Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.
Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilau Di Balik Lensa
Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.
Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.
Memasuki tahun kedua, ia mulai konsisten mengunggah hasil riasannya di Instagram. Bukan sekadar riasan cantik biasa, Yeza memiliki kemampuan magis dalam menonjolkan karakter alami wajah seseorang, sekaligus menciptakan riasan teatrikal yang memukau. Perlahan tapi pasti, algoritma berpihak padanya. Pengikutnya melonjak dari ratusan menjadi puluhan ribu. Pujian mulai mengalir, dan beberapa lini kosmetik lokal mulai meliriknya.
Namun, sore itu, sebuah notifikasi dari akun tanpa foto profil mengubah seluruh garis hidupnya.
@Z_X99: Halo. Saya suka karakter riasan mata yang kamu buat di unggahan kemarin. Sangat detail dan bersih.
Yeza yang baru saja membersihkan kuas-kuasnya mengernyit. Akun bodong, batinnya. Di era digital seperti ini, pesan dari akun tanpa wajah seperti ini biasanya berakhir dengan tawaran investasi palsu atau sekadar orang iseng. Yeza hanya membacanya lewat bilah notifikasi tanpa berniat membalas.
Dua hari berlalu, akun yang sama kembali mengirimkan pesan.
@Z_X99: Saya serius. Saya sedang mencari penata rias pribadi yang bisa menjaga privasi dan memiliki visi seni yang segar. Apakah kamu bersedia menerima tawaran kerja?
Yeza tertawa kecil di kamarnya. "Kerja? Dengan akun hantu seperti ini?" gumamnya menggelengkan kepala. Ia memutuskan untuk mengetik balasan singkat demi menghentikan keisengan tersebut.
@yeza.makeup: Maaf, saya hanya menerima pesanan melalui tautan resmi di bio. Dan saya tidak bekerja dengan klien yang tidak bersedia menunjukkan identitas aslinya.
Ia mengira pembicaraan akan selesai di sana. Namun, ponselnya tiba-tiba bergetar hebat tiga menit kemudian. Sebuah pesan suara masuk, disusul oleh sebuah berkas video pendek berdurasi lima detik.
Dengan ragu, Yeza menekan tombol putar pada pesan suara.
"Awalnya saya memang ingin menggunakan perantara manajer saya, tapi saya rasa akan lebih baik jika saya menghubungi kamu langsung. Ini saya, Max."
Suara berat, bariton, dan sangat familier itu membuat jantung Yeza berdegup kencang. Ia segera membuka video yang dikirimkan. Di layar ponselnya yang retak di bagian ujung, muncul wajah seorang pria berambut hitam legam dengan rahang tegas dan mata elang yang sangat memikat. Pria itu menurunkan kacamata hitamnya sedikit, tersenyum tipis ke arah kamera, lalu melambaikan tangan.
Itu Max. Maxemilian. Aktor papan atas berusia 27 tahun yang wajahnya memenuhi seluruh papan reklame di pusat kota dan film terbarunya sedang memecahkan rekor box office.
Yeza membekap mulutnya sendiri. Napasnya tertahan. "Tidak mungkin..." bisiknya lirih, menatap layar ponselnya tak percaya.
Tangan Yeza gemetar hebat. Jantungnya berdentum kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Ia menatap layar ponselnya lekat-lekat, menyeka matanya berkali-kali untuk memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi akibat terlalu lama menghirup aroma cairan pembersih kuas.
"Ini pasti deepfake," gumam Yeza, mencoba meyakinkan logika yang mulai goyah. "Ya, teknologi AI sekarang kan gila. Siapa saja bisa bikin video mirip Maxemilian."
Menolak untuk langsung percaya, Yeza menarik napas dalam-dalam dan dengan cepat mengetik balasan dengan jari-jari yang masih sedikit gemetar.
@yeza.makeup: Teknologi video rekayasa wajah (deepfake) sekarang sudah sangat canggih. Jika Anda benar-benar Maxemilian, buktikan dengan sesuatu yang tidak bisa dimanipulasi dengan mudah oleh aplikasi.
Hanya butuh waktu kurang dari satu menit sampai status di bagian atas obrolan berubah menjadi 'typing...'.
Ponsel Yeza bergetar lagi. Kali ini, sebuah berkas video baru masuk. Yeza menekan tombol putar dengan perasaan campur aduk antara skeptis dan penasaran setengah mati.
Video berdurasi sepuluh detik itu dimulai dengan kamera depan yang berguncang sedikit. Max tampak berada di dalam sebuah ruang ganti yang mewah—terlihat dari jajaran jas mahal yang menggantung di latar belakang. Ia menatap langsung ke arah kamera dengan binar jenaka di matanya yang tajam.
"Hai, Yeza," suara bariton itu kembali terdengar, kali ini menyebut namanya dengan sangat jelas dan fasih.
