BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!
Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Sejak mengungkapkan perasaannya kepada Kemuning, hidup Arkatama berubah jauh lebih menyenangkan. Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa saja, sekarang mendadak terasa istimewa. Bangun pagi jadi lebih semangat, kerja terasa lebih ringan, bahkan senyum pun lebih sering muncul tanpa sadar.
Pagi itu Arkatama berdiri di depan cermin sambil merapikan rambutnya. Kaos olahraga hitam yang dikenakannya tampak rapi dan wangi. Ia bahkan sempat menyemprotkan parfum tipis ke lehernya sebelum keluar kamar. Padahal cuma mau lari pagi.
“Cieee … ada yang lagi puber kedua!”
Suara Aryasatya terdengar dari pintu kamar. Anak itu berdiri sambil menyandar di kusen, wajahnya penuh senyum jahil.
Arkatama langsung melotot. “Apaan, sih, kamu?! Pagi-pagi sudah iri.”
Aryasatya mendekat sambil mengendus-endus udara dengan sengaja. “Buset, wangi banget. Mau lari pagi apa mau kencan?”
“Berisik kamu, Arya!”
“Enggak biasanya olahraga pakai parfum. Dulu mah bangun tidur langsung cabut lari kayak dikejar debt collector.”
Arkatama mengambil bantal sofa kecil dan melemparkannya ke arah adiknya. Aryasatya tertawa keras sambil menghindar, lalu berlari menuju tangga.
“Cepat lamar Mbak Kemuning!” teriaknya dari anak tangga sambil nyengir lebar. “Sebelum diserobot brondong komplek sebelah!”
“ARYA!”
Bukannya takut, Aryasatya malah tertawa semakin keras sebelum menghilang masuk kamar. Arkatama menggeleng sambil terkekeh pelan. Namun setelah itu, wajahnya perlahan berubah lebih tenang.
Sebenarnya, tanpa diejek pun, Arkatama memang ingin membawa hubungan mereka ke arah serius. Sangat ingin. Ia ingin Kemuning menjadi bagian dari hidupnya. Bukan sekadar teman ngobrol atau bukan hanya sekadar wanita yang diam-diam membuatnya tersenyum sendiri setiap malam.
Akan tetapi, Kemuning belum siap. Wanita itu pernah mengatakan dengan jujur bahwa dirinya masih takut membuka hati terlalu jauh. Luka dari masa lalunya belum benar-benar hilang.
Dan Arkatama memilih menghargai itu. Ia tidak mau memaksa.
“Pelan-pelan aja, Mas Arka,” kata Kemuning waktu itu sambil tersenyum kecil. “Aku masih belajar percaya lagi.”
Kalimat sederhana itu justru membuat Arkatama semakin jatuh hati. Karena di mata pria itu, Kemuning tidak sedang menolak. Wanita itu hanya sedang menjaga dirinya yang pernah hancur.
Arkatama mengambil kunci rumah dan melangkah keluar. Baru saja pintu ditutup, matanya langsung menangkap sosok yang beberapa bulan terakhir selalu berhasil membuat harinya terasa lebih baik, yaitu Kemuning.
Wanita itu sedang berdiri di halaman rumah sambil menyiram tanaman tanaman yang berjajar rapi di pinggir pagar. Tangannya bergerak pelan mengarahkan selang, membiarkan air membasahi daun-daun hijau yang tampak segar. Rambutnya diikat sederhana. Beberapa helai rambut keluar dari ikatannya dan jatuh lembut di sisi wajah. Ia sesekali menyingkirkannya dengan punggung tangan tanpa menghentikan kegiatannya.
Arkatama yang baru keluar rumah langsung menghentikan langkah. Tatapannya tertahan pada sosok wanita itu.
Kaos lengan panjang berwarna pastel yang dikenakan Kemuning terlihat sederhana, dipadukan dengan celana training hitam dan sandal rumah. Tidak ada riasan mencolok di wajahnya.
Namun, justru kesederhanaan itu yang membuatnya terlihat begitu nyaman dipandang. Kulit Kemuning tampak cerah terkena cahaya pagi. Wajahnya juga terlihat lebih hidup dibanding pertama kali Arkatama mengenalnya dulu. Tidak lagi murung. Tidak lagi menyimpan kesedihan di matanya setiap waktu. Dan entah kenapa semakin lama Arkatama melihatnya, semakin sulit ia mengalihkan pandangan.
“Cantik banget!”
Kalimat itu muncul begitu saja di dalam kepalanya. Bahkan tanpa sadar, pria itu sampai berdiri beberapa detik hanya untuk memandanginya. Sampai akhirnya Arkatama berdeham pelan, berusaha terlihat biasa saja.
“Halo, Kemuning!”
Kemuning yang sedang fokus menyiram tanaman langsung menoleh cepat. Wajahnya tampak sedikit terkejut, tetapi begitu melihat siapa yang memanggil, ekspresinya langsung berubah hangat.
“Eh, Mas Arka.”
Senyuman kecil muncul di bibirnya. Senyum sederhana, namun cukup untuk membuat dada Arkatama terasa hangat seketika. Pria itu sampai harus menahan diri agar tidak ikut tersenyum terlalu lebar seperti orang bodoh.
“Mau lari pagi, ya?” tanya Kemuning sambil mematikan keran air.
“Iya.” Arkatama melangkah mendekat beberapa langkah. “Mau ikut?”
Kemuning terlihat bingung sesaat. Ia menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi tidak yakin. “Lari?”
Arkatama mengangguk santai. “Iya, kita lari pagi.”
Kemuning tertawa kecil sambil menggeleng pelan. “Aku jarang olahraga, Mas.”
“Makanya mulai sekarang olahraga.”
