Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU HARI UNTUK MEMPERTAHANKAN SEMUANYA
Pukul 08.00 pagi.
Ruang rapat utama Mahendra Group sudah penuh.
Dewan direksi duduk mengelilingi meja panjang. Beberapa pemegang saham utama hadir melalui sambungan video.
Di ujung meja, Raka duduk tenang.
Di sampingnya, Alya membawa dokumen yang sudah dipersiapkan sejak semalam.
Hari ini bukan tentang perasaan.
Bukan tentang Clara.
Bukan pula tentang masa lalu.
Hari ini adalah tentang apakah Raka masih akan menjadi direktur utama perusahaan yang dibangun keluarganya.
Pintu terbuka.
Reza masuk.
Dia duduk tanpa terburu-buru.
“Selamat pagi.”
Tidak ada yang menjawab dengan antusias.
Ketua dewan membuka rapat.
“Kita langsung ke agenda.”
Layar besar menyala.
Grafik kepemilikan saham muncul.
Ketua dewan berkata,
“Arkana Capital telah meningkatkan kepemilikannya secara signifikan dalam tiga bulan terakhir.”
Alya menatap angka-angka tersebut.
Jumlahnya jauh lebih besar daripada yang mereka perkirakan.
Salah satu direktur berkata,
“Jika transaksi terakhir selesai, Arkana akan menjadi salah satu pemegang saham terbesar.”
Reza tersenyum.
“Betul.”
Raka menatapnya.
“Dan tujuanmu?”
Reza tidak menghindar.
“Saya ingin kursi strategis di perusahaan.”
“Bukan hanya itu.”
Reza tersenyum.
“Saya ingin suara yang lebih besar dalam menentukan arah perusahaan.”
Raka bersandar.
“Jadi kamu ingin mengendalikan perusahaan.”
Reza menjawab tenang,
“Kalau itu yang diperlukan untuk memperbaikinya.”
Suasana menjadi tegang.
Ketua dewan mengetuk meja.
“Cukup.”
Kemudian menatap Raka.
“Masalah kedua adalah evaluasi kepemimpinan.”
Alya menggenggam pulpennya.
Raka tetap tenang.
Ketua dewan melanjutkan,
“Beberapa pemegang saham mempertanyakan apakah keputusan Anda selama ini cukup objektif.”
“Berdasarkan apa?”
“Hubungan pribadi Anda dengan salah satu anggota Executive Office.”
Alya langsung menunduk.
Inilah yang mereka tunggu.
Raka tidak menghindar.
“Saya sudah mengungkapkan hubungan tersebut.”
“Benar.”
“Dan struktur kerja Alya sudah dipisahkan dari saya.”
“Benar.”
“Lalu apa masalahnya?”
Salah satu komisaris menjawab,
“Kepercayaan.”
Raka terdiam.
Reza kemudian membuka sebuah map.
“Saya memiliki data tambahan.”
Dia menyerahkan beberapa dokumen.
Alya menerima dan membacanya.
Matanya langsung membesar.
“Ini…”
Raka mengambil dokumen tersebut.
Di dalamnya terdapat beberapa keputusan perusahaan yang terjadi ketika Alya masih menjadi asistennya.
Termasuk beberapa kontrak yang kebetulan memberikan keuntungan kepada divisi yang dikelola Alya.
Reza berkata,
“Bisa saja semuanya kebetulan.”
Raka menatapnya.
“Atau?”
“Atau keputusan itu dipengaruhi hubungan pribadi.”
Alya langsung berdiri.
“Saya bisa menjelaskan.”
Semua mata tertuju kepadanya.
Raka menoleh.
“Alya.”
“Saya harus menjelaskan.”
Dia menarik napas.
“Semua keputusan yang ada di dokumen ini memiliki proses persetujuan. Saya tidak punya kewenangan mengambil keputusan akhir.”
Reza tersenyum.
“Benar.”
Alya menatapnya.
“Tapi Anda sengaja memilih periode ketika saya masih bekerja langsung dengan Pak Raka.”
