Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.
Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.
Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.
Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.
Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.
Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.
Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Malam makin menua di kediaman mewah keluarga Widmer. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang kerja Abner.
Pria paruh baya itu duduk terkulai di sofa kulit hitamnya, menatap kosong ke arah gelas wiski di atas meja yang tak tersentuh.
Rasa kecewa yang teramat dalam meremukkan dadanya. Tatapan dingin Rossi, nada suara putrinya yang penuh kebencian, dan kalimat menohok bahwa Rossi tak lagi menganggapnya sebagai seorang ayah... terus bergema di dalam kepalanya bagaikan teror tanpa henti.
Abner sadar, caranya di masa lalu memang salah. Ia telah gagal melindungi darah dagingnya sendiri dari kekejaman Mariella. Ia membiarkan Rossi terisolasi di desa dingin itu selama bertahun-tahun demi menyembunyikannya dari Bahaya.
Namun, disisi lain, melihat putri kandungnya memperlakukannya bagaikan orang asing yang hina... Abner tidak bisa menerima kenyataan itu.
"Tidak mungkin..." gumam Abner dengan suara serak, mencengkeram jemarinya hingga memutih. "Rossi adalah gadis yang lembut dan penurut. Dia tidak akan pernah menatapku seperti itu jika bukan karena dipengaruhi!"
Di mata Abner, Rossi adalah korban. Pria Vale-Knight itu pasti telah memaksa dan memanipulasi putrinya!
Rowan telah memanfaatkan kepolosan Rossi, menggunakan gadis itu sebagai alat untuk membalas dendam pada keluarga Widmer, dan doktrin licik itu telah meracuni pikiran putrinya.
Abner menegakkan tubuhnya, matanya yang memerah menyalakan pendar amarah yang brutal. Sampai kapan pun, ia tidak akan pernah rela melihat pria lain—terutama seorang Vale-Knight—berpura-pura menjadi pelindung bagi putrinya.
"Kau pikir kau bisa merebut putriku begitu saja, Knight?" desis Abner penuh ancaman pada kegelapan malam. "Aku yang memberinya kehidupan, dan aku tidak akan biarkan pria berengsek sepertimu menguasai jalan pikirannya!"
Sementara itu, di Mansion Utama Vale-Knight...
Keheningan malam yang damai menyelimuti kamar utama sayap timur.
Setelah keriuhan dan tawa konyol bersama Nyonya Suzzy mereda, suasana kamar kini benar-benar tenang. Lampu tidur di sudut ruangan memancarkan pendar keemasan yang redup, menghempaskan bayangan halus di atas ranjang berukuran king-size.
Rossi tertidur pulas di balik selimut tebal bernuansa krem. Wajah cantiknya tampak begitu damai tanpa beban. Napasnya teratur dan halus, menandakan betapa lelapnya ia setelah melewati harinya yang penuh gejolak emosi.
Di samping ranjang, Rowan duduk menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. Pria tegap itu mengenakan kaus hitam santai, menatap wajah istrinya yang terlelap.
Perlahan, Rowan mengulurkan tangannya yang tegap. Jemari panjangnya mengusap lembut helai rambut halus Rossi yang menutupi pipinya.
Sebuah senyuman terukir di bibir Rowan—sebuah senyuman yang begitu hangat, tulus, dan sarat akan rasa cinta yang mendalam, jenis senyuman yang belum pernah diperlihatkan oleh pria dingin itu kepada siapa pun di dunia ini.
Melihat Rossi yang tertidur tenang di sisinya membuat Rowan merasa seluruh perjuangannya menghadapi kejahatan Cathez bernilai setimpal. Rasa leganya begitu nyata.
Namun... kehangatan di wajah Rowan tak bertahan lama.
Secara perlahan, senyuman hangat di bibir pria tegap itu memudar. Garis-garis wajahnya kembali mengeras, dan pendar lembut di matanya berganti menjadi tatapan yang teramat tajam, dingin, dan menelisik—bagaikan tatapan seorang predator yang baru saja menyadari mangsanya sedang memainkan sebuah trik.
Rowan menarik kembali tangannya. Ia menegakkan posisi duduknya, menatap lurus ke arah bulu mata Rossi yang tampak sedikit bergetar di bawah pendar lampu tidur.
"Berhenti berpura-pura, Rossi..."
Suara bariton Rowan mengalun rendah, sangat dingin, dan menusuk hingga ke tulang. Tidak ada lagi nada kehangatan dari pria yang beberapa jam lalu mengucap kalimat cinta di atas karpet.
Napas halus Rossi mendadak berhenti sejenak.
