NovelToon NovelToon
Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Kapten
Popularitas:642
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**

Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.

Malam itu mengubah segalanya.

Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.

*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.

Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.

Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28

Modal buat Toko Papa

"Ini terlalu besar untuk toko sembako."

Benny berdiri di tengah ruko dua lantai dekat SMAN 1 Bekasi. Cat dindingnya belum kering, rak-rak baru masih dibungkus plastik, dan papan nama belum dipasang.

Adrian memeriksa denah. "Lantai bawah untuk eceran, bagian belakang untuk stok grosir. Lantai atas bisa jadi kantor dan tempat istirahat."

"Saya tidak punya uang untuk menyewa tempat seperti ini."

"Karena itu saya membawa perjanjian, bukan tagihan."

Nico telah menyiapkan skema melalui perusahaan investasinya. Perusahaan menyewa ruko untuk lima tahun dan menyediakan modal barang sebagai pinjaman usaha tanpa bunga. Izin operasional mencantumkan Benny sebagai penanggung jawab dan Bryan sebagai pengelola. Setiap penarikan besar membutuhkan persetujuan keduanya serta pencatatan digital.

"Kenapa tidak diberikan saja?" tanya Kayla.

"Kalau uang tunai diberikan, Rosa bisa menuntut bagian dan menghabiskannya sebelum rak terisi," jawab Bryan. "Dengan skema usaha, semua pengeluaran harus ada bukti."

Adrian mengangguk. "Setelah usaha stabil dan kewajiban lunas, mereka dapat mengambil alih sewa atau membeli ruko dengan harga yang sudah ditetapkan. Tidak ada hadiah yang bisa diperebutkan hari ini."

Benny membaca setiap halaman perlahan. "Kenapa kamu melakukan ini setelah semua yang keluarga kami lakukan kepada Kayla?"

"Karena Om akhirnya berdiri di sampingnya. Terlambat, tapi tetap berdiri."

Wajah Benny berkerut. "Saya tidak pantas dipanggil Papa olehnya."

Kayla menatap lantai semen. Sejak kecil, Benny jarang memukul atau membentak. Kesalahannya adalah selalu diam ketika Rosa dan Vera mengambil hak Kayla.

"Papa bisa mulai pantas hari ini," katanya.

Benny menutup mata. Air mata turun sebelum ia sempat menyekanya.

"Papa minta maaf."

Kayla tidak langsung memeluknya. Maaf tidak menghapus dua puluh lima tahun. Namun untuk pertama kalinya, Benny tidak menyelipkan alasan tentang menjaga keluarga atau takut kepada Rosa.

"Buktikan lewat toko ini," jawabnya.

Bryan membuka rancangan pemasok. Ia telah membandingkan harga beras, minyak, kebutuhan sekolah, dan produk beku dari tujuh distributor. Ia juga merencanakan layanan pesan antar untuk perumahan sekitar.

"Margin kebutuhan pokok kecil," katanya. "Tapi sekolah memberi arus pelanggan. Kita bisa tambah paket makan siang murah dan alat tulis."

Adrian membaca tabelnya. "Siapa yang membuat proyeksi ini?"

"Saya."

"Kamu pernah mengelola laporan proyek?"

"Tidak. Saya belajar dari video dan toko lama."

"Mulai bulan depan, magang di proyek ritel Argatama tiga hari seminggu. Bukan karena kamu adik Kayla. Kamu masuk lewat tes dan evaluasi."

Bryan terdiam. "Serius?"

"Kalau nilaimu buruk, kamu keluar."

"Saya akan belajar."

"Bagus. Kirim rancangan ini ke Nico malam ini."

Adrian menunjukkan halaman terakhir. Gaji Benny dan Bryan ditetapkan seperti pegawai, terpisah dari laba usaha. Pembelian stok memakai rekening bisnis, bukan rekening pribadi. Nico akan menerima laporan bulanan selama pinjaman belum lunas.

"Kalau toko rugi?" tanya Benny.

"Kita evaluasi. Tidak ada rumah yang dijadikan jaminan," jawab Adrian. "Tapi kalau uang usaha dipakai untuk kebutuhan pribadi tanpa catatan, pendanaan dihentikan."

"Termasuk kalau Mama meminta?" Bryan memastikan.

"Termasuk siapa pun."

Benny menandatangani setelah membaca ulang. Bryan ikut membubuhkan tanda tangan sebagai pengelola. Kayla menandatangani hanya sebagai saksi, bukan pemilik.

