NovelToon NovelToon
Kaisar Bela Diri Legendaris

Kaisar Bela Diri Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.

Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.

Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 : Darah di Gunung Kematian

Matahari di Gunung Darah tidak pernah kuning. Selalu merah pekat, seperti langitnya memang sedang berdarah.

Udaranya panas tidak wajar, dan tidak ada satu pun pohon atau sungai di sini—hanya batu obsidian tajam dan suara logam yang menghantam batu tanpa henti.

Trang! Trang! Trang!

Ini Tambang Kematian, tempat paling terisolir di pinggiran Kerajaan Surga Tiran. Ribuan manusia dirantai kakinya dengan belenggu sepuluh kilo, dipaksa menggali Batu Roh, mineral yang jadi bahan bakar kemewahan para keturunan dewa.

Di antara budak-budak kurus kering itu, ada seorang pemuda enam belas tahun yang ayunannya berbeda—presisi, berat, dan stabil, seolah setiap pukulan sudah dihitung, bukan sekadar dipaksakan.

Namanya Ye Cangtian.

Tubuh atasnya telanjang, basah oleh keringat yang bercampur lumpur hitam. Otot lengan dan punggungnya padat, hasil sepuluh tahun menghantam batu setiap hari, dan tangannya penuh kapalan yang sudah lama mati rasa. Rambut hitamnya diikat asal dengan kain sobek.

Krak!

Dinding obsidian pecah. Dari retakannya, muncul Batu Roh seukuran ibu jari yang bercahaya biru redup. Cangtian mengusap dahinya, memasukkan batu itu ke keranjang bambu di punggungnya, lalu menatap langit merah di atasnya.

Sampai kapan? Sampai kapan aku hidup seperti babi yang menunggu disembelih?

Di zaman ini, nasib ditentukan sebelum lahir. Lahir dengan darah dewa, kau bisa terbang dan tinggal di istana emas. Lahir sebagai manusia fana dengan meridian tertutup, nyawamu lebih murah dari kerikil di kawah ini.

"Air... sedikit saja... air..."

Cangtian menoleh. Paman Lu, budak tua di sebelahnya, ambruk seketika—alatnya terlepas, bibirnya pecah-pecah, tangannya gemetar meraih kantong air kulit yang sudah lama kosong.

Cangtian meletakkan alatnya dan melangkah mendekat.

Belum sempat menyentuh, cambuk berduri keemasan membelah udara.

"Aargh!"

Punggung Paman Lu robek. Darah menyembur ke batu hitam.

Seorang pria tinggi besar mendekat, zirah peraknya mengkilap ditimpa cahaya matahari merah. Kulitnya kebiruan, dan di punggungnya ada lipatan sayap kelelawar kecil yang menandai garis keturunannya.

Dia Zhuo, pengawas dari klan dewa rendahan—di mata kerajaan, dia cuma prajurit buangan, tapi di sini, dia dewa kematian.

"Siapa suruh kau istirahat, tua bangka?" desis Zhuo, matanya kuning dan penuh jijik.

"Keranjangmu masih setengah. Kalau tidak penuh hari ini, punggungmu kujadikan meja."

Ia mengangkat cambuknya. Hawa panas menyelimuti duri-durinya—Qi dari darah dewa membuat cambuk itu sanggup membakar sampai ke tulang.

Zhuo mengayunkannya ke leher Paman Lu.

Paman Lu memejamkan mata. Tapi rasa sakit itu tak kunjung datang.

Grep.

Cambuk berhenti beberapa inci dari lehernya. Sebuah tangan penuh debu mencengkeram ujungnya dengan keras.

Darah menetes dari jari Ye Cangtian. Duri menembus dagingnya sampai tulang, Qi panasnya membakar kulit hingga bau daging gosong menyebar di udara.

Tapi ia tidak melepaskan cambuk itu—urat di leher dan lengannya menegang, dan matanya yang hitam menatap lurus ke mata kuning Zhuo, dingin dan penuh kebencian.

"Jangan ganggu dia," suaranya serak, rendah.

Satu kawah langsung sunyi. Ribuan budak menahan napas. Tak ada yang pernah berani menyentuh senjata tuan mereka.

Wajah biru Zhuo memerah.

"Berani-beraninya kau kotori senjataku dengan darah kotormu?!"

Ia menghentakkan kaki. Gelombang Qi biru meledak dari tubuhnya, menghantam dada Cangtian.

Bum!

Cangtian terlempar sepuluh meter, menghantam tebing obsidian. Darah menyembur dari mulutnya, tulang rusuknya berderak dan pandangannya mulai berkunang-kunang.

Begitulah hukum dunia ini. Seberat apa pun manusia melatih tubuhnya, ia tak akan pernah tahan satu pukulan Qi keturunan dewa. Jurang itu tak bisa ditutup dengan keberanian saja.

"Seekor semut berani melawan naga." Zhuo memutar cambuknya lagi.

Paman Lu merangkak, memeluk kaki Zhuo. "Tuan, ampuni dia! Dia cuma anak bodoh! Hukum aku saja!"

