NovelToon NovelToon
Bayangan Di Atas Atap

Bayangan Di Atas Atap

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Kamal Fajar001

Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Kembali ke desa tua, suasana terasa lebih menyesakkan daripada sebelumnya. Pak Tua Raja menggeleng pelan saat mendengar cerita mereka melihat kompleks rahasia itu. “Bukan hanya kita yang diawasi. Setiap warga yang berjalan terlalu jauh ke arah hutan akan dipanggil untuk diperiksa. Bimo tidak seperti pemimpin lain yang menyembunyikan kekuasaannya di balik senyum—dia menanamkan peraturan besi sejak awal, sehingga orang takut bahkan untuk sekadar bertanya.”

Malam itu, seorang prajurit muda menyusup ke gubuk pemimpin desa dengan wajah cemas dan seragam yang berantakan. Namanya Dimas, putra kerabat jauh Pak Tua Raja.

“Saya datang untuk memberi peringatan,” katanya dengan napas memburu. “Komandan Bimo tahu kalian ada di sini. Dia tidak mengirim pasukan untuk menangkap kalian. Sebaliknya… dia mengundang kalian untuk bertemu besok pagi di markas pusat.”

Semua terdiam. Undangan itu terdengar seperti perintah penyerahan diri.

“Apakah ada jebakan?” tanya Rendra tajam.

Dimas mengangguk pelan. “Bisa jadi. Tapi saya mendengar percakapan dia dengan wakilnya. Dia bilang dia tidak suka berperang lewat orang ketiga atau berita bohong. Dia ingin berhadapan langsung dengan orang yang berani mengganggu rencana besar mereka.”

Mereka berdiskusi sepanjang malam. Menolak berarti mengakui ketakutan, dan kemungkinan besar pasukan akan menyerbu desa ini. Menerima berarti masuk ke sarang musuh dengan perlindungan yang hampir nol. Namun Pak Haris berpendapat: “Jika dia mengundang kita, berarti dia ingin mengatakan sesuatu yang belum dia katakan pada siapa pun. Itu mungkin satu-satunya celah untuk memahami tujuan sebenarnya.”

Keesokan paginya, mereka berjalan menuju markas tanpa membawa senjata. Di gerbang utama, mereka digeledah dengan sangat teliti sebelum dipersilakan masuk. Markas itu tampak sangat berbeda dari tempat lain: jalan bersih, bangunan rapi, dan setiap prajurit berjalan tegak dengan tatapan mata yang tajam. Tidak ada kebisingan, tidak ada kelonggaran—hanya ketertiban yang menindih.

Di ruang kerja utama, Bimo sudah menunggu berdiri di depan peta besar Indonesia yang tertempel di dinding. Ia mengenakan seragam dinas lengkap dengan semua tanda jasa yang menyala. Wajahnya tegas, matanya menatap tajam seolah bisa membaca setiap pikiran yang terlintas di kepala mereka.

“Kalian tepat waktu,” katanya singkat, lalu menunjuk kursi di hadapannya. “Duduk. Saya tidak suka berbicara sambil berdiri terlalu lama.”

Begitu mereka duduk, Rendra langsung bertanya: “Apa tujuan sebenarnya dari fasilitas rahasia di tengah hutan? Dan apa proyek Langit Baru yang sedang kalian persiapkan?”

Bimo tidak marah. Ia justru tersenyum tipis, lalu berjalan menunjuk peta di dinding. “Lihat negara ini. Ribuan pulau, jalur laut yang strategis, kekayaan alam yang tak terhitung. Tapi apa yang kita dapat? Pembangunan yang tidak merata, aturan yang berubah-ubah, dan campur tangan asing yang perlahan menelan kita satu per satu. Saya tidak menyembunyikan apa yang saya lakukan. Saya membangun kekuatan yang cukup untuk memastikan nasib negeri ini tidak ditentukan oleh orang lemah atau orang asing lagi.”

“Dengan cara menjual kedaulatan dan mengorbankan rakyat?” potong Surya tidak percaya.

“Pengorbanan diperlukan untuk perubahan besar,” jawab Bimo dingin. “Ridwan mengurus uang, Rusli mengurus jalur, dan saya mengurus kekuatan. Kami bersatu untuk membangun tatanan baru di mana Indonesia berdiri sebagai penguasa, bukan sekadar penonton. Dan pemimpin di atas kami… dia adalah satu-satunya orang yang berani bermimpi setinggi ini.”

Rendra berdiri. “Tatanan yang kalian bangun di atas ketakutan dan kebohongan bukanlah kemajuan. Itu hanya tirani baru.”

Percakapan itu terhenti saat ponsel Bimo berdering. Ia melihat layar, lalu wajahnya berubah serius. “Pembicaraan kita selesai untuk saat ini. Kalian boleh pergi tanpa gangguan hari ini. Tapi ingat: waktu untuk memilih sudah dekat. Bergabunglah dengan kami, atau menjadi bagian dari sejarah yang dilupakan.”

Saat mereka berjalan keluar markas, Dimas prajurit muda itu menyusup di belakang mereka dan berbisik cepat: “Satu hal yang tidak dia katakan. Fasilitas di hutan itu bukan untuk pertahanan. Itu tempat penyimpanan senjata yang dilarang hukum internasional. Dan minggu depan akan ada pertemuan puncak ketiga pemimpin wilayah di sana—bersama pemimpin tertinggi, Bayangan Utama.”

Mereka berjalan menjauh dari benteng itu dengan perasaan campur aduk. Bimo tidak berbohong tentang ambisinya, tapi dia menyembunyikan bahaya terbesarnya. Dan kini mereka tahu: dalam waktu singkat, semua tokoh kunci jaringan itu akan berkumpul di satu tempat. Ini adalah kesempatan terakhir untuk menghentikan mereka sebelum proyek Langit Baru berjalan sepenuhnya.

Namun itu juga berarti menghadapi kekuatan militer terkuat yang dimiliki kelompok itu, di benteng yang paling sulit ditembus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!