Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19: Pipa Besi dan Gelas yang Hancur
"Siapa yang memukul mobil saya?"
Suara Laras tidak keras. Namun, dua orang pelanggan yang tadi sibuk merekam langsung menurunkan ponsel mereka.
Yono Botak menoleh ke Jaguar yang penyok, lalu ke perempuan di depannya. Ia jelas tidak mengenal Laras. Kesalahan itu membuat nyalinya bertahan beberapa detik lebih lama.
"Cuma penyok sedikit," katanya. "Nanti bisa dibicarakan. Ini urusan kami dengan satpam itu. Mbak jangan ikut campur."
Bayu maju setengah langkah. Wisnu tetap di sisi kanan Laras, matanya mengunci pipa besi di tangan preman.
"Dia menyuruh Teh Laras minggir," kata Bayu datar.
"Saya dengar."
Laras berjalan ke pintu Jaguar. Ujung jarinya menyentuh cat yang terkelupas, lalu berhenti pada cekungan dalam di pelat bodi. Tatapannya beralih kepada Yono Botak.
"Lima ratus juta rupiah. Batas waktu satu hari."
Yono Botak terbahak, meski bunyinya terlalu dipaksakan. "Mobil begini tidak sampai segitu biaya perbaikannya."
"Itu bukan hanya biaya bengkel." Laras mengangkat ponselnya. "Ada penggantian panel, pemeriksaan rangka, mobil pengganti, jadwal bisnis yang terganggu, serta biaya kuasa hukum. Jika Anda tidak setuju, pengacara saya akan mengirim somasi dan bukti ini akan masuk laporan polisi. Silakan berdebat di sana."
Gita sudah berdiri di sebelah Laras. "Kamera kedai merekam serangan dari depan. Bima juga merekam suara dan mengambil foto orang yang dibayar untuk merekam dari seberang."
Wajah Yono Botak berubah.
Bima tidak perlu menuduh siapa pun. Ia hanya menunjukkan layar ponselnya. Foto pantulan kaca memperlihatkan laki-laki bertopi, posisi kamera, serta motor yang diparkir dekat trotoar.
"Kalau mau membuat film," ujar Bima, "seharusnya pilih kru yang lebih pintar."
Beberapa pelanggan tertawa kecil. Anak buah Yono Botak saling pandang. Rencana mereka bukan hanya gagal. Sekarang bentuk rencananya bisa dibuktikan.
Laras menghubungi asistennya dan meminta pengacara serta perusahaan asuransi menindaklanjuti kerusakan. Ia lalu menatap Vanya.
"Saya harus tiba di pertemuan berikutnya dalam empat puluh menit."
Vanya memandang Jaguar, kemudian BMW seri 7 yang dikendarai Bima. "Pakai mobil kami dulu. Wisnu bisa menyetir. Saya akan minta staf aset mencatat peminjaman sementara dan mengirim persetujuan tertulis sekarang."
"Itu mobil perusahaan," Bima mengingatkan.
"Dan saya yang menyetujui penggunaannya," jawab Vanya. "Hanya sampai mobil pengganti dari asuransi datang."
Gita mengangkat ponselnya. "Aku sudah pesan kendaraan untuk kita. Pak Hadi juga sudah menerima foto kondisi BMW dan nama pengemudi. Aman, Bang Bima."
Bima menyerahkan kunci kepada Wisnu setelah Vanya mengirim persetujuan dalam grup operasional. Laras menerimanya tanpa berpura-pura menolak bantuan yang memang ia perlukan.
"Saya akan mengembalikannya dalam keadaan utuh," katanya.
"Lebih baik jangan parkir dekat orang yang membawa pipa," balas Bima.
Mata Laras menyipit tipis. Bukan senyum, tetapi cukup dekat dengan senyum untuk membuat Gita menahan tawa.
Ketika Laras hendak masuk ke BMW, Yono Botak sadar bahwa perempuan yang barusan ia remehkan memiliki pengacara, perusahaan asuransi, dua pengawal kuat, dan hubungan dekat dengan pemilik Larissa Couture. Rasa malu menendang sisa akalnya.
"Tunggu!"
Ia merebut pipa dari anak buahnya dan mengayunkannya ke belakang kepala Bima.
"Bang Bima!" seru Vanya.
Bima berbalik.
Tangannya terangkat tepat saat pipa turun.
TANG!
Telapak telanjang itu menangkap besi tanpa bergeser satu senti pun.
Yono Botak menarik sekuat tenaga. Pipa tidak bergerak. Ia menendang, memaki, lalu mencoba memutar gagangnya. Bima tetap berdiri santai, seolah yang ia tahan hanyalah tongkat plastik.
"Kamera masih menyala," kata Bima.
Kalimat itu membuat Yono Botak membeku.
"Serangan pertama terekam. Serangan kedua juga. Terima kasih sudah melengkapi bukti."
Bima menarik pipa dari tangannya.
Jari-jari Bima menutup perlahan.
Krek.
Permukaan besi melesak di antara ruas jarinya. Pipa lurus itu tertekuk, menggulung, lalu memadat menjadi bongkahan logam sebesar kepalan tangan. Tidak ada gerakan besar. Tidak ada teriakan. Hanya suara besi yang dipaksa kehilangan bentuk.
Mulut Yono Botak terbuka, tetapi tak ada suara keluar.
Seorang anak buah menjatuhkan helm. Yang lain mundur sampai menabrak motor. Laki-laki bertopi di seberang jalan mematikan kamera dan berlari tanpa mengambil tripod kecilnya.
Bima meletakkan bongkahan besi di telapak Yono Botak.
