NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / CEO
Popularitas:33.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Sidik Jari Sang Nyonya

Kepala Keamanan segera mengalihkan pandangannya ke layar monitor.

"Itu Marko... asisten pribadi Tuan Enzo."

Manajer Hotel ikut mendekat. Di layar CCTV terlihat Marko berdiri di depan pintu suite pribadi Enzo sambil membawa beberapa kantong belanja dan sebuah tas kecil.

Suasana mendadak hening.

Manajer Hotel dan Kepala Keamanan saling berpandangan.

Sesaat kemudian, Kepala Keamanan kembali menatap layar yang kini hanya memperlihatkan pintu kamar yang masih tertutup rapat.

"Apa yang dibawa asistennya itu?" gumam Manajer Hotel.

Operator memperbesar gambar. "Sepertinya beberapa kantong belanja, Pak. Ada juga tas kecil."

Kepala Keamanan mengernyit. "Sayang kameranya terlalu jauh. Tulisannya tidak terlihat."

Klek.

Pintu kamar terbuka.

"Bos, ini barang yang Bos minta. Obatnya sudah saya belikan. Ada yang diminum, ada juga yang dioles."

Saat menyerahkan kantong belanja, tanpa sadar Marko melirik ke arah dalam kamar.

"Apa yang kau lihat?" suara Enzo terdengar datar.

Marko spontan menarik kembali pandangannya.

"Sudah bosan kerja?"

Marko langsung menelan ludah. "Maaf, Bos."

Pintu kamar perlahan kembali tertutup.

"Hampir saja," gumam Marco sambil mengelus dadanya.

Di ruang kontrol CCTV, suasana mendadak hening.

Kepala Keamanan masih menatap layar yang kini hanya memperlihatkan pintu kamar yang telah tertutup rapat.

"Sepertinya... wanita itu masih berada di dalam."

***

Di kamar hotel, Enzo menghampiri Chantika, lalu menyodorkan dua paper bag dan sebuah kantong kecil.

"Ini pakaian dan obatmu. Kalau butuh bantuan, katakan saja."

"Terima kasih." Chantika menerimanya, lalu berjalan perlahan menuju kamar mandi.

"Perlu kubantu?" tanya Enzo.

Chantika menggeleng kecil. "Jangan. Tubuhku justru akan makin kaku kalau gak digerakkin."

Enzo hanya mengangguk. Namun, tatapannya terus mengikuti Chantika hingga wanita itu menghilang di balik pintu kamar mandi.

Setelah itu, Enzo mengambil sebuah ponsel baru yang masih berada di dalam kotaknya.

Ia membuka segelnya, lalu memasang kartu SIM. Selama beberapa menit, jemarinya bergerak cepat di atas layar, mengatur beberapa fitur khusus yang hanya diketahui orang-orang kepercayaannya.

Setelah memastikan semuanya berfungsi, barulah ia menyimpan nomor teleponnya sebagai kontak pertama.

"Semoga aku tidak pernah perlu menggunakan ini," gumamnya pelan.

Beberapa menit kemudian, Chantika keluar dari kamar mandi dengan pakaian baru yang dibelikan Enzo. Atau lebih tepatnya dibelikan Marco menggunakan uang Enzo.

Enzo menghampirinya. "Ini ponselmu." Ia mengulurkan ponsel itu. "Aku sudah menyimpan nomorku di sana."

Chantika menerimanya sambil tersenyum tipis. "Terima kasih."

Sesaat kemudian ia berkata, "Aku butuh dokumen pribadimu untuk mengurus izin menikah di institusiku."

"Sebentar."

Enzo berjalan menuju nakas, membuka lacinya, lalu mengambil sebuah map berisi dokumen identitas. Setelah itu ia menyerahkannya kepada Chantika.

Wanita itu membukanya dan memeriksanya beberapa saat sebelum kembali menutup map tersebut.

"Apa pekerjaanmu?" tanyanya penasaran.

Enzo menjawab tenang, "Aku CEO Arkana Global Logistics."

