Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.
"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."
"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"
Bagaimana kelanjutannya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Pukul 14.00 WIB.
Kemenangan mutlak atas Konsorsium Tiga Cincin mengguncang jagat bisnis internasional. Nama Sadewa Group menjadi topik hangat di seluruh media ekonomi dunia.
Namun, bagi para penguasa lama yang merasa posisinya terancam, runtuhnya Tiga Cincin bukanlah akhir—melainkan pemicu deklarasi perang terbuka.
Di lantai atas Vandersen Tower Jakarta, sebuah rapat darurat tingkat tinggi diadakan secara tertutup.
Lord Anthony Vandersen—kakek dari Valerie sekaligus pemegang saham pengendali Vandersen Global Holding—menatap layar lebar yang menampilkan peta ekspansi Sadewa Group dengan mata merah padam.
"Riyan Sadewa..." bisik Lord Anthony dengan suara serak yang dipenuhi kebencian.
"Seorang mantan buruh kasar berani menginjak-injak kehormatan Keluarga Vandersen dan merebut cucuku, Valerie? Ini adalah penghinaan terbesar bagi garis keturunan kita!"
Di sampingnya, juru bicara aliansi pengusaha elit papan atas mendekat.
"Lord Anthony, Sadewa Group kini memegang likuiditas tunai lebih dari 2,7 Triliun Rupiah dan menguasai seluruh pabrik bahan baku. Menyerang mereka secara fisik atau rantai pasok sudah tidak mempan."
"Kalau begitu, hancurkan mereka dari dalam pasar modal!" tegak Lord Anthony sambil memukul meja kayu mahoni.
"Gunakan seluruh dana konsorsium gabungan kita! Suntikkan 10 Triliun Rupiah untuk melakukan short selling pada seluruh saham anak perusahaan Sadewa Group di Bursa Efek! Buat harga saham mereka jatuh bebas hingga suspensi, lalu beli paksa secara musuh (hostile takeover) sebelum matahari terbit besok!"
Pukul 15.30 WIB.
Layar perdagangan saham di ruang kendali Sadewa Group mendadak berkedip merah membara. Grafik nilai saham Sadewa Group yang tadinya meroket tajam tiba-tiba anjlok secara drastis dalam hitungan menit.
"Pak Dirut!" teriak Ujang yang memantau terminal Bloomberg.
"Saham anak perusahaan manufaktur dan properti kita diguyur aksi jual masif! Ada dana asing sebesar 10 Triliun Rupiah yang sengaja membanjiri pasar untuk menjatuhkan harga saham kita!"
Valerie yang berdiri di samping Riyan langsung memucat.
"Itu strategi Short Attack milik kakekku! Dia sengaja meminjam saham kita untuk dijual murah demi memicu kepanikan investor publik (panic selling). Kalau harga saham jatuh lebih dari 25%, regulator akan membekukan perdagangan kita, dan Keluarga Vandersen bisa mencaplok perusahaanmu dengan harga sampah!"
Kezia memegang lengan Riyan dengan cemas. "Riyan, likuiditas kas kita saat ini tinggal 2,72 Triliun. Kita tidak punya cukup dana tunai untuk menyerap guyuran saham 10 Triliun itu sendirian!"
Namun, Riyan Sadewa tidak lagi menunjukkan raut panik seperti masa-masa awalnya berurusan dengan Sistem. Ia tetap tenang, menyandarkan punggungnya di kursi eksekutifnya sambil menatap layar pasar saham yang terus memerah.
Di matanya, Sistem berkedip memberikan kalkulasi presisi:
[Deteksi Serangan Finansial Eksternal: Short Attack dari Vandersen Global!]
[Analisis Sistem: Musuh Menggunakan Manipulasi Psikologi Pasar.]
[Fitur Imperium Aktif: "Leverage Bantuan Komunitas Proletar"!]
Riyan tersenyum tipis. "Agus," panggilnya tenang.
Agus yang berdiri anggun di samping Riyan melangkah maju. "Siap, Pak Dirut."
"Lord Anthony pikir kekuatan modal cuma milik para elit yang duduk di gedung pencakar langit," kata Riyan dengan nada dingin.
"Dia lupa... siapa yang sebenarnya menggerakkan roda ekonomi di bawah sana."
Riyan menatap Agus dan 11 direktur lainnya. "Agus, buka jalur komunikasi ke seluruh asosiasi pekerja, serikat kuli bangunan, pengemudi transportasi daring, dan pedagang UMKM di seluruh Indonesia. Kita tidak akan melawan mereka sendirian."