“Niat banget ngajaknya.”
“Biar sehat.”
Kemuning kembali tertawa pelan. Tawanya ringan, tapi terdengar manis di telinga Arkatama.
Wanita itu menggigit bibir bawahnya sebentar sambil berpikir. Tatapannya turun sesaat ke sandal rumah yang dipakainya, lalu kembali lagi ke Arkatama.
“Hmmm ....”
Arkatama menunggu tanpa mendesak. Meski wajahnya terlihat santai, di dalam hati ia benar-benar berharap Kemuning mau ikut.
Ia bahkan sampai menahan napas saat wanita itu akhirnya mengangguk kecil.
“Yaudah. Sebentar aku ambil sepatu dulu.”
Senyum Arkatama langsung melebar begitu saja. “Oke. Aku tunggu.”
Kemuning masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat. Sementara Arkatama berdiri di halaman sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana trainingnya. Tatapannya masih mengikuti pintu rumah Kemuning yang tertutup. Lalu tanpa sadar, ia tersenyum sendiri.
“Gila ...,” gumam Arkatama pelan sambil menunduk kecil. “Cuma diajak lari aja senangnya begini.”
Pria itu mengusap tengkuknya sendiri, merasa sedikit malu dengan dirinya sendiri. Beberapa bulan lalu, ia bahkan tidak pernah membayangkan bisa sebahagia ini hanya karena ditemani seseorang jogging keliling komplek.
Tidak lama kemudian, pintu rumah kembali terbuka. Kemuning keluar dengan sepatu olahraga putih dan rambut yang kini diikat lebih rapi. Wajahnya terlihat sedikit salah tingkah saat mendapati Arkatama masih berdiri menunggunya.
“Lama nunggu?” tanya wanita itu pelan.
“Enggak.” Arkatama langsung menggeleng cepat. “Baru sebentar.”
Padahal dari tadi pria itu sudah senyum-senyum sendiri seperti orang kasmaran. “Yuk,” ajaknya kemudian.
Mereka mulai berlari kecil keluar dari area rumah. Langkah mereka santai, tidak terburu-buru. Di sekitar komplek sudah cukup ramai. Ada yang jogging sambil membawa botol minum, ada yang bersepeda bersama anaknya, ada juga ibu-ibu yang berjalan santai sambil mengobrol.
Awalnya suasana di antara mereka sedikit canggung. Kemuning beberapa kali terlihat salah tingkah saat tanpa sengaja tangan mereka hampir bersentuhan. Sementara Arkatama diam-diam terus melirik ke arah wanita itu setiap beberapa detik.
“Kaktus yang di depan rumahmu itu tumbuh lagi, ya?” tanya Arkatama memulai obrolan.
Kemuning langsung menoleh antusias. “Iya! Aku kira bakal mati kemarin.”
“Berarti kamu cocok jadi ibu tanaman.”
Kemuning spontan menatap Arkatama dengan wajah memerah tipis. “Mas Arka!”
Arkatama malah tertawa puas melihat reaksinya.
Obrolan mereka terus berlanjut. Kadang membahas hal penting, kadang hanya candaan receh yang sebenarnya tidak lucu. Namun entah kenapa, bersama Kemuning membuat semuanya terasa menyenangkan.
Arkatama sengaja menceritakan tingkah Aryasatya yang semalam diam-diam memakai masker yang sering dipakai ibu-ibu karena wajahnya jerawatan.
Kemuning sampai tertawa cukup keras mendengarnya. “Serius?” tanyanya sambil menahan tawa.
“Serius. Pagi tadi dia panik karena mukanya malah merah semua.”
“Kasihan banget.”
“Enggak kasihan. Rasain.”
Kemuning kembali tertawa. Dan setiap kali wanita itu tertawa seperti itu, Arkatama merasa suasana di sekitarnya ikut menjadi lebih hangat. Ia menyukai momen seperti ini. Tidak perlu sesuatu yang mewah. Tidak juga perlu kata-kata romantis berlebihan. Cukup berjalan di samping Kemuning seperti sekarang saja, rasanya sudah membuat hati Arkatama penuh.
Sementara itu, di tempat lain yang jauh dari suasana hangat tersebut, seseorang sedang memulai hari dengan kehidupan yang sangat berbeda.
Aditya berdiri di depan cermin kecil di kontrakannya yang sempit dan pengap. Tangannya sibuk merapikan seragam merah yang warnanya mulai memudar karena terlalu sering dicuci. Bagian kerahnya bahkan terlihat sedikit kusam. Ia menatap pantulan dirinya sendiri cukup lama.
Wajah itu masih sama. Garis rahangnya masih tegas. Tubuhnya juga masih tegap meski sekarang terlihat lebih kurus dibanding dulu. Namun, sorot matanya berbeda. Tidak ada lagi rasa percaya diri seperti saat dirinya masih memiliki usaha peternakan yang sukses.
Tidak ada lagi tatapan penuh kebanggaan seperti dulu. Yang tersisa sekarang hanyalah wajah lelah seseorang yang sedang berusaha bertahan hidup.
Beberapa bulan lalu, ia masih dikenal sebagai pengusaha peternakan ayam yang sukses. Pakaiannya selalu rapi. Dompetnya tebal. Ke mana-mana naik mobil pribadi.
Sekarang? Ia harus menghitung sisa uang untuk makan sampai akhir bulan. Aditya mengusap wajah kasar. “Begini banget hidup,” gumamnya pelan.
Tiga bulan terakhir, ia bekerja sebagai office boy di sebuah perusahaan swasta di ibukota.
rasain kmu Aditya 🤣
hhmmm lavanya, skrg kamu makin terjerumus