Saat Azka berbalik untuk menuju kelasnya sendiri, langkahnya mendadak terhenti. Di ujung koridor yang ramai, seorang murid baru berdiri memegang peta denah sekolah. Rambutnya sebahu, matanya bulat jernih—persis seperti mata bocah yang dulu suka duduk di dahan kamboja.
Gadis itu menoleh. Pandangan mereka bertabrakan.
Waktu seolah berhenti. Suara bising siswa-siswi yang lalu-lalang mendadak senyap di telinga Azka.
"Azka...?" bisik gadis itu. Suaranya bergetar, memanggil nama yang selalu ia simpan rapi dalam doanya selama tiga tahun terakhir.
"Anggi?" suara Azka nyaris tak keluar.
Anggi tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. Ia melangkah maju dengan binar kebahagiaan yang tak mampu dibendung. Tiga tahun menunggu, pindah kembali ke kota ini, dan akhirnya takdir membawanya tepat ke hadapan laki-laki yang memegang janjinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir Di Lorong SMA
Perpisahan itu datang terlalu cepat. Saat kelulusan SD, ayah Anggi—seorang pegawai negeri—mendapat surat pindah tugas mendadak ke luar daerah. Tak ada waktu untuk berpamitan secara layak. Hari di mana truk pengangkut barang berhenti di depan rumah Anggi adalah hari terakhir Azka melihat senyum gadis itu.
"Aku pasti balik, Ka! Jangan lupain aku!" teriak Anggi dari kaca mobil yang perlahan bergerak melintasi jalanan berdebu.
Azka berlari mengejar mobil itu sampai napasnya memburu di batas desa, namun mobil itu akhirnya menghilang di belokan jalan raya.
Tiga tahun masa SMP berlalu bagai mimpi buruk yang senyap. Zaman itu, komunikasi tak semudah sekarang untuk anak seusia mereka. Nomor telepon berganti, alamat hilang, dan kesibukan masing-masing perlahan membangun tembok tinggi. Tak ada kabar, tak ada pesan, tak ada suara. Yang tersisa di dada Azka hanyalah sebentuk rasa rindu yang lambat laun membeku menjadi kebiasaan untuk merelakan.
Di tahun terakhir SMP, Azka berkenalan dengan Sheila—gadis populer, manis, dan selalu ada di saat Azka membutuhkan teman bicara. Berawal dari rasa nyaman, hubungan mereka berlanjut hingga jenjang SMA. Azka percaya bahwa janji masa kecilnya dengan Anggi hanyalah kenangan manis anak-anak yang tak perlu dianggap serius.
Aroma tanah basah Dusun Karang Suka yang dulu selalu identik dengan tawa Anggi perlahan kehilangan gaungnya di kepala Azka. Hari berganti bulan, dan bulan merambat menjadi tahun. Tiga tahun masa SMP berjalan seperti gulungan film lama yang warna dan suaranya makin pudar.
Di awal kepindahan Anggi, Azka masih sering berdiri di bawah pohon kamboja tua itu. Ia memandang ke arah belokan jalan raya, berharap keajaiban kecil membawanya kembali. Namun, setiap kali hembusan angin sore lewat, tak ada suara renyah Anggi yang menyapa. Yang ada hanya sepi.
Lama-kelamaan, ingatan manusia memiliki batasnya sendiri untuk bertahan pada bayang-bayang.
Wajah Anggi yang dulu begitu jelas—lesung pipit kecilnya saat tertawa, binar matanya yang bulat jernih—mulai kabur di benak Azka. Suara Anggi yang bersumpah menautkan kelingking di bawah pohon kamboja perlahan teredam oleh bisingnya kehidupan remaja yang baru. Azka tidak membenci Anggi, ia hanya mulai kelelahan menyimpan rindu pada seseorang yang tak pasti wujudnya.
Hingga akhirnya, nama "Anggi" tak lagi menjadi luka yang menusuk, melainkan sekadar arsip lama yang tersimpan rapi di sudut hatinya. Sebuah kenangan anak SD yang lucu, polos, dan... tak realistis untuk dipegang selamanya.
Di tengah pudarnya ingatan itu, hadir Sheila.
Sheila membawa warna baru yang nyata. Jika Anggi adalah janji samar dari masa lalu, maka Sheila adalah genggaman tangan yang hangat di masa kini. Sheila ada saat Azka butuh teman cerita setelah latihan basket, Sheila hadir dengan tawa renyah yang mengisi ruang-ruang kosong yang ditinggalkan Anggi. Rasa nyaman itu tumbuh alami, hingga tanpa sadar, tempat yang dulu dikosongkan untuk Anggi telah terisi penuh oleh kehadiran Sheila.
Azka telah berdamai dengan kenyataan. Ia yakin, Anggi pun pasti sudah melupakan janji kekanak-kanakan itu dan menjalani hidupnya sendiri di luar sana. Bagi Azka, masa lalu sudah selesai.
Sampai akhirnya... takdir memutuskan untuk mempermainkannya kembali di koridor SMA Bina Bangsa.
Hari pertama kelas satu SMA Bina Bangsa terasa riuh. Azka berjalan di koridor sekolah sambil menggandeng jemari Sheila. Mereka adalah pasangan favorit di angkatan baru itu—Azka yang tenang dan tinggi, bersanding dengan Sheila yang ceria.
"Ka, nanti istirahat antar aku ke kantin ya?" tumpah Sheila seraya tersenyum manis.
"Iya, nanti aku jemput di kelas kamu," jawab Azka lembut.
Saat Azka berbalik untuk menuju kelasnya sendiri, langkahnya mendadak terhenti. Di ujung koridor yang ramai, seorang murid baru berdiri memegang peta denah sekolah. Rambutnya sebahu, matanya bulat jernih—persis seperti mata bocah yang dulu suka duduk di dahan kamboja.
Gadis itu menoleh. Pandangan mereka bertabrakan.
Waktu seolah berhenti. Suara bising siswa-siswi yang lalu-lalang mendadak senyap di telinga Azka.
"Azka...?" bisik gadis itu. Suaranya bergetar, memanggil nama yang selalu ia simpan rapi dalam doanya selama tiga tahun terakhir.
"Anggi?" suara Azka nyaris tak keluar.
Anggi tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. Ia melangkah maju dengan binar kebahagiaan yang tak mampu dibendung. Tiga tahun menunggu, pindah kembali ke kota ini, dan akhirnya takdir membawanya tepat ke hadapan laki-laki yang memegang janjinya.
Namun, langkah Anggi perlahan melambat. Matanya turun melirik ke arah tangan kiri Azka—yang baru saja dilepaskan dari genggaman Sheila, beberapa detik sebelum mereka berhadapan.
"Kamu... masih ingat aku, kan?" tanya Anggi pelan, kini ada nada ragu di suaranya.
Azka membeku. Hatinya bergetar hebat antara rasa nostalgia yang membuncah dan rasa bersalah yang tiba-tiba menancap dalam. Di hadapannya berdiri janji masa kecilnya. Namun di belakangnya, ada kekasih yang kini memanggil namanya dari kejauhan.
"Azka! Kamu ketinggalan tempat pensilmu!" panggil Sheila sambil berlari kecil mendekat, lalu tanpa ragu merangkul lengan Azka dengan akrab. "Lho, ini siapa, Ka?"
Anggi menatap rangkulan tangan Sheila di lengan Azka. Senyum di wajah Anggi perlahan pudar, berganti dengan tatapan yang runtuh secara diam-diam.