NovelToon NovelToon
Sinyal Terakhir

Sinyal Terakhir

Status: tamat
Genre:Sci-Fi / Dunia Masa Depan / Fantasi / Tamat
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Mirage Ink

SINYAL TERAKHIR

Sinopsis

Tahun 2487.

Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?

Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.

Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 – Dua Suara

"Navigator..."

"Kami akhirnya menemukanmu."

Suara itu bergema di seluruh Pos Observasi Tujuh.

Tidak keras.

Namun terdengar begitu jelas.

Anehnya...

suara itu tidak membuat kepala mereka sakit seperti bisikan sebelumnya.

Kapten Idris mengangkat mikrofon komunikasi.

"Siapa kalian?"

Beberapa detik tidak ada jawaban.

Cahaya putih di tengah bola hitam terus berdenyut.

Lalu suara itu kembali terdengar.

"Kami menunggu sangat lama."

Victor Hale langsung melangkah maju.

"Jangan jawab pertanyaan mereka."

Idris menoleh.

"Kenapa?"

"Mereka selalu memulai seperti itu."

Di ESS Horizon, Leo mengernyit.

"Tunggu."

"Ada yang aneh."

Rina melihat monitor.

"Apa?"

"Suara ini berbeda."

"Berbeda bagaimana?"

Leo menjawab perlahan.

"Bisikan sebelumnya terdengar memaksa."

"Yang ini..."

"...terdengar tenang."

Mira segera memeriksa aktivitas otaknya.

"Hasilnya berbeda."

"Dalam arti?"

"Gelombang otaknya normal."

Ruangan menjadi sunyi.

Kael memandang Victor.

"Kau yakin ini suara yang sama?"

Victor tidak langsung menjawab.

Ia hanya terus menatap bola hitam.

"Aku tidak yakin."

"Lalu?"

"Dulu kami tidak pernah mendengar suara seperti ini."

Adrian yang berada di ruang inti segera menghubungi semua orang.

"Kapten."

"Aku mendeteksi dua jenis gelombang."

"Dua?"

"Ya."

"Satu berasal dari bola hitam."

"Yang satu lagi?"

Adrian memperbesar grafik.

"Sumbernya..."

"...berasal dari kapal hitam."

Semua saling berpandangan.

Kapal hitam.

Bola hitam.

Keduanya sama-sama memancarkan sinyal.

Namun frekuensinya berbeda.

AURA segera menganalisis.

"Hasil sementara."

"Kedua sinyal saling mengganggu."

"Saling mengganggu?"

"Benar."

"Seolah-olah..."

"...keduanya sedang berusaha berkomunikasi."

Kapten Idris menggenggam kunci kristal.

Cahaya biru pada kunci mulai semakin terang.

Pada saat yang sama...

cahaya putih di pusat bola hitam juga bertambah kuat.

Victor tiba-tiba berseru.

"Jangan angkat kunci itu!"

Namun sudah terlambat.

Tanpa disadari...

tangan Idris bergerak sendiri.

Kunci kristal itu terangkat beberapa sentimeter.

Seluruh kapal Pioneer langsung bergetar.

Di ruang bawah tanah...

kapal hitam mengeluarkan suara yang jauh lebih keras.

Seluruh dinding di sekitarnya mulai bergeser.

Lapisan logam yang selama ini menutup badan kapal perlahan terbuka.

Sofia membelalak.

"Itu..."

Adrian langsung berdiri.

"Hanggar."

Selama lebih dari satu abad...

kapal itu ternyata tersembunyi di dalam hanggar raksasa.

Bukan di dalam gua alami.

AURA memberikan laporan baru.

"Hanggar otomatis aktif."

"Persiapan peluncuran dimulai."

"Waktu menuju peluncuran..."

"...enam puluh menit."

Kapten Idris langsung berkata,

"Batalkan."

Jawaban AURA membuat semua terdiam.

"Perintah ditolak."

"Kenapa?"

"Protokol Navigator telah dimulai."

"Tidak dapat dibatalkan."

Reza memukul sandaran kursinya.

"Jadi sekarang kita dipaksa berangkat?"

Victor menggeleng.

"Bukan."

"Lalu?"

"Kalian dipaksa memilih."

Di ESS Horizon...

Darius tiba-tiba menerima laporan dari Owen.

"Mesin utama gagal dimatikan."

"Maksudmu?"

"Reaktor bekerja sendiri."

"Bagaimana bisa?"

"Aku juga tidak tahu."

Lampu-lampu di Horizon mulai menyala bergantian.

Seolah kapal itu sedang melakukan pemeriksaan otomatis.

Niko memandang layar.

"Kapten..."

"Horizon juga bergerak."

"Apa?"

"Kapal kita bergerak sendiri."

ESS Horizon perlahan meninggalkan orbitnya.

Bukan menuju Pioneer.

Bukan menjauhi bola hitam.

Melainkan...

menuju pintu masuk hanggar kapal hitam.

Kael langsung berdiri.

"Kenapa Horizon menuju ke sana?"

AURA menjawab sebelum siapa pun sempat berbicara.

"Seluruh aset misi sedang dikumpulkan."

"Aset?"

"ESS Horizon."

"ESV Pioneer."

"Pos Observasi Tujuh."

"Kapal Navigator."

"Sinkronisasi mencapai lima puluh persen."

Victor memejamkan mata.

"Persis seperti yang tertulis di catatan Elias."

Kapten Idris menoleh.

"Apa lagi yang tidak kau ceritakan?"

Victor membuka matanya perlahan.

"Waktu kapal Navigator bangun..."

"...seluruh misi tidak lagi berada di bawah kendali manusia."

Suasana mendadak sunyi.

Semua orang mulai menyadari satu hal.

Sejak kunci kristal diaktifkan...

mereka bukan lagi pihak yang mengendalikan misi.

Mereka...

sedang mengikuti rencana yang telah disusun seseorang...

lebih dari satu abad yang lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!