~
Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 26
***
Matahari pagi merekah lembut di ufuk timur kota, menyiramkan pendar cahaya keemasan yang hangat di pelataran rumah keluarga Melani. Hari yang dinanti-nantikan itu akhirnya tiba. Ruang tamu luas yang biasa menjadi tempat berkumpul keluarga kini disulap begitu anggun. Balutan kain sutra putih bersih mendominasi ruangan, berpadu manis dengan untaian bunga lavender segar yang menguarkan aroma harum menenangkan.
Di sudut ruangan, Melani duduk anggun di depan cermin riasnya. Bidan muda itu mengenakan kebaya putih bernuansa modern dengan payet halus yang berkilauan lembut saat diterpa cahaya. Rambut hitam lurusnya disanggul anggun dengan hiasan jepit bunga lavender kecil di sisinya. Paras ayunya yang memancarkan pendar kebahagiaan murni membuat siapa saja yang memandangnya terpaku takjub.
Ibu Rahmi melangkah mendekat, memegang kedua bahu putri tunggalnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Kamu cantik sekali, Melani sayang... Ibu sampai tidak percaya, putri kecil Ibu hari ini resmi menjadi seorang istri."
Melani memegang lembut jemari ibunya, menatap pendar kasih sayang di mata sang ibu lewat cermin. "Terima kasih, Bu... Semua ini berkat doa dan restu dari Ibu dan Bapak."
Di ruang utama, suasana mendadak hening dan sarat akan kekhidmatan saat sosok Rangga Wira melangkah masuk. Sang Ketua Adat Hulu Rawa tampil luar biasa gagah dalam balutan jas hitam elegan hasil pilihan Melani, dipadukan dengan selendang tenun sakral khas Hulu Rawa yang tersampir anggun di bahunya. Langkah kakinya yang tegap dan mantap menghentak lantai karpet, memancarkan wibawa pimpinan yang tangguh namun sarat akan kesantunan mutlak.
Di tengah ruangan, Pak Rahardjo sudah duduk berhadapan dengan Penghulu dari Kantor Urusan Agama. Di samping mereka, beberapa kerabat dekat serta Dr. Aris yang khusus datang dari kabupaten turut hadir menjadi saksi momen sakral tersebut.
Rangga Wira melangkah mendekat, lalu mengambil tempat duduk tepat di hadapan Pak Rahardjo dan Penghulu. Manik mata hitamnya yang sehitam malam menatap lurus Pak Rahardjo dengan ketenangan dan keteguhan jiwa yang tak tergoyahkan.
"Apakah calon pengantin pria sudah siap?" tanya Pak Penghulu lembut seraya membuka lembaran berkas pernikahan.
Rangga Wira mengangguk mantap. "Saya siap, Pak."
Pak Rahardjo mengulurkan tangannya. Rangga Wira menyambut uluran tangan calon ayah mertuanya, menjabatnya dengan genggaman kekar yang penuh ketulusan.
"Ananda Rangga Wira bin Danu Wira..." panggil Pak Rahardjo dengan suara yang agak bergetar oleh rasa haru. "Bapak nikahkan dan bapak kawinkan engkau dengan putri kandung bapak, Melani Rahardjo, dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan sebuah cincin emas bermata berlian, dibayar tunai."
Rangga Wira menarik napas panjang, mengunci pandangannya pada Pak Rahardjo, lalu mengucapkan ikrar sakral itu dalam satu tarikan napas yang mantap, lantang, dan sangat jelas:
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Melani Rahardjo binti Rahardjo dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!"
Suara bariton Rangga yang tegap bergema membelah keheningan ruangan.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya Pak Penghulu.
"Sah! Alhamdulillah... Sah!" seru Dr. Aris dan para saksi serentak.
Alhamdulillahirabbil 'alamin...
Lantunan doa bergema memenuhi ruangan. Di balik tirai, Melani meneteskan air mata bahagianya. Isak haru tak lagi mampu ia bendung saat menyadari bahwa raga dan jiwanya kini telah resmi diikat dalam janji suci pernikahan bersama pria yang paling dicintainya.
Melani dibimbing keluar melangkah mendekati meja akad. Rangga Wira bangkit berdiri, menatap istrinya yang melangkah mendekat. Untuk pertama kalinya, Rangga menyunggingkan senyum amat tampan dan lega—seulas senyum yang kini sepenuhnya milik Melani.
Melani meraih jemari kekar Rangga, lalu mencium punggung tangan suaminya dengan penuh rasa hormat dan takzim. Rangga kemudian meletakkan telapak tangan hangatnya di atas kerudung putih Melani, mendoakan kebaikan bagi wanita yang kini menjadi pelindung hatinya, sebelum mengecup lembut dahi Melani dengan kelembutan yang luar biasa.
Rangga Wira kemudian merogoh kotak beludru merah dari balik jasnya. Pria itu mengeluarkan sebuah cincin emas putih berserta permata berlian murni yang memancarkan pendar keindahan luar biasa.
Pak Rahardjo dan Ibu Rahmi sempat terpaku menatap kilauan permata berlian tersebut.
