Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. ( Hilang Keperawanan)
Andrea termenung seperti orang bodoh mengingat hal memalukan yang terjadi pagi tadi. Harga diri yang amat dia junjung, rusak oleh kecerobohannya sendiri. Menyebut tak etis jika seorang gadis bertandang ke rumah laki-laki di malam hari, dengan sadar dia lakukan. Dan buruknya pagi tadi dia terbangun di atas kasur pria tersebut dengan posisi memeluknya seperti guling.
"Aku benar-benar sudah gila."
Saking larut oleh lamunan, Andrea tak sadar kalau di sebelahnya ada Cheril. Temannya ini nampak kaget mendengar gumaman barusan.
"Kau ini kenapa sih, An. Sejak pagi terus saja melamun dan mengatakan kalimat tak jelas. Sakit?"
"Otakku sudah tidak waras. Hilang sudah harga diri yang selama ini ku jaga baik-baik. Kebodohanmu tak ada obat, Andrea," ucap Andrea terus merutuki diri sendiri.
(Harga diri Andrea hilang? Jangan-jangan .... )
"Eh!!"
Andrea kaget setengah mati saat tangannya tiba-tiba ditarik. Seketika lamunannya buyar, berganti dengan rasa tak nyaman saat Cheril menyipitkan mata menatapnya.
"Ke-kenapa menatapku begitu?"
"Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi."
"Hah?"
"An?" Cheril memajukan wajah ke samping telinga Andrea. "Kau sudah tidak suci lagi sekarang. Bilang padaku pada siapa kau memberikannya. Cepat!"
Bagai tersambar petir, tubuh Andrea kaku mendengar bisikan Cheril barusan. Sudah tak suci lagi? Ya Tuhan, apa isi otak temannya ini sehingga berpikir demikian?
"Tenang saja, An. Zaman sekarang hal seperti itu bukan sesuatu yang tabu lagi. Aku cuma ingin tahu dengan siapa kau melakukannya. Sakit tidak?" cecar Cheril penuh rasa ingin tahu. Mimik wajahnya kentara sekali betapa dia begitu penasaran dengan hal tersebut.
Pletaakk
"Awww! Kenapa menjitak kepalaku!" pekik Cheril kaget sambil mengelus kepalanya. "Galak sekali. Akukan cuma penasaran saja."
"Penasaran kepalamu itu!" amuk Andrea emosi. "Darimana kau punya pemikiran seperti itu tentangku hah! Bisa-bisanya menuduh teman sendiri telah hilang keperawanan. Sudah gila ya?"
Cheril menatap Andrea dari ujung rambut hingga ujung sepatunya.
(Oh, mungkin dia begini karena malu sudah ketahuan tak perawan lagi)
"Dengar ya, Cher! Walaupun di kota hal seperti ini dianggap biasa, aku bukanlah perempuan seperti itu. Kesucian adalah harga mati yang tak bisa asal kuberikan selain pada suamiku nanti. Jadi jangan asal menguap. Nanti bisa jadi fitnah."
"Oke-oke aku mengerti. Tenang saja, aku akan menjaga rahasiamu dengan rapat," sahut Cheril sembari membuat gerakan mengunci mulut. Setelah itu dia tersenyum lebar. "Aman. Hehehe."
Cengo, Andrea menggeplak keningnya sendiri. Sepertinya gadis ini tak paham dengan yang dia ucapkan barusan.
"Aku masih perawan, Cheril," ungkap Andrea setengah putus asa. Dia tak tahan dengan sikap Cheril yang terus menatapnya sambil tersenyum tidak jelas.
"Iya aku tahu kau masih perawan."
"Benar-benar perawan. Masih tersegel rapat. Ku mohon percayalah."
"Tentu saja aku sangat percaya. Kitakan teman."
"Tapi reaksimu?"
Senyum di bibir Cheril tiba-tiba berubah menjadi seringai lebar. Jahil, dia menatap bagian intim Andrea lalu berdecak sambil menggelengkan kepala. "Bagaimana rasanya? Ada yang bilang saat pertama kali melakukan rasanya cukup menyakitkan. Kau seperti itu juga tidak?"
(Ya Tuhaannn, tolong sadarkan temanku ini. Bagaimana cara menjelaskan padanya kalau aku ini masih suci dan tersegel?)
Saat Andrea sedang frustasi menghadapi tuduhan sesat dari Cheril, Veroz datang menghampiri mereka. Malu, dia pun berniat melarikan diri. Akan tetapi belum sempat Andrea pergi dari sana, Veroz sudah lebih dulu mengatakan sesuatu yang mana membuatnya membeku di tempat.
"Nona Andrea, semalam jaketmu tertinggal di rumah Tuan Lucien. Aku diminta mewakilkannya untuk mengembalikan jaket ini."
Duaarrrr
Kedua mata Cheril melotot begitu mendengar perkataan Veroz. Jaket Andrea tertinggal di rumah bos mereka? Oh my God, jangan bilang ....
"Buang jauh-jauh pikiran kotormu sebelum aku membelah kepalamu yang kecil itu!" ancam Andrea tanggap akan apa yang sedang dipikirkan oleh Cheril. Gugup, dengan cepat dia merebut jaketnya dari tangan Veroz. "Terima kasih."
