NovelToon NovelToon
Ages Sabiru,Duda Kaya Itu Ayahku

Ages Sabiru,Duda Kaya Itu Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: R²_Chair

Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu kalimat,menorehkan luka

Pagi ini, Ages akhirnya memenuhi janjinya kepada Kalandra.Setelah beristirahat beberapa jam di hotel dekat rumah sakit,ia kembali ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian sebelum kembali ke rumah sakit.

Sementara itu, Sean, Raka, Jevan, dan Kiano masih menemani Kalandra di kamar rawat.

Menjelang siang, Raka dan Jevan berpamitan untuk pulang lebih dulu. "Besok kita datang lagi."

"Iya."

"Jangan lupa latihan jalan kalau dokter sudah ngizinin."

Kalandra tersenyum kecil. "Siap.Thank ya udah pada mau nemenin gue disini."

"Santai,kaya sama siapa aja." Jawab Raka dengan tengil.

"Si Raka santai soalnya disini banyak makanan jadi pasti betah lah." Sela Kiano.

Raka tertawa mendengarnya. "Tau aja lo BangKi."

"Dah ah gue pamit ya". Raka meraih tasnya. "Jangan kangen sama gue ya,Kal."

Kalandra merotasi matanya. "Najis!"

Tak lama kemudian, Sean dan Kiano keluar sebentar menuju kantin rumah sakit untuk membeli makan siang.

Kini, Kalandra hanya ditemani seorang perawat yang sedang mengganti cairan infus.Setelah selesai, perawat itu tersenyum.

"Mas Kalandra, saya ke ruang perawat dulu ya. Kalau butuh sesuatu, tekan tombol ini."

"Iya, Mbak."

Pintu kamar pun kembali tertutup.Ruangan menjadi sunyi.Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu di ketuk dan suara seseorang.

"Permisi."

Kalandra menoleh.Pintu terbuka perlahan,ternyata yang masuk bukan Sean.Bukan pula Ages,melainkan Nadira.

Di belakangnya berdiri seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun dengan pakaian yang rapi.Wajah pria itu terlihat lelah, tetapi masih memancarkan wibawa.

Kalandra tidak mengenalinya,hanya Nadira saja yang ia kenali.

Nadira tersenyum tipis.

"Hai, Kala."

Kalandra membalas dengan sopan.

"Silakan masuk."

Meski masih menyimpan kekecewaan terhadap Nadira, ia tetap menghormati tamu yang datang menjenguknya.

Ayah Nadira melangkah mendekati ranjang. "Bagaimana keadaanmu sekarang, Nak?"

"Sudah lebih baik."

"Syukurlah.Perkenalkan saya ayahnya Nadira."

Kalandra hanya mengangguk,rasanya ia tak perlu mengenalkan diri karena nyatanya mereka sudah mengenal dirinya.

Beliau mengangguk pelan. "Kami datang untuk menjengukmu."

"Terima kasih."

"Maaf kami baru bisa menjenguk." lanjut Nadira.

"Ya,tidak apa-apa." jawab Kala singkat.

Suasana kembali hening.Nadira tampak beberapa kali ingin berbicara, tetapi mengurungkan niatnya.

Justru ayahnya yang membuka percakapan. "Kala..."

"Iya,"

"Ada satu hal yang ingin saya bicarakan."

Kalandra mengangguk pelan. "Silakan."

Pria itu menarik napas panjang."Saya tahu ini mungkin bukan waktu yang tepat.Tapi saya berharap kamu mau mendengarkan."

Kalandra hanya diam,ia tak ingin menyelanya.Namun mendengar kalimat awal itu membuat Kala tidak nyaman,raut wajahnya tak bisa lagi ia sembunyikan.Kini tatapannya berubah dingin.

"Ages adalah laki-laki yang baik."

Kalandra mengangguk. "Iya."

"Dia sudah bertahun-tahun hidup sendiri.Dia juga sudah berkorban banyak untuk membesarkanmu."

Kalandra kembali mengangguk. "Terus?"

"Karena itu..." Pria tersebut menatap Kalandra dengan serius."...saya berharap kamu mengizinkan Ages menikahi Nadira."

Ayah Nadira menatap Kala dalam."Kamu pasti sudah kenal kan sama anak saya ini? Nadira dan Ages itu sudah lama saling mengenal dan bersama.Keduanya sudah saling mencintai."

Ruangan seketika terasa sunyi.Kalandra terdiam.Ia tidak menyangka pembicaraan itu akan mengarah ke sana.

Ayah Nadira melanjutkan dengan nada tenang. "Setiap orang berhak memiliki pendamping hidup.Kamu juga pasti ingin melihat ayahmu bahagia, bukan?"

"Saya juga tau kamu pasti sudah pernah menyukai atau mencintai seorang wanita.Dan kamu pasti tau bagaimana rasanya jika sebuah hubungan terhalang restu."

Kalandra menatap selimutnya.Ia belum sempat menjawab.Namun kalimat berikutnya membuat napasnya tertahan.

"Kamu juga harus sadar selama ini Ages terlalu banyak memikirkanmu.Kamu sudah besar.Jangan terus menjadi beban bagi ayahmu."

Kalandra perlahan mengangkat wajahnya.Tatapannya mulai berubah. "Beban...?"

