Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.
Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.
Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Di benaknya muncul berbagai pertanyaan yang tak mampu ia jawab. "Apakah Mas Reno mulai bosan denganku? Atau... jangan-jangan pikirannya memang masih tertinggal pada Nadia?" Semakin dipikirkan, semakin besar rasa takut yang menguasainya.
Untuk pertama kalinya, Karin merasa posisinya sebagai istri tidak lagi aman. Ia khawatir kehilangan Reno, bukan kepada perempuan yang tadi menemaninya di tempat hiburan, melainkan kepada bayang-bayang masa lalu yang tak pernah benar-benar hilang dari hati suaminya.
Menjelang subuh, Karin masih terduduk di kursi yang sama. Matanya sembap karena menangis semalaman, tetapi ia tidak juga mengantuk. Ia hanya menatap Reno yang masih tertidur, sambil bertanya dalam hati, apakah rumah tangga yang ia perjuangkan selama ini perlahan sedang runtuh di depan matanya sendiri.
Keesokan paginya, Reno terbangun dengan kepala terasa berat akibat pengaruh alkohol semalam. Belum sempat ia benar-benar sadar, ia melihat Karin sudah duduk di ruang tamu dengan wajah dingin. Di atas meja tergeletak beberapa lembar catatan pengeluaran dan bukti transfer yang selama ini ia simpan.
"Akhirnya bangun juga," ucap Karin tanpa menoleh.
Reno mengusap pelipisnya. "Karin... soal semalam..."
"Aku nggak mau bahas perempuan-perempuan itu dulu." Karin menatap Reno tajam. "Aku mau bahas uang."
Reno mengernyit. "Uang apa?"
Karin mendorong map berisi bukti-bukti itu ke hadapan Reno. "Semua uang yang selama ini aku keluarkan."
Reno membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat daftar pengeluaran yang menurut Karin digunakan untuk membantu usaha, kebutuhan rumah tangga, hingga berbagai giveaway yang pernah mereka lakukan. Tentu saja ada perjanjian pinjam meminjam di sana dan ditandatangani Reno. "Aku mau semuanya kembali."
Reno mengangkat wajahnya. "Karin, kamu tahu sendiri keadaanku sekarang."
"Itu bukan urusanku."
"Kafe sudah tutup."
"Aku tahu."
"Tabunganku juga habis."
"Itu juga aku tahu." Karin menatap Reno tanpa sedikit pun melembut. "Tapi itu bukan alasan untuk mengabaikan hakku."
Reno mengembuskan napas panjang. "Aku benar-benar nggak punya uang sebanyak itu sekarang."
"Itu berarti cari."
"Dari mana?"
"Itu tanggung jawabmu."
Suasana kembali sunyi. Reno menyandarkan tubuhnya ke kursi. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan beratnya semua konsekuensi yang datang bertubi-tubi. Usahanya telah sekarat hingga akhirnya berhenti beroperasi, tabungannya terkuras, nama baiknya hancur, dan kini ia juga dihadapkan pada tuntutan pengembalian uang yang tidak sanggup ia penuhi. Ia memandang rumah yang kini terasa begitu asing. Dulu ia meninggalkan Nadia dengan keyakinan bahwa hidupnya akan jauh lebih bahagia. Kini, yang tersisa hanyalah tumpukan masalah, utang yang belum terselesaikan, dan masa depan yang tampak semakin suram. Reno menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Untuk pertama kalinya, ia mengakui dalam hati bahwa dirinya benar-benar telah jatuh. Bukan hanya kehilangan usaha dan penghasilan, tetapi juga kehilangan kepercayaan orang-orang di sekitarnya. Kebangkrutan yang ia alami bukan sekadar soal uang, melainkan runtuhnya kehidupan yang selama ini ia bangun di atas keputusan-keputusan yang keliru.
Karin membanting map berisi bukti transfer ke atas meja. "Aku sudah cukup bersabar, Mas."
Reno yang masih terlihat lemas hanya menatap map itu tanpa berkata apa-apa. "Selama ini aku terus membantu kamu. Aku kasih uang untuk usaha, kebutuhan rumah, bahkan berbagai pengeluaran yang kamu bilang demi masa depan kita."
Reno menarik napas panjang. "Karin, kondisiku sekarang memang lagi sulit."
"Sulit bukan berarti bebas dari tanggung jawab."
"Kamu tahu sendiri kafe sudah tutup."