[Perintah Sistem Dijalankan: Mentransfer Akses Aplikasi "Sadewa Micro-Investment" ke 15 Juta Anggota Komunitas Pekerja!]
"Beri tahu mereka," lanjut Riyan, matanya menyala tegas.
"Sadewa Group membuka opsi alokasi dividen khusus untuk publik. Siapa pun pekerja kecil yang membeli 1 lot saham Sadewa Group hari ini, akan mendapatkan jaminan dividen 200% yang disubsidi langsung dari kas pribadi Riyan Sadewa!"
Pukul 15.50 WIB — Ten Minutes to Market Close.
Di seluruh penjuru negeri, jutaan kuli bangunan, pengemudi ojek online, buruh pabrik, hingga pedagang pasar membuka ponsel mereka secara serentak. Kabar tentang "Pak Dirut Riyan"—sosok mantan kuli yang kini membela kaum pekerja—tersebar bagai api menyambar jerami kering.
"Woy! Pak Dirut Riyan lagi diserang para tengkulak kaya!"
"Beli saham Sadewa Group sekarang! Cuma 10 ribu per lot, tapi dijamin langsung dapat bonus dari Pak Riyan!"
"Bantu Pak Riyan! Jangan biarkan orang kaya sombong itu ngerjain mantan kuli kita!"
Fenomena langka dalam sejarah bursa saham dunia pun terjadi.
Bukan dana lindung nilai (hedge fund) raksasa atau bank investasi Wall Street yang menahan kejatuhan saham Sadewa Group, melainkan gerakan mikro-investasi dari 15 juta rakyat kecil!
Uang puluhan ribu rupiah yang terkumpul secara masif dari jutaan orang itu membentuk gelombang pembelian kembali (buyback) raksasa yang tidak terduga!
[Gelombang Pembelian Publik Terdeteksi: +12,5 Triliun Rupiah Masuk dalam 8 Menit!]
[Harga Saham Sadewa Group Melompat Naik 350%!]
BUMP!
Grafik saham Sadewa Group di layar bursa yang tadinya merosot tajam, mendadak melonjak lurus ke atas membentuk garis hijau vertikal yang memutus seluruh upaya short attack Keluarga Vandersen!
Di ruang rapat Vandersen Tower, Lord Anthony Vandersen menatap layar perdagangan dengan mata melotot dan napas terengah-engah.
"K-Kenapa saham mereka tidak jatuh?! Dari mana datangnya dana belasan triliun itu?!" jerit Lord Anthony, dadanya membusung menahan sesak.
Seorang analis keuangan berlari mendekat dengan wajah pucat bagai mayat.
"L-Lord Anthony... serangan short selling kita gagal total! Dana 10 Triliun milik konsorsium kita terserap habis oleh jutaan investor ritel publik! Kita... kita mengalami kerugian bersih 8 TRILIUN RUPIAH dalam waktu sepuluh menit!"
BRUK!
Lord Anthony memegangi dadanya yang mendadak terasa dihantam godam keras. Tubuhnya ambruk menghantam meja rapat sebelum akhirnya pingsan tak sadarkan diri.
Pukul 17.00 WIB.
Layar Sistem di hadapan Riyan Sadewa menyala terang benderang dengan pendar warna emas kekaisaran:
[Kemenangan Mutlak! Serangan Pasar Saham Vandersen Global Berhasil Dihancurkan!]
[Keuntungan Konsolidasi Ekosistem Sadewa Group: +4,5 Triliun Rupiah!]
[Reputasi "Riyan Sadewa" Meningkat Menjadi: "Pelindung Ekonomi Proletar" / Raja Bisnis Kerakyatan!]
Valerie Vandersen menatap Riyan dengan mata berkaca-kaca. Ia menyadari bahwa kekuasaan dinasti keluarganya yang telah bertahan puluhan tahun kini telah benar-benar tumbang di tangan pria yang dulu dianggap sebelah mata.
Kezia tersenyum bangga, merapatkan tubuhnya di samping Riyan.
"Kamu berhasil lagi, Suamiku. Kamu memenangkan perang ini bukan dengan keserakahan, tapi dengan merangkul orang-orang kecil."
Riyan menatap ke luar jendela gedung pencakar langitnya. Matahari sore Kota Jakarta menyinari wajahnya dan 12 direktur proletar yang berdiri tegap di belakangnya.
"Perang dengan musuh lama sudah selesai," ucap Riyan dengan senyum mantap.
"Sekarang... saatnya Sadewa Group mengambil alih takhta ekonomi global."