Zhuo menendangnya hingga tersungkur, lalu menatap Cangtian yang masih mencoba bangkit sambil berpegangan pada batu. Darah mengalir dari hidung dan mulutnya, tapi sorot matanya masih menyala—dan sorot itulah yang membuat Zhuo tidak nyaman.

Membunuh pekerja sekuat Cangtian akan membuat pengawas kepala marah. Tapi kalau perlawanan ini dibiarkan begitu saja, wibawanya sendiri yang akan hancur.

Senyum kejam muncul di bibirnya.

"Mau jadi pahlawan, bocah? Bagus. Aku tidak akan bunuh kau dengan tanganku sendiri." Ia menoleh ke pengawalnya. "Seret dia ke Lorong Hitam!"

Nama itu membuat semua budak bergidik, dan Paman Lu menangis histeris mendengarnya.

Lorong Hitam adalah poros terdalam Gunung Darah—gas sulfat mematikan, suhu yang membakar kulit, longsor yang bisa terjadi kapan saja. Siapa pun yang dilempar ke sana tak pernah kembali.

Dua pengawal menyeret tubuh Cangtian yang setengah lumpuh. Ia tidak meronta. Ia hanya membiarkan dirinya ditarik ke dalam gelapnya lorong, diiringi tangis Paman Lu yang lama-lama menghilang di kejauhan.

Tiga jam kemudian.

Lorong itu gelap, pengap, dan panas seperti berada di dalam tungku. Cangtian sudah berada di kedalaman yang mungkin tak pernah tersentuh matahari sekalipun.

Ia masih mengayunkan alat tambangnya dengan sisa tenaga yang tersisa. Tangan hangusnya yang diperban berdarah, gagangnya licin di genggaman, dan setiap ayunan membuat tulang rusuknya yang retak terus berdenyut.

Tapi ia menolak mati di sini.

Dewa, surga, takdir. Omong kosong semua, pikirnya. Kenapa garis keturunan harus menentukan segalanya? Kalau mereka punya kekuatan, akan kuambil. Kalau langit tidak mau memberi, akan kukorek sendiri dari perut bumi.

Amarah itu menutupi rasa sakitnya. Ia menghantam dinding buntu di ujung lorong lebih keras dari sebelumnya.

Kraak! Teng!

Dinding runtuh. Debu tebal beterbangan.

Cangtian terbatuk-batuk, mengibaskan debu di depan wajahnya. Begitu pandangannya jelas, napasnya tertahan.

Di depannya bukan urat Batu Roh. Ada sebuah rongga kecil, dan di tengahnya tergeletak batu aneh seukuran kepalan tangan.

Permukaannya seperti meteorit, berpori dan tajam, tapi batu itu berdenyut seperti jantung yang hidup. Urat cahaya hijau dan emas saling melilit di dalamnya, dan aura kunonya begitu kuat hingga menyapu bersih gas beracun di sekitarnya.

Insting Cangtian menyuruhnya lari. Tapi ada sesuatu di dalam dadanya yang menolak—justru mendorong kakinya untuk maju.

Dengan tangan kanan yang masih berdarah dan gemetar, ia menyentuhnya.

Saat ujung jarinya menempel...

Deg!

Dunia di sekitarnya lenyap. Tak ada suara, tak ada cahaya. Hanya rasa sakit.

Batu itu tidak membakar. Inti hijau-emas di dalamnya justru meledak, merambat naik lewat telapak tangannya, menembus pori-pori kulitnya, menyuntikkan energi langsung ke pembuluh darahnya.

Cangtian terlempar, jatuh terhempas ke tanah. Mulutnya terbuka, ingin berteriak, tapi tak ada suara yang keluar.

Selama ribuan tahun meridian manusia tertutup rapat—itu sebabnya mereka tak pernah bisa berkultivasi. Malam ini, energi kuno itu merobek semuanya dengan paksa.

Kretaaak!

Ia mendengar meridiannya sendiri retak dan pecah satu demi satu. Darah hitam kental merembes dari hidung, telinga, dan pori-porinya. Sakitnya jutaan kali lipat dari cambuk Zhuo—ini rasa sakit saat fondasi hidupnya dibentuk ulang dari nol.

Cangtian kejang-kejang di atas batu, kesadarannya hampir padam. Tepat sebelum semuanya gelap, kilatan hijau itu berkumpul di perutnya, di Dantian, lalu berputar pelan membentuk pusaran kecil yang stabil.

Setelah itu, ia pingsan.

Ia tak tahu bahwa pusaran itu mulai berputar dengan sendirinya, menyerap energi alam dan menyembuhkan luka-lukanya dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Malam itu, di kedalaman lorong tanpa cahaya, fondasi kultivasi manusia pertama di dunia lahir di dalam tubuh seorang budak.

Dan takdir miliaran manusia fana di benua itu akan berubah selamanya.

1
Hendra
mantap thor👍
Hendra
awal yang bagus👍
Deevy Tresiyana
keren awal Kultivathor di dunia fans..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!