Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.
"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.
Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.
Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Kekuasaan
Nara membelalakkan matanya, keterkejutan di wajahnya kini berubah menjadi senyuman culas. Ia melipat kedua tangannya di dada, mencoba menutupi rasa irinya saat melihat sosok pria tampan dan bertubuh tegap di samping Kirana. Tatapannya menajam, melemparkan tuduhan tanpa berkedip.
"Di usir Papa kamu malah jadi simpanan om-om ya?" cemooh Nara dengan nada tinggi yang disengaja agar terdengar oleh pengunjung lain di lorong itu. "Kasihan sekali, Kak. Baru semalam dibuang dari rumah, sekarang sudah jual diri demi bisa belanja barang mewah? Papa pasti makin jijik kalau tahu kelakuan anak kebanggaannya ini!"
Dua teman Nara saling berbisik di belakangnya, meski pandangan mereka masih tak bisa lepas dari pesona Devan yang begitu dominan.
Kirana merasakan darahnya mendidih. Tubuhnya gemetar menahan amarah yang membuncah atas tuduhan keji adik tirinya. Namun, sebelum Kirana sempat membuka suara untuk membela diri, Devan telah merapatkan cengkeramannya di pinggang Kirana—sebuah isyarat tenang yang menyuruhnya untuk diam.
Devan menyipitkan matanya. Aura dingin dan beracun merayapi udara di sekitar mereka, membuat suasana lorong supermarket yang tadinya hangat seketika terasa membeku. Pria itu menyunggingkan senyum tipis—senyuman penuh ancaman yang sanggup membuat nyawa siapa pun terancam.
"Simpanan?" Devan mengulang kata itu dengan intonasi rendah yang bergema berat.
Ia melangkah satu kali ke depan, membuat Nara refleks mundur setengah langkah karena tekanan intimidasi yang begitu kuat. Devan mengabaikan Nara, lalu merogoh dompet kulitnya dan mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam legam bertuliskan Black Card tanpa batas limit, lalu menyelipkannya ke jemari Kirana.
"Kau salah menilai orang, Gadis Kecil," ujar Devan dingin, tatapan elangnya mengunci Nara hingga gadis itu tak berani berkutik. "Wanita di sampingku ini adalah Kirana Devan Corp, istri sahku yang terdaftar secara hukum pagi ini. Dan jika kau atau keluargamu yang tidak tahu diri itu berani menyentuh atau merendahkannya lagi..."
Devan menggantungkan kalimatnya, menunduk sedikit menatap Nara dengan tatapan yang bisa membunuh.
"...aku pastikan perusahaan Husein Group yang sedang di ujung kebangkrutan itu akan benar-benar hancur dan rata dengan tanah sebelum matahari terbenam hari ini."
Kata-kata itu terucap dengan begitu tenang namun penuh mutlak. Nara terpaku, wajahnya seketika memucat pasi bagaikan mayat. Seluruh keangkuhannya hancur berkeping-keping di tempat.
Ancaman dingin dan nama Devan Corp yang terlontar dari mulut Devan bergema keras di telinga Nara. Wajah adik tiri Kirana itu memerah padam—campuran antara rasa malu, marah, dan ketakutan yang luar biasa. Seluruh keangkuhan yang tadinya ia pamerkan hancur tak berbekas.
Ia tahu betul siapa Devan Corp. Perusahaan raksasa itu adalah penguasa ekonomi yang sanggup menghancurkan bisnis ayahnya hanya dengan satu jentikan jari.
Dengan dada naik turun menahan emosi yang membakar dan bibir gemetar, Nara menghentakkan kaki tingginya ke lantai supermarket.
"Ayo pergi!" bentak Nara kasar pada kedua temannya.
Dengan wajah kesal dan kepalanya yang tertunduk menahan malu, Nara berjalan setengah berlari meninggalkan lorong cemilan tersebut. Kedua temannya buru-back mengekor di belakang, sesekali masih melirik cemas sekaligus kagum ke arah Devan sebelum akhirnya sosok mereka menghilang di balik pintu keluar supermarket.
Keheningan kembali menyelimuti lorong. Kirana menghela napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya. Ketegangan yang melilit tubuhnya perlahan mengendur, menyisakan rasa hangat dari jemari Devan yang masih melingkar protektif di pinggangnya.
Kirana mendongak, menatap profil wajah pria tegap di sampingnya. "Devan... terima kasih," bisik Kirana tulus. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang berdiri di depannya dan pasang badan melindungi harga dirinya.
Devan menunduk, menatap lekat mata jernih Kirana. Sorot mata elangnya yang tadi begitu tajam dan menakutkan kini mereda, kembali tenang dan tidak tertebak.
"Tidak ada yang boleh merendahkan istri seorang Devan," ujar pria itu dengan suara rendah yang tegas. Ia lalu mengambil kotak cemilan yang ada di tangan Kirana dan memasukkannya ke dalam troli. "Ayo selesaikan belanjamu. Kita pulang sekarang."