Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.
Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara dari Balik Cermin
Aku masih memikirkan pemuda asing itu ketika berganti pakaian. Ada sesuatu tentang dirinya yang terus mengusik pikiranku.
Sikapnya terasa begitu akrab. Cara ia memandangku, cara ia menyebut namaku, bahkan caranya berbicara seolah-olah kami telah mengenal satu sama lain sejak lama.
Namun, sekeras apa pun aku berusaha mengingat, tidak ada satu pun kenangan tentang dirinya yang muncul dalam pikiranku.
Mungkin ingatan Christine belum sepenuhnya kembali.
Atau mungkin... Memang ada sesuatu yang belum kuketahui.
“Christine, bagaimana penampilanmu hari ini?”
Sebuah suara lembut tiba-tiba terdengar di dalam ruangan.
Aku tidak terkejut.
Sudah lama aku mengenal suara itu. Suara yang selalu datang ketika aku membutuhkannya. Suara yang selama ini kusebut sebagai Malaikat Musik.
Aku tersenyum kecil.
“Lumayan, Guru.”
Aku duduk di depan cermin sambil melepaskan hiasan rambutku.
“Aku ingin menceritakan banyak hal kepadamu. Kau bilang aku tidak boleh gugup, bukan? Tapi sebelum naik ke panggung, rasanya jantungku hampir melompat keluar.”
Aku mulai menceritakan semuanya. Tentang pertunjukan malam ini. Tentang betapa gugupnya aku ketika pertama kali berdiri di atas panggung. Tentang Carlotta yang berhasil membuat seluruh penonton terpukau. Dan, tentu saja, tentang pemuda asing yang memberiku bunga.
Suara tawa ringan terdengar di udara.
Malaikat Musik tidak pernah menertawakanku dengan maksud mengejek. Tawanya selalu terdengar lembut, seolah-olah ia benar-benar menikmati setiap cerita kecil yang kubagikan.
Ia mendengarkanku dengan sabar. Memberiku nasihat. Meyakinkanku ketika aku mulai meragukan diri sendiri.
Entah sejak kapan, aku tidak lagi merasa aneh berbicara kepada seseorang yang bahkan belum pernah kulihat wajahnya.
Aku bahkan tidak dapat mengingat bagaimana rasanya menjalani hari-hari yang sunyi tanpa persahabatannya.
...----------------...
Ingatan Christine 2 bulan lalu, malam semakin larut.
Gedung opera perlahan menjadi sunyi.
Satu demi satu lampu dipadamkan. Para pekerja telah meninggalkan ruangan, dan suara langkah kaki yang sejak tadi memenuhi lorong kini berubah menjadi gema yang sesekali terdengar dari kejauhan.
Aku masih berada di salah satu ruang latihan.
Aku tidak ingin membiarkan keberanian yang kuraih malam ini menghilang begitu saja.
Maka aku kembali berlatih. Nada demi nada keluar dari bibirku. Aku mencoba mencapai nada tinggi yang selama ini sulit kukendalikan.
Namun ketika aku hendak mengulanginya...
Aku berhenti.
Sebuah suara nyanyian terdengar dari kejauhan.
Aku menahan napas. Suara itu begitu indah. Begitu jernih.
Ia mengalir melalui lorong-lorong gedung opera yang kosong seperti alunan musik yang datang dari dunia lain.
Aku menurunkan tanganku perlahan.
“Indah sekali...” Aku bahkan lupa bernapas.
“Seperti malaikat yang sedang bernyanyi.”
Nada tinggi itu begitu sempurna hingga membuatku merinding.
“Kurasa tidak mungkin ada manusia yang memiliki jangkauan suara setinggi itu.” Gumamku.
“Kau bisa melatih jangkauan vokalmu.” Suara itu menjawab.
Aku membeku.
“Namun tidak semua orang mengetahui caranya.” Aku menatap kosong ke depan.
Suara itu... Apakah baru saja menjawabku?
Aku segera bangkit dan bergegas keluar dari ruangan.
Aku menyusuri lorong dengan langkah cepat, mencari sumber suara tersebut. Namun tidak ada siapa pun. Tidak seorang pun.
