Dasi kamu belum miring! Kemeja kamu masih dikancing semua! Cowok tidak berpenampilan seperti ini, jangan buat mama marah Varren!"

Varren menahan napas. Ia memang sudah mengacak-acak rambutnya, tapi tampaknya masih belum cukup liar bagi standar ibunya.

Tanpa berkata apa pun, ia mengacak-acak rambutnya lebih brutal lagi sampai benar-benar berantakan. Ia juga membuka satu kancing kemeja tambahan dan memiringkan dasinya lebih ekstrem.

Shena mengamatinya dengan teliti, lalu mengangguk puas.

"Lebih baik. Sekarang kau terlihat seperti ketua geng yang seharusnya."

Itu satu-satunya pujian yang pernah ia dapatkan.

"Aku sudah bicara dengan kepala sekolah," lanjut Shena dingin. "Namamu sudah terdaftar di kelas internet. Asramamu di lantai tiga, kamar nomor satu. Penghuninya adalah anak-anak dari keluarga terpandang. Jangan mempermalukan keluarga Kaelor."

Varren mengangguk pelan.

"Dan satu hal lagi." Shena akhirnya menatapnya. Sorot matanya tajam, penuh peringatan. "Jangan pernah lupa siapa dirimu di mata dunia."

Varren menahan napas.

Kalimat itu selalu sama. Selalu.

Siapa dirimu di mata dunia.

"Kau mengerti?" desak Shena.

Varren menatap ibunya tanpa ekspresi.

"Aku mengerti, Mah."

Shena mendengus, lalu mengibaskan tangannya seperti mengusir lalat.

"Pergi. Jangan terlambat di hari pertama. Dan ingat, jaga penampilanmu! Mama tidak mau dengar kau terlihat terlalu rapi seperti banci!"

Varren berbalik, melangkah keluar dari mansion megah itu. Tidak ada pelukan perpisahan. Tidak ada ucapan "hati-hati di jalan." Tidak ada senyuman.

Hanya dingin, dan tugas, dan tuntutan.

---

Di luar gerbang utama, sekelompok motor sport sudah menunggu.

Tiga belas motor, semua hitam pekat dengan aksen krom berkilau. Dan di depannya, berdiri tiga belas pria dengan jaket kulit hitam bertuliskan KINGS OF ASPHALT di punggung.

Gengnya.

"Bos!"

Satu kata itu serempak menggema di udara pagi.

Varren tersenyum tipis. Di antara mereka, ia tidak perlu berpura-pura. Di antara mereka, ia adalah pemimpin. Yang disegani. Yang ditakuti. Yang dihormati.

"Udah pada sarapan?" tanya Varren dingin.

"Belum, Bos. Nunggu Bos," jawab salah satu anak buahnya, seorang pria besar dengan tato naga di leher.

"Bodoh. Makan dulu, baru nakal nya," tegur Varren. "Gue gak mau anggota gw pingsan karena laper."

Mereka tertawa. Tapi tidak ada yang berani membantah.

Varren berjalan ke arah motornya—sebuah Ducati Panigale V4 hitam pekat yang menjadi kendaraan kebanggaannya. Ia mengayunkan kaki, duduk di atas jok kulit, lalu menyalakan mesin. Suara knalpotnya menggelegar memecah kesunyian pagi.

"Bos," salah satu anak buahnya mendekat. "Denger-denger Bos masuk Kaelor Imperial?"

Varren menatapnya tajam.

"Terus?"

"Anak buah gue ada yang sekolah di sana. Dia bilang, di sekolah itu banyak ular. Semua pura-pura baik, tapi di belakang saling tikam."

Varren mendengus dingin.

"Biarin. Yang penting mereka tau siapa yang ngejalanin sekolah itu."

Teman-temannya bersorak pelan. Mereka percaya pada Varren. Seperti biasa.

"Bos," kata anak buah yang lain, "kalo butuh apa-apa, kita standby. Sekolah elit macam gitu biasanya banyak masalah."

Varren mengangguk. "Gue tau. Gue juga gak bakalan tinggal di asrama selamanya. Nanti kalo libur, gue main ke markas."

"SIAP BOS!"

Tiga belas suara menggema bersamaan.

Varren menarik helmnya, menutup wajah tampannya.

"Gas."

Dan dua belas motor lainnya mengikutinya.

Meninggalkan mansion keluarga Kaelor, menuju babak baru dalam hidupnya.

---

Perjalanan menuju Kaelor Imperial Academy memakan waktu sekitar empat puluh menit. Semakin dekat, semakin terlihat kemegahan sekolah itu.

