NovelToon NovelToon
Istri Seksi Gus Ibra

Istri Seksi Gus Ibra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:49.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elma Grace

​"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"


Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.

​Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.

Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.

​​Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

​Dua minggu dikurung di rumah dengan akses rekening dibekukan dan kunci mobil Mazda disita, nyatanya belum seberapa bagi Tsabita Azzahra. Hal yang paling menyiksanya justru adalah perubahan sikap Safira.

​Kakaknya itu mendadak membisu. Tidak ada lagi ceramah panjang lebar tentang moral yang biasa Bita benci. Setiap kali berpapasan, Safira hanya mengalihkan pandangan dan melewatinya begitu saja seolah Bita adalah angin lalu.

​"Mbak, lo marah gara-gara gue tumbalin di depan Papa?" tanya Bita suatu sore, mencoba mencairkan suasana.

​Safira hanya meletakkan sendoknya perlahan, berdiri, lalu berjalan kembali ke kamar tanpa mengucap sepatah kata pun. Bita hanya bisa menghela napas, mengira kakaknya sudah benar-benar muak pada tabiat buruknya.

​Hari penghakiman itu akhirnya tiba. Mobil Alphard hitam Papa bergerak memasuki kompleks pesantren elit modern di kawasan Jakarta Barat. Kompleks itu megah, lebih mirip kampus internasional dengan gedung-gedung putih minimalis.

​"Ingat pesan Papa, Tsabita. Jaga sikap kamu di depan Abi dan Umi," tegur Papa dingin dari kursi depan.

​​Bita tidak menyahut. Ia hanya menunduk, menatap gamis berwarna dusty pink yang terasa sangat membatasi ruang geraknya. Di kepalanya terpasang hijab pashmina yang jarumnya berkali-kali menusuk kulit lehernya jika ia bergerak terlalu heboh. Bita melirik Safira yang duduk di sebelahnya. Kakaknya tampil sangat cantik, namun tatapan matanya kosong, menatap lurus ke depan tanpa ekspresi.

​Begitu turun di depan bangunan ndalem—kediaman utama pengasuh pesantren—mereka langsung disambut hangat oleh Abi dan Umi. Namun, baru beberapa menit mereka berbasa-basi di ruang tamu yang sejuk, sebuah deru mesin yang berat dan bertenaga memecah keheningan dari arah halaman.

​Itu suara moge bersilinder besar. Suaranya ngebass, khas, dan sangat akrab di telinga Bita.

​Tak lama, langkah kaki yang tenang terdengar mendekat. Sosok pria tinggi tegap melangkah masuk melewati pintu jati. Ia mengenakan koko hitam premium dengan lengan digulung hingga siku dan tangan kirinya menjinjing helm full-face hitam doff. Gaya rambut undercut-nya sangat rapi.

​Begitu mendongak melihat wajah berrahang tegas itu, pasokan udara di paru-paru Bita mendadak lenyap.

​Dia... cowok pemilik moge di parkiran Senopati. Cowok yang dua minggu lalu ia maki-maki dan ia muntahi sepatunya sebelum pingsan. Tubuh Bita seketika kaku sedingin es.

​"Assalamualaikum," ucap pria itu. Suaranya rendah, pelan, namun berwibawa.

​"Waalaikumsalam. Sini, Le. Ini ada Pak Hasan dan keluarga," kata Abi sambil tersenyum.

​Ibra melangkah maju, meletakkan helmnya di meja sudut, lalu menyalimi Papa Bita dengan takzim dan mengangguk hormat pada Mama. Namun, tepat sebelum pandangannya bergeser ke arah sofa tempat Bita dan Safira duduk, Ibra langsung menurunkan pandangannya ke lantai. Ia sama sekali tidak melirik kedua gadis yang bukan mukrimnya itu.

​Pria itu tetap berdiri tegak dengan kepala sedikit menunduk takzim. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Abi, Umi, juga Om Hasan dan Tante Linda. Ibra permisi dulu."

​Papa Hasan menaikkan alisnya heran. "Lho, kenapa, Gus?"

​"Di sini ada Mbak Safira dan Mbak Bita yang bukan mahram Ibra," jawab Ibra tenang, datar, namun sarat akan ketegasan yang mutlak. "Kurang etis jika Ibra duduk bersama di sini. Ibra pamit kembali ke kantor asrama putra dulu untuk menyelesaikan rekap data santri baru. Permisi. Assalamualaikum."

​Setelah mengangguk hormat, Ibra langsung berbalik dan melangkah lebar keluar dari ruang tamu ndalem.

​"Masya Allah, luar biasa sekali prinsip anakmu, Yai," puji Papa Hasan, langsung terpukau.

​Sementara itu, Bita berada di ambang serangan panik. Gak bisa. Kalau dia mendadak cerita yang enggak-enggak tentang malam itu, Papa bisa nguliti gue hidup-hidup!

​Memanfaatkan momen orang tua yang kembali asyik mengobrol, Bita langsung berdiri. "Ma, Pa... Bita izin ke toilet sebentar."

​Bita bergerak cepat, setengah berlari menuju koridor samping tempat Ibra berjalan tadi, ya meskipun Bita sedikit kerepotan dengan gamis panjangnya yang membatasi ruang geraknya. Beruntung, ia berhasil mengejar bayangan tubuh jangkung pria itu di koridor luar yang sepi menuju arah parkiran.

​"Heh! Tunggu!" seru Bita setengah berbisik.

