NovelToon NovelToon
Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Komedi
Popularitas:422
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.

━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Slamet membuka mata.

Langit di atasnya berwarna biru jernih. Tidak ada plafon kusam. Tidak ada kipas angin yang berdecit. Tidak ada suara motor lewat dari luar jendela.

Yang ada hanya pepohonan tinggi, dedaunan yang bergerak pelan ditiup angin, dan dua bulan yang menggantung bersamaan di angkasa seolah tidak ada yang salah dengan pemandangan itu.

Slamet menatap dua bulan itu cukup lama.

"Oke," gumamnya pelan.

Slamet perlahan duduk. Punggungnya pegal. Tanah di bawahnya lembap dan berbau tanah basah yang segar. Sandal jepitnya tinggal satu di kaki kanan. Kaki kirinya telanjang dan sudah kotor.

Dia menoleh ke kiri. Hutan.

Ke kanan. Hutan juga.

Ke depan. Masih hutan.

Slamet menghela napas pendek.

"Mimpi," katanya, lalu memejamkan mata.

Tiga detik berlalu.

Dia membuka mata kembali. Dua bulan masih ada. Hutan masih ada. Tanahnya masih lembap.

"Bukan mimpi."

Dia berdiri, menepuk-nepuk celananya, lalu menekan perut yang masih terasa tidak nyaman.

Prioritasnya saat ini hanya satu, dan itu tidak ada hubungannya dengan dua bulan di langit atau hutan aneh di sekelilingnya.

"WC," bisiknya. "Harus ada WC."

Dia mulai berjalan.

Tiga kilometer ke arah barat, di titik yang tidak bisa dilihat dari tempat Slamet berdiri, dua sosok bergerak di antara pepohonan dengan kecepatan yang tidak wajar untuk ukuran makhluk hidup manapun.

Aura Bella Fiora berhenti di atas dahan pohon setinggi dua puluh meter, matanya menyapu kanopi hutan di bawahnya dengan ekspresi santai yang hampir terlihat seperti sedang piknik.

"Masih bersih," gumamnya. "Tidak ada pergerakan Theocracy dalam radius dua kilometer."

Di dahan sebelahnya, Mare Bello Fiore berdiri diam. Jubah hitam ungunya tidak bergerak meski angin cukup kencang di ketinggian itu. Matanya tidak melihat ke arah yang sama dengan Aura. Dia menatap ke selatan.

"Mare?"

"A-Ada yang aneh, Nee-chan."

Aura menoleh. "Aneh gimana?"

"A-Aku tidak bisa merasakannya dengan benar. Bukan karena dia tersembunyi. Tapi seperti... mataku tidak tahu harus melihat apa."

Aura terdiam beberapa detik.

"Kamu nggak bisa mengidentifikasinya?"

"I-Iya."

"Tapi kamu tahu ada sesuatu di sana, kan?"

Mare mengangguk pelan.

Aura mengernyitkan dahi. Itu terdengar aneh. Bahkan sangat aneh.

Tapi Aura adalah tipe yang lebih suka melihat langsung daripada menduga-duga.

"Ya udah, kita cek."

"Tapi laporan untuk Ainz-sama—"

"Lima menit. Sekalian." Aura sudah melompat ke dahan berikutnya sebelum Mare sempat merespons.

Mare menghela napas kecil, lalu mengikuti.

Slamet menemukan sungai kecil setelah berjalan sekitar sepuluh menit.

Airnya jernih. Alirannya tenang. Tepiannya tertutup semak-semak yang cukup rapat.

Sempurna.

Dia tidak perlu memikirkan lebih lanjut. Semak-semak itu adalah solusi, dan dia butuh solusi sekarang.

Beberapa menit kemudian, Slamet duduk di tepi sungai dengan perasaan lega yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Dia membasuh tangan dan wajahnya dengan air dingin yang segar, lalu menghela napas panjang.

