NovelToon NovelToon
Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kaya Raya
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.

Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.

Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 020: Kepala Dinas Korup

Dua hari setelah Joko Anwar membuat keributan di Restoran Rasa Nusantara, Kota Tanjung Emas tampak seolah kembali normal.

Pintu restoran sudah diperbaiki. Meja yang rusak diganti. Pecahan kaca sudah tidak terlihat. Hendro menempatkan satu orang di dekat area parkir dan satu orang lagi berkeliling antara Garuda Mart dan restoran. Seragam mereka sederhana, hanya kemeja gelap dan alat komunikasi kecil di telinga, tetapi para karyawan merasa sedikit lebih tenang.

Putri belum kembali bekerja penuh. Rian memintanya istirahat beberapa hari, dengan gaji tetap dihitung. Putri awalnya menolak sambil berkali-kali berkata, "Saya baik-baik saja, Pak," tetapi suara gemetarnya tidak bisa menipu siapa pun.

Rian duduk di kantor Garuda Mart, membaca laporan dari Darmawan.

Laporan polisi sudah masuk.

CCTV sudah disalin tiga kali.

Daftar saksi sudah rapi.

Kontrak Hendro sudah aktif.

Secara prosedur, semua berjalan benar.

Justru karena itu, Rian merasa tidak nyaman.

Orang seperti Joko Anwar tidak akan diam hanya karena satu laporan. Apalagi jika Hendro benar. Jika di belakang Joko ada Kepala Dinas Suharto, maka lawannya bukan lagi orang yang datang sambil menendang meja. Lawannya bisa datang memakai kop surat, stempel, dan alasan resmi.

Ponsel Rian bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Rian menatap layar beberapa detik, lalu mengangkat.

"Rian Prasetyo?"

Suara pria di seberang sana rendah, pelan, dan dingin. Bukan suara preman. Bukan suara orang yang marah di jalan. Ini suara orang yang terbiasa membuat orang lain menunggu di depan ruangannya.

"Saya Rian. Dengan siapa?"

"Saya Suharto. Kepala Dinas di Kota Tanjung Emas."

Rian bersandar sedikit.

"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"

Di ujung telepon, Suharto tertawa halus.

"Anak muda memang sekarang bahasanya sopan. Tapi tindakannya kadang terlalu berani."

"Saya kurang paham maksud Bapak."

"Joko. Keponakan saya. Katanya kamu melaporkan dia ke polisi."

Rian melirik Darmawan yang berdiri di sisi meja. Wajah Darmawan langsung berubah.

"Dia menyerang karyawan saya, merusak restoran, dan melakukan pemerasan. Laporan polisi adalah prosedur normal."

"Prosedur normal," ulang Suharto. Suaranya tetap halus. "Bagus. Saya juga orang prosedur, Mas Rian. Semua harus sesuai aturan."

Rian tidak menjawab.

"Kamu buka cukup banyak usaha di kota ini, ya? Garuda Mart. Restoran itu. Lalu cabang-cabang minuman madu kopi yang ramai sekali."

"Benar."

"Hebat. Anak muda sukses, saya ikut bangga."

Pujian itu terasa seperti pisau yang dibungkus kain.

Suharto melanjutkan, "Tapi orang sukses biasanya ingat satu hal. Di kota ini, semua gedung usaha butuh izin. Semua izin butuh pemeriksaan. Semua pemeriksaan butuh tanda tangan."

Jari Darmawan mengepal.

Rian tetap tenang. "Apakah Bapak sedang mengancam saya?"

Suharto kembali tertawa.

"Mengancam? Jangan kasar begitu. Saya hanya mengingatkan. Semua toko harus aman. Jalur evakuasi harus benar. Alat pemadam harus cukup. Dokumen latihan kebakaran harus lengkap. Kalau tidak lengkap, negara wajib melindungi masyarakat."

"Semua cabang kami sudah pernah lulus pemeriksaan resmi."

