Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.
Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.
Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.
Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.
Seorang penegak hukum menikahi penjahat?
Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Sidik Jari Sang Nyonya
Kepala Keamanan segera mengalihkan pandangannya ke layar monitor.
"Itu Marko... asisten pribadi Tuan Enzo."
Manajer Hotel ikut mendekat. Di layar CCTV terlihat Marko berdiri di depan pintu suite pribadi Enzo sambil membawa beberapa kantong belanja dan sebuah tas kecil.
Suasana mendadak hening.
Manajer Hotel dan Kepala Keamanan saling berpandangan.
Sesaat kemudian, Kepala Keamanan kembali menatap layar yang kini hanya memperlihatkan pintu kamar yang masih tertutup rapat.
"Apa yang dibawa asistennya itu?" gumam Manajer Hotel.
Operator memperbesar gambar. "Sepertinya beberapa kantong belanja, Pak. Ada juga tas kecil."
Kepala Keamanan mengernyit. "Sayang kameranya terlalu jauh. Tulisannya tidak terlihat."
Klek.
Pintu kamar terbuka.
"Bos, ini barang yang Bos minta. Obatnya sudah saya belikan. Ada yang diminum, ada juga yang dioles."
Saat menyerahkan kantong belanja, tanpa sadar Marko melirik ke arah dalam kamar.
"Apa yang kau lihat?" suara Enzo terdengar datar.
Marko spontan menarik kembali pandangannya.
"Sudah bosan kerja?"
Marko langsung menelan ludah. "Maaf, Bos."
Pintu kamar perlahan kembali tertutup.
"Hampir saja," gumam Marco sambil mengelus dadanya.
Di ruang kontrol CCTV, suasana mendadak hening.
Kepala Keamanan masih menatap layar yang kini hanya memperlihatkan pintu kamar yang telah tertutup rapat.
"Sepertinya... wanita itu masih berada di dalam."
***
Di kamar hotel, Enzo menghampiri Chantika, lalu menyodorkan dua paper bag dan sebuah kantong kecil.
"Ini pakaian dan obatmu. Kalau butuh bantuan, katakan saja."
"Terima kasih." Chantika menerimanya, lalu berjalan perlahan menuju kamar mandi.
"Perlu kubantu?" tanya Enzo.
Chantika menggeleng kecil. "Jangan. Tubuhku justru akan makin kaku kalau gak digerakkin."
Enzo hanya mengangguk. Namun, tatapannya terus mengikuti Chantika hingga wanita itu menghilang di balik pintu kamar mandi.
Setelah itu, Enzo mengambil sebuah ponsel baru yang masih berada di dalam kotaknya.
Ia membuka segelnya, lalu memasang kartu SIM. Selama beberapa menit, jemarinya bergerak cepat di atas layar, mengatur beberapa fitur khusus yang hanya diketahui orang-orang kepercayaannya.
Setelah memastikan semuanya berfungsi, barulah ia menyimpan nomor teleponnya sebagai kontak pertama.
"Semoga aku tidak pernah perlu menggunakan ini," gumamnya pelan.
Beberapa menit kemudian, Chantika keluar dari kamar mandi dengan pakaian baru yang dibelikan Enzo. Atau lebih tepatnya dibelikan Marco menggunakan uang Enzo.
Enzo menghampirinya. "Ini ponselmu." Ia mengulurkan ponsel itu. "Aku sudah menyimpan nomorku di sana."
Chantika menerimanya sambil tersenyum tipis. "Terima kasih."
Sesaat kemudian ia berkata, "Aku butuh dokumen pribadimu untuk mengurus izin menikah di institusiku."
"Sebentar."
Enzo berjalan menuju nakas, membuka lacinya, lalu mengambil sebuah map berisi dokumen identitas. Setelah itu ia menyerahkannya kepada Chantika.
Wanita itu membukanya dan memeriksanya beberapa saat sebelum kembali menutup map tersebut.
"Apa pekerjaanmu?" tanyanya penasaran.
Enzo menjawab tenang, "Aku CEO Arkana Global Logistics."