“Karena itu periode yang relevan.”
“Tidak.”
Alya membuka laptop.
“Karena Anda mengabaikan dokumen setelah saya dipindahkan.”
Ruangan hening.
Alya menampilkan data.
“Setelah saya pindah ke Executive Office, pola keputusan perusahaan tetap sama.”
Dia menunjukkan grafik.
“Artinya tidak ada perubahan signifikan dalam proses pengambilan keputusan.”
Salah satu komisaris memperhatikan layar.
“Data ini dari mana?”
“Laporan audit internal.”
Alya membuka dokumen berikutnya.
“Dan ini persetujuan final.”
Raka menatap Alya.
Dia tidak menyangka Alya sudah menyiapkan data sedetail itu.
Reza tidak lagi tersenyum.
Alya melanjutkan,
“Kalau hubungan pribadi kami benar-benar mempengaruhi keputusan perusahaan, seharusnya pola tersebut berubah setelah struktur kerja kami dipisahkan.”
Dia menunjuk grafik.
“Tapi tidak.”
Ruangan hening.
Ketua dewan mengangguk.
“Argumen yang kuat.”
Reza bersandar.
Namun kemudian dia berkata,
“Bagaimana dengan keputusan yang dibuat sebelum itu?”
Alya menjawab tenang,
“Kalau ada keputusan yang dianggap salah, mari kita audit satu per satu.”
Dia menatap Reza.
“Jangan gunakan hubungan pribadi sebagai pengganti bukti.”
Raka hampir tersenyum.
Itulah Alya yang dia kenal.
Berani.
Tegas.
Tidak mudah ditekan.
SATU JAM KEMUDIAN
Rapat memasuki tahap pemungutan suara.
Dewan tidak sepakat untuk mengganti Raka.
Namun mereka juga belum memberikan kemenangan penuh.
Ketua dewan mengumumkan,
“Posisi Direktur Utama tetap dipertahankan.”
Raka menghela napas lega.
Namun kemudian kalimat berikutnya membuat suasana kembali tegang.
“Dengan catatan, akan dilakukan audit independen terhadap beberapa keputusan strategis selama tiga tahun terakhir.”
Raka mengangguk.
“Saya setuju.”
Reza tidak mengatakan apa-apa.
Rapat ditutup.
Satu per satu orang keluar.
Alya membereskan dokumen.
Raka menghampirinya.
“Kamu hebat.”
Alya tersenyum.
“Kita belum menang.”
“Setidaknya hari ini tidak kalah.”
Alya mengangguk.
Namun dia memperhatikan satu hal.
Reza tidak terlihat kecewa.
Justru terlalu tenang.
Alya menatap pintu.
“Raka.”
“Hm?”
“Dia sengaja kalah hari ini.”
Raka terdiam.
“Apa maksudmu?”
“Lihat wajahnya.”
Raka menoleh ke arah Reza yang sedang berbicara dengan seseorang di ujung ruangan.
Alya melanjutkan,
“Dia datang dengan bukti yang lemah.”
“Dia pasti tahu kita bisa membantah.”
“Lalu kenapa tetap membawanya?”
Raka mulai berpikir.
“Untuk menguji kita?”
Alya mengangguk.
“Atau untuk membuat kita merasa aman.”
Raka menatapnya.
“Kamu pikir ada sesuatu yang lebih besar?”
“Sangat mungkin.”
Raka mengangguk.
“Cari tahu.”
Alya terkejut.
“Bapak menyuruh saya menyelidiki?”
“Bukan sebagai bawahan.”
Raka menatapnya.
“Sebagai orang yang paling saya percaya.”
Alya tersenyum.
“Baik.”
SIANG HARI
Alya kembali ke ruangannya.
Dia membuka semua dokumen terkait Arkana Capital.
Ada sesuatu yang tidak masuk akal.
Perusahaan itu baru berkembang pesat dua tahun terakhir.
