Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.
Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.
Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Debaran Di Luar Kendali
Suasana di ruang keluarga kediaman mewah Menteng mendadak hening mencengkeram. Kata "momongan" yang diucapkan dengan begitu santai namun penuh penekanan oleh Nenek Ratna seolah menjadi bom waktu yang siap meledak di tengah-tengah kesepakatan rahasia antara Reno dan Aura.
Aura berusaha keras menguasai keterkejutannya yang membuncah. Ia meletakkan cangkir teh porselen di tangannya secara perlahan ke atas meja, lalu meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan demi menutupi gemetar halus yang merayapi tubuhnya. Sementara itu, Reno pria yang biasanya selalu tampil tenang, dingin, dan tak tersentuh tampak menegakkan posisi duduknya dengan raut wajah yang membeku kaku.
"Nenek..." Reno akhirnya membuka suara, memecah keheningan dengan nada berat yang dipaksa sepadat mungkin. "Pernikahan kami baru saja berjalan hitungan jam. Lagipula, jadwal pekerjaan Aura di stasiun TV sangat padat dengan program berita utama *Prime Time*, begitu juga dengan fokus Reno yang sedang memimpin proyek restrukturisasi Adhyastha Group. Kami ingin memantapkan karier dan penyesuaian kehidupan kami terlebih dahulu."
Nenek Ratna menatap cucunya dengan sorot mata yang tajam, jernih, dan tak terbantahkan, lalu perlahan berpindah menatap Aura. "Fokus karier itu memang penting, Reno. Tapi penerus darah keluarga Adhyastha adalah prioritas utama. Nenek tidak makin muda. Nenek mau melihat cicit dan memastikan sudah ada penerus langsung sebelum masa jabatanmu di dewan komisaris diperpanjang tahun depan."
Dada Aura berdesir hebat. Ia tahu betul jika ia salah bersikap atau menunjukkan kepanikan, sandiwara pernikahan kontrak ini bisa terbongkar saat ini juga di hadapan matriarki berdarah dingin tersebut. Namun, mengandalkan jam terbang dan profesionalitasnya selama bertahun-tahun menghadapi berbagai situasi tak terduga di layar siaran langsung, Aura mengambil napas dalam-dalam. Ia mengulurkan senyum tipis nan anggun, lalu mengusap pelan jemari Nenek Ratna.
"Nenek..." suara Aura mengalun lembut, memancarkan kehangatan tulus yang menenangkan. "Kami sangat menghargai harapan, doa, dan kasih sayang Nenek untuk kami berdua. Kami sama sekali tidak bermaksud menunda, tapi kami mohon doa yang terbaik dari Nenek, agar semuanya diberi jalan yang paling tepat di waktu yang paling pas menurut Tuhan."
Nenek Ratna menghela napas panjang. Aura ketegangan di raut wajah sang matriarki perlahan meluntur oleh ketenangan, kerendahan hati, dan kesantunan tutur kata Aura. Senyum bangga kembali terukir di bibir wanita tua yang sangat disegani itu.
"Jawaban yang sangat santun," puji Nenek Ratna tulus. "Baiklah, Nenek pegang janji kalian. Tapi ingat, setiap akhir pekan kalian wajib menginap di rumah Menteng ini. Nenek mau melihat perkembangan dan keharmonisan kalian secara langsung tanpa ada alasan pekerjaan."
Sore harinya, perjalanan pulang menuju penthouse di kawasan SCBD dipenuhi keheningan yang berbeda dari sebelumnya. Jika sebelumnya keheningan di antara mereka terasa dingin dan penuh jarak formalitas, kali ini ada ketegangan aneh yang samar-samar merayapi udara di dalam kabin mobil Alphard hitam tersebut.
Reno menyandarkan punggung tegapnya di jok kulit, menatap ke luar jendela yang terbasahi rintik hujan dengan kedua tangan bersedekap di dada.
"Jawabanmu di rumah Nenek tadi cukup cerdas," ujar Reno mendadak, memecah kesunyian tanpa memalingkan wajahnya pada Aura. "Kamu bisa mengendalikan situasi tanpa membuat Nenek tersinggung."
Aura melirik pria di sampingnya sekilas, merapikan ujung hijab pink pastelnya. "Saya hanya berusaha menyelamatkan situasi agar sandiwara kita tidak berantakan di hari pertama. Permintaan Nenekmu soal momongan benar-benar di luar dugaan dan skenario."