Max kemudian mengambil selembar kertas putih dari meja di dekatnya dan sebuah spidol hitam. Sambil tetap menatap kamera, ia menuliskan sesuatu dengan cepat di kertas tersebut, lalu mengangkatnya tepat di depan dadanya.
Di atas kertas itu tertulis coretan tangan yang agak berantakan namun tegas:
"Untuk Yeza. Hari ini hari Selasa, jam 3 sore. Ini asli, bukan AI. Percaya sekarang?"
Max menurunkan kertas itu, lalu mendekatkan wajahnya ke kamera. Ia mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum miring—senyuman khas yang biasa membuat jutaan penggemarnya histeris di bioskop.
"Saya butuh penata rias yang tidak cuma bisa mendandani, tapi juga mengerti karakter wajah saya tanpa harus saya dikte. Dan yang paling penting... seseorang yang tidak akan menjual rahasia saya ke media. Saya tunggu jawabanmu, Yeza."
Video berakhir. Layar ponsel Yeza kembali menggelap, menyisakan pantulan wajah Yeza sendiri yang melongo dengan mata membelalak lebar.
Tidak ada celah untuk meragukan video itu lagi. Itu benar-benar Maxemilian. Aktor paling bersinar tahun ini baru saja menyebut namanya, menulis pesan khusus untuknya, dan menawarinya pekerjaan secara langsung.
Yeza terduduk lemas di kursi riasnya, menatap tumpukan palet warna-warninya dengan pandangan yang benar-benar baru. Kamar sempitnya yang biasa sunyi kini mendadak terasa seperti gerbang menuju dunia yang sama sekali berbeda.
Yeza menatap baris kalimat yang baru saja ia ketik. Jarinya menggantung di atas tombol kirim, ragu-jaru antara ingin segera menekan atau menghapusnya sama sekali. Kalimat itu terasa sangat jujur, terlalu menelanjangi rasa tidak percaya dirinya.
Namun, ia tahu ia tidak bisa berpura-pura tenang. Dengan sekali sentuh, pesan itu akhirnya terkirim.
@yeza.makeup: Beri aku waktu mencerna ini semua, aku kira tadi bukan akun asli, maafkan aku. Tapi... apakah benar seorang artis terkenal membutuhkan makeup artis seperti saya? Riasan saya tidak terlalu baik, apalagi untuk standar aktor besar seperti Anda.
Setelah menekan tombol send, Yeza langsung melempar ponselnya ke atas kasur. Ia berjalan mondar-mandir di kamarnya, meremas jemarinya yang dingin. Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Kenapa dia? Dari sekian banyak MUA profesional di Jakarta yang punya sertifikat internasional dan langganan para selebriti, kenapa Maxemilian repot-repot mencari gadis yang belajar dandan dari YouTube di dalam kamar sempit?
Ponselnya di kasur bergetar pendek. Yeza praktis melompat untuk menyambarnya.
Sebuah pesan teks masuk dari @Z_X99.
@Z_X99: Tidak perlu minta maaf. Wajar kalau kamu skeptis.
@Z_X99: Dan untuk pertanyaanmu... MUA terkenal di luar sana memang banyak, Yeza. Tapi mayoritas dari mereka mendandani aktor agar terlihat seperti "orang lain" di depan kamera, atau cuma mengikuti tren yang seragam.
Detik berikutnya, status berganti menjadi 'typing...' lagi. Yeza menahan napas, membaca kelanjutan pesan dari sang aktor papan atas.
@Z_X99: Aku sudah lihat portofoliomu dari setahun lalu. Kamu punya sesuatu yang jarang dimiliki orang lain: kamu tahu cara bercerita lewat mata. Riasan teatrikalmu punya jiwa, dan riasan alamimu tetap mempertahankan karakter asli wajah orang itu. Itu yang aku butuhkan untuk proyek film thriller-psikologis terbaruku bulan depan. Karakterku rumit, dan aku butuh MUA yang paham seni visual, bukan cuma sekadar bedak tebal.
@Z_X99: Jadi, jangan sebut karyamu "tidak terlalu baik". Seni yang jujur itu jauh lebih mahal daripada selembar sertifikat kursus mentereng.
Yeza membaca pesan panjang itu berulang kali sampai matanya terasa panas. Kalimat terakhir Max rasanya seperti hantaman telak yang meruntuhkan semua dinding cemoohan tetangga dan keraguan dirinya selama lima tahun terakhir. Seseorang di puncak industri hiburan baru saja memvalidasi kerja kerasnya di kamar sunyi ini.
Sebelum Yeza sempat membalas, satu pesan terakhir masuk dari Max.
@Z_X99: Besok jam 10 pagi, manajerku akan menjemputmu di alamat yang tertera di bio-mu untuk pembicaraan kontrak dan test-makeup pertama. Ambil kuas terbaikmu, Yeza. Sampai bertemu besok.