NovelToon NovelToon
Warisan Dewa Kematian: Naga Bintang & Hantu Pedang

Warisan Dewa Kematian: Naga Bintang & Hantu Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Anak Genius
Popularitas:118.1k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita tentang seorang remaja yang dianggap sebagai generasi muda terkuat saat ini. Ia tidak hanya kuat, ia juga kaya. Semua ia dapatkan berkat campur tangan gurunya.

Takdir mempertemukannya pada seorang pendekar misterius. Pendekar itu sangatlah kuat, walaupun tingkahnya agak sembrono.

Di kemudian hari ia akan mengetahui identitas dari pria itu. Petualangan mereka berdua akan sangat seru dan penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Api Unggun dan Kisah Sang Pendekar

Setelah beristirahat selama beberapa saat, keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini, Sha Nuo tidak lagi mencoba menguji Gao Rui.

Ia sengaja memperlambat langkahnya hingga berada pada kecepatan yang paling nyaman bagi bocah itu. Tetap sangat cepat bagi pendekar biasa, tetapi cukup stabil sehingga Gao Rui mampu mengikutinya tanpa harus memaksakan diri.

Wush!

Dua sosok itu kembali melesat di antara pepohonan.

Sha Nuo berada di depan sebagai penunjuk jalan, sementara Gao Rui mengikuti beberapa puluh meter di belakangnya. Sesekali mereka melompati batu-batu besar, menyeberangi sungai kecil, lalu kembali memasuki jalur pegunungan. Perjalanan berlangsung jauh lebih lancar dibanding sebelumnya.

Menjelang tengah hari, mereka berhenti sejenak di bawah rindangnya pepohonan untuk makan siang. Karena tidak ingin membuang banyak waktu, mereka hanya memakan roti kering yang dibawa sebagai bekal.

Tak lama kemudian, perjalanan kembali dilanjutkan. Matahari perlahan bergerak menuju ufuk barat. Bayangan pepohonan semakin memanjang, sementara udara mulai terasa lebih sejuk.

Hingga akhirnya, malam benar-benar tiba. Langit berubah gelap dan dipenuhi ribuan bintang. Sha Nuo yang berjalan paling depan perlahan menghentikan langkahnya.

"Hmm..."

Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan inderanya menyapu area di sekeliling. Beberapa saat kemudian, ia membuka kembali matanya.

"Di sana."

Ia menunjuk ke arah lereng bukit di sebelah kanan.

"Ada sebuah goa."

Gao Rui segera mengikuti arah yang ditunjuk. Benar saja, di balik semak-semak lebat, terdapat sebuah goa yang cukup besar untuk digunakan beristirahat.

"Bagus."

Sha Nuo langsung berjalan menuju tempat itu. Tak lama kemudian, keduanya telah berada di dalam goa. Tempat itu cukup kering dan bersih. Tidak terlihat tanda-tanda adanya binatang buas yang tinggal di sana.

Gao Rui segera mengumpulkan beberapa ranting kering di sekitar mulut goa. Tak lama kemudian...

Crak!

Api unggun pun menyala, menerangi bagian dalam goa dengan cahaya jingga yang hangat. Sha Nuo duduk bersandar di sebuah batu besar sambil memperhatikan Gao Rui.

Sementara itu, Gao Rui mulai mengusap cincin ruang di jarinya. Kilatan cahaya demi cahaya muncul. Tak lama kemudian, berbagai peralatan masak, bumbu, serta beberapa bahan makanan telah tertata rapi di atas selembar kain.

Sha Nuo mengangkat sebelah alisnya.

"Hm?"

"Kau... bisa memasak?"

Gao Rui menoleh sambil tersenyum.

"Sedikit, Paman."

Jawaban itu membuat Sha Nuo benar-benar terkejut. Ia semula mengira bocah yang dibawanya hanyalah seorang tuan muda yang terbiasa dilayani orang lain.

Bahkan sejak siang tadi, ia sudah membayangkan bahwa makan malam mereka kemungkinan hanya akan berupa roti kering seperti saat makan siang.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Dengan gerakan yang terampil, Gao Rui mulai membersihkan ayam yang telah disiapkannya dari dalam cincin ruang.