"CEO Arkana Global Logistics?" ulang Chantika dengan tatapan tak percaya.
Ia tak pernah menyangka pria yang semalam bersamanya ternyata adalah CEO salah satu perusahaan ekspor-impor terbesar di negeri ini.
"Aku seperti mendapat durian runtuh," batinnya.
"Ada apa?" tanya Enzo sambil melangkah mendekat. "Tidak menyangka suamimu seorang CEO?"
"Ya." Chantika mengangguk pelan. "Dan aku jadi bisa membayangkan berapa banyak wanita yang mengelilingimu."
Enzo merangkul pinggang Chantika. "Tidak ada yang bisa membuatku tertarik selain kamu."
Ia menunduk hendak mengecup bibir Chantika.
Namun, Chantika buru-buru menahan bibir pria itu dengan telunjuknya, lalu mendorongnya pelan.
"Aku gak percaya pria sepertimu gak pernah dekat dengan wanita."
Enzo menarik perlahan tangan Chantika dari bibirnya. "Waktu yang akan membuktikannya."
Ia mengambil sebuah kartu berwarna hitam dari dompetnya, lalu mengulurkannya kepada Chantika.
"Ini kartu untukmu." Enzo bahkan menyebutkan PIN-nya tanpa ragu. "Anggap saja uang bulananmu."
Mata Chantika langsung membesar. "Kartu hitam..." batinnya. "Royal sekali."
"Kapan kita tinggal bersama?" tanya Enzo santai.
"Hah?" Chantika menatapnya tak percaya. "Kita bahkan belum menikah."
"Cepat atau lambat kita akan menikah. Jadi tidak masalah kalau mulai sekarang kita tinggal bareng."
"Tidak." Jawaban Chantika terdengar tegas. "Kita gak akan tinggal bersama sebelum resmi menikah."
Wajah Enzo tampak sedikit kecewa. "Kalau begitu... kita harus sering ketemu."
"Kenapa?"
Enzo kembali memeluk pinggang Chantika. "Aku takut merindukanmu."
Chantika terkekeh pelan. "Kita baru bertemu semalam. Bahkan baru saling mengenal pagi ini. Bagaimana bisa secepat itu merindukanku?"
"Karena aku menyukaimu sejak pandangan pertama." Enzo menatap lurus ke matanya. "Kamu satu-satunya wanita yang gak bikin aku merasa risih."
Chantika mengernyit. "Maksudmu?"
"Entahlah. Sejak dulu aku selalu gak nyaman jika terlalu dekat dengan wanita, apalagi mereka yang mendekatiku karena jabatan, uang, atau ingin menjadi pasangan CEO. Aku sendiri gak tahu penyebabnya."
Chantika terdiam. Di dalam sorot mata pria itu, ia melihat kesungguhan.
"Aneh..." batinnya. "Kenapa aku juga merasa begitu dekat dengannya? Apa hanya karena kejadian semalam?"
Ia tak menemukan jawaban.
"Kalau begitu... aku pergi dulu," pamit Chantika akhirnya.
"Tunggu sebentar."
Enzo menggenggam tangan Chantika, lalu membawanya ke panel elektronik di samping pintu kamar.
"Aku akan mendaftarkan sidik jarimu."
"Untuk apa?"
"Supaya kapan pun kamu datang, kamu bisa langsung masuk ke suite ini."
Chantika memandangnya beberapa detik, tetapi akhirnya membiarkan Enzo merekam sidik jarinya.
Di ruang kontrol CCTV...
"Pak! Pintu kamar Tuan Enzo terbuka," ujar salah seorang operator.
Kepala Keamanan dan Manajer Hotel langsung mengalihkan perhatian ke monitor.
"Itu wanita semalam," gumam Manajer Hotel.
"Benar, Pak," sahut Kepala Keamanan. "Wanita yang sebelumnya terlihat keluar dari area kamar Tuan Bryan."
Beberapa saat kemudian mereka melihat Enzo berdiri di samping panel pintu.
"Beliau sedang mendaftarkan sidik jari wanita itu," ujar operator.
