NovelToon NovelToon
Legenda Zhou

Legenda Zhou

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: LanzT0k3

Hanya karena jatuh miskin, pertunangannya dibatalkan dan nama baik orang tuanya dihina di depan mata. Zhao Gou tidak lagi sudi menunduk. Di malam yang gelap, ia lenyap meninggalkan desa pengasingan, melangkah masuk ke Lembah Kematian yang ditakuti para kultivator. Tempat di mana warisan kuno dan ilmu terlarang menunggunya.

​Ketika ia kembali dengan topeng misterius dan pedang berdarah, dunia persilatan terperanjat—siapakah sosok mengerikan yang siap meratakan klan-klan besar ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anjing yang Menelan Ludah

​Kapak di tangan Zhao Gou menghantam belahan kayu bakar untuk kesekian kalinya dengan bunyi dug yang berat. Serpihan kayu mahoni berhamburan ke tanah basah, membawa aroma getah segar bercampur sisa embun pagi yang belum sepenuhnya lenyap dari pekarangan rumah panggung.

​Di usianya yang menginjak delapan belas tahun, telapak tangan seorang pemuda semestinya mulus, terbiasa menggenggam gulungan teknik kultivasi tingkat tinggi atau memegang gagang pedang giok milik seorang pewaris sekte terpandang. Namun, realitas memiliki selera humor yang jauh lebih kelam dari jurang maut. Garis takdirnya tidak diukir di aula megah, melainkan di atas tungku tanah liat dapur sebuah desa terpencil yang nyaris tidak tersentuh oleh aliran energi spiritual dunia persilatan.

​Desa Hutan Kabut terletak di perbatasan barat Kekaisaran Langit, sebuah wilayah buangan di mana Qi alam begitu tipis hingga para kultivator angkuh memandangnya sebagai tanah mandul. Bagi orang biasa, tempat ini adalah suaka kedamaian—jauh dari perebutan kekuasaan, bebas dari intrik darah, dan aman dari tebasan pedang para pembunuh bayaran. Tapi bagi Zhao Gou, tempat ini adalah sangkar emas tempat harga diri keluarganya dikubur hidup-hidup tanpa batu nisan.

​"Gou-er, jangan terlalu memforsir tenagamu. Tumpukan kayu bakar untuk musim dingin sudah lebih dari cukup," sebuah suara serak memecah keheningan pagi.

​Zhao Gou menghentikan ayunannya dan menoleh. Di ambang pintu rumah panggung kayu yang sudah mulai reyot, ayahnya—Zhao Tianhe—duduk di atas kursi rotan usang. Wajah pria paruh baya itu pucat pasi, nyaris transparan seperti kertas tua. Sisa-sisa luka dalam dari pertempuran tiga tahun lalu masih menggerogoti meridian tubuhnya tanpa ampun. Meskipun Tianhe selalu berusaha menyembunyikan rasa sakit di balik senyuman lelah, Zhao Gou tahu betul bahwa setiap kali ayahnya menarik napas, paru-parunya terasa seperti disayat oleh ribuan jarum es yang tak kasat mata.

​Tiga tahun lalu, nama Zhao Tianhe adalah salah satu pilar yang paling disegani di cabang utama Klan Zhao di Kota Megah. Sebagai seorang tetua yang memegang kendali atas separuh aset dagang klan di wilayah selatan, ia adalah sosok yang dihormati kawan maupun lawan. Namun, dunia persilatan tidak pernah mengenal kata belas kasihan ketika kekuasaan menjadi taruhannya. Faksi cabang lain yang berkolusi dengan para tetua busuk melakukan kudeta berdarah di malam yang gelap, berniat membersihkan seluruh garis keturunan Tianhe sampai ke akar-akarnya agar kursi kekuasaan tidak jatuh ke tangan yang berhak.

​Alih-alih melawan dan menyeret keluarganya ke dalam pertumpahan darah total yang pasti berujung pada pemusnahan massal, Tianhe memilih jalan yang paling dihinakan oleh para pendekar dunia persilatan: ia memilih mengalah, menyerahkan seluruh aset kekayaan, dan secara sukarela melucuti kultivasi meridian utamanya di hadapan para pengkhianat demi menyelamatkan nyawa istri dan anak tunggalnya.

​"Aku tidak lelah, Ayah," jawab Zhao Gou singkat. Suaranya terdengar datar, namun menyembunyikan getaran emosi yang begitu pekat di dasarnya. Ia kembali mengangkat kapak di tangannya, mengayunkannya dengan presisi sempurna. Setiap hantaman bukan sekadar cara membelah kayu, melainkan satu-satunya cara menyalurkan rasa sesak yang hampir meremukkan dadanya setiap kali ia melihat kondisi sang ayah.

​Nama "Zhao Gou" bukanlah nama asli yang diberikan oleh kakeknya saat ia lahir. Itu adalah nama ejekan yang sengaja disematkan sang ayah ketika mereka tiba di desa buangan ini. Gou berarti anjing. Sebuah nama rendah, hina, dan tidak berharga, yang sengaja dipilih agar para musuh di pusat klan kehilangan minat untuk melacak keberadaan mereka. Buat apa memburu seorang pemuda bernama Anjing yang hidup membusuk di sudut desa terpencil? Begitulah cara mereka bersembunyi di balik bayang-bayang dunia persilatan.