"Kenapa nama Kayla tidak masuk?" tanya Benny.

"Karena ini kesempatan Papa dan Bryan membangun sesuatu," jawab Kayla. "Saya tidak ingin suatu hari ada yang bilang saya mengambil toko keluarga."

Adrian memandangnya dengan bangga. Ia memang menyiapkan modal, tetapi Kayla sendiri yang menetapkan jarak agar bantuan tidak berubah menjadi tali baru.

Semangat di wajah Bryan membuat Kayla tersenyum. Adrian tidak memberi jabatan kosong. Ia memberi jalan dan syarat yang bisa membuat Bryan berdiri sendiri.

Kesempatan itu datang bersama pekerjaan nyata, bukan sekadar amplop yang habis sebelum harga diri sempat tumbuh.

Mereka lalu pergi ke toko lama. Rosa tidak ada. Menurut tetangga, ia pergi bersama Vera untuk mencari katering ulang tahun Benny.

Benny memasukkan pakaian ke dua koper kecil. Bryan mengambil laptop, dokumen usaha lama, dan foto keluarga. Keduanya akan tinggal sementara di lantai atas ruko sampai toko baru berjalan.

Sebelum pergi, mereka menghitung stok lama bersama. Barang yang dibeli dari uang toko dicatat dan tetap ditinggalkan untuk operasional lama. Hanya rak pribadi Bryan, komputer miliknya, dan dokumen usaha atas nama Benny yang dibawa.

Tetangga yang biasa membantu toko menjadi saksi daftar serah terima. Benny memotret meteran listrik, saldo kas, serta kondisi gudang agar Rosa tidak bisa menuduh mereka membawa uang tanpa bukti.

"Papa belajar dari siapa?" tanya Kayla ketika melihat folder digitalnya.

"Dari kesalahan terlalu lama tidak mencatat apa pun," jawab Benny. "Kalau semua hanya berdasarkan kata-kata, orang yang paling keras selalu terlihat benar."

Bryan mengunci koper. "Toko lama tetap bisa dijalankan Mama kalau dia mau. Kami tidak mengambil mata pencahariannya. Tapi toko baru punya aturan baru."

"Rosa akan marah," kata Kayla.

"Biarkan," jawab Benny. "Selama ini Papa selalu takut rumah ribut. Akibatnya kamu yang terus dikorbankan agar rumah tenang."

Ia meletakkan kunci toko lama di meja.

"Mulai sekarang Rosa tidak mengatur uang toko baru. Vera juga tidak boleh mengambil barang tanpa membayar. Kalau mereka ingin ikut, mereka bekerja dengan aturan yang sama."

"Papa yakin?"

"Tidak," jawab Benny jujur. "Tapi Papa tetap akan melakukannya."

Malamnya, Kayla dan Adrian duduk di ruang tamu Cluster Peony. Berkas ruko tersimpan di tablet, sementara kotak makan dari Jack berada di meja.

Jack menelepon untuk menanyakan kabar. Ia sedang menguji menu di dapur Naga Emas, meski mengaku hanya membantu kepala dapur dan tidak bekerja untuk Michelle.

"Om keras kepala," kata Kayla.

"Kata Michelle juga begitu," jawab Jack. "Tapi soal toko, awasi Rosa. Kakakku selalu mengira uang keluarga adalah uangnya."

Setelah panggilan berakhir, Kayla bersandar pada bahu Adrian.

"Kamu tidak memperbaiki seluruh keluargaku," katanya.

"Aku tahu."

"Kamu memilih bagian yang masih mau berubah."

"Aku tidak bisa menyelamatkan orang yang menolak keluar dari api."

Kayla menggenggam tangannya. Bertahun-tahun ia mengira satu-satunya cara bebas dari Halim adalah memutus semuanya. Adrian menunjukkan bahwa ia boleh menyisakan hubungan yang sehat tanpa membuka pintu bagi bagian yang terus melukai.

Ponsel Bryan berbunyi di atas meja.

Grup keluarga Halim dipenuhi lebih dari tiga puluh pesan suara dari Rosa. Ia baru menemukan salinan izin usaha dan melihat namanya tidak tercantum.

Pesan terakhir diputar otomatis.

"Minggu depan ulang tahun Papamu. Aku akan undang Vera, Wilson, dan keluarga Chandra. Coba saja kalian datang tanpa membawa semua dokumen toko. Kita lihat siapa yang berani mempermalukanku di depan keluarga!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!