"Pemeriksaan bisa diulang."

Hening turun.

Suharto menutup percakapan dengan suara yang makin pelan.

"Tarik laporan itu. Datang baik-baik. Minta maaf kepada keluarga. Setelah itu, semua bisa tenang lagi."

"Tidak," kata Rian.

Kali ini Suharto diam.

Rian berkata satu per satu, "Saya tidak akan menarik laporan. Saya tidak akan meminta maaf karena karyawan saya dipukul. Kalau Bapak ingin memakai jabatan untuk melindungi pelaku kekerasan, silakan lakukan dengan tanda tangan Bapak sendiri."

Telepon langsung terputus.

Darmawan menarik napas tajam. "Pak Bos..."

Rian menurunkan ponsel. Di layar, notifikasi kecil muncul.

Rekaman panggilan tersimpan.

Ia memandang notifikasi itu beberapa detik, lalu menyimpan file ke folder bukti.

"Mas Darmawan," katanya, "kirim salinan semua sertifikat keselamatan kebakaran ke email kantor dan cadangan cloud. Sekarang."

"Siap, Pak Bos."

"Panggil Hendro juga."

Tiga jam kemudian, mobil Satpol PP berhenti di depan Garuda Mart.

Mereka datang bukan seperti orang yang ingin memeriksa. Mereka datang seperti orang yang sudah tahu hasil pemeriksaan.

Beberapa petugas turun dengan map, rompi lapangan, dan ekspresi kaku. Di belakang mereka, ada petugas dari dinas teknis yang memegang daftar cek. Pelanggan yang sedang berbelanja berhenti di lorong. Kasir menatap Darmawan dengan panik.

Hendro berdiri di dekat pintu, tubuhnya tegak.

"Selamat siang," kata salah satu petugas. "Kami melakukan pemeriksaan keselamatan kebakaran mendadak."

Darmawan maju dengan sopan. "Silakan, Pak. Kami punya dokumen pemeriksaan terakhir. Semua lulus."

Petugas itu tidak melihat dokumen yang disodorkan.

"Kami akan cek langsung."

Mereka masuk.

Lima belas menit pertama, semuanya tampak formal. Mereka melihat alat pemadam. Mengukur jarak lorong. Memotret pintu darurat. Tetapi semakin lama, alasan-alasan mulai muncul seperti duri dari balik karpet.

"Jalur ini kurang lebar."

"Tapi standar terakhir menyatakan cukup, Pak," kata Darmawan.

"Standar kami hari ini berbeda."

"Alat pemadam kurang."

"Kami punya lebih dari jumlah minimal."

"Penempatannya tidak ideal."

"Catatan simulasi kebakaran tidak lengkap."

"Itu ada di folder lain, Pak. Saya ambilkan."

"Tidak perlu. Sudah tercatat."

Rian tiba ketika lembar pemeriksaan pertama selesai ditandatangani.

Petugas utama menyerahkan kertas kepadanya.

"Berdasarkan temuan pemeriksaan, Garuda Mart dinyatakan tidak memenuhi standar keselamatan kebakaran sementara. Operasional dihentikan sampai perbaikan dan verifikasi ulang."

Rian membaca kertas itu.

Ada logo resmi. Ada nomor surat. Ada tanda tangan.

Kepala Dinas Suharto.

Di bawahnya, stempel merah.

"Kami punya dokumen lulus pemeriksaan bulan lalu," kata Rian.

"Bapak bisa mengajukan keberatan sesuai prosedur."

"Berapa lama?"

"Tergantung antrean dan kelengkapan dokumen."

Jawaban itu rapi. Terlalu rapi.

Seorang kasir muda mulai menangis. Pelanggan berbisik-bisik. Beberapa orang mengeluarkan ponsel, merekam suasana. Petugas Satpol PP meminta pelanggan keluar dengan tertib.

Hendro bergerak satu langkah, wajahnya mengeras.

Rian mengangkat tangan.

"Hendro."