Bulu matanya bergetar lebih kencang, sebelum akhirnya perlahan-lahan kedua matanya terbuka. Rossi tidak benar-benar tertidur pulas; ia merasakannya, ia mendengar keheningan yang mendadak berubah menjadi ancaman di sekitarnya.
Rossi berbalik perlahan, menatap Rowan yang kini duduk tegap di sampingnya dengan tatapan tanpa ekspresi.
"Rowan... ada apa?" bisik Rossi dengan suara serak khas bangun tidur, mencoba mengulurkan tangannya untuk menyentuh lengan suaminya.
Namun, Rowan menepis tangan halus itu secara dingin. Pria itu mengalihkan pandangannya, tersenyum sinis yang amat menyakitkan.
"Kau tidak mencintaiku, kan?" cetus Rowan dengan nada datar yang mengerikan.
Rossi terpaku di atas ranjang, dadanya seketika terasa dihantam batu besar. "Rowan... apa yang kau bicarakan?"
"Jangan membodohiku lagi!" potong Rowan, matanya yang tajam menatap lurus ke dalam iris mata Rossi, mencari kebohongan di sana. "Kata-kata cintamu... tatapan matamu yang penuh kesetiaan malam ini saat menghadapi Abner... semuanya hanya pertunjukan, bukan?"
Rossi membelalakkan matanya tak percaya. "Rowan, demi Tuhan, aku—"
"Kau tidak mencintaiku, Rossi!" tegur Rowan dengan suara menekan yang bergetar oleh rasa cemas dan amarah yang bertumpuk. "Kau hanya ingin memanfaatkanku! Kau memanfaatkanku, memanfaatkan nama besar keluarga Vale-Knight, agar kau memiliki kekuatan untuk membalas rasa sakitmu pada ayahmu dan Mariella, kan?!"
Kalimat itu meluncur bagaikan belati yang merobek kehangatan malam mereka.
Rowan menyunggingkan tawa hampa yang dipenuhi rasa pahit, memijat pelipisnya.
Kenangan buruk masa lalu tentang bagaimana Cathez membodohinya selama bertahun-tahun mendadak meluap kembali, meracuni logika berpikirnya.
"Sudah cukup aku dimanfaatkan..." desis Rowan, tatapannya membakar Rossi dengan kebencian dan kekecewaan yang mendalam. "Setelah Cathez membodohiku dengan alibi pesan terakhir Reagen... rupanya kau pun sama saja. Kau datang ke hidupku dengan kepolosan palsu ini!"
Rowan menyeringai getir, menatap Rossi yang kini terduduk kaku dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Keluarga kalian memang benar-benar licik, Rossi..." pungkasi Rowan dengan nada dingin yang teramat kejam. "Darah Widmer yang mengalir di tubuhmu tidak akan pernah bisa berbohong."
Ruangan bernuansa krem itu mendadak menjelma menjadi penjara es yang paling mengerikan bagi Rossi.
Setiap patah kata yang meluncur dari bibir Rowan terasa seperti sembilu yang menguliti hatinya tanpa ampun.
Udara di sekitarnya terasa begitu tipis, membuat dada Rossi sesak hingga sulit untuk sekadar meraup napas. Air mata yang tadinya hanya menggenang di pelupuk mata kini menetes deras, membasahi pipinya yang mendadak sepucat kapas.
"Rowan..." suara Rossi bergetar hebat, pecah di tengah keheningan malam yang menyiksa. "Bagaimana bisa... bagaimana bisa kau berpikir seperti itu tentangku?"
Rossi mencoba bangkit, menyelimuti tubuh gemetarnya dengan selimut tebal sembari menatap pria yang beberapa jam lalu memeluknya dengan begitu hangat di atas karpet.
Pria yang mengaku mencintainya, pria yang tertawa lepas dengannya di hadapan Nyonya Suzzy, kini berubah menjadi sosok asing yang teramat asing dan mematikan.
"Apakah seluruh pengakuanku di hadapan Ayah tadi hanyalah sandiwara di matamu?" bisik Rossi dengan kepedihan yang teramat sangat. "Aku mempertaruhkan seluruh hidupku, Rowan! Aku memutus hubungan dengan satu-satunya orang yang memiliki ikatan darah denganku di dunia ini demi berdiri di sampingmu... dan kau menganggapnya sebagai rencana licik?!"
Rowan tidak bergeming.
Pria tegap itu tetap duduk kaku, rahangnya mengetat rapat.
Di dalam benaknya, kecurigaan dan trauma kepahitan masa lalu sedang berperang hebat dengan perasaannya sendiri. Logika dingin Rowan yang terbiasa dikhianati oleh Cathez terus membisikkan bahwa ketulusan yang terlalu sempurna dari seorang Widmer adalah sebuah ancaman.
