NovelToon NovelToon
Ketika Rekor Bertemu Rindu

Ketika Rekor Bertemu Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:149
Nilai: 5
Nama Author: Ella

Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.

Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.

Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.

"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"

Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Di dalam kamarnya yang luas namun terasa mencekam, Rindu menatap selembar kertas jadwal pelatihan khusus yang baru saja diletakkan asisten ayahnya di atas meja belajar. Begitu matanya membaca profil singkat sang pelatih baru, Rindu merasa darahnya berdesir hebat karena rasa tidak percaya dan frustrasi yang bercampur menjadi satu.

Dengan langkah tergesa-gesa, Rindu turun ke lantai bawah, mengabaikan anak tangga satu per satu. Ia menemukan ayahnya, Baskoro Prameswari, sedang merapikan dasinya di depan cermin besar ruang tengah, bersiap untuk pergi ke kantor. Di sofa tak jauh dari sana, Diana, ibu tirinya, sedang asyik membolak-balik majalah fashion.

"Ayah! Rindu nggak mau latihan di tempat ini! Rindu menolak privat sama pelatih ini!" seru Rindu, suaranya bergetar hebat menahan emosi yang sudah meluap sampai ke tenggorokan.

Baskoro tidak langsung berbalik. Ia menyelesaikan simpul dasinya dengan tenang, seolah kedatangan Rindu tidak lebih dari sekadar gangguan kecil. "Jadwal dan mobil sudah disiapkan, Rindu. Kamu tinggal berangkat sore ini ke kampus itu."

"Tapi Ayah tahu siapa yang disuruh ngelatih Rindu?" Rindu melangkah maju, meremas kertas jadwal di tangannya. "Dia cuma mahasiswa akhir jurusan olahraga! Namanya Kenzo Adhyaksa. Dia bahkan belum lulus kuliah, Ayah! Rindu ini pemegang rekor nasional, kenapa Ayah malah melempar Rindu ke pelatih amatir yang nggak jelas rekam jejak prestasinya?"

Bagi Rindu yang sejak kecil dididik di klub-klub elite dengan pelatih bersertifikasi internasional, keputusan ini terasa seperti sebuah penghinaan. Ia merasa ayahnya sudah menyerah padanya dan sengaja membuangnya ke tempat sembarangan hanya karena performanya sedang turun.

Diana meletakkan majalahnya ke meja dengan bunyi ketukan yang disengaja. Ia menatap Rindu dengan senyum sinis yang tipis. "Rindu, kamu harusnya tahu diri. Performa kamu kemarin memalukan di depan kolega Ayahmu. Ditunjuk pelatih dari universitas itu sudah bagus daripada kamu tidak latihan sama sekali."

"Aku melambat karena aku lelah! Bukan karena aku nggak bisa!" bantah Rindu, air matanya mulai menggenang di sudut mata, siap runtuh.

Baskoro akhirnya berbalik. Tatapan matanya sedingin es, menembus langsung ke manik mata Rindu, membuat gadis 17 tahun itu tertegun kaku.

"Ayah tidak peduli dia mahasiswa atau bukan, Rindu. Pihak universitas menjamin dia yang terbaik untuk menangani atlet yang sedang 'manja' dan drop seperti kamu. Tugasmu cuma satu: patuhi menunya, naikkan kembali catatan waktumu, dan kembalikan citra keluarga kita." Baskoro melirik jam tangannya, lalu berjalan melewati Rindu begitu saja tanpa menepuk pundaknya sedikit pun. "Segera berangkat. Mobil sudah menunggu di depan."

Setelah langkah sepatu ayahnya menghilang di balik pintu depan, rumah itu kembali sunyi. Rindu berdiri mematung di tengah ruangan, menatap kosong ke lantai marmer yang mengilat. Dadanya naik-turun menahan sesak.