Ia kemudian mengolesinya dengan berbagai bumbu sebelum memanggangnya di atas bara api. Aroma harum perlahan memenuhi seluruh goa.

Tak lama kemudian, ayam bakar itu matang sempurna. Gao Rui memotongnya menjadi beberapa bagian lalu menyerahkan sebagian kepada Sha Nuo.

"Paman. Silakan."

Sha Nuo menerimanya.

"Terima kasih."

Ia langsung menggigit daging ayam itu.

"..."

Baru satu gigitan, ekspresinya langsung berubah. Mata Sha Nuo sedikit membesar.

"Hm?"

Ia kembali menggigitnya sekali lagi. Rasa gurih yang meresap hingga ke dalam daging, aroma rempah yang pas, serta tingkat kematangannya, semuanya terasa begitu familiar.

"..."

Untuk sesaat, pikirannya seolah kembali ke masa lalu. Rasa ayam bakar ini, sangat mirip dengan ayam bakar yang biasa dibuat oleh seseorang yang sangat dikenalnya.

Tentu saja, masih ada sedikit perbedaan. Menurutnya, masakan orang itu masih sedikit lebih sempurna. Namun, perbedaannya benar-benar tipis.

Sha Nuo menatap Gao Rui dengan ekspresi kagum.

"Rui'er."

"Iya, Paman?"

Sha Nuo mengangkat potongan ayam di tangannya sambil tersenyum.

"Masakanmu benar-benar enak."

Ia mengangguk pelan.

"Bahkan... rasanya sangat mirip dengan ayam bakar yang dibuat seseorang yang kukenal."

Gao Rui tersenyum malu-malu.

"Benarkah?"

Sha Nuo kembali menggigit ayam itu.

"Ya."

"Kalau dibandingkan, mungkin masakan orang itu masih sedikit lebih enak."

"Tapi..."

Ia menganggukkan kepala dengan tulus.

"Rasanya benar-benar mendekati."

Pujian itu membuat senyum Gao Rui semakin lebar.

"Terima kasih, Paman."

Suasana di dalam goa kembali tenang. Hanya suara kayu yang terbakar di api unggun dan angin malam yang berembus perlahan dari luar goa menemani makan malam pertama mereka dalam perjalanan panjang menuju reruntuhan kota kuno.

...*******...

Suara api unggun terus berderak pelan di dalam goa.  Tak lama kemudian, makan malam mereka pun selesai. Gao Rui segera membereskan peralatan memasak satu per satu sebelum kembali memasukkannya ke dalam cincin ruang.

Sha Nuo hanya memperhatikannya sambil sesekali menganggukkan kepala.

"Rapi juga."

Gao Rui tersenyum kecil.

"Aku sudah terbiasa."

Sha Nuo terkekeh pelan tanpa menanggapi lagi.

Tiba-tiba...

Bruummm!

Suara guntur menggelegar dari langit. Tak lama kemudian, suara rintik hujan mulai terdengar di luar goa.

Dalam hitungan napas, rintik itu berubah menjadi hujan deras yang mengguyur seluruh pegunungan.

Sraaaashhh...

Air hujan menghantam dedaunan dengan suara yang begitu lebat hingga hampir menutupi suara angin malam. Sesekali kilatan petir menerangi langit, memperlihatkan siluet pepohonan yang bergoyang diterpa angin.

Gao Rui memandang ke luar goa.

"Wah..."

Ia tersenyum lega.

"Untung kita sudah menemukan tempat untuk bermalam."

Kalau mereka masih berada di tengah perjalanan saat hujan sebesar ini turun, mencari tempat berteduh tentu tidak akan mudah.

Sha Nuo ikut melirik ke arah luar.

"Hmm... Memang cukup deras."

Untungnya, goa yang mereka temukan cukup dalam sehingga air hujan sama sekali tidak masuk ke bagian tempat mereka beristirahat.

Api unggun tetap menyala hangat. Suasana di dalam goa terasa nyaman, berbanding terbalik dengan cuaca buruk di luar.

Beberapa saat kemudian, Sha Nuo menyandarkan punggungnya ke batu besar. Tatapannya mengarah ke api unggun.

Lalu tanpa aba-aba, senyum tipis muncul di wajahnya.

"Hehe..."

Gao Rui menoleh.

