NovelToon NovelToon
Cinta Terbagi : Istri Kontrak CEO Dingin

Cinta Terbagi : Istri Kontrak CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Cacctuisie

“Anda sudah gila?!” Nasya menutup bibirnya menggunakan kedua tangannya.

“Kegilaan yang menguntungkan bukan? Hanya sebatas kontrak saja. Saya tidak akan menggunakan status suami untuk menyentuhmu,” ujar Elgan dan mendekat ke telinga Nasya. “Rasanya tidak sudi juga jika bukan karena terpaksa.” Elgan menjauh setelah berbisik.

Elgan memberikan kartu namanya. Kemudian, dia meninggalkan Nasya yang masih mematung dengan menggenggam pemberiannya tadi. Nasya menggemnya erat, air matanya terus saja mengalir, semakin deras seperti hujan malam ini.

“Kenapa semuanya begitu menyedihkan? Dikhianati pujaan hati yang katanya berjanji akan menikahi dan sekarang apa? Nikah kontrak? Begitu menyakitkan menjadi miskin. Tidak ada pilihan, meski ingin memilih,” batin Nasya meratapi hidupnya.

Bagaimana kelanjutan kisah rumit ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cacctuisie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CTIKCD - Sakit

Sepulang dari bekerja, Nasya masih kepikiran dengan pesan Revan. Hal ini menjadi beban tersendiri untuknya. Dengan langkah tergesa, Nasya menaiki tangga agar segera menuju ke kamarnya. Nasya memang belum sempat membuka kado yang Revan berikan. Nasya merasa bersalah akan hal itu.

“Jam tangan dan yang dimaksud botol permen ini? Kertas digulung-gulung kecil begini?” Nasya lebih penasaran dengan isi yang ada di botol permen tersebut dibandingkan mencoba jam tangan yang diletakkan di tempatnya kembali.

Nasya mengambil gulungan paling besar dan membukanya. “Alasan aku harus tetap memilih kamu dan terus memperjuangkan kamu. Dibuka dan baca satu-satu, ya. Sesuai tanggal jadian kita, dua puluh tujuh,” ucap Nasya membaca kertas yang ditulis tangan itu

Ingatan itu masih jelas bahwa tulisan yang tertuang di kertas yang dipegangnya adalah tulisan Elgan. Nasya memandangi gulungan kertas yang jumlahnya tidak sedikit. Senyuman itu terasa hambar untuk membukanya satu per satu.

“Satu, Aku salah. Titik. Satu, maaf karena hancurin kepercayaan kamu. Satu, maaf aku udah bikin kamu nangis. Satu, maaf aku udah bohongin dan nyakitin kamu. Satu, pokoknya aku satu-satunya yang salah. Satu permintaan untuk memperbaiki. Satu, usaha aku bakal nabung terus buat halalin kamu. Satu, janji bakalan lebih jujur. Satu, aku yang dulu sampai sekarang cuma mau sama kamu.” Nasya meletakkan kertas yang dipegangnya, tak sanggup melanjutkan sampai selesai.

Nasya yang duduk di dekat tempat tidurnya, bersandar di tepi ranjang. Air matanya mengalir begitu saja. Mencengkeram kertas yang ditulis Revan. Tertunduk lemah dalam ketidakberdayaannya akan sebuah pilihan. Keresahan antara terus memberikan pengharapan atau terus membiarkan hatinya yang mulai luluh pada suaminya.

“Aku bakalan jadi orang jahat banget. Aku gak bermaksud begitu, tapi aku juga bingung harus bagaimana. Apa aku lepasin kamu aja ya, Van? Aku gak mau jadi sumber rasa sakit nantinya. Sekarang yang salah bukan kamu aja, aku juga salah gak jujur tentang keadaanku,” ucap Nasya penuh penyesalan.

***

“Ada masalah apa? Di hari pertama kerja kok gak semangat?” tanya Elgan di sela-sela makan malam mereka.

Nasya menoleh ke arah Elgan yang sedang memperhatikannya. “Bu—bukan gak semangat, Mas. Aku sedikit pusing aja. Maaf ya bikin khawatir, tenang

kerjaan aman, kok,” jawab Nasya berusaha meyakinkan.

“Wajar kok ini kan pertama kalinya buat kamu. Cuma kalau ada apa-apa, kamu bisa bicarakan sama aku. Jangan dipendam sendirian, ya?” sahut Elgan.

“Iya, Mas. Siang besok aku diminta Mama untuk berkunjung ke rumah, Mas. Mungkin aku bakalan langsung pulang sore kalau gak ya selesainya bantu-bantu kerjaan rumah,” jawab Nasya.

Belum lama sebelum Nasya melangkah ke meja makan. Nasya yang masih membuka ponselnya mendapat pesan dari mertuanya untuk datang ke rumah. Sejujurnya ada rasa senang, tapi juga takut bersamaan. Mengingat perlakuan mertuanya yang tidak pernah baik.

“Mau aku temenin?” tanya Elgan yang tersirat kekhawatiran.

“Gak perlu. Aku bisa sendiri,” jawab Nasya.

“Kayaknya kamu udah perlu kendaraan. Kamu maunya apa? Apa mau sopir aja yang antar jemput?” sahut Elgan yang mulai terus memikirkan Nasya.

“Ojek cukup sih, Mas. Cuma agak boros, ya? Kalau sopir kayaknya gak perlu juga. Aku gak mau ngerepotin juga,” balas Nasya yang tidak enak dengan perhatian Elgan yang bernilai harganya.