Kaelor Imperial Academy bukanlah sekolah biasa.

Berdiri di atas lahan seluas dua puluh hektar, kompleks sekolah itu seperti istana. Bangunan utamanya bergaya arsitektur kolonial dengan pilar-pilar marmer putih menjulang tinggi. Di depannya, terdapat air mancur besar dengan patung singa bersayap yang menyemburkan air dari mulutnya.

Varren menghentikan motornya di depan gerbang utama. Dua satpam berseragam langsung menghampiri.

"Anak baru?" tanya satpam dengan nada hormat.

Varren melepas helmnya. Rambutnya acak-acakan akibat helm—tapi itu justru membuatnya terlihat lebih liar. Dengan santai, ia mengacak-acak rambutnya lagi, memastikan tampilannya tetap seperti yang ibunya inginkan.

"Varren Lucien Kaelor."

Satpam itu membelalak. "T-tuan Kaelor? Maaf, kami tidak tahu. Silakan masuk."

Varren mengangguk lalu melesat dengan motornya, melintasi halaman luas yang dihiasi taman-taman indah. Ia memarkir kendaraannya di area khusus, lalu berjalan menuju lobi utama sambil membawa kopernya.

---

Lobi utama Kaelor Imperial Academy benar-benar seperti lobi hotel bintang lima. Lantai marmer mengkilap, lampu kristal besar menggantung di langit-langit, dan resepsionis yang ramah tersenyum menyambutnya.

Varren berdecap pelan menatap lobi yang dihadapinya. Segera ia menarik kopernya dan juga beberapa barang miliknya.

"Mas.."

Varren menoleh, melirik yang memanggilnya. Ia menaikkan satu alisnya bingung.

"Kamu mau ke asrama yah? Anak baru juga kan? Bareng aja yuk." Ujarnya tersenyum kepada Varren.

Varren meliriknya dan mengangguk pelan.

"Kenalin nama gue Reja, nama loe siapa?" tanyanya menjabat tangan Varren.

Varren menerima tangan Reja dan berdehem. "Varren."

Reja mendengarnya menyipitkan matanya. "Oh oke." Ia terkehek.

Varren meliriknya bingung. "Kenapa ketawa? Ada yang salah sama nama gue?"

Reja menggeleng pelan. "Soalnya sekilas loe mirip cewek cantik. Tapi pas denger suara loe gue jadi yakin loe cowok. Ayok cari asrama kita." jelas Reja pelan.

Varren mendengarnya hanya diam. Dirinya memang memiliki suara berat dan juga bas seperti laki-laki. Shena bahkan membawanya ke dokter spesialis agar pita suaranya berubah menjadi berat dan memiliki jakun agar dirinya seratus persen tulen mirip laki-laki.

"Btw asrama loe nomor berapa?" tanya Reja kepada Varren pelan. Varren menatap kartu akses yang diberi oleh petugas tadi, mengernyit pelan.

"Ini." ia menunjukkannya pada Reja.

Reja membulatkan kecil bibirnya. "Ini kita satu kamar. Kelas eksklusif wah haha. Ayok kita ke atas. Itu ada di lantai tiga." jelasnya semangat kepada Varren.

Varren mendengarnya agak suram. "Kenapa nggak lantai satu aja sih?" gumam Varren terdengar oleh Reja.

"Lantai satu? Enakan lantai tiga lah. Di sana kita bisa lihat pemandangan atap rumah orang atau bahkan kegiatan anak-anak lain. Di sana ada balkonnya." tegasnya.

"Yah tapi kalo ada gempa bumi kita nggak bisa lari. Masa loncat dari balkon?" tanya Varren tegas dan kesal.

Reja malah tertawa mendengar ucapan Varren. "Yaampun iya juga yah. Kok gue baru kepikiran." jelas Reja terkehek.

"Lagian loe ada aja sih kepikiran kesana?" tanyanya.

Varren mengangkat bahu acuh. "Nggak tau sih. Mungkin nyokap pas bikin gue kurang kasih vitamin, makanya otak gue rada miring." jawab Varren abstrak. Reja malah kembali tertawa terbahak.

Dan Varren meliriknya dengan tatapan kaget. Ini orang garing sekali yah...!!

---

Keduanya sudah sampai di kamar paling atas lantai tiga. Kamar nomor 1. Reja membuka pelan pintu menggunakan kartu bukan kunci membuat Varren diam mengikutinya dari belakang.

"Woy… gue sampai!" teriak Reja di sana riang dan bersorak.