​Namun, bagi Zhao Gou, nama itu adalah sebuah duri beracun yang terus menusuk harga dirinya setiap detik sepanjang hari.

​Di dalam tubuhnya, darah dari garis keturunan murni Klan Zhao masih mengalir deras. Bakat kultivasinya tidak pernah tumpul walau sedikit pun. Sejak usia dini, ia mampu menyerap energi Qi tiga kali lebih cepat dari anak-anak berbakat di kota besar. Pada umur lima belas tahun, tepat sebelum tragedi kelam itu merenggut segalanya, ia telah berhasil menembus puncak tingkat Qi Refining tahap kesembilan, berdiri selangkah lagi di ambang pintu Foundation Establishment. Masa depannya seharusnya bersinar terang di jajaran para jenius muda kekaisaran.

​Sekarang? Ia tidak lebih dari seorang pemuda desa yang menghabiskan hari-harinya membelah kayu bakar dan menimba air keruh dari sumur tua, terpaksa menyembunyikan kultivasinya yang terhenti di balik topeng kepatuhan yang memuakkan.

​"Ibu sedang merebus ubi di dapur. Masuklah sebentar, udara pagi ini terasa menusuk tulang," lanjut Tianhe, disusul oleh batuk kecil yang tertahan di tenggorokan.

​Zhao Gou meletakkan kapak berat itu ke atas tanah, mengangguk pelan kepada ayahnya, lalu melangkah mendekati teras kayu. Di sana, ia melihat ibunya, Lin Su, keluar dari dapur kecil sambil membawa kendi air dari tanah liat. Wanita paruh baya itu mengenakan pakaian kain kasar yang sudah ditambal di beberapa sudut. Tangannya yang di masa lalu terbiasa mengenakan gelang giok mahal kini tampak kasar, dipenuhi lepuh merah akibat pekerjaan kasar yang tidak pernah ia sentuh seumur hidupnya sebelum mereka diusir dari kota.

​Melihat pemandangan itu, ada sesuatu yang meremukkan hati Zhao Gou dari dalam rongga dadanya. Orang tuanya telah merelakan segalanya—martabat, kedudukan, kekayaan, dan kekuatan—hanya agar ia bisa terus bernapas di tempat terpencil ini. Mereka memilih menelan ludah dan darah, rela diinjak-injak oleh siapa saja, semata-mata demi melihat putra tunggal mereka tetap hidup di dunia yang kejam ini.

​Apakah hidup seperti ini yang kalian sebut keselamatan, Ayah? batin Zhao Gou menjerit pilu, menatap punggung ayahnya yang kini semakin membungkuk. Mereka merampas segalanya dari kita, memaksa kita merangkak di dalam lumpur, dan memperlakukan kita tidak lebih dari seekor anjing kurap yang tidak layak diberi ampun.

​Ketundukan tidak pernah mendatangkan perdamaian. Ketundukan hanya membuat para serigala semakin haus darah dan semakin bernafsu untuk menginjak kepala yang sudah bersujud. Zhao Gou memahami kebenaran pahit itu dengan sangat baik. Di dunia kultivasi, kelemahan adalah kejahatan terbesar, dan belas kasihan hanyalah dongeng pengantar tidur bagi orang-orang lemah.

​Saat Zhao Gou hendak melangkah masuk untuk membantu ibunya, sebuah suara gemuruh yang tidak wajar tiba-tiba mengguncang tanah di bawah kaki mereka dengan keras.

​Bum Bum Bum

​Suara itu bukan berasal dari guntur di langit mendung, melainkan hantaman tapak kaki bertonase besar yang menghentak tanah berlumpur di ujung jalan desa, disusul oleh derit roda kayu yang bergesekan kencang dan dengusan berat dari makhluk buas bersisik. Hutan di sekeliling desa mendadak sunyi seketika, burung-burung liar beterbangan meninggalkan sarang mereka karena dilanda teror naluriah.

​Zhao Tianhe yang tadinya duduk dengan tenang di kursi rotan mendadak menegakkan tubuhnya kaku. Wajahnya yang sudah pucat pasi berubah semakin kelabu dalam sekejap mata. Matanya melebar, menatap tajam ke arah jalan setapak utama yang langsung mengarah ke halaman rumah mereka.

​"Ayah?" Zhao Gou mengerutkan keningnya dalam-dalam, merasakan hawa membunuh yang begitu dingin menusuk pori-porinya terbawa oleh angin pagi.

​"Masuk ke dalam rumah sekarang juga, Gou-er. Cepat!" suara Tianhe bergetar hebat, untuk pertama kalinya memperlihatkan kepanikan mendalam yang selama ini disembunyikannya rapat-rapat di balik ketenangannya.