“Baiklah, berarti kamu pilih naik ojek dan panas-panasan. Aku udah kasih tawaran, tapi kamu gak pergunakan dengan baik,” jawab Elgan sedikit kecewa.

“Kamu boleh perhatian dengan nilai besar begini kalau kamu gak bahas dan menyelesaikan kontrak nikah kita sekarang. Mas, aku udah bilang, kan. Aku gak mau diperhatiin berlebihan, aku itu udah mulai ada rasa. Kalau nantinya kamu gak tanggung jawab sampai kontrak kita selesai. Aku bakalan merasa dicampakkan padahal aku juga diuntungkan. Tetapi tetap saja, tadinya tanpa rasa tiba-tiba berpisah ada rasa itu sakit. Tolong jangan ya, Mas,” ungkap Nasya menjelaskan sejelas-jelasnya, dia takut terperangkap sendirian dengan perasaannya pada Elgan.

Elgan terdiam. Tak bisa menjawab ungkapan Nasya yang selalu jujur ketika menatap matanya. Semuanya dapat dijelaskan melalui matanya. Elgan belum bisa memberikan kepastian, dia hanya berada di tahap nyaman dekat dengan Nasya. Selebihnya, Elgan tak bisa menjelaskan.

“Kamu gak bisa jawab, kan? Aku yang salah, Mas. Makanya, aku ingin memperjelas saja. Aku takut hanya aku yang semangat sendirian di hubungan ini. Aku yang malah bawa perasaan.”

***

“Tante Nasya … kok tiba-tiba datang ke rumah nenek? Ih senangnya,” sapa Lala melihat Nasya yang datang sambil membawa buah-buahan.

“Tante mau ketemu sama nenek, dong. Lala kok disini?” balas Nasya.

“Lala sudah lama berada di rumah nenek. Kata mama, Lala harus tenang dulu disini dan baru akan dijemput mama kalau urusan mama sudah selesai,” jelas Lala yang antusias bercerita, lebih tepatnya dia senang karena kedatangan Nasya.

Nasya mengangguk-angguk seakan memahami ucapan Lala. Semenjak waktu itu, waktu yang mengubah segalanya. Lala yang seharusnya berada di rumah menikmati kebersamaan dengan orang tuanya. Nasya tidak tahu kelanjutan kabar Iren dan suaminya. Namun, dia cukup merasa sedih.

“Ma …,” sapa Nasya sembari menghampiri Alina yang sengaja mengabaikannya meski tahu Nasya datang.

“Lala, tolong temani kakek di atas, ya. Katanya tadi butuh teman, Nenek mau ada penting sama orang,” ucap Alina yang tak ingin Lala mengetahui perbuatannya nanti.

Lala mengangguk. “Baik, Nenek. Tante Nasya, Lala tinggal dulu, ya. Jangan lupa ajak Lala main, ya.” Pamit Lala sambil berjalan memandangi Nasya.

“Iya, Lala. Tante masih lama kok,” jawab Nasya sambil melirik pelan ke arah mertuanya yang terlihat tidak senangnya.

Setelah Lala pergi, Alina tak mengatakan apapun malah meninggalkan Nasya. Nasya yang datang karena panggilan Alina, terpaksa mengikutinya. Alina duduk di sofa bagian ruang tamu. Nasya menghela napas pelan. Memilih duduk tepat di hadapan Alina.

“Ma, ini Nasya bawakan buah-buahan segar. Mas Elgan bilang, Mama suka makan buah,” ujar Nasya memberikan bingkisan yang lumayan berat itu.

Nasya tersenyum senang saat Alina menerimanya. Seperti ada harapan meski kecil untuk mendekati mertuanya. Namun, ketika diangkat Alina. Dia sengaja menjatuhkannya. Buah itu pun berserakan di lantai. Alina berpura-pura terkejut juga panik sampai menginjak salah satunya jeruk dan anggur. Kedua buah itu pun berserakan.

Nasya segera beranjak dari tempat duduknya. Mengumpulkan buah yang masih bagus ke dalam plastik yang dibawanya. Akan tetapi, Alina tersenyum miring seraya meletakkan alas kakinya di atas punggung tangan Nasya, menekannya kuat sampai Nasya mengaduh kesakitan.

“Bawaan murahan ini tidak layak kamu berikan. Semahal apapun kalau berada di tanganmu semuanya akan bernilai sama. Sama-sama rendahan,” tegas Alina melihat ke depan dengan tatapan datar.

“Aduh, tangan Nasya, Ma. Maaf kalau Nasya salah, hanya saja ini saran dari Mas Elgan. Kalau Mama tidak suka, Nasya akan beritahu suami Nasya,” kata Nasya menahan rasa sakit.

Alina masih tak mengangkat kakinya. “Tidak usah membawa nama Elgan! Dia tidak akan membelamu! Lagipula, beraninya kamu ikut campur di keluarga orang lain? Ingin cari muka?!” bentak Alina.

Dari kejauhan, Lala tertegun. Langkahnya cepat menghampiri Nasya. Dia terduduk dan berusaha mengangkat kaki neneknya yang menggunakan sepatu tinggi. Seakan sudah direncanakan oleh Alina sejak awal. Di rumah menggunakan sepatu yang di bagian bawahnya keras dan juga lumayan tinggi.

“Nenek, tangan Tante Nasya terinjak!” pekik Lala yang mengejutkan dan Alina segera mengalihkan kakinya dengan rasa panik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!