Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Kembali ke tepian Sungai Kapuas, Raka menggigil.
Tubuhnya yang penuh luka terasa seperti dibakar dari dalam. Bukan api biasa. Sesuatu mengalir melalui darahnya, memasuki tulang, dada, mata, dan jiwanya.
Luka di wajahnya menutup perlahan.
Tulang rusuk yang retak menyatu kembali.
Darah yang mengalir dari bibirnya berhenti seolah diperintah oleh kekuatan tak terlihat.
Raka ingin berteriak, tetapi suaranya tertahan.
Di hadapannya, cahaya di atas Sungai Kapuas berkumpul menjadi sosok perempuan.
Wujudnya tidak sepenuhnya jelas. Ia seperti bayangan dewi yang terbentuk dari cahaya emas dan kabut putih. Rambut panjangnya bergerak tanpa angin. Matanya tertutup. Wajahnya anggun, tetapi tekanan yang keluar darinya membuat udara di sekitar Raka terasa berat.
Ketika perempuan itu membuka mata, dunia seperti menunduk.
Lalu suaranya terdengar.
Bukan dari luar.
Tapi langsung dari dalam jiwa Raka.
[Darah pewaris telah diterima.]
Raka membeku.
Suara itu dingin, indah, dan agung. Seolah berasal dari seseorang yang sudah menunggu terlalu lama.
[Segel pertama runtuh.]
[Rantai langit terputus.]
[Takhta yang hilang telah menemukan wadahnya.]
Raka berusaha menarik napas.
“Kau… siapa?”
Sosok perempuan itu menunduk perlahan. Gerakannya pelan, tetapi terasa seperti seluruh langit ikut memberi hormat.
[Aku bukan siapa-siapa, Tuan.]
[Aku hanyalah suara yang ditinggalkan untuk membimbing kepulangan Anda.]
Raka menatapnya dengan bingung.
“Kepulangan…?”
Sebelum ia mendapat jawaban, cahaya emas gelap di bawah tubuhnya naik seperti pusaran. Lingkaran kuno itu masuk ke dadanya, menembus kulit, darah, dan kesadarannya.
Raka menjerit tanpa suara.
Dalam satu kedipan, ia tidak lagi berada di tepi Sungai Kapuas.
Ia berdiri di ruang luas tanpa batas.
Di bawah kakinya bukan tanah, melainkan lautan bintang yang retak. Langit di atasnya hancur seperti pecahan kaca raksasa. Di kejauhan, ribuan rantai emas patah melayang di udara.
Dan di tengah semua kehancuran itu, sebuah takhta berdiri sendirian.
Takhta emas.
Besar.
Agung.
Terlalu megah untuk manusia.
Terlalu menakutkan untuk disebut singgasana biasa.
Di depan takhta itu, tertancap sebuah pedang.
Pedang panjang berwarna hitam keemasan. Bilahnya retak halus, tetapi setiap retakan memancarkan cahaya seperti matahari kecil. Gagangnya dihiasi lambang mahkota retak. Di sekelilingnya, ribuan rantai patah berserakan, seolah banyak pihak pernah mencoba mengikat pedang itu, tetapi tidak pernah mampu menghancurkannya.
Raka menatap pedang itu dengan napas tertahan.
“Apa itu…”
Suara perempuan itu kembali menggema di belakangnya.
[Pedang Penghakiman Absolut.]
[Ia belum bangun sepenuhnya.]
[Namun namanya telah mengingat Tuan.]
Raka melangkah mundur.
Pada saat itu, kabut bintang di kejauhan bergerak. Dari baliknya, muncul ribuan sosok agung. Mereka tampak seperti dewa, raja, dan makhluk tinggi yang berdiri di atas dunia.
Namun anehnya, tidak satu pun dari mereka berani mendekati takhta.
Tidak satu pun berani menyentuh pedang itu.
Sebagian menatap Raka dengan kebencian.
Sebagian menatapnya dengan ketakutan.
Sebagian lagi berlutut, tetapi tubuh mereka gemetar seolah dipaksa oleh ingatan lama yang tidak bisa mereka lawan.