"Nenek memang seperti itu. Sekali beliau menginginkan sesuatu, beliau akan mencari segala cara untuk mewujudkannya," balas Reno dingin, suaranya terdengar makin berat. "Tapi kamu tidak perlu khawatir. Soal tuntutan momongan, saya yang akan mengambil alih dan mengalihkan perhatian Nenek nanti."
"Terima kasih," bisik Aura pelan. "Saya juga tidak ingin melanggar satu pun pasal dalam kontrak pernikahan kita."
Kata 'kontrak' yang diucapkan Aura dengan begitu lugas seolah memukul kesadaran mereka berdua kembali pada realita yang sebenarnya. Mereka hanyalah dua orang asing yang terikat dalam transaksi bisnis bernilai miliaran rupiah, bukan pasangan suami istri yang saling mencintai.
Malam harinya di penthouse, hujan deras accompanied kilat kembali mengguyur kota Jakarta. cahaya kilat sesekali menerangi dinding kaca tebal di ruang tamu utama yang megah dan sunyi.
Aura baru saja keluar dari kamar tidurnya dengan pakaian santai gamis rumahan berwarna pink lembut yang hangat,hendak menuju dapur untuk menyeduh teh. Langkah kakinya terhenti saat melihat Reno masih duduk di meja makan utama. Pria itu sudah melepas jasnya, hanya mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya tergulung rapi hingga siku, sibuk berhadapan dengan layar laptop dan tumpukan berkas kantor yang menggunung.
Aura ragu-ragu sejenak di tepi koridor, namun rasa kemanusiaannya mendesaknya untuk melangkah mendekat.
"Belum tidur?" tanya Aura pelan seraya melangkah mendekat.
Reno memposisikan pandangannya tetap menatap layar laptop tanpa berpaling sedikit pun. "Masih ada beberapa laporan keuangan anak perusahaan yang harus selesai sebelum rapat direksi jam delapan pagi besok."
Aura melirik cangkir kopi hitam di samping laptop Reno yang sudah kosong melompong. Tanpa bersuara, Aura melangkah menuju dapur. Ia mengambil cangkir porselen bersih, menyeduh teh chamomile hangat, dan meletakkannya dengan sangat pelan di samping laptop Reno, menggantikan cangkir kopi yang kosong tersebut.
Gerakan tangan Reno di atas keyboard seketika membeku. Pria itu mendongak, menatap cangkir teh yang masih mengepulkan aroma harum mawar dan chamomile, lalu beralih menatap wajah Aura dengan dahi berkerut heran.
"Kopi terlalu keras untuk lambungmu jika diminum semalam ini," kata Aura lembut, mengulurkan senyum tipis yang tulus. "Teh chamomile ini bisa membantumu bekerja lebih rileks."
Reno menatap mata jernih Aura selama beberapa detik. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, tatapan mata pria berhati es itu tidak sekeras biasanya. Ada pendar kehangatan samar yang melintas di sana, meski hanya sekelebat sebelum ia menguasai diri kembali.
"Terima kasih," ucap Reno singkat, suaranya terdengar lebih dalam dan berat dari biasanya.
"Sama-sama. Jangan bekerja terlalu larut malam," balas Aura pamit, berbalik hendak melangkah kembali menuju kamarnya.
Namun, sebelum langkah kaki Aura mencapai koridor kamar, sebuah suara petir bertabrakan menggelegar sangat keras tepat di atas langit-langit gedung penthouse!
BLARRR!
Suara dentuman dahsyat itu disusul padamnya aliran listrik secara mendadak. Ruangan penthouse yang tadinya terang benderang seketika berubah menjadi gelap gulita.
Aura yang tersentak kaget refleks menjerit pelan. Dalam kegelapan pekat itu, langkah kakinya tersandung tepi karpet tebal, membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh terdorong ke depan.
"Aura!"
Dalam hitungan detik di tengah kegelapan, sebuah lengan tegap dan kokoh merengkuh pinggang Aura dengan sangat sigap. Sebelum tubuh Aura menyentuh lantai marmer yang keras, Reno sudah berhasil menangkapnya dan menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.
Aura menahan napas. Jarak mereka kini begitu rapat hingga Aura bisa merasakan detak jantung Reno yang berdebar kencang menembus kain kemeja putihnya. Aroma parfum kayu cendana yang maskulin dari tubuh Reno menyergap indra penciumannya, sementara hembusan napas hangat pria itu menyapu lembut kulit wajah Aura di balik bayang-bayang kegelapan malam.