NovelToon NovelToon
Pernikahan Ke2

Pernikahan Ke2

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratika

"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: DINDING DINGIN DAN SAKIT YANG MENGENDAP

Ketika daun pintu kamar itu akhirnya terbuka, hawa dingin malam seolah berebut masuk. Di ambang pintu, Ibu Naya berdiri dengan raut wajah penuh kecemasan yang mendalam. Matanya bergantian menatap Aini yang bermata sembab dan Arman yang mematung dengan rakan rahang yang mengeras.

"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut malam-malam begini, Nak?" tanya Ibu Naya dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, mencoba meredam badai yang hampir pecah di dalam rumahnya sendiri.

Namun, baik Aini maupun Arman hanya membisu. Lidah keduanya seolah kelu. Aini memilih memalingkan wajah, sementara Arman menunduk dalam, enggan menatap mata mertuanya. Sebagai menantu yang menumpang di rumah itu, Arman tahu batasannya untuk tidak berteriak di depan Ibu Naya.

Ibu Naya menghela napas panjang, mengusap bahu Aini dengan lembut. "Sudahlah... ini sudah larut malam. Tidak baik menyelesaikan masalah dengan kepala panas. Arman, ganti bajumu. Aini, hapus air matamu. Tidurlah, besok kita bicarakan baik-baik."

Malam itu, Arman tidak pergi. Dia tetap tinggal di rumah orang tua Aini.Keesokan harinya, aktivitas berjalan seperti biasa. Arman tetap bersiap kerja, Ibu Naya tetap memasak, dan Aini tetap menyelesaikan tugas-tugas rumah tangganya.

Namun, semua tak lagi sama. Rumah itu mendadak kehilangan suaranya. Ada dinding tidak kasatmata yang sangat tebal dan dingin yang membentang di antara Aini dan Arman. Setiap interaksi terasa kaku, formal, dan asing.

Hari-hari berikutnya berlalu dalam kesunyian yang menyiksa. Pikiran Aini terus berputar, mencari cara bagaimana baiknya pernikahan mereka ke depan. Dia tidak kuat terus-menerus hidup dalam atmosfer yang mencekam ini.

Hingga pada suatu sore, saat Ibu Naya dan suaminya sedang pergi keluar rumah dan menyisakan mereka berdua saja di dalam kesunyian, Aini memberanikan diri mendekati Arman yang sedang duduk di sudut ruangan.

"Mas, kita perlu bicara. Bagaimana kelanjutan pernikahan kita kalau terus-menerus diam seperti ini?" tanya Aini, mencoba mengatur nada suaranya sesabar mungkin.

Arman tidak langsung menjawab. Dia hanya melirik sekilas tanpa minat, lalu mengembuskan napas panjang. "Terserah," jawabnya pendek, datar, dan begitu dingin.Kata "terserah" itu rasanya seperti hantaman keras di dada Aini. Jika itu terjadi beberapa bulan lalu, Aini pasti sudah meledak. Dorongan emosinya yang meledak-ledak sering kali membuatnya mengamuk, berteriak, bahkan sampai di titik histeris ingin menyakiti dirinya sendiri atau memukul Arman demi mendapatkan perhatian dan kejelasan.

Namun sore ini, Aini sekuat tenaga menahan dadanya yang bergemuruh. Dia berjanji pada diri sendiri untuk sedikit lebih tenang, tidak ingin lagi melukai fisik maupun jiwanya sendiri.

Aini mengembuskan napas perlahan, menekan ego dan rasa sakitnya.

"Aku ingin memperbaiki hubungan kita, Mas. Aku tidak mau kita asing seperti ini," ujar Aini mengalah.

Arman mengangguk samar, mengucapkan kata "iya" yang terdengar terpaksa.

Namun, sikapnya hari-hari setelahnya tetap saja dingin membeku. Dia tetap pulang larut, enggan menatap mata Aini, dan hanya bicara jika benar-benar perlu. Kondisi ini membuat Aini sangat kepikiran dan tersiksa. Secara objektif, yang melakukan kesalahan adalah Arman yang sering kelayapan dan tidak becus menafkahi. Namun anehnya, taktik diam yang dilakukan Arman justru berhasil membuat Aini yang harus merasa bersalah setiap hari, seolah-olah dialah penyebab kehancuran rumah tangga ini.

Hingga di satu hari, kembali saat orang tua Aini tidak ada di rumah, Aini tidak bisa lagi menahan sesak di dadanya. Sikap diam Arman sudah di ambang batas toleransinya.

"Mas! Aku tidak mau didiami seperti ini terus!" suara Aini mulai bergetar saat mencegat langkah Arman di ruang tengah.

"Kalau aku ada salah, katakan! Jangan hukum aku dengan sikap dinginmu!"Arman yang tampaknya memang sudah tidak berniat memperbaiki suasana, langsung menatap Aini dengan pandangan muak. Dia berbalik, berniat mengemas pakaiannya.

