NovelToon NovelToon
Si Jenius Pasar Saham

Si Jenius Pasar Saham

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Theo, seorang bocah jenius dengan pemahaman luar biasa tentang pasar modal, lahir di keluarga yang serba kekurangan. Kehidupannya yang sederhana berbanding terbalik dengan kecemerlangannya dalam menganalisis grafik saham dan memprediksi tren pasar. Suatu ketika, sebuah kesempatan tak terduga datang saat ia menemukan sebuah buku tua berisi strategi investasi legendaris. Dengan modal nekat dan kecerdasannya yang tak tertandingi, Theo mulai merintis jalan dari nol. Ia bertekad membuktikan bahwa kecerdasan finansial dapat mengubah nasib, bahkan bagi anak dari keluarga miskin sekalipun, dan membawa keluarganya keluar dari jurang kemiskinan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Janji Perpustakaan dan Pertanda Tak Terduga

Theo kini telah menginjak kelas lima sekolah dasar. Bagi anak seusianya, kurikulum SD masih menyajikan tantangan yang menarik, penuh dengan cerita-cerita baru dan pelajaran yang membangkitkan rasa ingin tahu. Namun, bagi Theo, dunia pelajaran SD terasa seperti mengulang-ulang hal yang sama. Angka-angka yang diajarkan di kelas terasa terlalu sederhana, konsep-konsepnya terlalu dasar. Ia sering kali menemukan dirinya melamun di tengah pelajaran, pikirannya melayang ke dunia yang lebih kompleks, dunia di mana angka-angka menari dan membentuk pola-pola yang lebih rumit.

Ibu Ratna, meskipun lelah dengan rutinitas hariannya yang tak pernah berhenti, selalu memiliki mata yang jeli untuk melihat perubahan pada putranya. Ia melihat binar di mata Theo saat ia berhasil menyelesaikan soal matematika yang lebih sulit dari yang seharusnya, dan ia juga melihat kekecewaan yang tersirat saat Theo harus mendengarkan penjelasan yang sudah ia kuasai sepenuhnya. Ia mengerti betul perasaan Theo. Theo bukanlah anak biasa. Kecerdasannya adalah anugerah, sekaligus beban di tengah keterbatasan mereka.

Suatu sore, setelah Theo pulang sekolah dengan wajah yang sedikit muram, Ibu Ratna duduk di sampingnya. "Theo, kenapa wajahmu begitu?" tanyanya lembut, sambil mengusap rambut putranya.

Theo menghela napas. "Bu, pelajaran di sekolah itu... membosankan. Aku sudah tahu semuanya."

Ibu Ratna tersenyum, senyum yang menyimpan kehangatan dan pemahaman mendalam. Ia tahu, ini bukan kesombongan, melainkan kejujuran dari seorang anak yang otaknya berkembang lebih cepat dari usianya. Ia teringat pada Baskara, suaminya. Baskara juga memiliki semangat yang sama, rasa haus akan pengetahuan yang tak pernah terpuaskan. Ia yakin, kecerdasan Theo bahkan melampaui ayahnya. Baskara memiliki bakat dalam menganalisis pasar, tetapi Theo memiliki pemahaman yang lebih fundamental tentang angka itu sendiri, tentang bagaimana mereka bekerja, bagaimana mereka terhubung.

"Ibu mengerti, Nak," kata Ibu Ratna. "Kamu memang anak yang istimewa. Bagaimana kalau begini? Besok, setelah sekolah, Ibu akan mengajakmu jalan-jalan. Kita akan pergi ke perpustakaan kota yang lumayan besar itu. Di sana, kamu bisa menemukan banyak buku yang mungkin lebih menarik bagimu."

Mata Theo langsung berbinar. Perpustakaan! Ia pernah melihatnya dari kejauhan, sebuah bangunan megah yang tampak menyimpan lautan pengetahuan. "Benarkah, Bu? Ibu akan mengajakku?"

"Tentu saja," jawab Ibu Ratna mantap. Ia melihat harapan di mata putranya, dan hatinya dipenuhi tekad. Ia ingin memberikan Theo kesempatan untuk belajar dan berkembang, kesempatan yang tidak pernah ia dapatkan. Ia tahu, dengan kecerdasan yang dimiliki Theo, ia bisa melampaui keterbatasan ekonomi mereka. Ia hanya perlu wadah yang tepat untuk menyalurkan bakatnya.

Keesokan harinya, Theo berangkat sekolah dengan semangat yang membara. Ia belajar dengan lebih giat, menyelesaikan tugas-tugasnya dengan cepat, tak sabar menunggu jam sekolah usai. Ia membayangkan rak-rak buku yang menjulang tinggi, halaman-halaman penuh informasi, dan mungkin saja, buku-buku tentang keuangan yang bisa ia pelajari. Ia membayangkan dirinya tenggelam dalam lautan ilmu, menemukan rahasia-rahasia angka yang selama ini hanya ia rasakan keberadaannya.

Saat bel pulang sekolah berbunyi, Theo bergegas keluar kelas. Ia mencari ibunya di tempat biasa mereka bertemu. Ibu Ratna sudah menunggunya, senyumnya merekah saat melihat Theo berlari menghampirinya. "Sudah siap, Nak?"

"Siap sekali, Bu!" seru Theo, tak bisa menyembunyikan antusiasmenya.

Mereka berjalan bergandengan tangan, menyusuri jalanan yang mulai ramai oleh aktivitas sore. Perpustakaan kota tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka, hanya perlu beberapa kali belokan. Theo terus berceloteh tentang buku apa saja yang ingin ia baca, tentang topik apa saja yang ingin ia pelajari. Ibu Ratna mendengarkan dengan sabar, hatinya menghangat melihat kegembiraan putranya. Ia merasa sedikit lega, seolah memberikan Theo kesempatan ini adalah langkah awal yang penting untuk masa depan mereka.