Dalam radius lima ratus meter dari tempat dia duduk, seekor ular besar yang sedang berburu berbalik arah tanpa alasan yang bisa dia pahami sendiri. Tiga ekor rusa melompat menjauh dari arah sungai dengan kepanikan yang tidak proporsional. Burung-burung di dahan pohon terdekat tiba-tiba terbang serempak, meninggalkan dahan kosong yang bergetar.

Slamet tidak memperhatikan semua itu.

Dia sedang fokus keroncongan.

"Lapar," keluhnya sambil menekan perut. "Ini dunia isekai apa dunia siksaan."

Aura berhenti mendadak di atas dahan pohon setinggi lima belas meter, tepat di saat seekor elang besar terbang terbirit-birit melewatinya dari arah selatan.

Dia menatap elang itu sampai menghilang di balik kanopi.

"...Elang tadi kabur."

"A-Aku tahu," kata Mare pelan dari belakangnya.

"Elang tidak kabur dari apapun."

"..."

Mereka berdua diam sejenak.

Dari arah yang ditinggalkan elang itu, tidak terdengar suara pertarungan. Tidak ada ledakan sihir. Tidak ada deru angin dari serangan jarak jauh. Tidak ada apapun yang bisa menjelaskan kepanikan seekor predator bersayap level dua puluhan.

Aura melompat turun ke tanah dengan ringan. Mare mengikuti.

Mereka melangkah ke arah selatan dengan lebih hati-hati dari sebelumnya, dan Aura yang biasanya ribut pun memilih tutup mulut.

Semakin dekat, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang salah dengan area ini. Bukan salah dalam artian bahaya. Lebih tepat disebut salah dalam artian bahwa dunia di sekitar satu titik tertentu sedang bereaksi terhadap sesuatu yang tidak seharusnya ada.

Pohon-pohon masih berdiri. Tanah masih padat. Sungai masih mengalir.

Tapi senyap.

Terlalu senyap untuk hutan yang seharusnya penuh suara.

Mare berhenti. Dia menarik lengan baju Aura.

Di kejauhan, terlihat sesosok manusia duduk di tepi sungai. Pakaiannya aneh. Rambutnya acak-acakan. Posturnya tidak menunjukkan kewaspadaan apapun.

Aura menyipitkan mata.

"Itu... manusia biasa?"

"A-Aku tidak bisa mengenalinya," bisik Mare.

"Maksudnya?"

Mare menggenggam ujung jubahnya tanpa sadar.

"Sama seperti yang tadi aku bilang. Aku tidak bisa mengetahui apa pun tentangnya. Rasnya tidak terlihat. Kekuatan hidupnya juga tidak jelas."

"Apa dia menyembunyikannya?"

"A-Aku tidak tahu..."

Mare menunduk sedikit.

"Tapi rasanya bukan seperti itu."

Aura menatap sosok di tepi sungai itu lebih lama.

Manusia itu sedang menepuk-nepuk perutnya sambil bergumam sesuatu yang tidak bisa mereka dengar dari jarak ini. Gerakannya lamban. Santai. Sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia sadar sedang diamati oleh dua makhluk level seratus.

"Dia tidak defensif," kata Aura.

"Mungkin tidak sadar."

"Atau tidak peduli."

Mare tidak langsung menjawab. Kedua kemungkinan itu sama-sama mengkhawatirkan, meski dengan alasan yang berbeda.

Yang pertama berarti manusia itu ceroboh luar biasa.

Yang kedua berarti manusia itu tidak menganggap apapun di hutan ini sebagai ancaman yang perlu diwaspadai.

Termasuk mereka.

"K-Kita lapor dulu," kata Mare akhirnya.

Aura ingin protes. Dia lebih tertarik mendekat dan melihat langsung. Tapi dia tahu Mare benar. Ainz-sama sedang menunggu hasil pengintaian, dan mereka sudah cukup lama mampir ke sini.

"Oke," kata Aura, meski nada suaranya terdengar tidak terlalu oke. "Tapi kita pantau terus dari sini dulu."

Di perkemahan kecil yang mereka dirikan sejak kemarin, tidak jauh dari jalur yang akan membawa mereka lebih dalam ke wilayah Elf, Ainz duduk sendirian memeriksa peta wilayah yang dikumpulkan selama perjalanan.