"Lalu bagaimana aku bisa percaya, Rossi?" sahut Rowan, suaranya tetap datar namun sarat akan intonasi sinis yang menusuk.
"Kau tumbuh di bawah bayang-bayang penderitaan yang diciptakan oleh keluargamu sendiri. Kau memiliki seribu alasan untuk membenci Abner dan Mariella. Dan secara kebetulan... kau bertemu denganku. Pria yang memiliki kekuasaan dan armada hukum untuk menghancurkan mereka semua. Apakah itu benar-benar murni kebetulan? Atau kau sengaja membiarkan dirimu terikat denganku agar aku menjadi senjatamu?"
"Cukup, Rowan! Cukup!" jerit Rossi pelan, menutup kedua telinganya dengan telapak tangan yang gemetar.
Kata-kata itu terlalu kejam untuk ditanggung oleh jiwa yang baru saja merasakan arti kedamaian dan kasih sayang.
Rasa sakit dituduh sebagai wanita licik dan pemanfaat oleh suami yang amat dicintainya terasa ribuan kali lebih menyiksa dibandingkan siksaan fisik yang pernah ia terima dari Mariella di desa dulu.
Rossi menurunkan tangannya, menatap Rowan dengan pandangan terluka yang teramat dalam—pandangan dari seorang wanita yang seluruh rasa percayanya baru saja dihancurkan hingga menjadi debu.
"Kau benar, Rowan..." pungkasi Rossi dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi dingin, sangat hampa. "Darah Widmer memang mengalir di tubuhku. Tapi tidak pernah sekalipun aku menggunakan hatiku sebagai barang dagangan atau alat pembalasan dendam."
Rossi menyibakkan selimutnya, perlahan merosot turun dari ranjang king-size yang terasa begitu dingin itu. Kakinya yang telanjang menyentuh karpet bulu yang tebal—karpet tempat mereka beberapa jam lalu tertawa bersama.
Kini, ingatan akan tawa itu terasa bagaikan ejekan yang paling menyakitkan.
"Kalau keberadaanku di sini hanya membuatmu merasa dimanfaatkan... kalau statusku sebagai seorang Widmer membuatmu memandangku sama menjijikkannya dengan mantan istrimu, Cathez..." Rossi menyapu air matanya kasar, menatap Rowan yang masih membeku di atas ranjang. "Maka pernikahan ini adalah sebuah kesalahan besar untukmu."
Rowan menaikkan pandangannya, matanya yang tajam menangkap bayangan tubuh Rossi yang melangkah menjauh menuju ke arah pintu keluar kamar.
Ada pendar kepanikan kecil yang mendadak muncul di kedalaman mata hitam Rowan melihat tindakan istrinya, namun gengsi dan prasangka liar di kepalanya menahan pria itu untuk bergerak.
Rossi memegang gagang pintu kayu mahoni yang dingin. Ia membalikkan tubuhnya sedikit, memberikan tatapan terakhir pada pria yang telah merebut dan meremukkan hatinya dalam satu malam yang sama.
"Aku mencintaimu, Rowan Vale-Knight. Sangat mencintaimu," desis Rossi dengan ketulusan yang teramat pahit. "Tapi aku tidak akan pernah mengemis kepercayaan dari pria yang memandangku sebagai seorang penipu."
Klek.
Rossi membuka pintu kamar dan melangkah keluar menuju koridor mansion yang sepi dan gelap, meninggalkan Rowan sendirian di dalam kamar yang mendadak terasa begitu luas, hampa, dan mencekam.
Di dalam kamar yang remang, Rowan tetap terduduk mematung. Keheningan kembali melingkupi ruangan itu, namun kali ini keheningan itu terasa begitu berat, menekan dadanya hingga terasa sesak.
Pria tegap itu menatap pintu yang terbuka lebar, lalu menurunkan pandangannya ke arah karpet bulu di samping ranjang.
Bayangan senyuman polos Rossi, derai tawa renyahnya saat menggodanya, dan pendar mata tulus gadis itu saat melindunginya dari Abner kembali berputar hebat di kepalanya—menghantam seluruh pertahanan prasangka dingin yang baru saja ia bangun.
Satu detik... dua detik...
"Sial!" umpat Rowan rendah, mencengkeram sprei ranjang hingga robek.
Rasa penyesalan yang teramat dingin mendadak merayap cepat dari dasar hatinya, membakar seluruh logika picik yang tadinya menguasai pikirannya.
Pria tegap itu baru saja Sadar... dalam upayanya melindungi diri dari pengkhianatan masa lalu, ia baru saja meremukkan hati satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya tanpa syarat.
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