NovelToon NovelToon
Kembar Genius Sang Mafia

Kembar Genius Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Roman-Angst Mafia
Popularitas:459.2k
Nilai: 5
Nama Author: kenz....567

"Ahh!"

"Kamu harus melahirkan pewarisku, Amoera ... untuk menebus dosa ayahmu!"

Perang berdarah antar-organisasi memaksa Amoera, putri tunggal mafia Blood Dominion, jatuh ke tangan Leon D'Alterio. Pemimpin kejam Cosa Nero itu menuntut balas dendam atas kematian orang tuanya, dan Amoera harus melahirkan pewarisnya.

Namun takdir berjalan brutal. Amoera melahirkan bayi kembar laki-laki, tetapi Leon merebut bayi yang hidup dan mengusir Amoera bersama bayinya yang dianggap telah mati.

Empat setengah tahun berlalu. Amoera kembali sebagai pembunuh bayaran dingin dengan misi mutlak. menghabisi pewaris Cosa Nero, yang tak lain adalah putranya sendiri.

Saat laras pistol telah membidik target, kebenaran fatal terkuak. Leon tertegun melihat bocah di samping Amoera yang sangat mirip dengan putranya.

"Kamu mau membunuh putramu sendiri, Amoera?"

Ketika rahasia masa lalu terbongkar, siapakah yang akan hancur dalam lingkaran balas dendam ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Phantom Of Ravenna

Leon D'Alterio berdiri mematung di hadapan jendela besar yang mendominasi ruang kerjanya. Di luar sana, kegelapan malam hutan belantara seolah hendak menelan kemegahan mansion miliknya. Di tangan kanan pria itu, terdapat segelas kristal berisi minuman alkohol yang kini hanya tersisa sedikit di dasarnya. Ia meneguk cairan pekat itu sejenak, merasakan sensasi panas yang membakar tenggorokannya, sebelum kemudian menggerakkan gelas tersebut perlahan hingga es batu di dalamnya berdenting pelan. Otaknya seolah sedang dipaksa untuk berpikir keras, menimbang-nimbang setiap jengkal ancaman baru yang belakangan ini mulai mengusik ketenangan takhta Cosa Nero.

"Tuan," sebuah suara berat memecah keheningan dari arah belakang.

Leon hanya menolehkan sedikit kepalanya ke kanan. Tanpa membalikkan tubuhnya secara penuh, ia kembali melemparkan pandangannya lurus ke depan, menembus kaca jendela yang dingin.

"Sudah mendapatkan informasi tentang dia?" tanya Leon dingin kepada tangan kanannya tersebut.

"Belum, Tuan. Jejaknya benar-benar sangat sulit untuk dilacak. Peluru yang ia gunakan bahkan sama sekali tidak memperlihatkan seri angka atau kode pabrikan mana pun. Semuanya bersih," ucap Black dengan kepala tertunduk dalam, menyembunyikan rasa bersalahnya karena gagal membawa informasi yang memuaskan.

Leon menggeram pelan, sebuah suara rendah yang sarat akan bahaya keluar dari tenggorokannya. "Sudah empat puluh lima orang penting di dunia gelap yang berhasil ia eksekusi selama empat tahun kebelakang ini. Semuanya mati tanpa jejak, tanpa meninggalkan petunjuk apa pun, dan pergerakannya sama sekali tidak pernah tercium oleh radar intelijen kita. Julukannya ... Phantom of Ravenna. Sang Bayangan dari Ravenna," gumam Leon dengan tatapan mata yang menajam.

"Tuan, bagaimana jika pembunuh bayaran itu mendapatkan misi khusus dari organisasi lawan untuk menyerang Tuan Kecil?" ucap Black ragu-ragu. Pertanyaan itu seketika membuat sudut bibir Leon terangkat, membentuk seulas senyuman tipis yang dingin.

Pria itu meminum habis sisa minumannya dalam satu tegukan, lalu meletakkan gelas kristal itu di atas meja kayu ke di sampingnya dengan sedikit kasar hingga menimbulkan bunyi benturan yang cukup nyaring. Matanya menatap lurus ke depan seolah tanpa beban sama sekali, lalu ia menyeringai pelan.

"Kamu merasa takut, Black?" tanya Leon dengan nada mengejek yang kental.

Black dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tuan. Hanya saja, saya merasa khawatir dengan keselamatan penerus Anda," ucapnya dengan suara lirih.