Sambil menghapus air mata yang telanjur jatuh dengan kasar menggunakan punggung tangan, Rindu mengepalkan tinjunya. Dengan sisa-sisa harga diri sebagai seorang "Ratu Lintasan" yang terluka, ia terpaksa melangkah keluar rumah menuju mobil. Ia bersumpah dalam hati, jika mahasiswa bernama Kenzo itu berani berlagak tahu segalanya atau menekannya seperti Pelatih Hermawan, ia akan langsung angkat kaki dan mogok berenang selamanya.

**

Di luar, suara klakson mobil jemputan sudah berbunyi untuk ketiga kalinya, memecah kesunyian halaman rumah keluarga Prameswari. Namun, di dalam kamarnya, Rindu sama sekali tidak bergerak.

Ia duduk meringkuk di atas tempat tidur dengan kedua lutut ditekuk sejajar dada. Jaket olahraga tebal dan tas ranselnya tergeletak mengenaskan di lantai, dicampakkan begitu saja. Rindu menutup kedua telinganya rapat-rapat. Persetan dengan perintah Ayah. Persetan dengan ibu tirinya. Dan persetan dengan mahasiswa bernama Kenzo Adhyaksa itu.

Rindu benar-benar tidak sudi berangkat latihan. Hatinya terlanjur mati rasa, hancur oleh tuntutan yang tidak pernah memikirkan kondisinya. Jika semua orang menganggapnya hanya sebagai mesin, maka hari ini, mesin itu memilih untuk mogok total.

Sementara itu, di sudut kota yang berbeda, atmosfer di kolam renang indoor universitas perlahan mulai menenang. Anak-anak UKM Renang satu per satu sudah naik dari kolam, mengeringkan rambut dengan handuk, dan berpamitan pulang setelah menyelesaikan menu latihan sore mereka.

"Zo, kita balik duluan ya! Lo beneran mau nungguin anak SMA itu?" tanya Gani sambil menyampirkan tasnya, melirik Kenzo yang masih setia duduk di kursi panitia samping kolam.

Kenzo mendongak dari tumpukan jurnal skripsinya, lalu tersenyum santai. "Yo, duluan aja. Gue masih harus nunggu. Santai aja."

Setelah area kolam benar-benar sepi, menyisakan suara mesin filter air yang berdengung konstan, Kenzo melirik jam tangan digitalnya.

16.30. (Jadwal seharusnya Rindu tiba).

Kenzo masih melipat kertas panduan latihannya dengan rapi. Ia berpikir mungkin anak SMA itu terjebak macet sepulang sekolah. Dengan sabar, Kenzo membuka kembali laptopnya, mengetik beberapa kalimat untuk bab empat skripsinya sambil sesekali matanya melirik ke arah pintu kaca utama.

17.15. (Satu jam berlalu).

Suasana kolam renang semakin temaram karena matahari sore mulai tenggelam di balik jendela kaca besar. Kenzo menutup laptopnya, lalu berdiri untuk berjalan santai di sepanjang tepi lintasan empat lintasan yang sengaja ia kosongkan khusus untuk Rindu. Ia memutar-mutar peluit di jarinya tanpa raut wajah kesal sedikit pun. Sebagai sesama atlet yang pernah berada di titik jenuh, Kenzo tahu betul bahwa keterlambatan ini bukan sekadar masalah disiplin waktu, melainkan sebuah pernyataan perang dari mental yang sedang berontak.

18.00. (Jam latihan berakhir).

Lampu-lampu otomatis kolam renang mulai menyala satu per satu. Hingga menit terakhir jadwal latihan privat itu usai, Rindu Prameswari sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Kolam itu tetap sepi, hanya menyisakan pantulan cahaya lampu di atas air yang tenang tanpa riak.

Kenzo menghentikan langkahnya di ujung balok start lintasan empat. Ia mengembuskan napas pendek, lalu melirik map jepit berisi profil Rindu yang masih tergeletak di atas meja. Bukannya marah karena waktunya terbuang sia-sia, sebuah senyuman tipis yang sulit diartikan justru muncul di wajah pelatih muda itu.

"Mogok latihan, ya?" gumam Kenzo pelan.