Maka Ainz melakukan hal yang paling sering dia lakukan ketika tidak ada yang bisa dia kerjakan.

Dia memikirkan apakah ada sesuatu yang seharusnya dia khawatirkan tapi belum dia sadari.

Biasanya jawabannya adalah ya.

Sihir Message menyala.

"Ainz-sama."

Suara Aura. Ainz mengenali nada itu. Santai, tapi ada sedikit sesuatu di tepinya yang tidak sepenuhnya bisa disebut santai.

"Laporkan."

"Pengintaian barat bersih. Tidak ada pergerakan Theocracy."

"Baik."

"Tapi..." Aura berhenti sebentar. "Kami menemukan manusia di selatan kamp. Mare bilang keberadaannya aneh."

Ainz terdiam.

Jika Mare yang mengatakan itu, berarti masalahnya bukan sekadar keberadaan manusia biasa.

Mare memiliki kemampuan observasi yang sangat baik.

Jika bahkan Mare merasa ada sesuatu yang salah, maka kemungkinan besar target tersebut tidak dapat diidentifikasi dengan normal.

Ada beberapa penjelasan yang bisa dia pertimbangkan. Kemampuan kamuflase yang sangat tinggi. Item yang memblokir deteksi. Atau sesuatu yang belum pernah dia temui sebelumnya.

Dari pengalamannya, kemungkinan ketiga selalu yang paling merepotkan.

"Jaga jarak," kata Ainz. "Pantau saja dulu. Jangan ada tindakan sebelum ada perintah."

"Mengerti."

"Dan Aura."

"Ya?"

"Jangan dekat-dekat."

Jeda sebentar.

"...Mengerti, Ainz-sama."

Ainz mendengar sesuatu di nada itu yang terdengar seperti kecewa.

Sambungan Message terputus.

Dari pengalamannya bermain YGGDRASIL dulu, ada satu kategori makhluk yang paling sulit diprediksi dan paling berbahaya untuk diabaikan.

Bukan monster langka. Bukan NPC tersembunyi.

Player.

Ainz menyilangkan jari-jari tulangnya.

Informasi masih terlalu sedikit. Tapi dia tidak akan mengambil keputusan apapun sampai dia tahu lebih banyak.

Di tepi sungai, Slamet akhirnya berdiri.

Perasaannya jauh lebih baik dari tadi. Perutnya sudah lebih tenang, meski keroncongan masih jelas terdengar.

Dia menatap sekeliling. Hutan. Pohon. Dua bulan yang masih betah menggantung di langit seolah sedang menunggu sesuatu.

"Oke," katanya pada dirinya sendiri. "Kita pikir dari awal."

Dia menggaruk kepala.

Satu, dia di tempat yang bukan dunianya. Itu sudah jelas.

Dua, dia tidak punya apa-apa kecuali kaos lusuh, celana pendek, satu sandal jepit, satu kertas dan hape yang tidak ada sinyalnya.

Tiga, dia lapar.

Empat, entah kenapa semua binatang di sekitar sini kabur.

Slamet menatap area sungai yang tiba-tiba terasa sangat sepi. Bahkan suara jangkrik pun tidak ada.

"Aneh juga," gumamnya.

Lalu dia mengangkat bahu.

Bukan urusannya.

Prioritas sekarang adalah cari makan, cari tempat berteduh, dan kalau bisa cari orang yang bisa dia tanyai soal situasi di sini.

Dia mulai berjalan mengikuti aliran sungai ke arah hulu. Kalau ada sungai, biasanya ada orang. Kalau ada orang, biasanya ada makanan. Logika sederhana yang tidak pernah benar-benar salah.

Dari jauh, dua pasang mata mengikuti setiap langkahnya.

Slamet tidak tahu itu.

Yang dia tahu, sandal jepitnya yang tersisa satu mulai terasa longgar di kaki kanan.

"Kalau copot juga, gue nyeker deh."

1
🏵YI FENG🐲
Anjay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!