"CEO Arkana Global Logistics?" ulang Chantika dengan tatapan tak percaya.

Ia tak pernah menyangka pria yang semalam bersamanya ternyata adalah CEO salah satu perusahaan ekspor-impor terbesar di negeri ini.

"Aku seperti mendapat durian runtuh," batinnya.

"Ada apa?" tanya Enzo sambil melangkah mendekat. "Tidak menyangka suamimu seorang CEO?"

"Ya." Chantika mengangguk pelan. "Dan aku jadi bisa membayangkan berapa banyak wanita yang mengelilingimu."

Enzo merangkul pinggang Chantika. "Tidak ada yang bisa membuatku tertarik selain kamu."

Ia menunduk hendak mengecup bibir Chantika.

Namun, Chantika buru-buru menahan bibir pria itu dengan telunjuknya, lalu mendorongnya pelan.

"Aku gak percaya pria sepertimu gak pernah dekat dengan wanita."

Enzo menarik perlahan tangan Chantika dari bibirnya. "Waktu yang akan membuktikannya."

Ia mengambil sebuah kartu berwarna hitam dari dompetnya, lalu mengulurkannya kepada Chantika.

"Ini kartu untukmu." Enzo bahkan menyebutkan PIN-nya tanpa ragu. "Anggap saja uang bulananmu."

Mata Chantika langsung membesar. "Kartu hitam..." batinnya. "Royal sekali."

"Kapan kita tinggal bersama?" tanya Enzo santai.

"Hah?" Chantika menatapnya tak percaya. "Kita bahkan belum menikah."

"Cepat atau lambat kita akan menikah. Jadi tidak masalah kalau mulai sekarang kita tinggal bareng."

"Tidak." Jawaban Chantika terdengar tegas. "Kita gak akan tinggal bersama sebelum resmi menikah."

Wajah Enzo tampak sedikit kecewa. "Kalau begitu... kita harus sering ketemu."

"Kenapa?"

Enzo kembali memeluk pinggang Chantika. "Aku takut merindukanmu."

Chantika terkekeh pelan. "Kita baru bertemu semalam. Bahkan baru saling mengenal pagi ini. Bagaimana bisa secepat itu merindukanku?"

"Karena aku menyukaimu sejak pandangan pertama." Enzo menatap lurus ke matanya. "Kamu satu-satunya wanita yang gak bikin aku merasa risih."

Chantika mengernyit. "Maksudmu?"

"Entahlah. Sejak dulu aku selalu gak nyaman jika terlalu dekat dengan wanita, apalagi mereka yang mendekatiku karena jabatan, uang, atau ingin menjadi pasangan CEO. Aku sendiri gak tahu penyebabnya."

Chantika terdiam. Di dalam sorot mata pria itu, ia melihat kesungguhan.

"Aneh..." batinnya. "Kenapa aku juga merasa begitu dekat dengannya? Apa hanya karena kejadian semalam?"

Ia tak menemukan jawaban.

"Kalau begitu... aku pergi dulu," pamit Chantika akhirnya.

"Tunggu sebentar."

Enzo menggenggam tangan Chantika, lalu membawanya ke panel elektronik di samping pintu kamar.

"Aku akan mendaftarkan sidik jarimu."

"Untuk apa?"

"Supaya kapan pun kamu datang, kamu bisa langsung masuk ke suite ini."

Chantika memandangnya beberapa detik, tetapi akhirnya membiarkan Enzo merekam sidik jarinya.

 

Di ruang kontrol CCTV...

"Pak! Pintu kamar Tuan Enzo terbuka," ujar salah seorang operator.

Kepala Keamanan dan Manajer Hotel langsung mengalihkan perhatian ke monitor.

"Itu wanita semalam," gumam Manajer Hotel.

"Benar, Pak," sahut Kepala Keamanan. "Wanita yang sebelumnya terlihat keluar dari area kamar Tuan Bryan."

Beberapa saat kemudian mereka melihat Enzo berdiri di samping panel pintu.

"Beliau sedang mendaftarkan sidik jari wanita itu," ujar operator.

