Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.
Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.
Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Jebakan di Ruang Siar
Suasana di studio utama stasiun TV Adhyastha Media sore itu tampak jauh lebih sibuk dan tegang dari biasanya. Jelang lima belas menit sebelum program berita utama dipancarkan secara langsung pada pukul lima sore, puluhan kru lalu lalang merapikan pencahayaan, mengecek tata suara, dan menyesuaikan sudut kamera utama.
Aura duduk dengan anggun di meja penyiaran yang megah. Busana formal bernuansa pink pastel dipadukan dengan hijab senada dan riasan tipis alami membuat pesonanya memancar begitu berkelas di bawah sorotan lampu studio. Jemari lentiknya sibuk meneliti draf naskah berita yang tertera di layar komputer meja siar, memastikan setiap detail nama pejabat, angka statistik, dan data penting lainnya sudah tepat.
Di sudut studio yang agak gelap, Siska menyandarkan tubuhnya pada dinding dengan tangan bersedekap di dada. Tatapan matanya tajam dan dingin, memperhatikan setiap gerak-gerik Aura dengan rasa dengki yang tak tertahan. Kehadiran Aura yang makin dielu-elukan oleh jajaran direksi, ditambah dengan kenaikan rekor rating siaran, membuat Siska merasa posisinya sebagai presenter senior benar-benar telah terancam habis.
Saat perhatian seluruh kru teknis teralih pada koordinasi akhir dengan ruang kontrol, Siska memanfaatkan kelengahan tersebut. Dengan langkah pelan dan senyap, ia berjalan melewati meja siar Aura yang tengah ditinggal sejenak oleh asisten produser. Dengan gerakan tangan yang cepat dan terlatih, Siska mengambil berkas naskah kertas resmi milik Aura dan menukarnya dengan lembaran naskah lama yang belum melewati verifikasi data redaksi.
Di dalam naskah palsu itu, terdapat kesalahan fatal terkait angka persentase pertumbuhan ekonomi nasional dan nama pejabat tinggi negara sebuah jebakan tak kasatmata yang bisa menghancurkan reputasi profesionalisme seorang news anchor dalam sekejap jika dibaca secara live.
Siska menyunggingkan senyum sinisnya, lalu melangkah mundur seolah tak terjadi apa pun. "Kita lihat seberapa hebat kamu bertahan sore ini, Aura," bisiknya licik dalam hati.
"Tiga puluh detik menuju siaran live! Semua posisi!" serak suara pengarah acara bergema melalui speaker studio.
Aura menarik napas panjang, memposisikan duduknya dengan tegak, lalu mengukir senyuman hangat penuh percaya diri ke arah lensa kamera utama. Ketenangan batin yang ia dapatkan usai melihat kesembuhan Ibu Salma dan dukungan tanpa henti dari Mas Reno menjadi pendorong energi terbesarnya sore ini.
"Tiga, dua, satu... Action!"
Lampu indikator berwarna merah menyala terang di atas kamera. Aura mulai membawakan berita pembuka dengan suara bariton wanita yang begitu jernih, artikulasi yang amat presisi, serta tempo yang sangat tenang. Di layar kaca seluruh negeri, pesona dan wibawa Aura berhasil menyihir jutaan mata pemirsa.
Namun, tepat saat siaran memasuki segmen kedua mengenai laporan khusus ekonomi nasional, masalah besar mendadak menghantam.
Layar teleprompter besar yang terpasang di bawah kamera utama mendadak mati total, berganti menjadi layar hitam pekat akibat gangguan kabel sistem central.
Di balik kaca tebal ruang kontrol, Bu Maya pimpinan redaksi spontan berdiri dari kursinya. "Kenapa teleprompter mati?! Cepat atasi!" serunya panik pada tim teknis.
Siska yang menonton dari balik barisan kameramen tersenyum puas. Ia menanti detik-detik saat Aura panik, kebingungan, dan terpaksa membaca berkas naskah kertas di mejanya yang sudah disusupi data-data salah.
Di meja penyiaran, Aura sempat tertegun sepersekian detik mendapati layar baca di depannya mendadak padam. Sesuai prosedur standar penyiaran, ia dengan tenang merengkuh berkas naskah kertas di meja untuk melanjutkan pembacaan secara manual.
Namun, begitu mata jernih Aura menyapu barisan angka di kertas tersebut, naluri dan ketelitian tajamnya langsung menangkap ketidakberesan. Angka inflasi dan nama menteri yang tertera di kertas itu berbeda jauh dari data riset resmi yang ia pelajari dan hafalkan sejak siang tadi. Aura sadar, ini bukan sekadar naskah salah seseorang telah sengaja menukarnya.