Namun transaksi saham Mahendra Group sudah mulai dilakukan tiga tahun lalu.
Alya mengerutkan kening.
“Tiga tahun…”
Dia membuka data perusahaan.
Kemudian menemukan nama direktur utama Arkana Capital.
Reza Santoso.
Namun ada nama lain di bagian pemegang saham.
Alya membeku.
Dia memperbesar layar.
Bram Santoso Family Trust.
Bram.
Nama ayah Reza.
Alya langsung mengambil ponsel.
“Raka.”
“Ada apa?”
“Saya menemukan sesuatu.”
“Apa?”
“Arkana bukan baru membeli saham tiga bulan terakhir.”
Hening.
“Mereka sudah membeli secara bertahap sejak tiga tahun lalu.”
Raka langsung serius.
“Berapa banyak?”
“Cukup untuk membangun posisi tanpa menarik perhatian.”
“Kenapa baru sekarang?”
“Saya belum tahu.”
Alya membuka dokumen lain.
Kemudian menemukan sesuatu.
“Raka.”
“Hm?”
“Transaksi terbesar dilakukan tepat dua minggu setelah…”
Alya berhenti.
“Setelah apa?”
“Setelah ayahmu meninggal.”
Raka terdiam.
Ruangan di seberang telepon menjadi sunyi.
Alya merasakan sesuatu berubah.
“Raka?”
“Saya di sini.”
“Kamu baik-baik saja?”
“Lanjutkan.”
Alya membuka data.
“Dua minggu setelah ayahmu meninggal, Arkana mulai membeli saham melalui perusahaan perantara.”
“Namanya?”
Alya membacanya.
“PT Surya Investama.”
Raka langsung diam.
“Apa?”
“Saya kenal nama itu.”
“Dari mana?”
“Itu perusahaan milik teman lama ayah saya.”
Alya mengerutkan kening.
“Berarti?”
“Berarti kemungkinan transaksi itu bukan kebetulan.”
Alya menatap layar.
“Raka…”
“Saya harus pergi.”
“Ke mana?”
“Rumah ayah saya.”
“Kenapa?”
“Karena mungkin ada sesuatu yang belum pernah saya temukan.”
Telepon berakhir.
RUMAH LAMA KELUARGA MAHENDRA
Sore itu Raka datang ke rumah lama keluarganya.
Rumah tersebut sudah jarang digunakan.
Debu menutupi sebagian ruangan.
Alya ikut bersamanya.
Mereka masuk ke ruang kerja almarhum ayah Raka.
Raka membuka lemari.
Tidak ada apa-apa.
Dia membuka laci.
Kosong.
Alya memperhatikan sekeliling.
“Cari apa?”
“Dokumen lama.”
“Dokumen perusahaan?”
“Bukan.”
Raka menunjuk sebuah rak.
“Catatan ayah saya.”
Alya membantu mencari.
Setengah jam berlalu.
Tidak ada hasil.
Sampai Alya melihat sebuah kotak kayu kecil di bawah meja.
“Raka.”
“Hm?”
“Ini.”
Raka berlutut.
Dia membuka kotak tersebut.
Di dalamnya ada beberapa surat lama.
Satu amplop bertuliskan:
Untuk Raka, jika suatu hari kamu mempertanyakan kepergian Ayah.
Raka membeku.
Tangannya gemetar.
Alya tidak mengatakan apa-apa.
Raka membuka surat itu.
Tulisan tangan ayahnya.
Dia membaca perlahan.
Wajahnya berubah.
“Apa isinya?”
Raka tidak menjawab.
Alya menunggu.
Akhirnya Raka menyerahkan surat itu.
Alya membaca.
Isi surat tersebut hanya beberapa paragraf.
Namun satu kalimat membuat darah Alya terasa dingin.
“Jika Bram atau keluarganya kembali menuntut perusahaan, jangan percaya bahwa mereka hanya menginginkan saham. Ada sesuatu yang mereka sembunyikan tentang kecelakaan yang menimpa Ayah.”