Ia memasukkan stopwatch dan peluitnya ke dalam ransel, lalu menggendong tas besar itu di pundaknya. Kenzo berjalan menuju pintu keluar dengan langkah tegap. Keabsenan Rindu hari ini tidak membuatnya menyerah; justru ini membuat Kenzo semakin penasaran dengan seberapa keras kepala sang "Ratu Lintasan" yang sedang terluka itu.

**

Ternyata Rindu memilih untuk kembali ke tempat yang menyiksanya demi membuktikan bahwa ia tidak membutuhkan pelatih mahasiswa pilihan ayahnya. Namun, keputusan itu justru menjadi bumerang yang menghantam mentalnya lebih dalam.

Alih-alih pergi ke kolam renang universitas, Rindu justru menyuruh sopir pribadinya berbalik arah menuju kompleks olahraga klub renang lamanya. Dengan kepala tegak dan rahang mengeras, Rindu melangkah masuk. Ia ingin membuktikan pada ayahnya dan pada dirinya sendiri bahwa ia adalah Rindu Prameswari sang juara nasional, dan ia tidak butuh diasingkan bersama pelatih amatir.

Namun, keputusannya sore itu berubah menjadi neraka.

"Masuk lintasan satu, Rindu! Sekarang!" Suara menggelegar Coach Hermawan langsung menyambutnya begitu Rindu selesai berganti pakaian. Tidak ada sambutan hangat, tidak ada pertanyaan mengapa ia sempat absen. Yang ada hanya tatapan tajam dan intimidasi.

Rindu melompat ke air, dan sejak detik itu, ia langsung dibantai habis-habisan. Menu latihan yang diberikan Coach Hermawan malam itu sengaja dibuat di luar batas kemampuannya yang sedang tidak stabil. Interval short rest gaya bebas yang super ketat dipaksakan kepada Rindu tanpa ampun. Baru saja Rindu menyentuh dinding finish dan terengah-engah memburu oksigen dengan dada yang terasa membakar, peluit Coach Hermawan sudah melengking kembali.

"Go! Mulai lagi! Catatan waktu kamu melambat lagi, Rindu! Lambat!" teriak Coach Hermawan dari pinggir kolam, berjalan mondar-mandir sambil menghentakkan papan jalan ke lantai.

"Fokus kamu di mana?! Kaki kamu seperti tidak bertenaga! Kalau begini caranya, jangankan mempertahankan rekor, lolos kualifikasi internasional tahun depan pun kamu bakal jadi lelucon!"

Rindu terus dipaksa berenang melintasi kolam yang terasa semakin panjang dan mencekik. Otot-otot lengannya mulai kram, paru-parunya menjerit meminta udara, dan pandangannya mengabur di balik kacamata renang yang mulai berembun. Air kolam yang dingin itu bercampur dengan air mata frustrasi yang luruh di wajahnya. Setiap kayuhan terasa seperti siksaan.

"Cukup, Coach... Fisik saya..." Rindu mencoba protes di sela-sela napasnya yang putus-putus, bertumpu pada tali pembatas lintasan dengan tubuh gemetar hebat.

"Fisik kamu yang lemah, atau mental kamu yang manja?!" potong Coach Hermawan kejam, sama sekali tidak menunjukkan empati. "Ayahmu bayar klub ini bukan untuk melihat kamu mengeluh! Kalau kamu tidak bisa ambil target waktu di bawah 55 detik dalam putaran terakhir ini, keluar dari kolam saya!"

Hantaman kata-kata itu meruntuhkan sisa-sisa pertahanan Rindu. Dengan tubuh yang sudah mati rasa dan jiwa yang hancur berkeping-keping, ia kembali menenggelamkan kepalanya ke dalam air. Ia berenang dengan sisa tenaga yang dipaksakan, merasa bukan lagi sebagai seorang atlet, melainkan budak dari ambisi orang lain yang sedang disiksa perlahan-alahan. Malam itu, di bawah asuhan pelatih lamanya, Rindu tidak hanya kehilangan kecepatannya, tapi ia benar-benar kehilangan cintanya pada dunia renang.

