"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.
Tapi semua orang salah besar.
Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.
Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.
Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12: Makan Malam dengan Andini
"Pulang. Atau aku yang akan menjemputmu."
Panggilan itu terputus sebelum Arya menjawab.
Untuk beberapa detik, layar ponsel hanya memantulkan wajahnya sendiri. Tenang, tetapi matanya tidak lagi ringan. Prabu Suryanegara bukan Revan. Bukan Om Besar Permata. Bukan orang yang bisa dihancurkan dengan satu audit atau satu rekaman kamera.
Prabu adalah orang tua yang bisa membuat cabang keluarga saling menggigit tanpa meninggalkan nama di dokumen.
Pak Satria yang duduk di depan mobil menoleh. "Tuan Muda?"
"Prabu."
Wajah Pak Satria langsung mengeras.
"Perlu saya batalkan makan malam?"
Arya menatap pesan dari Andini yang baru masuk: nama restoran kecil bergaya fine dining di kawasan pusat Kota Awan, bukan tempat paling mahal, tetapi terkenal tenang dan berkelas.
"Tidak."
"Tuan Muda..."
"Kalau Prabu ingin aku pulang, dia akan menunggu. Kalau dia tidak mau menunggu, makan malam pun tidak mengubah apa-apa."
Pak Satria tidak membantah.
Satu jam kemudian, Arya tiba di restoran pilihan Andini. Tempat itu tidak berlebihan. Dinding kayu gelap, cahaya hangat, beberapa lukisan lokal, dan staf yang tahu cara menjaga jarak. Para tamu mengenakan batik, blazer, atau gaun sederhana. Tidak ada meja yang terlalu dekat.
Andini sudah menunggu.
Ia mengenakan dress navy dengan outer batik tipis. Rambutnya digerai rapi. Saat melihat Arya, ia berdiri, lalu tampak sedikit bingung apakah harus bersikap seperti kemarin atau seperti seseorang yang sedang bertemu pewaris konglomerat.
Arya menarik kursi untuknya.
"Dini."
Panggilan itu membuat bahunya turun sedikit. "Mas Arya."
"Kalau malam ini kamu tegang karena berita itu, aku bisa pergi."
Andini duduk. "Kalau saya ingin kamu pergi, saya tidak akan memilih restoran."
"Masuk akal."
"Tapi saya tetap tegang."
"Itu juga masuk akal."
Kejujuran sederhana itu membuat Andini tersenyum. Pelayan datang membawa menu. Arya membiarkan Andini memilih lebih dulu. Ia tidak memesan makanan paling mahal, tidak memanggil manajer, tidak meminta ruang privat khusus. Sikapnya justru membuat Andini lebih mudah bernapas.
Beberapa tamu mengenali Arya dari berita siang tadi. Tatapan mereka bergerak diam-diam, lalu cepat menunduk ketika mata Arya melewati ruangan. Andini melihat itu. Ia juga melihat bagaimana Arya tidak menikmati ketakutan kecil itu. Tidak ada senyum puas, tidak ada gaya orang yang baru memenangkan seluruh kota.
"Kamu tidak suka diperhatikan?" tanya Andini.
"Aku lebih suka orang memperhatikan pekerjaan mereka."
"Jawaban yang terdengar seperti seseorang yang terlalu sering menjadi pusat masalah."
"Hari ini cukup akurat."
"Jadi," kata Andini setelah pelayan pergi, "semalam saya minum kopi dengan pria yang satu kota cari hari ini."
"Kopi itu tetap kopi."
"Dan pria itu tetap pria yang sama?"
Arya menatapnya. "Itu yang ingin aku buktikan."
Andini mengaduk teh hangatnya perlahan. "Keluarga saya mengenal nama Suryanegara. Mbah saya bahkan pernah berkata, kalau keluarga itu bergerak, pasar bisa berubah sebelum berita keluar."
"Mbah Pradipta orang yang paham pasar."
"Kamu mengenalnya?"
"Belum secara pribadi."
"Tapi kamu tahu banyak."
"Kebiasaan buruk."
"Selain kopi hitam dan menyembunyikan identitas?"
"Daftarnya panjang."
Andini tertawa. Ketegangan di meja itu mencair.
Mereka bicara tentang desain, proyek apartemen, ruang publik yang buruk, dan bagaimana orang kaya sering membeli marmer mahal tetapi lupa membuat rumah terasa hidup. Andini berbicara dengan mata menyala saat menjelaskan pekerjaan. Ia bukan pajangan keluarga. Ia tahu material, kontrak, vendor, dan bagaimana menghadapi klien yang ingin terlihat elite tanpa mau membayar profesional.
