NovelToon NovelToon
Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Putra

"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 033: Saksi Hidup di Tambang Terbengkalai

Raka Mahendra tidak boleh hanya menjadi nama di papan.

Kalau ia benar pelaksana, ia membawa kunci.

Kalau ia hanya alat, ia membawa rantai.

Dan kalau orang di belakang Mawar sudah bergerak, ia mungkin tidak sempat bicara lagi.

Pagi itu, Kevin mengirim peta terakhir ke grup kerja. Tangkapan CCTV tol menunjukkan mobil hitam berplat palsu keluar ke arah selatan. Kamera SPBU empat puluh kilometer berikutnya menangkap mobil yang sama, tetapi wajah sopir tertutup topi dan masker.

"Setelah itu hilang," kata Kevin lewat panggilan video. "Tapi ada satu petunjuk kecil. Mobil itu lewat dekat jalur menuju kawasan tambang batu lama. Di sana ada proyek bongkar material ilegal dan pekerja harian tanpa banyak identitas."

Adira menatap peta. "Lokasi tepat?"

"Kecamatan kecil di perbatasan kabupaten. Bukan wilayah Polres Batu. Kita butuh koordinasi lagi."

Bambang langsung mengambil jaket. "Saya berangkat."

Adira menatapnya. "Dengan siapa?"

"Satu anggota Polda, satu anggota Polres setempat. Kalau terlalu ramai, orangnya kabur."

Arka berdiri dari kursi. "Saya ikut?"

"Tidak," kata Adira. "Anda masih pusing setelah pemeriksaan kemarin. Dan kalau Raka ditemukan, kita butuh Anda membaca kondisinya saat dia dibawa."

Bambang menunjuk layar. "Dok, ada pesan khusus?"

Arka melihat foto Raka dari daftar kru. Muda, pipi tirus, mata tidak terlalu berani. Bukan wajah orang yang cocok menjadi otak rencana. Tapi wajah tidak pernah cukup.

"Jangan anggap dia aman hanya karena dia pelaku," kata Arka. "Periksa tanda ancaman di tubuhnya. Pergelangan tangan, leher, wajah, dan punggung tangan. Kalau ada luka kecil yang sengaja dibuat, foto sebelum dia cuci atau ganti baju."

Bambang mengerutkan kening. "Anda menduga dia diancam?"

"Mobil plat palsu, ponsel mati, uang besar, lalu hilang di tambang. Terlalu rapi untuk pekerja harian yang panik sendiri."

Adira menambahkan, "Ambil hidup-hidup. Jangan dorong dia sampai lari ke jurang atau mengunci diri. Bicara dulu."

"Siap, Bu."

Bambang berangkat pukul sembilan.

Ruang rapat hotel menjadi terlalu sunyi setelah itu.

Adira mengurus surat koordinasi. Arka menata ulang papan. Nama Raka diberi dua garis: pelaksana potensial dan korban potensial.

Dimas mengirim laporan media. Serangan terhadap tim masih berjalan, tetapi mulai melemah setelah Humas Polrestabes menegaskan penyidikan berbasis bukti fisik dan hasil laboratorium.

Mawar belum muncul lagi.

Kabar itu membuat Arka waspada.

Orang yang tiba-tiba diam setelah menyerang biasanya sedang menunggu sesuatu selesai.

Pukul sebelas lewat tiga belas, Bambang menelepon.

Suara angin masuk keras dari speaker.

"Bu, kami sudah di lokasi. Tambang lama. Banyak pekerja tidak tetap. Tidak ada administrasi jelas. Mandor bilang tidak kenal Raka, tapi kenal orang baru bernama Raka."

Arka langsung menoleh.

"Ciri-ciri?" tanya Adira.

"Dua puluh empat atau dua puluh lima. Kurus. Topi hitam. Masuk tiga hari lalu. Dibayar harian. Tidur di barak belakang."

"Dia masih di sana?"

"Mandor bilang tadi pagi ikut angkut batu. Kami menuju area belakang."

Adira menekan meja. "Hati-hati. Jangan sebut nama Raka dulu kalau belum perlu."

"Siap."

Telepon tetap tersambung. Mereka mendengar langkah, suara mesin tua, dan orang-orang berbicara jauh.

Bambang berkata, "Fajar! Ada yang cari."

Hening setengah detik.

Lalu terdengar suara barang jatuh.

Bambang berteriak, "Jangan lari! Polisi!"

Adira berdiri.

Arka menggenggam ujung meja.

Dari speaker terdengar derap kaki di tanah kasar, napas berat, lalu suara Bambang yang lebih dekat.

"Kiri! Tutup kiri!"

Ada benturan pendek.

Seseorang menjerit.

Lalu suara Bambang, tegas dan pendek. "Raka Mahendra. Atau kamu mau saya panggil Raka terus?"

Tangisan pecah dari speaker.

Tangisnya tertahan.

Tangisan orang yang sudah terlalu lama menahan takut.

Adira bertanya cepat, "Status?"

Bambang menjawab, napasnya masih berat. "Hidup. Tidak bawa senjata. Kami amankan. Dia gemetar parah."

Arka mendekat ke speaker. "Pak Bambang, cek tangan kiri. Pergelangan."