Leon kembali menatap lurus ke depan, menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan untuk mengurai ketegangan di dadanya. "Sebagai seorang ayah, aku pun merasakan kekhawatiran yang sama. Enzo ... nyawa anak itu sudah sering kali berada dalam ancaman sejak hari pertama dia dilahirkan. Aku tidak pernah takut dengan musuh-musuhku di luar sana. Aku hanya takut ... jika diriku sendiri tidak waspada. Mulai hari ini, perketat seluruh penjagaan pada Enzo dan juga Kael. Bagaimanapun juga, Kael tetaplah putraku," ucap Leon dengan nada mutlak yang tidak membantah.

"Baik, Tuan. Perintah Anda akan segera saya laksanakan," ucap Black penuh hormat sebelum akhirnya melangkah mundur dan berlalu pergi, meninggalkan Leon yang kembali tenggelam dalam keheningan malam sembari menatap lurus ke depan.

"Heh olang tua!"

Sebuah seruan cempreng bernada ketus tiba-tiba memecah keheningan koridor dalam ruang kerja Leon. Mendengar panggilan yang sangat tidak sopan itu, Leon seketika merubah ekspresi wajahnya. Keningnya mengkerut sangat dalam. Pria itu menolehkan kepalanya lebih dulu sebelum akhirnya memutar seluruh tubuhnya secara perlahan. Sepasang matanya langsung menatap bingung ke arah sosok bocah mungil berwajah menggemaskan yang kini sedang berdiri tegak sembari memandangnya dengan tatapan mata yang menantang tajam. Bocah itu berniat terlihat menyeramkan dan mengintimidasi, namun bagi Leon yang melihatnya, penampilan sang anak justru tampak sangat lucu dan menggelikan.

"Sangat tidak sopan sekali kamu, ya. Bagaimana jika Daddy mengambil pistol ini dan menembak kepalamu sekarang juga?" ucap Leon sembari meraih pistol hitamnya di atas meja, sengaja mengokangnya perlahan seolah-olah sedang mengecek peluru. Tindakan itu, tentu saja, sebuah ancaman nyata yang biasa ia gunakan untuk membuat musuhnya berlutut.

Namun, bukannya ketakutan atau menangis, Enzo justru langsung bersedekap dada di depan sang ayah dengan wajah yang kian merengut.

"Mana Basleng Enzo? Di cimpan dimanaaaa!" seru anak itu dengan emosi yang tampak menggebu-gebu, menuntut haknya yang hilang.

"Basreng? Makanan tikus yang bau itu? Tentu saja sudah Daddy buang ke tempat sampah. Makanan seperti itu adalah sampah yang tidak bergizi," ucap Leon santai tanpa dosa, yang seketika membuat Enzo membelalakkan matanya dengan mulut menganga, tidak percaya pada kekejaman sang ayah.

"Campaaaaah?! Campaaaaah?! Enzo beli cucaaaah payaaaah, cali keljaaaa bial dapet uaaaaang!" pekik anak itu dengan histeris, menatap Leon seolah-olah pria itu baru saja melakukan dosa besar terberat di dunia.

Leon mengkerutkan keningnya dalam-dalam, merasa terusik sekaligus heran dengan ucapan sang putra. "Memangnya apa pekerjaanmu sampai bisa menghasilkan uang sendiri?"

"Cali uang di kantong celana Daddy lah, dimana lagi?" ucap Enzo dengan nada suara yang teramat polos namun mutlak, membuat Leon benar-benar tertegun dalam kondisi syok yang luar biasa.

Bagaimana bisa seorang bocah berusia empat tahun memiliki jalan pikiran sekreatif itu? Sungguh, Leon seketika merasa kepalanya berdenyut pening menghadapi perangai anak kandungnya sendiri.

Enzo kemudian mengalihkan pandangannya, menatap ke sekeliling ruangan kerja ayahnya yang tampak luas dan dominan dengan warna-warna gelap. Ia melihat-lihat setiap sudut dinding, sebelum akhirnya melayangkan pertanyaan dengan nada suara yang mendadak mengecil. "Kenapa nda ada poto Mommy?" tanya anak itu pelan.

"Bukankah sudah berkali-kali Daddy bilang kepadamu? Tidak ada yang namanya Mommy di dalam rumah ini. Kamu hidup dan berada di dunia ini hanya karena Daddy," ucap Leon tegas, lalu melangkah menuju sofa kulit hitam dan mendudukkan tubuhnya di sana. Ia merebahkan punggungnya pada sandaran sofa sembari memejamkan mata, berusaha mengusir rasa penat yang mendera.