"Rangga... ini..." bisik Pak Rahardjo terperanjat pelan.
"Ini adalah perhiasan dan permata warisan dari mendiang ibu saya, Pak," tutur Rangga Wira dengan suara lembut namun sarat akan kehormatan. "Dulu, sebelum wafat, ibu saya berpesan agar perhiasan ini hanya diberikan kepada wanita terpilih yang akan menjadi pendamping hidup Ketua Adat. Dan seluruh biaya pernikahan serta mahar ini adalah hak mutlak yang saya sediakan khusus untuk memuliakan Melani."
Meskipun berasal dari pedalaman hutan, Rangga Wira bukanlah pria biasa. Sebagai Ketua Adat yang memimpin wilayah Hulu Rawa yang kaya akan hasil bumi, rempah langka, dan emas sungai, ia adalah seorang juragan kaya raya yang tetap memilih hidup bersahaja.
Rangga menyelipkan cincin berlian warisan ibunya ke jari manis Melani. Cincin itu melingkar sempurna, seolah memang diciptakan khusus untuk sang Bidan Pelindung.
"Terima kasih, Rangga..." bisik Melani haru, menatap cincin yang mengkilap indah di jarinya.
"Panggil saya 'Mas Rangga' atau 'Suamiku', Melani-ku," goda Rangga berbisik amat pelan di tepi telinga Melani, membuat pipi sang istri seketika membara merah pekat.
"I-iya... Mas Rangga," panggil Melani malu-malu, menyembunyikan wajah meronanya di dada bidang sang suami.
***
Tiga hari berlalu dalam suasana sukacita di kota. Saatnya telah tiba bagi Sang Ketua Adat untuk memboyong istrinya kembali ke rumah mereka yang sesungguhnya—tanah Hulu Rawa.
Di halaman rumah keluarga Melani, sebuah kendaraan jeep tegap dan minibus penjemput dari kabupaten sudah bersiap. Barang-barang Melani serta bermacam-macam oleh-oleh untuk warga desa telah dikemas rapi.
Ibu Rahmi merangkul Melani erat-erat di depan mobil, tangis harunya kembali pecah, namun kali ini bukan tangis kecemasan, melainkan kebahagiaan dan ketenangan jiwa.
"Jaga dirimu baik-baik di sana ya, Nak..." bisik Ibu Rahmi mengusap pipi Melani. "Ibu tidak cemas lagi. Ibu tahu kamu berada di tangan pria yang sangat tepat."
"Iya, Bu... Melani pasti sering memberi kabar lewat surat kalau tukang pos ke desa," pukas Melani tersenyum manis seraya memeluk ibunya.
Pak Rahardjo melangkah mendekati Rangga Wira, menepuk-nepuk bahu tegap menantunya dengan rasa bangga dan percaya yang tak tergoyahkan.
"Rangga... bawa istrimu pulang ke rumah kalian," tutur Pak Rahardjo tulus. "Pintu rumah di kota ini selalu terbuka lebar kapan pun kalian ingin berkunjung."
Rangga Wira membungkukkan tubuh tegapnya penuh rasa hormat. "Terima kasih atas segala kebaikan dan restu Bapak dan Ibu. Saya berjanji akan selalu membahagiakan Melani di Hulu Rawa."
Setelah berpamitan dengan penuh kehangatan, Rangga Wira membukakan pintu mobil untuk Melani, lalu ikut melangkah duduk di samping istrinya. Roda kendaraan perlahan berputar, melaju meninggalkan pelataran rumah kota menuju arah hutan belantara.
Di dalam mobil yang melaju tenang, Melani menyandarkan kepalanya pelan di bahu tegap Rangga. Jemari lentiknya yang dihiasi cincin berlian saling bertautan erat dengan jemari kekar Rangga Wira.
"Mas..." panggil Melani pelan, menatap pemandangan luar jendela yang perlahan berganti dari deretan gedung beton menjadi hijau pepohonan pepohonan rindang.
"Iya, Dinda?" balas Rangga lembut, mengusap punggung tangan Melani dengan jempolnya.
Melani menyunggingkan senyum manis paling indahnya. "Saya sudah tidak sabar ingin sampai di Pustu... bertemu anak-anak, Mbah Karsa, dan seluruh warga desa."
Rangga Wira menyunggingkan senyum amat tampan, merengkuh tubuh molek istrinya ke dalam pelukan dada bidangnya yang hangat dan protektif.
"Mereka semua juga sudah tidak sabar menyambut kepulangan Bidan Pelindung mereka..." bisik Rangga mesra di puncak kepala Melani. "Selamat pulang ke rumah kita, Istriku..."
Perjalanan kembali menembus perbatasan tanah adat itu terasa begitu lapang dan dipenuhi rasa bahagia. Dua jiwa dari dunia berbeda yang kini telah menyatu secara sakral itu siap melangkah bersama, menyongsong hari baru dan pesta pernikahan adat besar yang telah menanti mereka di tanah Hulu Rawa.
Bersambung..
dr. (dokter)
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
🤲