Aku berhenti di persimpangan koridor.
Hanya kesunyian yang menyambutku.
(Aku satu-satunya orang yang masih berada di bagian gedung ini.)
Aku menelan ludah.
(Lalu siapa yang berbicara kepadaku?)
Perlahan, aku mulai merasa tidak nyaman.
Lorong-lorong gedung opera tampak berbeda ketika malam telah sepenuhnya menguasainya. Bayangan tiang-tiang menjulur panjang di lantai. Patung-patung yang pada siang hari tampak indah kini terlihat menyeramkan. Aku berjalan mondar-mandir, mencoba menemukan sumber suara tadi.
Tanpa sadar, aku mulai bertanya-tanya...
Apakah ada sesuatu yang bersembunyi di balik kegelapan?
“Christine.”
Suara itu terdengar lagi.
Kali ini lebih dekat.
“Tolong jangan takut.”
Aku berhenti.
“Aku tidak akan menyakitimu.”
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapa-siapa.
“Suaramu...”
Aku menelan ludah.
“Dari mana asalnya?”
Aku mengikuti suara itu hingga tiba di sebuah ruangan dengan sebuah cermin besar berdiri di salah satu sisinya.
Suara itu seolah-olah datang dari balik cermin.
Aku mendekat.
Namun yang kulihat hanyalah bayanganku sendiri.
Wajah pucat. Rambut sedikit berantakan. Mata yang dipenuhi kebingungan. Tidak ada seorang pun di belakangku.
“Siapa kau?”
Hening.
Kemudian terdengar helaan napas.
Begitu lembut hingga menyerupai hembusan angin di atas permukaan danau.
Aku menahan napas.
“Aku...”
Suara itu terdengar ragu.
“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menakutimu.”
Ada kesedihan yang begitu dalam dalam suaranya.
“Aku hanya... takut tidak bisa bertemu denganmu secara langsung.”
Entah mengapa, rasa takutku perlahan menghilang.
Aku justru ingin mendengar lebih banyak.
“Kenapa?”
“Aku hanya ingin membantumu.”
Suara itu terdengar lebih lembut.
“Kau memiliki bakat menyanyi yang jauh lebih besar daripada yang kau sadari. Aku tidak ingin melihat bakat itu terkubur begitu saja.”
Aku terdiam.
Kata-katanya mengingatkanku pada sebuah legenda yang pernah diceritakan ayah.
Sebuah cerita yang dahulu sering kudengar ketika masih kecil.
Tentang Malaikat Musik.
Konon, ketika musik seseorang mampu menyentuh hati seorang malaikat, sang malaikat akan datang kepadanya. Ia akan melindungi, membimbing, dan mengajarkan jalan yang harus ditempuh oleh orang itu.
Aku masih mengingat malam terakhir bersama ayah. Tangannya menggenggam tanganku dengan erat. Tubuhnya telah begitu lemah, tetapi senyumnya masih sama seperti dahulu. Ia berjanji akan berdoa agar suatu hari Malaikat Musik datang kepadaku.
Saat itu aku mengira semuanya hanyalah dongeng. Sebuah cerita untuk menenangkan seorang anak yang ketakutan menghadapi kehilangan.
Namun sekarang...
Aku berdiri di depan sebuah cermin, mendengar suara misterius yang memanggil namaku.
“Apakah...”
Suaraku bergetar.
“Apakah kau seorang Malaikat Musik?”
Tidak ada jawaban.
Aku menunggu.
Satu detik.
Dua detik.
Mungkin ia tidak mendengarku.
“Malaikat Musik?”
Aku memanggilnya sekali lagi.
Kemudian suara itu akhirnya menjawab.
“Ya.” Hanya satu kata.
Namun kata itu membuat dadaku sesak.
“Aku seorang malaikat.” Suaranya terdengar begitu tenang.
“Dan aku di sini untuk membimbingmu.”
Air mataku jatuh tanpa kusadari. Aku menutup mulut dengan tangan. Entah mengapa, kebahagiaan memenuhi dadaku.
Untuk pertama kalinya sejak aku kehilangan ayah...