Hendro berhenti.

"Jangan sentuh mereka," kata Rian pelan. "Mereka punya surat tugas."

"Tapi, Pak..."

"Kita tidak melawan hukum dengan kekerasan. Amankan karyawan dan pelanggan."

Hendro menahan napas, lalu mengangguk. "Siap, Pak."

Hari itu tidak berhenti di Garuda Mart.

Satu jam kemudian, Darmawan menerima telepon dari Restoran Rasa Nusantara.

"Pak, restoran juga diperiksa."

Lalu cabang Es Madu Kopi dekat terminal.

Lalu cabang dekat kampus.

Lalu cabang di kawasan perumahan.

Alasan mereka hampir sama.

Jalur evakuasi kurang jelas.

Alat pemadam tidak sesuai posisi.

Lampu darurat dianggap terlalu redup.

Buku latihan evakuasi kurang tanda tangan.

Setiap toko punya sertifikat lama. Setiap toko pernah dinyatakan lulus. Tetapi hari itu, semua sertifikat seperti kertas yang tidak punya suara.

Menjelang sore, papan segel menempel di pintu Garuda Mart.

OPERASIONAL DIHENTIKAN SEMENTARA.

Restoran Rasa Nusantara juga disegel.

Beberapa cabang Es Madu Kopi di Kota Tanjung Emas ikut berhenti.

Di kantor kecil belakang Garuda Mart, puluhan perwakilan karyawan berkumpul. Yang tidak bisa masuk berdiri di lorong. Wajah mereka pucat. Sebagian baru saja mengirim pesan kepada keluarga: toko ditutup. Belum tahu sampai kapan.

Darmawan berdiri di depan mereka dengan mata merah.

"Pak Bos akan bicara," katanya.

Rian masuk.

Ruangan itu langsung sunyi.

Ia melihat wajah-wajah yang selama ini membuat bisnisnya selalu gagal rugi. Kasir yang hafal nama pelanggan. Pegawai gudang yang dulu bekerja lembur di tempat lain tanpa bayaran pantas. Pelayan restoran yang belajar tersenyum meski kaki pegal. Barista Es Madu Kopi yang baru bisa membantu biaya sekolah adiknya.

Kalau toko tutup, angka di sistem mungkin turun.

Pemasukan berhenti.

Biaya gaji tetap berjalan.

Secara teori, ini adalah jenis kerugian yang dulu ia cari.

Namun ketika melihat mata mereka, Rian tidak merasakan senang.

Yang ia rasakan hanya marah.

"Dengar baik-baik," kata Rian.

Semua orang menatapnya.

"Mulai hari ini, beberapa cabang kita dihentikan sementara oleh perintah dinas. Saya tahu kalian takut. Saya tahu sebagian dari kalian punya cicilan, biaya sekolah anak, biaya orang tua, uang kos, dan kebutuhan rumah."

Seorang pegawai menunduk sambil menghapus air mata.

Rian melanjutkan, "Selama masalah ini belum selesai, gaji kalian tidak akan dikurangi satu rupiah pun."

Ruangan itu bergetar oleh bisik kaget.

"Tidak ada pemotongan. Tidak ada pemecatan mendadak. Yang tidak bisa bekerja karena toko disegel tetap dianggap aktif. HR akan buat jadwal pelatihan, perapian stok, dan pendampingan administrasi. Kalian tetap bagian dari Garuda Emas."

Darmawan menutup mata sebentar.

Rian berkata lebih pelan, "Kalian tidak salah, dan perjalanan ini juga belum berakhir."

Tidak ada tepuk tangan. Suasananya terlalu berat untuk itu. Tetapi beberapa bahu yang tadi tegang mulai turun. Beberapa pegawai menangis tanpa suara.

Setelah rapat bubar, Rian duduk sendirian di lorong utama Garuda Mart.

