Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
Rencana yang Gagal, Jalan-Jalan yang Terjadi
Empat hari setelah tiba di Menteng, Karina mulai memahami bahwa pagar Kediaman Wijaya bekerja dua arah.
Pagar itu mencegah orang luar masuk. Pada saat yang sama, setiap orang yang hendak keluar harus menyebut tujuan, kendaraan, waktu pulang, dan siapa yang ikut.
Semua disebut prosedur keamanan.
Tidak ada yang melarang Karina berjalan ke gerbang. Tidak ada yang mengambil HP-nya atau mengunci kamar. Namun ketika ia bertanya apakah bisa memakai mobil tanpa jadwal, petugas keamanan harus menghubungi pengelola kendaraan. Pengelola kendaraan perlu menunggu konfirmasi dari kantor Reyhan. Sopir yang ditugaskan juga wajib mengirim rute.
Sangkar emas rupanya tidak membutuhkan jeruji di jendela.
Pagi itu Karina menuju sayap belakang untuk menemui Tuti. Luka di pelipis gadis itu sudah mengering. Setelah pemeriksaan, ia dinyatakan tidak mengalami cedera dalam yang terlihat, tetapi masih perlu istirahat dan kontrol bila pusing kembali.
Tuti kini tinggal di kamar kecil dekat area pegawai rumah. Kamarnya bersih dan nyaman, tetapi keluar-masuk area tersebut diatur oleh seorang pengawas jadwal. Bahkan untuk pergi ke minimarket, Tuti harus meminta orang lain menemaninya karena urusan keselamatan dan statusnya sebagai saksi.
"Saya ingin tanya sesuatu," kata Karina setelah memastikan pintu tertutup.
Tuti langsung duduk lebih tegak. "Apa, Bu?"
"Kalau suatu hari saya perlu mencari tempat tinggal sendiri, kamu tahu daerah yang sewanya tidak terlalu mahal dan aman untuk anak-anak?"
Mata Tuti melebar. "Ibu mau pergi dari sini?"
"Bukan sekarang. Saya hanya perlu tahu pilihan yang ada."
"Saya belum kenal Jakarta." Tuti menurunkan suara. "Tapi saya bisa tanya orang-orang dapur. Mungkin ada yang tahu kos atau kontrakan."
"Jangan tanya dulu kalau bisa membuat orang curiga."
Tuti memandang pintu. "Memang susah bicara tanpa orang tahu. Jadwal saya saja sudah ditulis. Kemarin mau keluar beli sabun, katanya harus tunggu orang yang bisa antar."
"Mereka mungkin benar-benar melindungimu dari Bang Jajang."
"Saya tahu. Saya juga bersyukur." Tuti meremas ujung bajunya. "Tapi aturan keluarga ini bukan aturan yang bisa kita tinggalkan begitu saja. Ibu sendiri kalau mau pergi pasti semua orang langsung tahu."
Karina mengangguk. Itulah masalahnya.
Ia belum punya penghasilan. Rekening lama memang sudah kembali, tetapi ia belum tahu jumlah uang, riwayat transaksi, atau apakah Sebastian dapat memantaunya. Membawa dua anak keluar tanpa rencana justru akan menempatkan mereka dalam bahaya baru.
Rencana mencari jalan rahasia bahkan gagal sebelum menjadi rencana.
"Untuk sekarang, fokus pulih dulu," katanya. "Dan pikirkan apa yang ingin kamu lakukan setelah semuanya lebih tenang. Bukan hanya pekerjaan di rumah ini."
Tuti tampak bingung. "Saya bisa memilih?"
"Pelan-pelan, iya."
Karina meninggalkan sayap belakang dengan perasaan berat. Ia bisa terus mengukur setiap pagar dan mencari celah, tetapi dua anak di lantai atas telah menghabiskan empat hari menyesuaikan diri dengan kamar baru, suara baru, dan wajah para pelayan yang berganti.
Mereka membutuhkan udara di luar rumah, bukan Mama yang semakin cemas di dalamnya.
Lucas masih terbangun setiap malam ketika pendingin ruangan berbunyi. Nathan belum berani mengambil buah di meja tanpa bertanya, meski Bi Asih sudah berkali-kali mengatakan makanan itu untuk mereka. Kemewahan belum membuat keduanya merasa memiliki rumah. Ia hanya memberi mereka lebih banyak benda yang takut mereka sentuh.
Saat Karina mengusulkan jalan-jalan, Lucas langsung berdiri di atas kasur.