Rindu melangkah masuk ke dalam rumah dengan tubuh yang terasa remuk redam. Rambutnya masih setengah basah, menyisakan lamat-lamat aroma kaporit yang pekat, dan kedua matanya sembap. Namun, pemandangan di ruang tengah langsung membuat langkah kaki Rindu terhenti kaku.

Baskoro sudah berdiri di dekat meja kaca dengan wajah yang mengeras, memegang ponselnya yang baru saja ditutup. Di sampingnya, Diana duduk dengan anggun, memasang wajah prihatin yang dibuat-buat, namun sorot matanya berkilat puas.

"Dari mana kamu, Rindu?" Suara Baskoro menggelegar, memecah keheningan rumah. "Ayah baru saja menelepon pihak universitas. Pelatih Kenzo menunggu kamu sampai jam latihan selesai, dan kamu sama sekali tidak datang ke sana!"

Rindu mengepalkan tangannya yang masih gemetar akibat kelelahan fisik. "Rindu latihan di klub lama, Ayah. Rindu dibantai habis-habisan oleh Coach Hermawan sampai fisik Rindu—"

"Tuh, kan, Mas. Apa aku bilang," Diana langsung memotong dengan suara lembut yang beracun, membelai lengan Baskoro untuk memanasi suasana. "Anak ini memang sudah pembangkang. Dia sengaja tidak mau datang ke universitas karena gengsi dilatih mahasiswa. Dia sengaja kembali ke klub lama cuma buat cari perhatian dan bikin skenario kalau dia tersiksa."

Rindu menatap ibu tirinya dengan pandangan tidak percaya. "Aku nggak bikin skenario, Tante! Aku beneran latihan sampai hampir kram!"

"Sudah berani berbohong, pintar bersilat lidah pula sekarang," sahut Diana memelas, sengaja mendesah berat ke arah Baskoro. "Mas, kalau Rindu terus-terusan manja dan keras kepala begini, dia bisa merusak kontrak iklan dengan investor minggu depan. Malu kita, Mas. Orang-orang akan mikir kita nggak bisa mendidik anak. Dia sengaja mogok latihan di tempat khusus itu karena mau meruntuhkan wibawa kamu sebagai kepala keluarga."

Hasutan Diana bekerja dengan sempurna. Ego Baskoro sebagai pengusaha besar dan kepala keluarga yang dominan langsung tersengat. Wajahnya memerah padam menahan amarah. Bagi Baskoro, ketidakpatuhan Rindu adalah tamparan bagi harga dirinya.

"Cukup, Rindu!" bentak Baskoro, menggebrak meja kaca hingga vas bunga di atasnya bergetar. "Ayah mengirim kamu ke pelatihan privat itu bukan untuk kamu tawar-tawar! Kamu pikir kamu sudah hebat karena memegang rekor? Di luar sana, atlet yang lebih muda dan lebih penurut sudah siap menggantikan posisi kamu!"

"Ayah... tolong dengerin Rindu sekali aja," bisik Rindu, air matanya kembali luruh. Dada dan paru-parunya yang tadi sudah sakit karena dipaksa berenang, kini terasa semakin sesak dihantam kata-kata ayahnya sendiri.

"Tidak ada bantahan lagi! Besok sore, asisten Ayah akan menyeret kamu langsung ke kolam universitas itu. Kalau kamu berani bolos atau mogok lagi," Baskoro menunjuk wajah Rindu dengan tatapan mengancam yang dingin, "Ayah tidak akan segan-segan menghentikan seluruh fasilitas, menyita semua medali kamu, dan memastikan kamu tidak akan pernah diizinkan menyentuh air kolam renang lagi seumur hidupmu!"

Baskoro berbalik pergi dengan langkah gusar, meninggalkan keheningan yang mencekam. Di sofa, Diana melempar senyum kemenangan yang sangat tipis kepada Rindu sebelum akhirnya ikut menyusul suaminya.

