Devano Garendra, merasa bosan dengan pernikahannya bersama sang istri hingga membuatnya bermain perempuan di luar sana.
Sebagian Alice, yang baru saja memulai kehidupannya yang baru harus kembali di pertemukan dengan sosok yang cukup lama bersamanya.
Akankah mereka kembali mengulang masa lalu yang pernah di lewati bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 04
Rendra baru teringat sesuatu, dia baru mengingatnya. Bayu, laki-laki bajingan itu. Kenapa dia bisa melupakan bajingan itu?
Bayu yang sedang di perusahaan miliknya tiba-tiba saja kaget mendapatkan telepon dari pengeran.
"Ada apa pangeran? Merindukan diriku?"
"Cepat datang ke apartemen ku sekarang!" titahnya pada Bayu yang sedang sibuk.
"Sebentar pangeran, hamba ada meeting 15 menit lagi. Setalah meeting selesai, hamba akan datang menemui pangeran." jawab Bayu seperti dulu membuat Rendra merasa muak mendengarnya.
Sedangkan Rendra, dia masih menatap sekelilingnya. Tempat ini sudah sangat lama tidak dia datangi. Karena terakhir kali dia datang menemui Alice sebelum mendapatkan telepon dari keluarganya di Amerika waktu itu.
"Ternyata waktu begitu cepat berlalu." gumamnya menyadari semua ini.
Di tatapnya setiap sudut apartemen ini. Karena di setiap sudutnya menyimpan kenangan yang begitu banyak tentang dirinya dan Alice.
Bagaimana gadis yang berusia 10 tahun di bawahnya itu, merawatnya dengan baik selama hampir 3 tahun. Ya, hubungan gelap mereka terjalin hampir 3 tahun waktu itu.
Banyak hal yang terjadi di antara mereka, dan sudah tidak terhitung lagi berapa banyak percintaan panas yang terjadi di tempat ini.
Flashback
"Om, om kenapa?" tanya Alice melihat laki-laki itu pulang dalam keadaan babak belur.
Tadi sewaktu pergi, dia melihat Rendra baik-baik saja. Dan kini, kenalan penampilannya sangat berantakan.
"Om?" panggilnya lagi saat Rendra tak kunjung menjawab.
"Apa aku terlalu egois?" tanya Rendra dalam keadaan setengah sadar.
"Om, kenapa?" tanya Alice yang belum mengerti apa maksudnya.
"Aku hanya ingin menjalani hidup dengan baik. Aku hanya ingin melakukan apapun yang ingin aku lakukan. Kenapa, apa aku tidak pantas merasakan kebahagiaan seperti orang lain?" bertanya dengan nada yang begitu menyedihkan.
Rendra benar-benar terlihat berantakan saat ini. Wajah lebam, sudut bibirnya pecah, baju yang sudah acak-acakan. Benar-benar penampilan yang terburuk selama ini yang pernah Alice lihat.
"Om, om juga berhak bahagia kok." jawab Alice yang berusaha untuk menyemangati laki-laki ini.
Rendra tertawa menyedihkan ketika mendengar apa yang dikatakan gadis itu.
"Tau apa kau tentang kebahagiaan? kamu masih berusia 16 tahun, kau tidak tahu bagaimana rasanya direndahkan. Kau tau Alice, aku banyak bertaruh dengan takdir. Aku bahkan ingin mengajaknya bertaruh lagi. Apa salah ku hingga terlihat menyedihkan di mata orang lain?"
"Om, mabuk. Ayo masuk kamar dulu. Kita bersihkan dulu." katanya berusaha menopang berat badan Rendra yang sudah sempoyongan.
Alice bersusah payah membawa Rendra ke dalam kamar tempat dimana mereka biasa tidur. Namun, saat dia hendak membantu Rendra, tubuhnya malah di hempaskan ke atas tempat tidur.
"Om, hemphh..." bibirnya di bungkam oleh ciuman panas Rendra yang di kuasai alkohol.
Dia sudah mabuk. Entah seberapa banyak yang di minumnya. Karena Alice tau, jika hanya satu dua botol saja dia masih sangat yakin Rendra bisa berjalan dengan tegak.
Tapi ini, berjalan saja dia sudah tidak sanggup.
"Om...aaahhhh..." Alice mendesah saat bibir nakal Rendra semakin bermain sesukanya.
Dan terjadi lagi pertempuran panas mereka malam itu. Di penuhi dengan suara-suara desahan nakal satu bibir seksi Alice yang membuat Rendra semakin terbakar di buatnya.
Flashback end.
Rendra tersenyum saat masuk ke dalam kamar ini. Bahkan pakaian miliknya dan milik Alice masih tersimpan dengan rapi dan di urus dengan baik oleh orang suruhannya.
Langkah panjangnya semakin memasuki ruangan panas ini. Ruangan yang dulunya di penuhi suara-suara desahan mereka.
Dia melihat ke bawah saat merasa seperti menginjak sesuatu di bawah kakinya.
"Anting?" gumam Rendra melihat sebuah anting mutiara berada di lantai.
Di tatapnya benar-benar anting tersebut sampai dia mengingat sesuatu disana.
***