"Ada tempat main?"
"Banyak. Kita pilih yang ada permainan dan ruang terbuka."
Nathan menatapnya curiga. "Harus bayar?"
"Mama yang urus."
"Kalau mahal?"
"Kita tetap makan malam nanti. Nggak perlu takut."
Bi Asih membantu menyiapkan pakaian dan menghubungi kendaraan. Tak lama kemudian, kabar datang bahwa sebelum menuju Ancol, Karina perlu singgah di kantor pusat Wijaya Group untuk menandatangani pembaruan data asuransi kesehatan keluarga. Dokumen itu seharusnya dapat dikirim, tetapi tanda tangan wali untuk dua anak perlu dicocokkan oleh bagian administrasi.
Karina menerima alasan itu. Setidaknya kali ini setiap tahap disebutkan jelas.
Menjelang siang, mereka berangkat. Nathan dan Lucas duduk di kedua sisi Karina. Wajah Lucas nyaris menempel ke jendela ketika mobil memasuki kawasan gedung perkantoran.
Kantor pusat Wijaya Group menjulang dengan dinding kaca kebiruan dan nama perusahaan terpasang di atas pintu masuk. Petugas keamanan memeriksa kendaraan, lalu seorang staf membawa mereka ke meja tunggu di lobi sementara dokumen diproses.
Karina menandatangani dua formulir setelah membaca setiap bagian. Nathan memperhatikan ujung penanya. Lucas sibuk melihat pantulan tubuhnya pada lantai mengilap.
Tak jauh dari mereka, tiga pegawai muda berdiri dekat kedai kopi. Suara mereka cukup pelan untuk dianggap aman, tetapi lobi luas membawa potongan ucapan lebih jauh daripada yang diduga.
"Presdir baru itu benar-benar muncul mendadak," kata salah satunya. "Belum sebulan, tiga orang lama langsung dipindah."
"Bukan mendadak. Katanya dia sudah kumpulkan saham diam-diam sejak lama."
"Tetap saja gila. Anak luar nikah Pak Herman bisa masuk dan mengambil kursi utama sebelum keluarga resmi siap."
Pegawai ketiga mendesis, menyuruh rekannya mengecilkan suara.
Karina tidak menoleh. Ia tetap membaca salinan formulir, tetapi setiap kata masuk dengan jelas.
Anak luar nikah Pak Herman.
Kursi utama.
Perubahan yang terjadi lebih cepat daripada dugaan keluarga.
Itu menjelaskan sebagian rasa takut para pegawai rumah. Sebastian bukan hanya anggota keluarga yang kaya. Ia seseorang yang telah merebut posisi di tengah orang-orang yang mungkin tidak pernah menganggapnya berhak duduk di sana.
"Istrinya juga akhirnya dibawa pulang, kan?" bisik pegawai pertama.
"Iya, sama dua anaknya. Kasihan juga. Selama ini katanya ditaruh jauh dari Jakarta."
"Kasihan siapa? Anaknya atau istrinya? Soalnya yang saya dengar, Nyonya itu..."
"Sudah. Jangan bahas di kantor."
Percakapan terputus ketika seorang staf administrasi datang membawa kartu dan dokumen Karina.
"Semua sudah selesai, Nyonya Wijaya. Data Nathan dan Lucas sudah aktif."
"Terima kasih."
Karina menggandeng kedua anak dan berjalan keluar tanpa melihat kelompok pegawai tadi. Informasi yang didengarnya hanya serpihan gosip, bukan bukti. Namun serpihan itu memperjelas bahwa Karina lama, Sebastian, dan dua anak ini telah menjadi cerita bagi orang luar jauh sebelum ia tiba.
Ia tidak akan membiarkan gosip tersebut merampas satu hari baik dari Nathan dan Lucas.
"Kita jadi pergi main?" tanya Lucas saat masuk mobil.
"Jadi. Kita ke Dufan."
Sorak kecil Lucas memenuhi kabin. Nathan berusaha tetap tenang, tetapi sudut bibirnya ikut terangkat.
Mobil meninggalkan kawasan perkantoran menuju Ancol. Gedung-gedung melintas di luar jendela, tinggi dan rapat. Lucas memandanginya beberapa saat sebelum tiba-tiba bersandar kepada Karina.
"Mama," katanya pelan.
"Hm?"
Anak itu memainkan ujung sabuk pengaman. "Opa sama Oma kayaknya nggak suka kami, deh."
Senyum Karina menghilang.