Lampu sebagian sudah dimatikan. Rak-rak penuh barang berdiri diam di belakang pita segel. Troli belanja tersusun rapi, seperti pasukan yang tidak boleh bergerak. Di kaca pintu depan, stiker merah dari dinas terlihat menyala di bawah lampu jalan.

Darmawan masuk membawa map.

"Pak Bos, ini semua sertifikat lama. Semuanya sah. Tanda tangan pejabatnya juga dari dinas yang sama."

Rian membuka satu per satu.

Tanggal.

Nomor.

Stempel.

Tanda tangan.

Semua legal.

Lalu ia membuka surat penutupan baru.

Juga legal.

Inilah bagian paling busuk dari kekuasaan. Ketidakadilan bisa memakai jas, membawa map, dan berbicara tentang keselamatan publik.

"Mas Darmawan," kata Rian.

"Ya, Pak Bos."

"Kumpulkan semua dokumen. Sertifikat lama, surat penutupan baru, rekaman telepon, CCTV Joko, laporan polisi, foto setiap pemeriksaan hari ini. Pisahkan berdasarkan cabang."

"Untuk pengacara, Pak?"

"Untuk semua jalur yang sah."

Darmawan mengangguk, tapi ragu. "Pak Bos, lawan kita kepala dinas."

Rian menatap segel merah di pintu.

"Kepala dinas bukan raja."

Setelah Darmawan pergi, Rian membuka ponselnya. Ia tidak menelepon investor. Ia tidak menelepon media. Ia bahkan tidak membuka aplikasi bank untuk melihat berapa besar kerugian hari ini.

Ia membuka halaman pencarian.

Jarinya mengetik tiga huruf.

KPK.

Komisi Pemberantasan Korupsi.

Di layar muncul kanal pengaduan, prosedur pelaporan, dan daftar jenis bukti yang bisa dilampirkan. Rian membaca satu per satu. Rekaman ancaman. Dokumen resmi yang diduga disalahgunakan. Bukti pemerasan. Keterangan saksi.

Semua kata itu terasa seperti pintu yang baru terbuka.

Rian menatap nomor layanan pengaduan di layar. Jarinya berhenti di atas tombol panggil.

Di luar, papan segel masih menempel di pintu Garuda Mart.

Rian tersenyum tipis, tapi matanya tidak tersenyum.

"Kepala Dinas Suharto," gumamnya, "kamu pikir kamu yang terbesar?"

1
Ardan
masih ada lanjutannya author?
Ardan
sangat memahami ya Gas 😄👍
Ardan
ya betul Gas, ini kalimat berbahaya dari sang dewa 😂
Ardan
saluutte 👍
Ardan
wkwkwkwk hihi 😂
Ardan
tak masuk akal yang sungguh menggelitik rasa kemanusiaan tinggi, novel diisi dengan kebingungan, tawa, haru dan kebahagiaan.
Ardan
saya selesaikan baca bab ini dengan derai air mata, thor kamu musti tanggung jawab 😭
Ardan
sama bangetzzz
Ardan
asli ini membuat saya meneteskan air mata 😭
Ardan
bagas sejatinya kawan dalam segala situasi ☺️👍
Ardan
rian sang dewa filosofi😄
Ardan
amppuuunnn ini suatu keindahan yang ditunggu rian, namun semu tak tergapai 😄
Ardan
proyek besar, sebesar harapannya untuk rugi atw malah untung nih ?😄
Ardan
terharu bangettttt dengernya Gas 😭🤣
Ardan
jadi penasara, ekspektasi ini akan terwujud seperti apa yak 🤣?
Ardan
dan ngomen kocak lagi si bagus, "bemcana lucu" sueerrr deh ini keren 😄👍
Ardan
huasseeemmmm, bagas lemes banget ngomong bener nya 🤣👍
Ardan
ampuuuuunnn niat banget ngomentar nya si bagas 🤣
Ardan
astaga seindah ini bisnis dalam novel, brutalllll 😭
Ardan
cikal bakal menderita diatas kesuksesan nih, hehe 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!