Lutut preman itu langsung turun karena berat dan ketakutan. Bongkahan tersebut jatuh ke aspal dengan dentang pendek.
"Besok bayar kerusakannya," kata Bima. "Malam ini, sampaikan kepada orang yang menyuruhmu bahwa saya ingin bicara."
"S-siapa yang menyuruh? Saya tidak tahu apa-apa."
"Tidak apa-apa. Saya tahu harus menemui siapa."
Bima berbalik. Tak satu pun anak buah Yono Botak berani menghalangi.
Sebelum BMW pergi, Laras menatap bongkahan besi di aspal, kemudian tangan Bima yang sama sekali tidak terluka. Kali ini minat di matanya tidak lagi tersembunyi.
"Kita akan bertemu lagi, Bang Bima."
Sapaan itu terdengar lebih akrab daripada sebelumnya.
"Setelah mobil Teh Laras selesai diperbaiki," jawab Bima.
Bayu menutup pintu belakang. Wisnu membawa BMW keluar dari area kedai dengan halus.
Kendaraan yang dipesan Gita tiba dua menit kemudian. Bima duduk di depan, sedangkan Vanya dan Gita di belakang. Begitu mobil bergerak, Gita mencondongkan tubuh.
"Jadi sejak awal kamu sengaja membawa mereka ke Jaguar Laras?"
"Saya membawa kalian ke perlindungan paling kuat yang ada di dekat pintu keluar. Mesin dan rangka mobil lebih baik daripada tubuh manusia."
"Lalu membiarkan mereka merusaknya?" tanya Vanya.
"Saya sudah memindahkan kalian dan tidak menyerang. Mereka masih memilih memakai pipa." Bima menatap kaca spion. "Itu keputusan mereka, bukan keputusan saya."
Vanya diam sejenak. "Kalau kamu memukul lebih dulu?"
"Video mereka akan mulai dari pukulan saya. Saksi palsu akan berkata saya mengamuk tanpa alasan. Orang yang menelepon polisi akan membuat laporan pertama sebelum kita menjelaskan apa pun." Bima menunjuk ponsel Gita. "Sekarang kita punya rekaman utuh, kerusakan properti, senjata, dan saksi yang tidak mereka pilih. Tangan yang mereka pinjam justru mencengkeram leher mereka sendiri."
Gita bersandar, lalu mengembuskan napas. "Kadang aku tidak tahu mana yang lebih mengerikan, tanganmu atau kepalamu."
"Gaji saya hanya cukup untuk memakai salah satunya."
Vanya menutup senyum dengan tangan. Ketegangan di dalam mobil pecah, tetapi sorot matanya tetap menyimpan kesadaran baru. Bima bukan sekadar orang kuat. Ia terbiasa bertahan hidup ketika kekuatan saja tidak cukup.
Malam itu, langit Surabaya dipenuhi cahaya gedung.
Skybar di puncak kantor PT Garda Hitam masih ramai ketika Bima tiba. Ia tidak menyelinap. Ia menyebut namanya di meja penerima tamu dan meminta staf menghubungi Darman.
Darman justru menyuruh mereka membiarkannya naik.
Di area privat, Si Mata Satu duduk di sofa kulit bersama tiga tamu wanita. Bekas merah samar masih tampak di pipinya. Dua petugas keamanan berdiri di belakang, tetapi Darman mengangkat tangan agar mereka tidak bergerak.
"Akhirnya datang juga," katanya. "Mau minta maaf sebelum saya membuat laporan?"
Bima duduk tanpa diundang. Musik berdentum di luar sekat kaca, tetapi meja mereka terasa sunyi.
"Orangmu menyerang dua perempuan, merusak mobil Laras Maheswari, dan tertangkap kamera. Kalau kau mau membuat laporan, lakukan. Saya akan senang melihat nama PT Garda Hitam muncul dalam pemeriksaan hubungan kerja dengan para preman itu."
Senyum Darman menipis. "Jangan merasa menang hanya karena satu jebakan gagal. Saya punya orang, wilayah, dan nama besar di belakang saya. Kau hanya sopir yang kebetulan bisa berkelahi."
"Saya datang bukan untuk berdebat soal jabatan."
Darman mengangkat gelas kristalnya. Cairan merah bergoyang di dalamnya. "Lalu untuk apa?"
Bima mengambil gelas itu dari tangannya.
Satu petugas keamanan bergerak, tetapi Darman menahannya lagi. Ia ingin melihat gertakan Bima dari dekat.
Bima menuangkan minuman ke wadah es kosong. Setelah gelas benar-benar kosong, ia menggenggamnya.
Krak.
Kristal retak di dalam telapak tangannya.
Darman masih menyeringai sampai retakan itu berubah menjadi pecahan, lalu pecahan berubah menjadi butiran halus. Bima membuka jari. Serbuk kristal jatuh perlahan ke meja hitam seperti pasir berkilau.
Tidak ada darah.
Bahkan tidak ada goresan.
Tiga tamu wanita menjauh serempak. Salah satu petugas keamanan menelan ludah. Darman menatap tangan itu, lalu tanpa sadar menyentuh pelipis yang pernah dipukul sandal oleh orang yang sama.
Bima berdiri.
"Sekali lagi kau ganggu orang-orang saya, kau tidak akan sempat menyesal."
Ia berjalan menuju lift. Tak ada seorang pun yang mencoba menghentikannya.
Pintu lift menutup.
Baru setelah angka lantai mulai turun, Darman menarik napas. Tangannya gemetar saat meraih ponsel. Ia membuka satu kontak yang selama bertahun-tahun hanya berani dihubunginya untuk urusan paling berat.
Nama di layar itu hanya terdiri dari dua kata.
Kang Guntur.