"Iya." Pria itu berkata tanpa bermaksud menyakiti. "Dia masih muda,dia berhak memikirkan hidupnya sendiri.Kalau terus mengurusmu, kapan dia memikirkan kebahagiaannya?"

Kalandra menggenggam erat selimut.Wajahnya yang semula dingin kini mulai memucat.

Nadira yang melihat perubahan ekspresi Kalandra langsung berkata pelan, "Yah..."

Sejujurnya Nadira sangat takut,apalagi saat mengingat kejadian waktu itu.Ia masih ingat bagaimana marahnya Ages.Namun rasa cintanya pada Ages sangat besar,ia benar-benar ingin memiliki Ages seutuhnya.Begitupun sang ayah yang juga sangat ingin memiliki menantu kaya seperti Ages Sabiru.

Tanpa menghiraukan Nadira,ayahnya tetap melanjutkan.

"Kalau kamu benar-benar sayang kepada Ages ikhlaskan dia membangun keluarga baru."

Air mata mulai memenuhi mata Kalandra.Selama ini ia selalu berusaha menjadi anak yang tidak merepotkan.

Ia belajar mandiri.

Tidak pernah meminta barang mewah,membeli barangpun sesuai izin sang ayah.Bahkan setelah kecelakaan pun,yang ia khawatirkan justru kondisi Ages.Namun sekarang ia mendengar dirinya disebut sebagai beban.Kalimat itu menghantam hatinya lebih keras daripada rasa sakit akibat luka-lukanya.

"Om..." Suara Kalandra terdengar lirih. "Aku..."

Belum sempat ia melanjutkan ucapannya,pintu kamar kembali terbuka.Seorang perawat masuk sambil membawa obat.Melihat suasana yang begitu tegang dan wajah Kalandra yang seperti menahan tangis, perawat itu langsung menghentikan langkahnya.

"Mas Kalandra?" Perawat menoleh kepada para tamu. "Apakah semuanya baik-baik saja?"

Kalandra hanya menundukkan kepala tidak menjawab.

Perawat yang mengenal keluarga Sabiru merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Dengan sopan ia berkata, "Maaf, saya perlu memeriksa kondisi pasien sebentar."

Ayah Nadira mengangguk. "Silakan."

Sambil memeriksa tekanan darah Kalandra, perawat melihat monitor menunjukkan detak jantung remaja itu meningkat.Wajah Kalandra pun semakin pucat.

Perawat segera mengambil keputusan. "Maaf, pasien perlu beristirahat."

Nadira mengangguk.

"Kami akan keluar."

Nadira segera menuntut sang ayah,sebenarnya sang ayah enggan untuk keluar.Namun ia juga sadar dengan kondisi Kala yang sedikit berubah membuatnya gugup dan takut.Apalagi melihat wajah panik perawat itu yang menatap tajak dirinya.

Begitu keduanya meninggalkan kamar,perawat segera menekan nomor telepon Ages.

"Pak Ages?"

"Iya, Mbak."

"Bapak sedang di mana?"

"Saya baru keluar dari rumah."

Perawat menarik napas.

"Pak... sebaiknya Bapak segera kembali ke rumah sakit."

"Kenapa? Kala kenapa?"

"Mas Kalandra memang tidak mengalami keadaan darurat fisik.Tapi beliau baru saja menerima tamu, dan setelah pembicaraan itu kondisinya terlihat sangat terpukul. Detak jantungnya meningkat dan beliau tampak sangat tertekan."

Suara Ages langsung berubah panik. "Saya berangkat sekarang."

Telepon ditutup.Ages segera berlari menuju mobilnya.Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, pikirannya dipenuhi satu pertanyaan.

Siapa yang datang menemui putranya...hingga membuat Kalandra kembali terluka?

Sementara di dalam kamar Kalandra masih memandangi kedua kakinya yang belum mampu digerakkan.Perlahan, air mata jatuh membasahi pipinya.

"Apa benar... aku sudah menjadi beban bagi Papa?" lirihnya

.......

.......

.......

...♡Sabiru♡...

🦋 Jangan lupa tinggalkan jejak readersku..🦋

1
Puji Hastuti
duh.. jadi makin penasaran aja.
Puji Hastuti
ada apa di masa lalu
Puji Hastuti
gimana ceritanya itu cewek,anaknya ages?ngaco
Puji Hastuti
kak kenapa di cerita baru,bukanya susah ya??
Puji Hastuti: bab 2
total 2 replies
Puji Hastuti
semangat Nay,kamu gak sendiri
Puji Hastuti
akhirnya kala kembali ke setelan awal 😍
Puji Hastuti
untuk teman² kala,tolong jangan tinggalin kala
Puji Hastuti
nay/Sob//Sob/
Puji Hastuti
lanjut kk
Aisyah Suyuti
good
Puji Hastuti
kala belum paham hati perempuan 🤣
Puji Hastuti
walah siapa lagi ini
Puji Hastuti
cie cie kala
Puji Hastuti
lanjut kk
Puji Hastuti
😍😍😍😍😍
Puji Hastuti
congrats kala
Puji Hastuti
semangat kala , banyak cinta yang mendukung mu 💪💪
Puji Hastuti
Alhamdulillah akhirnya kala pulang
Puji Hastuti
papa keren😍😍😍😍😍
Puji Hastuti
eh pak tua,jaga ya bicaranya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!