Rindu jatuh terduduk di atas lantai marmer yang dingin. Di kamar mewah ini, di rumah megah ini, ia merasa benar-benar sendirian. Dunianya runtuh berkeping-keping. Esok hari, ia tidak punya pilihan lain selain pergi ke kolam renang universitas itu bukan untuk berlatih dengan penuh semangat, melainkan sebagai seorang tawanan yang terpaksa menyerahkan sisa harga dirinya kepada pelatih mahasiswa bernama Kenzo Adhyaksa.

**

Sinar lampu neon yang agak temaram menerangi kamar kos berukuran empat kali empat meter itu. Kamar Kenzo tipikal kamar seorang atlet sekaligus mahasiswa tingkat akhir: rapi, namun padat. Di sudut ruangan, sebuah sepeda balap bersandar di dinding. Di atas rak buku, berjajar rapi belasan piala dan medali emas hasil keringatnya sendiri, bersandingan dengan tumpukan buku teks anatomi dan metode pelatihan olahraga.

Malam sudah larut, namun Kenzo masih setia duduk di depan meja belajar kayunya yang penuh dengan kertas coretan. Di layar laptopnya, dokumen Word berjudul SKRIPSI_BAB4_REVISI_FINAL_B.docx berkedip-kedip, menanti kalimat berikutnya.

Kenzo mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Jemarinya memijat pelipisnya yang berdenyut.

Malam ini, konsentrasinya pecah total. Pikirannya terus terbagi dua. Di satu sisi, besok pagi jam sembilan adalah tenggat waktu terakhir untuk mengumpulkan revisi analisis data bab empat kepada dosen pembimbingnya yang terkenal killer. Jika ia meleset lagi kali ini, jadwal sidangnya pasti akan mundur ke semester depan hal yang sangat ia hindari karena ia juga harus bersiap untuk Kejuaraan Nasional dua minggu lagi.

Namun, setiap kali jemarinya bersiap mengetik di atas kibor, bayangan lembar profil atlet bersampul biru itu kembali melintas di benaknya.

Rindu Prameswari, gadis tujuh belas tahun itu sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya sampai gerbang kolam renang kampus dikunci tadi malam. Sebagai pelatih, Kenzo berhak marah karena waktunya dibuang sia-sia. Namun, sebagai sesama atlet aktif, insting Kenzo mengatakan ada yang tidak beres.

Kenzo meraih ponselnya yang tergeletak di samping laptop. Ia membuka ruang obrolan dengan asisten pribadi keluarga Prameswari yang mengirimkan data Rindu kemarin. Tidak ada pesan masuk, tidak ada kabar pembatalan, tidak ada permintaan maaf. Kosong.

"Anak emas, pemegang rekor nasional, tapi mogok di hari pertama latihan privat..." gumam Kenzo pelan pada keheningan kamarnya.

Kenzo meraih gelas kopinya yang sudah dingin, meminumnya hingga tandas. Matanya kembali menatap foto Rindu yang sempat ia potret lewat ponselnya. Di foto itu, Rindu tersenyum menghadap kamera sambil memegang piala, namun Kenzo bisa melihat dengan sangat jelas guratan kelelahan dan tekanan yang hebat di balik binar matanya. Tatapan mata yang sangat familiar bagi Kenzo tatapan seseorang yang sedang dikejar oleh ekspektasi yang mencekik leher.

"Lo lagi protes sama siapa, Rindu? Sama bokap lo? Atau sama dunia yang cuma peduli sama angka rekor lo?" bisik Kenzo.

Ia meletakkan kembali ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah. Kenzo menarik napas dalam-dalam, mencoba memaksakan fokusnya kembali ke layar laptop. Ia harus menyelesaikan bab empat ini malam ini juga. Sebab ia tahu, menghadapi atlet yang sedang mogok dan terluka seperti Rindu Prameswari esok hari akan membutuhkan energi dan konsentrasi yang jauh lebih besar daripada sekadar menghadapi dosen pembimbing skripsi.

—bersambung—

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!