​Lin Su yang membawa kendi air di tangannya terkejut bukan kepalang hingga barang bawaannya terlepas dan pecah berkeping-keping di atas tanah. Air tumpah membasahi debu halaman. Wanita paruh baya itu kehilangan seluruh warna di wajahnya, tangannya langsung menutup mulutnya yang ternganga saat dua ekor makhluk raksasa muncul dari balik tikungan jalan.

​Dua ekor Kuda Darah Spiritual tingkat dua, dengan bulu hitam legam mengkilap dan mata yang menyala merah darah, menerobos masuk ke pekarangan sempit mereka tanpa ragu. Kuku-kuku mereka yang besar mengibaskan debu dan kotoran ke arah teras rumah Zhao.

​Di belakang kedua kuda itu, sebuah kereta kencana mewah berlapis emas murni dan ukiran giok putih salju berhenti tepat di depan pagar bambu yang reyot. Ukiran lambang bergambar burung phoenix yang sedang membentangkan sayap terpampang jelas di sisi badan kereta, membuat darah di tubuh Zhao Gou mendadak mendidih seketika hingga telinganya berdenging keras.

​Lambang kebesaran dari Klan Xie dari Kota Awan Biru.

​Pintu kereta perlahan bergeser terbuka dari dalam. Seorang pria paruh baya berjubah sutra ungu dengan bordiran benang perak melangkah turun lebih dulu, memegang kipas lipat dari batu giok dengan dagu terangkat tinggi, memancarkan kesombongan yang tidak berniat ia sembunyikan. Di belakang pria itu, seorang wanita muda melangkah turun dengan anggun, mengenakan gaun panjang berwarna putih bersih tanpa noda debu sedikit pun, seolah-olah jalanan desa yang kotor ini tidak pantas untuk diinjak oleh kakinya.

​Wajah wanita itu sangat memukau, bagaikan karya seni terindah dari para dewa. Alisnya berbentuk bagai sayap burung phoenix, tatapan matanya jernih, dingin, dan acuh tak acuh seperti es abadi di puncak gunung tertinggi. Kecantikan yang luar biasa itu memancarkan aura kebangsawanan yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa kecil dan tidak berdaya.

​Xie Yanfeng.

​Mantan tunangan Zhao Gou.

​Gadis yang tiga tahun lalu diikat sumpah pertunangannya dengan Zhao Gou ketika kedua klan masih berdiri di tingkat yang setara. Dan sekarang, ia berdiri di hadapan mereka, menatap rumah panggung yang reot itu dengan sorot mata penuh penghinaan dingin yang setajam belati.

​Zhao Gou mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga kuku-kukunya menancap begitu dalam ke telapak tangan, merobek kulit dan membiarkan darah segar menetes ke tanah. Namun, rasa sakit fisik itu sama sekali tidak berarti jika dibandingkan dengan api kebencian yang kini membakar habis seluruh sisa kewarasannya.

​Utusan keluarga Xie telah datang. Dan mereka datang bukan untuk membawa kedamaian.

1
Raju
tolak aja secara baik...
jgn ada campuran kata sombong...
"jika aq menjadi penerus sekte, kdepannya musuh²ku akan menargetkan kalian, dan aq tidak ingin hal itu'terjadi"... gitu aja udh ngeh....
Raju
makasih up nya Thor....👍👍
Raju
penghianatan zhengtian berahir !!
Raju
ambil jgn tabambil.... kopi meluncur untuk mu thor...💪💪
Lanz: terimakasih 😍
sehat sehat selalu yahh
total 1 replies
Raju
penghianat klan harisnmati.
klo g mati... cerita ini akan terus berulang² layaknya sinetron...
Raju
hah.... kapan malam nya..... ??
Lanz
terimakasih atas kejeliannya
sedang othor perbaiki bab ini
selamat membaca 🥳🥳
Raju
darimnakah zhao gou tau jika pil itu beracun ??
ini wajib djelaskan...
apakah darah naganya bisa mendeteksi racun skecil apapun...??
Raju
vote dulu buat karya mu Thor...
ttp semangt...💪💪💪
Raju
tingkat kultivasi tuan muda zhao mana yg bener thor !! awal atau puncak ??
Lanz: di bab sebelumnya sudah ada penjelasannya ko 🙏
total 1 replies
Raju
persiapkan dirimu tuan muda zhao.... perang antr saudara akn dimulai !!
Deutsch
lanjut 🙏
Raju
emjadikan racun sebagai nutrisi tambahan.... HEBAT.
Raju
tmbh satu lagi penghianat klan pucat pasi...
Raju
hati yg beriah baik...
dikotori oleh keserakahan klan...
pada ahirnya, yg terjadi KORBAN PERASAAN.🤣🤣🤣
Raju
bunuh dan tuntaskan samapai ke akar²nya...
Raju
PUAS.....!!
disaat seseorg kesusahan, terjepit...
jgn pojokkan dia.
krna ktika dia bangkit .. semua sdh terlambat.
Raju
ta ada yg perlu dconfirmasi nona es...kehancuran klan xie kalian itu pasti...
Raju
saling menyusun rencana...
adu taktik...bikan tiktok...
Raju
satu panggung kota dsekte terbesar dbuat geger....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!