​Ibra menghentikan langkahnya tepat di dekat pilar kayu besar, namun tidak berbalik.

​Karena panik, Bita nekat maju dan langsung menarik lengan baju koko hitam Ibra dengan cukup kuat. "Gue bilang tunggu!"

​Ibra terdiam. Ia melirik ke bawah, menatap tangan Bita yang mencengkeram kain bajunya. Dengan gerakan yang sangat halus namun tegas, Ibra menarik lengannya hingga cengkeraman Bita terlepas, memastikan kulit mereka tidak bersentuhan.

​Ia membalikkan tubuhnya perlahan. Pandangan mata Ibra tetap diturunkan, menatap lurus ke arah lantai ubin di antara mereka. Wajahnya sangat tenang dan sedingin es.

​"Ada apa, Mbak?" tanya Ibra pelan.

​Bita maju satu langkah, mencoba menantang. "Gak usah sok polos ya lo! Lo inget gue, kan? Cewek yang dua minggu lalu di parkiran Senopati!"

​Ibra tetap membisu, mendengarkan dengan sabar.

​"Gue cuma mau peringatin lo," bisik Bita tajam. "Jangan berani-berani lo bocorin kejadian malam itu ke bokap nyokap gue! Kalau lo sampai bilang ke mereka kalau gue mabuk dan muntah di sepatu lo, awas aja. Kita pura-pura gak kenal, dan lo harus cari cara buat batalin perjodohan konyol ini!"

​Koridor luar itu mendadak hening setelah Bita meluapkan ancamannya.

​Ibra masih berdiri dengan posisi tegap yang sama. Pria itu tidak membalas gertakan Bita dengan kemarahan, tidak juga menceramahi soal sopan santun. Ia perlahan mengembuskan napas pendek, lalu sudut bibirnya terangkat sangat tipis—sebuah senyuman misterius yang membuat Bita mendadak meremang.

​Ibra berdeham pelan dan untuk pertama kalinya Ibra menatap langsung mata wanita itu. lalu bersuara dengan nada yang sangat rendah namun sarat penekanan yang adem.

​"Sudah bicaranya, Mbak?" tanya Ibra.

​Bita mendadak bungkam, agak melongo. "Kok lo malah—"

​"Kalau sudah, silakan kembali ke dalam," potong Ibra lembut, suaranya sangat tenang namun entah kenapa mengunci lidah Bita.

​Tanpa memberikan celah bagi Bita untuk membalas, Ibra sedikit menundukkan kepala sebagai tanda permisi, lalu berbalik melanjutkan langkah lebarnya menuju area parkir moge.

​Bita terpaku sendirian di koridor, menatap punggung tegap itu dengan rasa kesal dan tak berdaya yang luar biasa. Seluruh tameng pertahanannya mendadak rontok hanya karena ketenangan pria itu.

"Lagipula ngapain seorang Gus berada di parkiran club malam? Jangan-jangan Gus abal-abal. Sok-sokan jaga pandangan. Lo tadi lihat gue ya, Brengsek!" Gerutu Bita sembari berjalan dengan kaki menghentak kesal kembali ke dalam ruang tamu.

1
Toyaaa
kok blm up thor
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ Layyana
seruu...
yok kita main drama ...kira² siapa pelaku sabotase ini ??
lanjut Thor
Tarwiyah Nasa
sangat nyata..di kehidupan sehari2 banyak yg paham dlm agama nya, ibadahnya bagus tp maksiatnya jg bagus🤭 . dn justru banyak yg berwajah sangar,bertato seperti preman tapi sayang keluarga dlm tanggung jawabnya,n baik dlm lingkungannya.
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
lanjuuuut thor...
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
Luar biasa
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ Layyana
jadi ingat kisah nabi yusuf...next reading
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ Layyana
benar benar gk punya adab...malu2in diri sendiri
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ Layyana
ya Allah Safira cinta membutakan matamu,drama apa yg kamu buat skrg??
Toyaaa
kok blm up thorr💪💪
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
hey sapi perah copot aja gelar mu kalo kelakuan mu kaya jalang ...malu2in pakaian syar'i mu aja ...
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
lancang banget itu lakor gak tau adab padahal katanya lulusan universitas Islam ustazah sejati
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
pelakorrr berkedok syar'i nongol ...ipar adalah maut 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
woy sampe gak subuhan Tah itu 🤣
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ Layyana
cwe yg berego tinggi aj klo di perlakukan seperti itu pasti luluh...meleleh kek eskrim kepanasan/Facepalm/
falea sezi
trs amnesia🤣🤣 alahh pret
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: kalo gak lumpuh ya 🤭
total 2 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
aku padamu Guss 🤭
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ Layyana
so sweet bangett wkwkkw
gus ibra dilawan/Facepalm//Facepalm/
gass kita nongki bareng2 wkwkwk
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
aduh Gus pengertian banget sih ...coba aja ada kaya kamu 🤭
☆ 𝑺𝒐𝑳𝒆𝑫𝒂𝑫 ☆³ ⚫
pengen dipandang ustadzah tapi kok kelakuannya menggatal begini sapi-ra...enggak banget deh
☆ 𝑺𝒐𝑳𝒆𝑫𝒂𝑫 ☆³ ⚫
hedeeeh baru masuk di pondok Al-Madani udah bikin drama aja ini sapi-ra
dasar modus lo😠😠😠
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!