Lalu sebuah suara tua terdengar dari balik kabut.
“Jangan biarkan dia mengingat.”
Raka menoleh cepat.
“Siapa mereka?”
Sistem tidak langsung menjawab.
[Mereka adalah sisa dari langit yang pernah berkhianat.]
Dada Raka terasa sesak.
Bayangan-bayangan asing menyerbu kepalanya. Ia melihat perang di atas lautan bintang. Ia melihat ribuan pedang jatuh seperti hujan. Ia melihat langit runtuh. Ia melihat para dewa berteriak. Ia melihat takhta emas retak.
Lalu ia melihat seseorang berdiri sendirian di hadapan para dewa.
Wajah sosok itu buram.
Namun entah mengapa, Raka merasa sosok itu sedang menatap balik kepadanya.
Seperti dirinya.
Tapi bukan dirinya.
Suara sistem terdengar lagi, kali ini lebih dekat dan lebih lembut, namun tetap membawa tekanan yang sulit dijelaskan.
[Ingatlah perlahan, Tuan.]
[Anda bukan manusia yang diberi kekuatan.]
[Anda adalah kekuatan yang dipaksa terlahir sebagai manusia.]
Kesadaran Raka seperti ditarik paksa kembali ke tubuhnya.
Ia membuka mata.
Tepian Sungai Kapuas kembali terlihat.
Air yang menggantung jatuh perlahan ke tempatnya tanpa suara. Retakan di langit mulai menutup, tetapi cahaya emas masih berdenyut samar di balik awan. Lingkaran kuno di tanah perlahan menghilang, meninggalkan bekas hangus berbentuk mahkota retak.
Raka menarik napas panjang.
Tubuhnya tidak lagi sakit.
Lukanya hilang.
Tapi sesuatu di dalam dirinya telah berubah.
Ia bisa mendengar detak jantung orang-orang yang bersembunyi jauh di belakangnya. Ia bisa melihat sisa ketakutan menggantung di udara seperti kabut tipis. Ia bisa merasakan Sungai Kapuas seperti nadi tua yang berdenyut pelan di sampingnya.
Dan ia bisa merasakan Bram serta anak buahnya belum pergi terlalu jauh.
Beberapa puluh langkah dari sana, Bram dan anak buahnya berhenti ketika melihat cahaya aneh dari arah sungai. Mereka berbalik dengan wajah bingung.
Salah satu dari mereka menunjuk Raka.
“Bang… dia berdiri.”
Bram menoleh.
Wajahnya langsung berubah.
Raka berdiri di bawah langit yang masih retak samar. Pakaiannya masih kotor, tetapi tubuhnya tegak. Matanya yang sebelumnya gelap kini memantulkan cahaya emas tipis.
Tidak menyala berlebihan.
Hanya cukup untuk membuat siapa pun yang menatapnya merasa bahwa mereka sedang melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilawan.
Bram mencoba tertawa.
“Hebat juga kau. Masih bisa berdiri setelah dihajar begitu?”
Raka tidak menjawab.
Ia hanya menatap Bram.
Detik itu juga, kaki Bram kehilangan kekuatan.
Jantungnya seperti diremas oleh tangan tak terlihat. Udara di sekitarnya menjadi berat. Ia ingin mundur, tetapi tubuhnya tidak menurut.
Di belakang Raka, Bram melihat bayangan samar.
Sebuah takhta.
Dan di depan takhta itu, sebuah pedang hitam keemasan tertancap diam.
Bram tidak tahu apa yang ia lihat.
Namun tubuhnya lebih dulu memahami.
Ia jatuh berlutut.
DUK.
Anak buahnya terkejut.
“Bang Bram?”
Sebelum sempat menolong, mereka ikut jatuh satu per satu. Lutut mereka menghantam tanah basah. Wajah mereka pucat. Napas mereka tersengal. Tidak ada satu pun yang mampu berdiri, seolah bahu mereka ditekan oleh tangan raksasa dari langit.
Raka menatap mereka dalam diam.