Arya mendengarkan.
Tidak seperti pria lain yang menunggu giliran memamerkan diri, ia benar-benar mendengarkan.
"Kenapa menatap begitu?" tanya Andini akhirnya.
"Karena kamu bekerja dengan serius."
"Itu terdengar seperti pujian yang aneh."
"Aku tumbuh di antara orang yang mewarisi perusahaan tanpa pernah membangun apa pun. Melihat seseorang mencintai pekerjaannya itu menyegarkan."
Pipi Andini menghangat.
Ia menunduk sebentar, pura-pura merapikan serbet. "Kamu selalu berbicara seperti itu?"
"Seperti apa?"
"Langsung. Tapi tidak murahan."
Arya tersenyum. "Aku akan anggap itu pujian."
Makanan utama baru saja selesai ketika seorang pria tersandung sedikit di dekat meja mereka. Aroma parfum tajam mendahului tubuhnya. Ia mengenakan jas mahal yang kancingnya terbuka, wajahnya memerah bukan karena alkohol, melainkan karena emosi dan kebiasaan merasa kebal.
Sugiono.
Mantan Presiden Direktur PT Takdir Infrastruktur.
Arya mengenal wajah itu dari laporan audit. Dulu, sebelum restrukturisasi penuh selesai, Sugiono memegang beberapa proyek besar dan meninggalkan banyak invoice bermasalah. Namanya sudah masuk daftar orang yang akan dipanggil.
Sugiono awalnya melihat Andini dulu.
"Wah, Nona Andini," katanya dengan senyum miring. "Sulit sekali ditemui di kantor, ternyata bisa makan malam cantik begini."
Andini langsung tegang. "Pak Sugiono."
"Masih menagih pembayaran proyek lobby itu?" Sugiono tertawa kecil. "Santai saja. Uang dua puluh delapan miliar tidak akan hilang. Tergantung kamu pintar bicara dengan siapa."
Arya meletakkan garpunya.
Sugiono baru menyadari pria di depan Andini. Matanya menyipit, lalu wajahnya berubah seperti darah ditarik dari kulit.
"Pa... Pak Arya."
Andini menoleh cepat.
Arya tidak menaikkan suara. "Sugiono."
Sugiono menelan ludah. Kesombongannya runtuh dalam satu detik. Ia hampir menunduk, tetapi sadar restoran sedang ramai.
"Saya tidak tahu Bapak di sini."
"Sekarang kamu tahu."
"Maaf. Saya hanya menyapa Nona Andini."
"Dengan membahas invoice dua puluh delapan miliar di meja makan?"
Keringat muncul di dahi Sugiono. "Itu... hanya bercanda."
Andini menatap Arya. "Kamu mengenalnya?"
"Cukup."
Sugiono mundur setengah langkah. "Saya tidak ingin mengganggu. Saya permisi."
Arya berkata pelan, "Besok pagi, kantor."
Sugiono berhenti.
"Bawa semua dokumen pembayaran Andini Interior Design."
"Baik, Pak."
"Dan jangan hilangkan satu pun."
Sugiono mengangguk cepat, lalu pergi dengan langkah kaku.
Andini menunggu sampai pria itu hilang dari pandangan. "Dia sudah menahan pembayaran perusahaan saya hampir empat bulan."
"Aku tahu sekarang."
"Mas Arya, kamu tidak perlu..."
"Aku perlu." Arya menatapnya. "Bukan karena kamu tidak bisa mengurusnya. Karena orang seperti dia terlalu lama memakai posisinya untuk menginjak orang yang bekerja benar."
Andini terdiam.
Setelah makan malam selesai, Arya mengantar Andini pulang. Mobil berhenti di depan rumahnya yang tenang, berpagar putih dan lampu taman lembut. Andini turun, lalu berbalik.
"Terima kasih untuk malam ini," katanya. "Tidak peduli kamu siapa, di mata saya kamu tetap orang yang menolong saya di parkiran."
Arya menatapnya masuk ke rumah.
Saat berbalik menuju mobil, langkahnya berhenti.
Di seberang jalan, sebuah motor tanpa pelat depan terlalu lama berhenti di bawah pohon. Pengendaranya memakai helm gelap dan tidak melihat ponsel, tidak merokok, tidak melakukan apa pun.
Ia mengamati rumah Andini.
Bukan mengamati Arya.
Arya membuka pintu mobil, matanya tetap pada bayangan itu.
"Pak Satria," katanya pelan, "cari tahu siapa yang mengawasi rumah Dini."