"Telus daddy yg lahilan?" tanya anak itu kembali dengan kepolosan yang luar biasa tajam, memaksa Leon untuk kembali membuka kedua matanya dengan helaan napas berat.

"Tentu saja seorang wanita yang melahirkanmu," jawab Leon malas.

"Belalti Daddy walia," ucap Enzo kembali dengan wajah tanpa dosa, sebuah kesimpulan mutlak yang seketika membuat Leon refleks menjambak rambutnya sendiri dengan perasaan frustrasi yang teramat sangat.

"Jangan pernah cari atau tanyakan tentang Mommy lagi, bisa tidak?! Kita hidup di dunia ini untuk menguasai dunia bawah! Bukan untuk mencari kasih sayang tidak berguna yang hanya akan berakhir menyakiti diri sendiri, kamu paham?!" sentak Leon dengan nada suara yang meninggi, sebuah gertakan yang akhirnya berhasil membuat Enzo terdiam membeku.

Bocah mungil itu menatap ayahnya dengan pandangan terluka sejenak, sebelum akhirnya membalikkan tubuh kecilnya dan berlari kencang keluar dari dalam ruangan. Langkah seributnya bahkan hampir saja menabrak tubuh Kael yang rupanya sejak tadi sudah berdiri diam di ambang pintu masuk.

"DADDY PLENGEEEEEL! OLANG TUA NDA CAYANG ANAAAAAK!" teriak Enzo dari kejauhan koridor dengan suara melengkingnya, membuat Leon benar-benar kehilangan kata-kata dan hanya bisa memijat pangkal hidungnya yang terasa ngilu akibat stres.

"Kamu lihat sendiri bagaimana kelakuan adikmu itu, Kael? Dari mana sebenarnya dia bisa mendapatkan kosakata aneh seperti itu," ucap Leon pasrah, mengeluhkan tabiat Enzo pada putra angkatnya.

Kael hanya menggelengkan kepala pelan. Remaja itu berjalan mendekati meja kerja Leon, menatap pria itu dengan sepasang manik mata yang dingin dan minim ekspresi. "Apa Tuan sudah mendapatkan informasi terbaru tentang pembunuh bayaran itu?" tanya Kael dengan suara yang pelan namun terdengar sangat matang.

Leon menggelengkan kepalanya lemah. "Jejaknya benar-benar terlalu sulit untuk ditembus oleh informan kita."

"Sekilas ... postur tubuh dan cara dia bergerak dari rekaman CCTV yang kudapatkan ... dia terlihat mirip dengan ...," Kael menggantungkan kalimatnya begitu saja. Remaja itu mendadak mengurungkan niat untuk melanjutkan kata-katanya, membuat Leon mengkerutkan kening penuh rasa bingung.

"Mirip dengan siapa, Kael?" tanya Leon mendesak.

1
bunda fafa
ciee...menyerah tanpa syarat donk si amoe...🤣
bunda fafa
hahaha musang birahi..kl Enzo bilang singa kentut.. Eren bilang musang kejam skr amoe bilang musang birahi 🤣🤣
bunda fafa
jelas di bw ke kamar si singa🤣
bunda fafa
eh cut cut..nikahin dl lah🤣nanti bablas sampai lahir adiknya si Enzo sm Eren loh🤣
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣❤
bunda fafa
trs bilang leon..will you marry me 😁
bunda fafa
ajak nikah sono si amoe biar resmi jd ny leon😁
bunda fafa
semoga segera bs melihat' ya Eren..
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
bunda fafa
amoe gmn perasaan km setelah mendengar kejujuran singa tua?😁
bunda fafa
knp gak kena serangan jantung sj sih si Nini pelet 🤣
NUR..8537
makasih kak Ra unt up.. nya 🙏😘 sukses slalu kak 💪😘
NUR..8537
sabar ya amoera..Olang tua itu gak bisa romantis kyk..nya😂😂😂
Ipehmom Rianrafa
lnjuut💪💪💪
Bunda SalVa
nah kan mending nurut aja Amoe , si singa lagi ngajak baikan itu 😄😄
Bunda SalVa
kirain kucing birahi Amoe 🤣🤣🤣
Sri Rahayu
sebenarny leon dan amoera sudah menikah blm kak🙏
Syifa Azhar
amoe:Leon siiiiaaalaaannn....ngapain pakai di ucapin,ayo langsung gassss....ups🤭🤭🤭 keceplosan 🤣🤣🤣
Ita rahmawati
Enzo Eren kalian dimana,,itu mommy kalian sedang butuh pertolongan 🤣🤣
Rahmat
siap"musuh si singa bertambah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!