"Aku lelah, Ai. Kamu selalu meributkan hal yang sama." Jawab mas Arman.

"Jangan pergi, Mas!" Aini refleks menahan lengan Arman, mengemis sedikit saja kepedulian dari pria itu.

Arman menghempaskan tangan Aini dengan kasar.

"Dari awal menikah kita selalu ribut! Kamu tidak pernah puas! Kalau kamu memang sudah tidak mau lagi denganku, bilang! Biar sekarang juga aku pulang ke rumah orang tuaku!" gertak Arman, menggunakan ancaman pulang ke rumah ibunya sebagai senjata.

Mendengar kalimat itu, benteng kesabaran Aini yang selama ini dia bangun akhirnya runtuh juga. Kata-kata Arman seolah membuka kotak pandora ingatan masa lalu yang selama ini Aini kubur dalam-dalam.

Air matanya luruh, bukan lagi karena sedih, melainkan karena rasa perih yang teramat sangat atas ketidakadilan hidupnya.

"Dari awal menikah selalu ribut, kamu bilang, Mas?" suara Aini meninggi, bergetar menahan tangis.

"Kamu ingat tidak, bagaimana pernikahan ini dimulai? Saat lamaran, mahar yang seharusnya kamu berikan kepadaku adalah dua juta rupiah. Tapi apa yang terjadi sehari sebelum akad? Orang tua dan saudara perempuanmu memaksamu memotong mahar itu menjadi hanya lima ratus ribu rupiah! Kenapa, Mas? Karena di mata mereka, aku yang hanya tamatan SMA ini tidak sepadan untuk mendapatkan mahar dua juta dari anak laki-laki kebanggaan mereka!"Arman terdiam, wajahnya menegang mendengarkan runtutan kalimat Aini.

"Aku diam, Mas! Aku terima karena aku tulus mencintaimu!" lanjut Aini, dadanya naik turun dengan hebat.

"Lalu kita menikah dan menumpang di rumah ibuku. Setiap kali ada acara adat batandang, keluargamu selalu menyalahkan aku. Mereka bilang hantaran rantang dariku terlalu kecil, tidak pantas, mempermalukan nama baikmu. Mereka menuntut pemberian yang besar tanpa pernah mau tahu kalau uang lima ratus ribu yang kamu berikan seminggu itu bahkan tidak cukup untuk kebutuhan rokok dan bensinmu sendiri!"Aini melangkah maju, menatap langsung ke dalam manik mata suaminya yang membeku.

"Keluargamu tidak pernah sekalipun memikirkan perasaanku, Mas. Mereka menginjak harga diriku dari hari pertama aku menjadi istrimu. Dan kamu tahu apa yang paling menghancurkan mentalku? Selama setahun ini, tidak pernah sekalipun... tidak pernah sekalipun kamu berdiri membelaku di depan mereka! Kamu selalu diam membiarkan istrimu dihina!"Tangis Aini pecah, namun matanya tetap menatap tajam.

"Semua rasa sakit itu terjadi, Mas. Semua penghinaan itu aku telan bulat-bulat. Dan sampai detik ini, aku tetap memilih bertahan dan ingin melanjutkan pernikahan ini denganmu. Aku merendahkan diriku sedalam ini demi kamu! Lalu sekarang, setelah semua yang aku korbankan, dengan mudahnya kamu tanyakan apakah aku tidak mau lagi denganmu? Kamu yang memutarbalikkan fakta seolah aku istri yang jahat!"

Aini mundur satu langkah, melepaskan cengkeramannya pada lengan Arman. Dia menegakkan bahunya, mengambil kembali harga diri yang sempat hilang.

"Sekarang, kalau kamu mau pergi dari rumah ini... silakan, Mas. Aku tidak akan pernah menahanmu lagi untuk pergi. Tapi catat ini baik-baik: aku tidak pula menyuruhmu untuk pergi. Keputusan ada di tanganmu. Kalau kamu memilih melangkah keluar dari pintu itu untuk lari ke rumah ibumu lagi, maka jangan pernah berani untuk berbalik arah kembali ke rumah ini."

Sore itu, di dalam rumah yang sepi tanpa kehadiran orang tua Aini, kesunyian kembali mencekam. Namun kali ini, posisi telah berbalik. Aini berdiri tegak dengan sisa air matanya, sementara Arman terpaku di depan pintu, memegang tasnya dengan kebingungan yang luar biasa.

--------------------

1
falea sezi
🤣🤣 arka arka lu sendiri ketus ehh masak. minta di baikin🤣 ngelunjak lu
Ratika duri: tau nih si arka 😅
total 1 replies
falea sezi
bner g usa ngurus orang g jelas sini 🤭 fokus krja aja biar aja ulet bulu dan si ceo g jelas itu bkin perkarw
falea sezi
lanjut
Ratika duri: oke kak😁
total 1 replies
falea sezi
wanita oon ngapain. g ngajuin cerai sendiri😒 stts gantung emank. enak bloon ya
Ratika duri: sabar kakak ku 😅😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!