Varren bisa melihat ada satu laki-laki yang sedang makan mie cup tersedak karena Reja berteriak. Varren meringis pelan meliriknya iba. Si anak anj, datang-datang teriak-teriak.

"Salam woy salam!" teriak temannya kesal melirik temannya yang nerobos masuk dan duduk di dekatnya.

Reja meliriknya mencibir. "Sorry sorry itu azab karena makan mie nggak ngajak-ngajak." jawabnya. Temannya hanya memajukan giginya mengejek.

"Oy iya gue bawa temen satu kamar juga sama kita-kita. Nih sini Varren masuk." teriak Reja pada Varren yang masih di dekat pintu.

Varren berdehem memasuki kamar pelan menatap Reja dan temannya yang makan mie santai.

"Nih kenalin namanya Varren, dia satu kamar sama kita." jelas Reja kepada temannya. "Dan Varren kenalin, ini namanya Tavian, anak pak Muba kepala sekolah, tapi kepala sekolah sekolah sebelah bukan kita hahaha." jelas Reja dengan tawa garingnya.

Varren tersenyum tipis mendengarnya. Tavian meliriknya kesal. "Nggak usah di dengerin Ren. Emang rada-rada nih orang." jelasnya mengibas tangan pada Varren. Tavian melirik Varren lagi tenang. "Dari SMP mana?" tanyanya lagi kepo.

Varren berdehem. "SMP Nugraha."

Reja berdehem pelan mendengarnya.

"Eh.." suara Tavian tercekat saat ada lelaki yang baru saja keluar dari kamar hanya menggunakan celana pendek. Varren di sana bahkan hampir tidak bernafas dibuatnya. Wah wah lihat lelaki itu.

"Brisik..!!!" tegasnya kepada Reja dan Tavian dingin, lalu melirik Varren yang berdiri kaku di sana tajam.

"Eh eh pak ketua bangun hhe. Maaf bapak ketua. Kita ada anggota baru nih baru dateng bareng Reja. Kenalan dulu lah." jelas Reja kikuk menggaruk rambut belakangnya.

"Ren.. kenalin diri loe." jelas Reja pada Varren yang diam saja.

Varren berdehem menjulurkan tangannya kepada pak ketua mereka. "Varren."

Pak ketua menatap Varren kesal tapi tetap menyambutnya tegas dan meremasnya kuat. Varren diam menatapnya dengan kesal.

"Sylas." jelasnya lalu melepaskan tangan Varren. "BTW tangan loe lembut banget. Loe nggak suka cowok kan?" tanya Sylas dingin.

Varren mendelik kesal. Sebenarnya dirinya suka cowok tapi bukan berarti di bilang begitu juga. Seakan-akan dirinya gay.

"Buset pak bos baru kenal aja udah ngomong ngasal. Varren nggak usah dengerin kata pak Ketua, dia emang gitu orangnya...!!!" Reja mendelik kepada Sylas yang tenang usai mengatakan hal tersebut.

"Udah Ren. Mending loe istirahat aja. Kamar loe yang disana yah." Reja melirik kamar yang ada di bagian paling ujung. Varren berdehem pelan dan melangkah menjauh.

Saat Varren jauh Reja melirik pak ketua mereka yang menatap Varren menjauh dingin. "Pak ketua jangan gitulah sama anak baru. Dia nggak nyaman nanti." jelas Reja dengan ketuanya pelan.

Sylas mendengus lalu melangkah ke kamarnya lagi. "Jangan berisik. Atau kalian gue tendang dari sini." tegasnya pada keduanya. Reja dan Tavian saling lirik dan menggeleng. Pak ketua mereka memang sangat dingin.

---

Varren menghela napas pelan memasuki kamarnya. Ia mendengus kesal mengingat Sylas yang bersikap begitu. Tapi ngomong-ngomong jika Varren dinobatkan pangeran sekolah, Sylas apa yah? Haha sebab wajah Sylas jauh lebih tampan darinya. Rahang tegas, mata tajam dengan alis rapinya. Bulu mata lentik yang terlihat jelas meskipun jauh. Tapi , Reja dan Tavian tak kalah tampan.

Varren menyisir rambutnya ke belakang. Menatap sekeliling kamarnya. Tidak terlalu besar, hanya ada kasur, lemari kecil, meja belajar dan juga lampu tidur. Tapi ini sangat nyaman karena kamarnya ada AC, ada kamar mandi sendiri juga disini. Varren menata semua barannya untuk ia siap besok. Besok dirinya sudah mulai masuk MOS.