"Paman?"

Sha Nuo mengusap dagunya pelan.

"Rui'er."

"Iya?"

"Kau tahu..."

Nada suaranya berubah seolah hendak menceritakan sesuatu yang sangat luar biasa.

"Dulu..."

Ia mengangkat telunjuknya tinggi-tinggi.

"Aku pernah dikepung lebih dari sepuluh ribu pendekar."

Mata Gao Rui langsung membulat.

"Sepuluh... ribu?"

Sha Nuo mengangguk mantap.

"Bahkan mungkin lebih."

Ia mengembuskan napas pelan seolah sedang mengenang masa lalu yang penuh kejayaan.

"Waktu itu mereka mengepungku dari delapan arah."

"Ada yang membawa pedang. Ada yang membawa tombak."

"Bahkan ada yang membawa palu sebesar rumah."

Gao Rui mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Lalu bagaimana, Paman?"

Sha Nuo tertawa kecil.

"Hahaha..."

"Bagaimana lagi? Tentu saja mereka kalah."

Ia berkata dengan nada seolah hal itu adalah sesuatu yang sangat biasa.

"Aku hanya mengayunkan pedang sekali. Sekali saja."

Ia mengangkat satu jari.

"Langit langsung berubah warna. Gunung di belakang mereka terbelah."

"Dan..."

Sha Nuo berhenti sejenak demi memberi efek dramatis.

"...sepuluh ribu pendekar itu semuanya langsung lari tunggang-langgang."

Gao Rui berkedip beberapa kali.

"Hebat sekali..."

Sha Nuo mengangguk dengan wajah serius.

"Tentu."

"Kemana pun aku pergi..."

"Pasti ada orang yang mengenal namaku."

Ia menyilangkan kedua tangan di depan dada dengan bangga.

"Bahkan ada yang menangis hanya karena berhasil melihatku dari kejauhan."

Gao Rui memandangnya dengan mata berbinar.

"Benarkah?"

"Tentu saja."

Sha Nuo menjawab tanpa ragu sedikit pun.

"Bahkan pernah ada sebuah kota yang mengadakan pesta selama tiga hari tiga malam hanya karena aku lewat."

"Hahaha!"

Ia tertawa puas terhadap ceritanya sendiri.

Di hadapannya, mata Gao Rui terbuka lebar. Ia benar-benar kagum dengan cerita pengalaman hidup dari Paman Nuo.

Suasana perjalanan mereka yang semula tenang kini menjadi jauh lebih hidup berkat ocehan Sha Nuo yang mulai membual tanpa henti. Sementara di luar sana hujan deras masih terus mengguyur pegunungan sepanjang malam. Saat itulah langkah kaki orang mendekat terdengar samar-samar.

1
tariii
👍👍👍👍
Gokil 332
jangan beri tahu biar gregetan nunggui momentumnya berhari hari 🤣🤣🤣
sabian andri
5 bab sekaligus pliiiiis.. 😍
Zainal Arifin
joooooooosssss 😀😀😀💪💪💪
Ayyasying
bang folbek BG saya penulis baru
Aiby Kushina Uzumaki
jangan heran gitu lho paman nuo coba dong tanya siapa gurunya 😄😄😄
Raju
tanyakan aja lgsg lu muridnya siapa ??
HINATA SHOYO
kasih tau ssh identitas gaoru sma pmn nuo torrr
Tosari Agung
thor next bab paman nuo coba suruh tanyain ke Gao Rui siapa gurunya biar pada gak penasaran
Tosari Agung
thor next bab paman nuo coba suruh tanyain ke Gao Rui siapa gurunya biar pada gak penasaran
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Makjlebz pokok'é 🔥🌽
Irfan tejo laksono
ahaiiii 👍👍👍
Akhmad Baihaki
👍👍👍👍👍👍
mbono keling
👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪💪💪💪
yayat
bantai jangn kash ampun tujukan pada paman nou rui murid dr boqin
Adek Darmansyah
udh mulai menyebalkan ni authorr...
Nanik S
Bantai semua dan ambil semua Cincin ruang musuh seperti biasanya
Nanik S
Rui... tunjukan pada Paman Nuo, bahwa mampu membantai mereka dan tidak selembut hatinya🤣🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!