"Sama-sama, Nona. Kalau begitu aku permisi," sahut Veroz agak bingung melihat gelagat dua gadis di depannya. Yang satu terlihat panik dan kesal, yang satunya lagi terlihat kaget sambil tersenyum aneh.
(Ada apa dengan mereka? Seperti baru mengetahui rahasia besar saja)
Enggan meladeni kegilaan Cheril, Andrea melarikan diri dengan cepat menuju kamar mandi. Dia lalu masuk ke salah satu toilet, mengunci pintu lalu memeluk jaket erat-erat.
"Kenapa sih Veroz harus muncul di saat yang tidak tepat. Sekarang Cheril pasti mengira kalau aku dan Lucien sudah .... argghh, kenapa jadi begini sih! Apa yang harus ku lakukan sekarang!" panik Andrea gelisah setengah mati.
Tok tok tok
"Andrea, buka pintunya sekarang. Aku tahu kau ada di dalam." Cheril terkikik sambil terus mengetuk pintu toilet. Siapa sangka temannya ini sudah menjadi pasangan tidur bosnya. "Ayo cepat buka. Kalau tidak, aku akan memberi tahu seluruh orang di perusahaan kalau kau dan Tuan ....
Ceklek
Sreett
Ekpresi di wajah Cheril sekarang sangat menjengkelkan sekali. Alih-alih kaget, dia malah tersenyum lebar saat tangannya ditarik kasar oleh Andrea. Bahkan ketika dipaksa menaiki tangga, ekpresinya tetap terlihat bahagia. Kapan lagi bisa mengetahui rahasia sebesar ini. Hahahaha.
"Dengar ya! Antara aku dan Lucien tidak terjadi apapun. Oke, semalam aku memang tak sengaja tidur di rumahnya. Akan tetapi kami sungguh tidak melakukan hal yang melanggar batas. Aku sedang sedih, awalnya cuma ingin meminta bantuan. Siapa sangka malah ketiduran sampai pagi karena kelelahan menangis. Tolong kau jangan salah paham," ucap Andrea mencoba menjelaskan dengan tampang memelas. Bisa gawat kalau Cheril sampai membocorkan hal ini pada orang lain.
"Owh, jadi kau tak sengaja tertidur di rumah Tuan Lucien karena kelelahan menangis ya?"
Andrea mengangguk dengan cepat. Akhirnya anak ini paham juga. Namun, ada yang aneh dengan senyuman Cheril.
"Kau kenapa tersenyum seperti itu?" tanya Andrea curiga.
"Eih, kau seperti pada siapa saja. Menangis karena kelelahan lalu menginap di rumah seorang pria. Andrea, aku bukan manusia kolot. Walaupun kau menolak mengakui, tapi ucapanmu barusan cukup menjadi bukti kalau memang telah terjadi sesuatu dengan kalian. Itu hal yang wajar kok. Jadi kau tidak perlu malu," jawab Cheril sangat amat memaklumi.
"Jadi kau tetap menganggapku sudah hilang keperawanan?"
"Bukankah memang begitu?"
"Cheril, ayo ikut aku pergi ke dokter. Sepertinya ada yang salah dengan otakmu," ucap Andrea lesu. Dijelaskan seperti apapun kemungkinan besar temannya ini tak akan paham. Yang ada makin dia menjelaskan, Cheril malah semakin salah paham.
"Otakku baik-baik saja, Andrea. Justru kaulah yang harus pergi ke dokter. Itumu pasti lecet 'kan?"
Lunglai, Andrea berpegangan pada pinggiran tangga. Percuma, Cheril akan tetap salah paham padanya. Dia hanya bisa tertunduk lesu saat Cheril memberondongnya dengan pertanyaan aneh yang membuatnya ingin menangis karena jengkel. Harus dengan cara apa dia menjelaskan?
"Pengalaman pertamamu pasti berkesan sekali ya, An. Dari yang orang lain bilang, mension milik Tuan Lucien itu sangat besar dan megah. Tak terbayangkan seempuk apa kasur di rumahnya. Kau beruntung sekali bisa menginap di sana," celetuk Cheril berandai-andai.
"Bisa tidak kau berhenti bicara? Perutku mual mendengar ocehanmu yang menggelikan itu!" sarkas Andrea sinis. Tapi memang benar sih kasur di rumah Lucien sangat empuk. Membuat tidurnya menjadi nyaman dan kebablasan.
"Pelit sekali. Sekarang coba kau ceritakan semewah apa kamar bos kita. Kalian pasti mandi bersama dulu kan sebelum melakukan itu? Jacuzzinya besar tidak? Shower mandinya tipe yang seperti apa? Lantainya bagaimana? Wardrobenya pasti berisi baju-baju branded dan jam tangan mewah. Dia memberimu hadiah tidak?"
Berbagai pertanyaan tak lazim terus dilontarkan oleh Cheril yang mana membuat Andrea tak tahu harus menjawab apa. Sudah semalam mengetahui fakta mengejutkan dari neneknya, hari ini dia harus menerima nasib dianggap telah hilang keperawanan oleh temannya sendiri. Benar-benar hari yang buruk.
***
Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