Manajer Hotel menatap layar tanpa berkedip. "Selama bertahun-tahun, belum pernah ada seorang pun selain Tuan Enzo yang memiliki akses sidik jari ke suite itu."
Kepala Keamanan mengangguk pelan. "Berarti wanita itu memang istimewa."
Di layar monitor, Chantika tampak hendak melangkah pergi.
Namun, Enzo masih menggenggam jemarinya seolah enggan melepaskannya.
"Kalau kau tidak melepaskan tanganku," ucap Chantika sambil tersenyum tipis, "bagaimana aku bisa pergi?"
"Aku akan merindukanmu."
Enzo mendekat, lalu mengecup singkat bibir Chantika sebelum akhirnya melepaskan tangannya.
Di ruang kontrol, keempat orang yang menyaksikan rekaman itu saling berpandangan.
Operator menelan ludah. "Saya belum pernah melihat Tuan Enzo seperti itu."
Kepala Keamanan mengangguk mantap. "Ingat baik-baik wajah wanita itu. Mulai hari ini, perlakukan dia sebagai tamu kehormatan."
Manajer Hotel menambahkan dengan suara tenang, "Jika suatu saat beliau datang sendiri, pastikan seluruh staf memberikan pelayanan terbaik. Jangan sampai terjadi kesalahan sedikit pun."
Seluruh petugas mengangguk serempak.
"Baik, Pak."
...🔸🔸🔸...
..."Sidik jari bisa membuka sebuah pintu, tetapi hanya ketulusan yang mampu membuka hati seseorang."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Beliau sudah mempersiapkannya sejak dulu,jadi jangan pernah mimpi permainanmu akan berhasil,di samping itu ada Menantu yang sangat berkuasa yang di takuti semua orang yaitu Enzo...
Lihat nanti rumah tangga Saras dan Bryan bakal seperti apa.
Pak Raharja Ayah yang sangat bijak dalam bersikap terhadap putrinya.
Kalau lamarannya ditolak - Chantika pasti tidak menyangka jawaban dari Enzo 😄.
Kalau ngomong aneh-aneh lalu dihajar Papanya Chantika, Enzo gak apa-apa. Asal setelahnya, putri kesayangannya diserahkan padanya.
Mas kawin dari Enzo untuk Chantika masih rahasia.
Kejutan apa yang akan diberikan Enzo untuk seluruh keluarga Chantika sehubungan dengan mas kawin nanti di saat lamaran.
Sampai segitu yakinnya Enzo setelah acara lamaran dan mas kawin yang diberikan. Sampai berkata - tidak akan ada jalan lagi untuk membiarkan Chantika lepas darinya.
Pastinya, keselamatan Chantika akan aman apabila bersama Enzo.
Chantika pasti sangat terharu, Enzo benar-benar memikirkan semuanya.
Enzo sempat terkejut ketika Chantika langsung memeluknya, dan mengucap terima kasih.
Enzo mengatakan - jangan berterima kasih. Karena tugasnya sebagai suami adalah memastikan istrinya selalu pulang dengan selamat.
Chantika bergumam - masih saja bilang aku istrimu. Dan berkata seperti biasanya - kita belum menikah 😄.
Enzo menawarkan bantuannya. Sekelas Ezo saja merasa tidak tenang kalau Chantika berhadapan dengan Bryan. Enzo tahu sepak terjang Bryan - investor playboy.
Enzo benar-benar ingin melindungi Chantika. Ia memberi Chantika perhiasan serta jam tangan yang dirancang sedemikian rupa, terpasang alat untuk melindungi Chantika yang seorang polisi.
q juga curiga kekayaan Bryan itu muncul Dari mana .. atau jangan² dia dalang Dari semua barang selundupan atau illegal itu Dan victor atau siapa itu hanya kaki tangannya saja
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Enzo saat ini hanya perlu mengawasi saja tidak ikut campur dulu selagi Pak Raharja bisa mengatasinya...
jika nanti Saras nikah dengan Bryan..
tentu saja Enzo dan Chantika bakal pindah ke Apartement Enzo yang lebih nyaman tidak ada parasit