---

Pagi-pagi Varren sudah siap dengan seragamnya. Pelan Varren meraba dadanya yang tepos, agak meringis pelan, ia harus mengikat dadanya menggunakan korset yang ia siapkan. Untunglah dirinya tepos jadi tidak terlalu sesak atau memaksakan diri.

Varren keluar dengan santai, menutup pintu dan segera keluar.

"Buset. Varren loe nggak pake perlengkapan MOS?" tanya Reja melihat Varren yang tak menggunakan peralatan MOS.

Varren melirik mereka dan menarik bahu acuh. Segera menatap makanan di atas meja. "Wah makanan siapa nih?" tanya Varren.

"Pak bos. Disini ada kantin buat kita, cuma harus ngambil kebawah. Ini dipesen pak bos kalo mau makan aja." jelas Reja kepada Varren.

Varren melirik Sylas yang duduk tenang disana tak meliriknya, dingin. "Nggak. Makasih." jelas Varren lalu keluar dari kamar meninggalkan mereka.

Reja melirik Sylas yang diam saja. "Dipikir pak bos nggak ngasih kali. Makanya dia nggap mau. Pak bos si diem aja. Liat dia jadi nggak sarapan bareng kita." jelas Reja kesal pada Sylas. Sylas menarik alisnya bingung menatap Reja yang malah kesal padanya.

"Iya. pak bos diem aja. Berarti dia beretika. Kalo yang punya nggak ngasih dia nggak bakal mau." jelas Tavian melahap cepat pizza ke dalam mulutnya. "Skuy lah kita pergi. Nanti kita telat." jelasnya kepada teman-temannya yang masih asik saling salah.

Varren menghela napas pelan, melirik pintu kamar mereka dengan lamban. Dirinya tau aturan juga, Sylas saja terlihat tak memandangnya ada, mana mau dia. Varren segera melangkah menuju kantin sekolah untuk mengisi perutnya pelan.

"Kiw kiw. Cantik..!!!"

Sial.

Bahkan dirinya menjadi laki-laki saja masih ada saja yang menggoda begitu.

Varren melirik tajam lelaki yang menggoda. "Gue laki." tegas Varren.

"Anj..." Mereka melotot melirik Varren. "Woh santai bro hehe, kirain ewek. Soalnya cantik." jelas ketuanya dengan pelan kepada Varren. Sebab suara Varren sangat ngebas dan berat.

Varren mendesis lalu mendekati mereka. "Kantin dimana bro? Gue laper nih." jelas Varren pelan memegang perutnya.

Mereka melirik Varren meringis. "Dibawah. Kalo mau bareng aja. Kita juga belum sarapan." jelasnya pelan. Lelaki berbadan sangat besar dan kekar itu mengangguk. Mereka bertiga dan Varren paling kecil di antaranya. Sehingga Varren seperti diapit oleh titan-titan saja.

"Btw kenalin nama gue Varren, nama kalian siapa?" tanya Varren memperkenalkan diri.

"Nama gue Ayub." jelas yang paling kekar dan manis tersenyum.

Varren mengangguk menatap kedua temannya. "Gue Brayen." jelas yang paling putih, mata sipit dan berlesung pipi, dia paling tampan.

"Gue Bastian." jelas salah satu berbadan berisi dan juga berperawakan biasa saja. Varren tersenyum mengangguk. Baik mereka akan menjadi temannya untuk hari berikutnya.

Yah, Varren tidak pernah kesusahan memiliki teman di manapun dirinya berada.

Bersambung...

1
Anime aikō-kā
p
Alia Chans: 🤔🤔🤔🤔🤔🤔.
total 3 replies
ẜᮦ࿆ᷗhimboy
semangat
Alia Chans: Thank you kk/Smile//Smile/
total 1 replies
Nelson Sihombing
berarti dia gk cewek? atau gk cowok?
Alia Chans: Gak tau lupa gw🤭🤭
total 1 replies
Kak Umi
Jangan lupa baca cerita aku juga ya 🙏🙏😍😍
Kak Umi
Cerita asyik dan enak untuk dibaca
Kak Umi
Ikut baca ya😍😍
Alia Chans: makasih kk dah mampir. semoga suka ya😉
total 1 replies
𝑊𝑎𝑤𝑎ᵃᵈʳⁱᵃⁿ
menurut ku diam bukan cara penyelesaian trbaik
_r: kak baca novel ku juga dong, judul nya tower of souls
total 2 replies
Nemicca˃ 𖥦 ˂
seru banget sukak
Nemicca˃ 𖥦 ˂: hehe pasti lah
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!