Aku merasa seolah-olah tidak benar-benar sendirian. Mungkin inilah cara ayah menepati janjinya. Mungkin doanya benar-benar sampai kepadaku. Malaikat Musik mengatakan bahwa ia akan membantuku berlatih. Ia akan mengajariku cara menggunakan suaraku.
Ia bahkan akan mengatur latihan dan pelajaranku agar aku dapat berkembang tanpa menyia-nyiakan bakat yang kumiliki.
Sejak malam itu, hubungan kami semakin dekat. Hari demi hari berlalu. Aku mulai menceritakan hampir segala sesuatu kepadanya.
Kekhawatiranku.
Harapanku.
Mimpi-mimpiku.
Bahkan hal-hal kecil yang mungkin tidak berarti bagi orang lain.
Dan ia selalu mendengarkan.
...----------------...
“Christine.”
Suara itu kembali terdengar.
“Apa yang sedang kau pikirkan?”
Aku tersenyum kecil.
“Aku baru ingat pertama kali kita berbicara.” Aku menatap bayanganku di cermin.
“Waktu itu aku berpikir tidak mungkin bagiku untuk berdiri di atas panggung.”
“Namun sekarang kau telah merasakan daya pikat panggung.”
Aku tertawa pelan.
“Ya, Malaikatku.”
Aku menghela napas.
“Tetapi kurasa aku belum benar-benar mengalami panggung.”
“Mengapa?”
“Karena aku belum pernah berdiri di tengah panggung.” Lanjutnya.
Hening sesaat.
Kemudian suara itu terdengar.
“Christine.” Nada suaranya berubah menjadi lebih serius.
“Aku tahu kau khawatir. Tapi kau seharusnya tidak demikian. Percayalah pada dirimu sendiri.”
Aku menggenggam ujung gaunku.
“Bakatmu jauh melampaui Carlotta.”
Aku terdiam.
“Suatu hari nanti, suaramu akan membuat seluruh Paris bertepuk tangan.”
Aku tersenyum malu. “Terima kasih sudah meyakinkanku.”
“Aku tidak sedang berusaha menghiburmu.” Nada suaranya terdengar begitu yakin.
“Suatu hari nanti kau akan mengetahui bahwa aku tidak pernah mengatakan sesuatu hanya untuk membuatmu merasa lebih baik.”
Aku tersenyum.
Namun sebelum aku sempat menjawab, ia berkata,
“Christine, sudah larut. Pulanglah. Aku bangga dengan penampilanmu hari ini.” Suaranya menjadi lembut kembali.
“Ingatlah kegembiraan yang kau rasakan malam ini. Biarkan perasaan itu menemanimu ketika kau tertidur.”
Kata-katanya menghangatkan hatiku. Aku berdiri diam di depan cermin. Memandangi bayanganku sendiri. Untuk sesaat, aku tersenyum.
“Selamat malam, Malaikat Musik.”
Tidak ada jawaban.
Aku hendak berbalik ketika...
Aaaargghhhhhhh
“Apa?!” Pikirku
Sebuah teriakan tiba-tiba memecah kesunyian. Aku tersentak. Suara keras menyusul sesaat kemudian.
BRAK!
Gema suara itu menjalar ke seluruh gedung opera. Tubuhku menegang. Aku segera meraba-raba dalam kegelapan.
Tanganku menyentuh sesuatu. Cermin. Permukaannya dingin. Dingin seperti es.
Aku menarik tanganku dengan cepat.
“Apa yang terjadi...?” Jantungku berdegup kencang.
Kemudian...
Sebuah cahaya melintas di permukaan cermin.
Aku memejamkan mata secara refleks.
Ketika kubuka kembali, tidak ada apa-apa.
Hanya kegelapan.
Aku menatap pintu di ujung ruangan.
Aku bisa saja berlari keluar.
Namun sesuatu menahanku.
Bagaimana jika suara tadi berasal dari luar?
Bagaimana jika seseorang sedang menungguku di koridor?
Aku berdiri terpaku.
Waktu terasa berjalan begitu lambat.
Detik demi detik berlalu.
Ketakutan mulai merayap ke seluruh tubuhku.
(Apa yang harus kulakukan?)
Aku menggenggam erat ujung gaunku.