Di tengah situasi krusial yang mempertaruhkan nama baik stasiun TV dan kariernya secara live, Aura tidak membiarkan rasa panik menguasai dirinya.
Dengan gerakan yang sangat anggun dan natural, Aura menurunkan berkas naskah salah itu kembali ke meja tanpa menampakkan raut canggung sedikit pun. Ia menatap lurus ke arah lensa kamera, mengukir senyum tipis yang penuh wibawa, lalu membawakan seluruh data laporan ekonomi tersebut secara penuh berdasarkan ingatan dan hafalannya sendiri.
Suara Aura mengalir begitu mulus, menyebutkan deretan angka persentase, analisis pasar, hingga nama-nama pejabat terkait secara akurat dan tanpa jeda ragu satu detik pun.
Di ruang kontrol, Bu Maya yang tadinya menegang keras perlahan menahan napasnya, lalu menghela napas lega dengan mata berbinar kagum. "Luar biasa... Penguasaan materi dan ketenangannya di luar nalar! Dia sama sekali tidak butuh teleprompter!" puji Bu Maya penuh rasa bangga.
Sementara itu di sudut studio, senyum kemenangan di bibir Siska seketika luntur total. Wajahnya berubah pucat pasi, matanya membelalak tak percaya menyaksikan bagaimana sabotase liciknya justru berubah menjadi panggung pembuktian betapa brilian dan sempurnanya kapasitas Aura sebagai seorang bintang penyiaran.
"And clear!"
Begitu siaran resmi berakhir, riuh tepuk tangan langsung menggema di seluruh area studio. Beberapa kru dan kameramen mengacungkan ibu jari mereka ke arah Aura.
Bu Maya melangkah cepat memasuki studio, menghampiri meja penyiaran dan menepuk bahu Aura penuh apresiasi. "Penanganan situasi yang sangat jenius, Aura! Kamu tidak cuma menyelamatkan siaran sore ini dari kekacauan teknis, tapi kamu membuktikan kelasmu sebagai news anchor sejati!"
"Terima kasih banyak atas kepercayaannya, Bu Maya. Ini semua berkat kerja sama seluruh tim," balas Aura rendah hati seraya tersenyum santun.
Aura kemudian merapikan berkas naskah salah yang ada di mejanya. Matanya yang tenang sempat beradu pandang dengan Siska yang berdiri kaku tak jauh dari sana. Aura tidak melontarkan tuduhan terbuka, namun tatapan matanya yang jernih dan penuh wibawa cukup untuk membuat Siska tertunduk dengan wajah memerah menahan malu dan kekalahan telak.
Saat Aura melangkah keluar dari area studio menuju koridor utama VIP, sosok pria tegap berbalut jas hitam mahal sudah berdiri bersandar anggun menunggunya.
Reno Adhyastha. Pria itu menyimak seluruh siaran live istrinya melalui layar televisi khusus di ruang kerjanya dan langsung bergegas menuju stasiun TV.
"Mas Reno..." panggil Aura dengan binar lega dan kebahagiaan yang membuncah.
Reno melangkah mendekat, merengkuh pinggang anggun istrinya dan membawa Aura ke dalam dekapan hangat yang protektif. Ia mengecup dahi Aura cukup lama di hadapan beberapa staf yang melintas dengan rasa segan.
"Mas bangga sekali sama kamu, sayang," bisik Reno dengan suara baritonnya yang dalam dan hangat di dekat telinga Aura. "Kamu sangat tenang, cerdas, dan memukau sekali di depan kamera tadi."
Aura menyandarkan kepalanya di dada bidang Reno, menyerap seluruh aroma parfum maskulin suaminya yang menenangkan. "Ada sedikit kendala teknis dan naskah tadi, Mas... Tapi alhamdulillah semua bisa teratasi."
Reno mengusap lembut punggung istrinya, namun pandangan mata tajam milik petinggi Adhyastha Group itu bergulir dingin menatap ke arah koridor ruang redaksi. Sebagai pria yang berpengalaman di dunia bisnis dan media, Reno tahu betul bahwa matinya teleprompter dan kekacauan naskah bukan sekadar kebetulan teknis. Ada tangan jahat yang mencoba mengusik kedamaian dan karier istrinya dan Reno tidak akan pernah tinggal diam membiarkan siapa pun melukai Aura Zhafira.