Namun, saat mereka hampir tiba di persimpangan jalan yang akan membawa mereka langsung ke arah perpustakaan, sebuah pemandangan tak terduga menarik perhatian mereka. Di sudut jalan yang agak sepi, terlihat beberapa orang berkumpul. Suara gaduh dan teriakan terdengar dari arah kerumunan

...****************...

... Suara gaduh dan teriakan terdengar dari arah kerumunan. Theo, yang biasanya patuh dan tidak mudah teralihkan, merasakan rasa ingin tahu yang kuat. Ia menarik tangan ibunya, "Bu, ada apa di sana?"

Ibu Ratna ikut menoleh, raut wajahnya berubah sedikit waspada. Lingkungan mereka memang tidak selalu aman, dan kerumunan yang tampak tegang seperti itu sering kali bukan pertanda baik. Namun, melihat tatapan penasaran Theo, ia memutuskan untuk mendekat perlahan, menjaga jarak aman.

Saat mereka semakin dekat, mereka bisa melihat apa yang sedang terjadi. Beberapa orang, yang tampak seperti preman berbadan besar, sedang mengintimidasi seorang pria tua yang terlihat ketakutan. Pria tua itu, dengan pakaian lusuh namun bersih, tampak memegang sebuah tas kecil dengan erat. Para preman itu berusaha merebut tas tersebut, mendorong dan menarik pria itu dengan kasar.

"Serahkan saja tasmu, Kakek! Jangan bikin masalah!" bentak salah satu preman, suaranya menggelegar.

Pria tua itu gemetar, namun ia berpegang teguh pada tasnya. "Ini... ini barang penting. Saya tidak bisa memberikannya pada kalian!"

Theo merasa darahnya berdesir. Ia melihat ketidakadilan di depan matanya. Ia teringat bagaimana ayahnya, Baskara, pernah berjuang melawan ketidakadilan, meskipun akhirnya ia kalah. Namun, melihat pria tua itu berjuang sendirian, Theo merasa ada sesuatu yang harus ia lakukan, meskipun ia hanyalah seorang anak kecil.

"Bu, kita harus menolongnya!" seru Theo, suaranya tegas di tengah kebisingan.

Ibu Ratna terkejut dengan keberanian putranya. Ia tahu Theo berbeda, ia tahu Theo memiliki hati yang baik dan rasa keadilan yang kuat, sama seperti ayahnya. Namun, situasi ini berbahaya. "Theo, jangan, Nak. Ini berbahaya. Kita tidak tahu siapa mereka."

"Tapi mereka jahat, Bu! Mereka mau merampas barang orang tua itu!" Theo membalas, matanya memancarkan tekad yang kuat. Ia melihat bagaimana pria tua itu berjuang, dan ia merasa terhubung dengan perjuangan itu. Ia melihat ketakutan di mata pria tua itu, dan ia tahu bagaimana rasanya merasa tidak berdaya.

Salah satu preman menyadari kehadiran mereka. Ia menoleh ke arah Theo dan Ibu Ratna, seringai jahat terukir di wajahnya. "Apa urusan kalian? Pergi sana, atau kalian akan ikut merasakan akibatnya!"

Ancaman itu membuat beberapa orang yang tadinya hanya menonton menjadi semakin menjauh. Namun, Theo tidak gentar. Ia melangkah maju sedikit, matanya menatap tajam preman itu. "Kalian tidak boleh berbuat begitu!"

Preman itu tertawa sinis. "Oh ya? Siapa kau, bocah ingusan? Mau jadi pahlawan?" Ia melangkah mendekati Theo, siap mendorongnya.

Tepat pada saat itu, Ibu Ratna menarik lengan Theo dengan kuat. "Theo, cukup!" Ia tahu ia tidak bisa membiarkan putranya dalam bahaya. Namun, ia juga melihat sesuatu yang lain. Di tengah kepanikan dan ketakutan, pria tua itu berhasil melepaskan diri sejenak dari pegangan para preman. Ia membuka tas kecilnya, dan dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah buku bersampul kulit tua. Buku itu tampak usang, namun terlihat berharga.

Sebelum para preman bisa bereaksi, pria tua itu dengan sigap melemparkan buku itu ke arah Theo. "Tangkap, Nak! Jaga baik-baik!"

Theo, yang refleks melompat maju, berhasil menangkap buku itu dengan kedua tangannya. Buku itu terasa berat dan dingin. Ia belum sempat memproses apa yang terjadi, ketika para preman itu menyadari apa yang telah terjadi. Kemarahan membuncah di wajah mereka.

"Sialan kau, Kakek tua!" teriak salah satu preman. Mereka kini mengalihkan perhatian mereka sepenuhnya pada Theo, yang memegang buku itu.

"Lari, Theo! Lari!" teriak Ibu Ratna, panik. Ia menarik tangan Theo, mencoba membawanya menjauh dari situasi berbahaya itu.

Theo, dengan buku di tangannya, merasakan jantungnya berdebar kencang. Ia melihat ke belakang, pada pria tua yang kini dikepung oleh para preman. Ia melihat ibunya yang ketakutan. Dan ia memegang buku itu, sebuah benda yang entah mengapa terasa begitu penting.

Mereka berlari sekuat tenaga, menjauhi kerumunan yang semakin membesar. Suara teriakan dan ancaman masih terdengar

1
Tosari Agung
hati hati Rendra Theo dan anakmu yang belum tentu di pihakmu akan membuat serangan saham yang menukik 🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!