"Sekarang?"

"Sekarang. Sebelum dia tenang dan sebelum ada yang bilang itu luka kerja."

Ada suara kain digeser.

Bambang diam dua detik.

"Ada luka. Sayatan tipis melintang di pergelangan kiri. Tidak dalam. Sudah mengering. Mungkin dua atau tiga hari."

Arka memejamkan mata sebentar.

"Foto skala. Pakai penggaris atau benda ukuran tetap. Ambil dari dekat dan jauh. Tanya siapa yang membuat, tapi jangan tekan."

Bambang memberi perintah ke anggota di dekatnya.

Lalu suaranya melunak. "Raka, siapa yang melukai tanganmu?"

Suara Raka terdengar hampir tidak jelas.

"Saya... saya cuma disuruh pergi, Pak. Saya tidak mau mati."

"Siapa yang suruh?"

"Saya tidak tahu namanya. Dia pakai masker. Dia bilang kalau saya pulang ke Surabaya, saya tidak sampai kantor polisi."

Adira bertanya lewat speaker, "Raka, ini Kompol Adira. Kamu sekarang dalam perlindungan polisi. Kalau kamu jujur, kami bisa pisahkan kamu dari orang yang mengancam. Siapa yang bayar kamu?"

Raka menangis lebih keras.

"Mbak Mawar. Tapi katanya cuma bikin jatuh. Katanya bukan mati. Saya tidak tahu bakal mati. Saya tidak tahu."

Bambang berkata, "Bu, kita bawa dia sekarang. Koordinasi Polres setempat sudah oke."

"Bawa ke tempat aman dulu. Jangan lewat rute yang sama. Matikan lokasi ponsel pribadi. Pakai kendaraan resmi yang berbeda kalau bisa."

"Siap."

Arka menambahkan, "Jangan biarkan dia menelepon siapa pun. Kalau dia butuh kabari keluarga, lewat penyidik."

"Paham, Dok."

Telepon belum ditutup ketika Raka tiba-tiba berkata, "Pak... kikirnya diambil."

Ruangan hotel langsung membeku.

Adira mendekat ke speaker. "Kikir apa?"

"Kikir segitiga. Yang saya pakai. Setelah kejadian, saya disuruh tunggu di parkiran belakang. Ada orang datang. Dia kasih uang lagi. Tiga puluh juta. Dia ambil kikir, sarung tangan, sama kertas gambar."

"Siapa?"

"Saya tidak tahu. Bukan orang produksi. Dia rapi. Suaranya pelan. Dia tahu saya kerja di properti, tahu kos saya, tahu nama ibu saya."

Arka merasakan dingin naik dari punggung.

Raka melanjutkan dengan suara patah, "Dia kasih kertas. Katanya kalau saya bicara, lain kali yang disayat bukan tangan."

Bambang bertanya, "Kertas itu masih ada?"

"Saya simpan. Di sepatu. Saya takut buang."

"Ambil dengan prosedur," kata Adira cepat. "Foto dulu. Jangan disentuh langsung."

"Siap."

Beberapa menit kemudian, Bambang mengirim foto.

Selembar kertas kecil, dilipat dua, kotor oleh debu. Di atasnya ada satu kalimat diketik rapi.

Jangan pulang sebagai saksi jika ingin pulang sebagai anak.

Tidak ada tanda tangan.

Tidak ada logo.

Tetapi kalimat itu terlalu tenang untuk ancaman biasa.

Sistem di depan Arka muncul tanpa dipanggil.

[Subjek Raka Mahendra: Ditemukan Hidup]

[Alias Lokal: Fajar]

[Luka: Sayatan Tajam Dangkal Pergelangan Kiri]

[Indikasi: Ancaman Terarah]

[Pelaku Ancaman: Tidak Teridentifikasi]

[Progres Misi: 45%]

Adira menatap foto itu lama.

"Gaya ini berbeda dari Mawar."

Arka mengangguk. "Mawar menekan dengan uang, pengacara, dan media. Ini orang yang membersihkan jejak."

"Profesional?"

"Setidaknya cukup profesional untuk mengambil alat utama, memberi uang tambahan, menghilangkan ponsel, dan memastikan saksi lari ke tempat tanpa administrasi."

Bambang kembali bicara dari telepon. "Bu, kami berangkat. Raka diborgol depan, tapi saya minta dia pakai jaket agar tidak jadi tontonan."

"Bagus. Update setiap tiga puluh menit."

"Siap."

Telepon ditutup.

Ruang rapat kembali diam, tetapi kali ini sunyi itu padat.

Ada saksi hidup di jalan pulang.

Ada luka ancaman di pergelangan tangannya.

Ada kikir yang hilang.

Dan ada orang lain, di luar Ratna dan Mawar, yang bergerak dengan tangan bersih.

Arka menatap papan kasus.

Nama Raka Mahendra tidak lagi hanya pelaksana.

Ia adalah saksi yang harus tiba hidup.

Karena di balik pengait tiga milimeter itu, ada seseorang yang tahu cara membuat pembunuhan terlihat seperti kecelakaan, lalu membuat pelaksana terlihat seperti orang yang kabur karena bersalah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!