"Itu urusanmu." Suara Karin meninggi. "Aku nggak mau dengar alasan lagi! Kembalikan semua uangku."
"Aku belum sanggup."
"Aku kasih waktu."
Reno menatap istrinya dengan wajah tegang.
"Kalau kamu tetap nggak mengembalikan uangku..." Karin menunjuk Reno dengan tatapan tajam. "...aku laporkan kamu ke polisi."
Ucapan itu membuat Reno membeku. "Kamu serius?"
"Sangat serius."
"Kita ini suami istri. Aku ayahnya Abel!"
"Justru karena itu, aku tahu persis ke mana uangku mengalir." Ruangan kembali hening.
Reno tidak menyangka ancaman itu keluar dari mulut perempuan yang selama ini selalu berdiri di sisinya. Ia ingin menjelaskan bahwa usahanya benar-benar sudah runtuh dan dirinya tidak memiliki kemampuan untuk segera mengembalikan seluruh uang tersebut.
Namun di mata Karin, semua penjelasan itu tidak lagi berarti. Baginya, uang yang telah ia keluarkan adalah satu-satunya cara mengikat Reno dan membuat keluarga Reno tunduk padanya.
Sementara Reno terduduk lemas di kursinya. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar sendirian menghadapi runtuhnya hidup yang selama ini ia bangun. Ancaman dari Karin menjadi pukulan terakhir yang membuatnya sadar bahwa bukan hanya usahanya yang bangkrut, tetapi juga kepercayaan dalam rumah tangga mereka yang kini berada di ambang kehancuran.
Karin masih berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Wajahnya menunjukkan kemarahan yang belum reda.
Reno hanya terdiam. Kepalanya masih terasa berat, tetapi ancaman Karin barusan membuatnya sepenuhnya sadar.
Setelah beberapa saat, Karin menarik napas panjang. "Sebenarnya... aku masih bisa mempertimbangkan untuk tidak melaporkan kamu."
Reno perlahan mengangkat kepalanya. "Maksudmu?"
Karin menatap Reno lekat-lekat. "Ada syaratnya."
"Syarat apa?"
"Pertama, kamu tidak boleh kembali mengejar atau berharap rujuk dengan Nadia." Karin melanjutkan, "Aku tahu kamu masih memikirkan dia. Jangan kira aku nggak sadar. Setiap kali Nadia muncul, sikapmu berubah."
"Itu tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Kalau begitu buktikan."
Reno menghela napas. "Kedua?"
"Kamu juga nggak boleh menginjakkan kaki lagi di tempat hiburan malam." Karin mengusap air matanya yang kembali menetes. "Semalam sudah cukup. Aku nggak mau menerima telepon dari orang asing lagi yang bilang suamiku sedang mabuk dan harus dijemput." Suasana kembali hening. Karin menatap Reno dengan mata yang memerah. "Aku masih mau mempertahankan rumah tangga ini. Tapi aku juga punya batas kesabaran."
Reno memejamkan mata sejenak. "Aku mengerti."
"Jangan cuma mengerti."
Reno mengangguk pelan. "Aku akan berusaha."
Karin tidak menjawab. Baginya, janji saja tidak lagi cukup. Setelah semua yang terjadi, ia hanya ingin melihat apakah Reno benar-benar akan berubah atau kembali mengulangi kesalahan yang sama. Karin yang semula hendak melangkah pergi tiba-tiba berhenti. "Oh ya... ada satu syarat lagi."
Reno mengangkat kepalanya. "Apa lagi?"
Karin menatap Reno dengan sorot mata tajam. "Keluarga kamu harus menghormatiku."
Reno mengernyit. "Maksudnya?"
"Belakangan ini ibu kamu, Mbak Rida, bahkan adikmu, sikap mereka sudah keterlaluan." Reno terdiam mendengarkan. "Mereka meremehkanku."
"Karin..."
"Mereka bicara seolah-olah aku penyebab semua masalah. Bahkan mereka berani membanding-bandingkan aku dengan Nadia."
Reno mengembuskan napas pelan. "Mereka hanya..."
Karin langsung memotong. "Aku nggak peduli apa alasan mereka." Nada bicaranya semakin tegas.n"Aku nggak mau kejadian seperti itu terulang lagi."
Reno menatap istrinya tanpa berkedip. "Lalu kamu maunya bagaimana?"