Ia masih belum sepenuhnya mengerti apa yang terjadi. Ia masih bingung. Masih ada rasa takut yang tersisa di dalam dadanya.
Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, orang-orang yang tadi menginjaknya tidak mampu mengangkat kepala di hadapannya.
Suara sistem terdengar dingin di dalam jiwanya.
[Tuan.]
[Makhluk rendah di hadapan Anda pernah menginjak harga diri Anda.]
[Apakah sistem perlu menghapus keberanian mereka?]
Raka perlahan menunduk melihat tangannya sendiri.
Tangannya masih tangan manusia.
Tetapi di dalam tubuhnya, ia merasakan sesuatu yang jauh lebih tua dari daging dan tulang.
Ia melangkah mendekati Bram.
Tanah di bawah kakinya bergetar pelan.
Bram semakin menunduk. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Bibirnya gemetar.
“Ra… Raka…” suara Bram pecah. “Apa yang kau lakukan?”
Raka berhenti tepat di depannya.
Tidak ada senyum di wajahnya. Tidak ada amarah meledak-ledak. Hanya ketenangan yang membuat malam terasa semakin dingin.
“Lucu,” ucap Raka pelan.
Bram menelan ludah.
Raka menatapnya dari atas.
“Tadi kau bilang dunia ini bukan tempat orang lemah bicara.”
Udara semakin berat.
Lampu jalan yang tersisa berkedip.
Raka melanjutkan dengan suara rendah.
“Sekarang coba bicara.”
Bibir Bram bergerak.
Namun tidak ada suara yang keluar.
Matanya membesar penuh ketakutan. Ia mencoba berteriak, tetapi tenggorokannya seperti dikunci oleh kekuatan yang tidak terlihat.
Anak buahnya mulai menangis tanpa suara.
Sistem berbisik di dalam jiwa Raka.
[Sabda belum sepenuhnya terbuka.]
[Namun kehendak Tuan telah cukup untuk membungkam mereka.]
Raka menatap Bram beberapa saat.
Ia bisa saja membalas semua pukulan itu. Ia bisa saja membuat mereka merasakan sakit yang sama. Bahkan lebih. Sesuatu di dalam dirinya tahu bahwa sekarang ia mampu melakukannya.
Namun ia tidak melakukannya.
Belum.
Raka mengangkat wajah dan menatap Sungai Kapuas yang kembali mengalir.
Di permukaan air yang gelap, ia melihat pantulan dirinya.
Tetapi selama satu detik, pantulan itu bukan dirinya.
Melainkan sosok lain.
Sosok yang berdiri di depan takhta emas, dengan Pedang Penghakiman tertancap di sisinya.
Raka berkedip.
Pantulan itu hilang.
Angin malam kembali bergerak.
Suara kota perlahan terdengar lagi, seolah Pontianak baru saja dilepaskan dari cengkeraman sesuatu yang agung.
Raka berbalik meninggalkan Bram dan anak buahnya yang masih berlutut di tanah.
Ia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
Ia belum tahu kenapa para dewa terbangun.
Ia belum tahu kenapa suara itu memanggilnya Tuan.
Ia juga belum tahu bahwa di dunia jauh bernama Dunia Immortal, para kultivator mulai membuka gerbang menuju Pontianak.
Namun satu hal sudah berubah malam itu.
Raka Pratama tidak lagi berjalan sebagai pemuda yang bisa diinjak sesuka hati.
Di dalam jiwanya, suara wanita agung itu kembali terdengar.
[Penyatuan awal selesai.]
[Takhta mengenali pemiliknya.]
[Selamat datang kembali, Dewa Absolut.]
Langkah Raka terhenti sesaat.
Di balik retakan alam dewa yang perlahan menutup, sebuah pedang tua yang telah tertidur ribuan tahun bergetar pelan.
Retakan kecil muncul di bilahnya.
Seolah ia baru saja membuka mata.
Malam itu, Raka Pratama tidak mendapatkan kekuatan.
Ia hanya mulai mengingat kembali sesuatu yang pernah membuat langit gemetar.