Alya mengangkat wajah.
“Kecelakaan?”
Raka mengangguk perlahan.
“Selama ini saya pikir ayah saya meninggal karena kecelakaan mobil.”
“Memangnya bukan?”
Raka membaca surat itu lagi.
“Saya tidak tahu.”
Alya menatapnya.
“Berarti…”
“Selama ini mungkin ada seseorang yang sengaja membuat kecelakaan itu terjadi.”
Mereka saling menatap.
Untuk pertama kalinya, konflik perusahaan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih serius.
MALAM
Raka membawa surat itu ke seorang pengacara keluarga.
Hasil pemeriksaan awal membuat mereka semakin terkejut.
Tanda tangan ayah Raka pada surat tersebut memang asli.
Tanggalnya juga cocok.
Surat itu ditulis tiga hari sebelum kecelakaan.
Artinya—
ayah Raka sudah mencurigai sesuatu sebelum meninggal.
Raka duduk diam.
Alya berada di sampingnya.
“Raka.”
“Hm?”
“Jangan cari ini sendirian.”
Raka mengangguk.
“Saya tahu.”
“Dan jangan langsung menuduh Reza.”
“Saya juga tahu.”
“Karena bisa saja bukan dia.”
Raka menatap surat itu.
“Benar.”
Alya menggenggam tangannya.
“Kita cari bukti.”
Raka membalas genggaman itu.
“Kita?”
Alya tersenyum.
“Bukankah tadi kamu bilang saya orang yang paling kamu percaya?”
Raka tersenyum kecil.
“Iya.”
“Berarti jangan coba-coba mengeluarkan saya dari masalah ini.”
Raka tertawa pelan.
“Baik.”
KEESOKAN PAGI
Raka tidak masuk kantor.
Alya juga tidak.
Mereka pergi menemui mantan pengacara keluarga Mahendra yang namanya tercantum dalam surat lama tersebut.
Pria tua itu tinggal di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota.
Begitu melihat nama Aditya Mahendra, wajahnya berubah.
“Sudah lama sekali.”
Raka menunjukkan surat.
“Saya menemukan ini.”
Pria itu membaca.
Kemudian menghela napas.
“Saya kira surat ini sudah hilang.”
Raka menatapnya.
“Bapak tahu?”
“Ya.”
“Kenapa Ayah menulis ini?”
Pria itu diam cukup lama.
Kemudian berkata,
“Karena ayahmu tahu bahwa dia sedang diawasi.”
Alya menahan napas.
“Siapa yang mengawasi?”
Pria itu menatap Raka.
“Bukan Bram.”
Raka membeku.
“Lalu siapa?”
Pria itu menghela napas.
“Orang yang paling dekat dengan keluarga kalian.”
Ruangan mendadak sunyi.
Raka menatapnya.
“Siapa?”
Pria itu belum sempat menjawab ketika terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.
Mereka bertiga menoleh.
Sebuah mobil hitam berhenti.
Pintu terbuka.
Seseorang turun.
Alya melihat wajah pria itu dari balik jendela.
Dia mengenalinya.
Bukan Reza.
Bukan Clara.
Melainkan—
orang yang selama ini masih bekerja di dalam Mahendra Group.
Orang yang bahkan ikut hadir dalam rapat dewan kemarin.
Raka berdiri.
“Tidak mungkin…”
Alya menatapnya.
“Siapa?”
Raka menjawab pelan,
“Orang kepercayaan ayah saya.”
Pria tua itu langsung mematikan lampu.
“Jangan biarkan dia tahu kita menemukan surat itu.”
Alya menahan napas.
Raka menggenggam tangannya.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua masalah ini dimulai, mereka sadar—
musuh mereka mungkin bukan orang yang berdiri di depan mereka.
Musuh itu mungkin sudah berada di dalam perusahaan sejak bertahun-tahun lalu.
Dan sekarang mereka harus menemukannya sebelum orang itu tahu bahwa rahasianya mulai terbongkar.