Manajer Hotel menatap layar tanpa berkedip. "Selama bertahun-tahun, belum pernah ada seorang pun selain Tuan Enzo yang memiliki akses sidik jari ke suite itu."

Kepala Keamanan mengangguk pelan. "Berarti wanita itu memang istimewa."

Di layar monitor, Chantika tampak hendak melangkah pergi.

Namun, Enzo masih menggenggam jemarinya seolah enggan melepaskannya.

"Kalau kau tidak melepaskan tanganku," ucap Chantika sambil tersenyum tipis, "bagaimana aku bisa pergi?"

"Aku akan merindukanmu."

Enzo mendekat, lalu mengecup singkat bibir Chantika sebelum akhirnya melepaskan tangannya.

Di ruang kontrol, keempat orang yang menyaksikan rekaman itu saling berpandangan.

Operator menelan ludah. "Saya belum pernah melihat Tuan Enzo seperti itu."

Kepala Keamanan mengangguk mantap. "Ingat baik-baik wajah wanita itu. Mulai hari ini, perlakukan dia sebagai tamu kehormatan."

Manajer Hotel menambahkan dengan suara tenang, "Jika suatu saat beliau datang sendiri, pastikan seluruh staf memberikan pelayanan terbaik. Jangan sampai terjadi kesalahan sedikit pun."

Seluruh petugas mengangguk serempak.

"Baik, Pak."

 

...🔸🔸🔸...

..."Sidik jari bisa membuka sebuah pintu, tetapi hanya ketulusan yang mampu membuka hati seseorang."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Saking Nyaman-nya di Kelonin Enzo, membuat Chantika ke siangan lagi... 😁😁😁
Ass Yfa
Enzo udah manggil istriku..kayak stlah kejadian mlm itu..Enzo udah melegalkan perniahannya deh..nyuruh asistennya daftarin secara negara
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lankutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Maaf Kak Nana... Ini maksudnya gimana ya Kak Nana? Kalimat Chsntika ysng mengatakan "Dia hak pernah memintaku berhenti dari Pekerjaan" Aku bingung di bagian "Hak" itu loh Kak Nana... 😁😁😁🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Ssmangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Betul Sekali Chsntika... Karena Map itulah, kau di jebak oleh adikmu sendiri tau... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Gampang Enzo... Tarok aja harga dirimi di bokongmu sendiri... 😂😂😂 Gampang kan? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Kalau ada kalimat begini, pasti afa hal buruk yang akan terjadi nih... Perasaanku mulai nggk enak nih Kak... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Aku sudah ketimggalan kauh mih Kak Nana... 😁😁😁 Jadi belum bisa lomen sampai puluhan komen... 😁😁😁 Ketinggalan jauh banget nih Kak... 😁😁😁🙏

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Tuan Rahardja nggk bisa Kamj tipu Saras... 😂😂😂 Dia bukan orang baru, di dunia bisnis... 😂😂😂 Sekaramg Apalagi alasan ysng akan kamu berikan? ha? 😂😂😂

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Maaf Kak Nana... kalimat ini Maksudnya gimana ya Kak 'Darinya berkerut samar' atau 'Dahinya berkerut samar' Kak Nana? 😁😁😁 Aku bingung nih Kak Nana... 😁😁😁
Sugiharti Rusli
apalagi dia sebentar lagi juga jadi calon menantu yang sangat bucin sama putri kamu itu🤩🤩🤩
Sugiharti Rusli
tenang saja tuan Rahardja, setelah tahu kecurangan dari calon investor yang diajukan si Saras, ada calon investor lain yang lebih kompeten sih nanti😅😅😅
Sugiharti Rusli
mana bikin perintah dadakan dan juga dengan waktu yang mepet pulak, sepertinya kamu memang sudah teruji Marco😂👏👏
Sugiharti Rusli
namanya juga bos besar yah, tapi tenang saja dan berharap sama calon nyonya bis yang lebih manusiawi😄😄😄
Sugiharti Rusli
sabar yah Marco dengan sifat bos kamu yang terkadang suka seenaknya sendiri😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!